
"Haaaaaaah!"
Dengan kombinasi ketepatan dan kekuatan, aku menebas pedang Katana-ku pada seorang manusia kadal yang menerjang. Pedang Katana yang aku pakai rutin aku asah dan sudah dilapisi batu Mana, sehingga ketajamannya bahkan bisa menembus armor tipis manusia kadal itu. Darah memancar sesaat setelah pedang merobek badannya secara diagonal.
"Arrgghhh!"
"Kau!!!" Teriak tentara bayaran lain di belakangku.
Aku langsung berbalik dan menepis tebasannya lalu membalas serangan dengan beruntun. Menebas bertubi-tubi secara diagonal maupun horizontal. Namun, ia dapat menangkisnya dengan tepat.
Pria itu menunggu saat yang tepat untuk menyerangku. Ia mencoba menebasku dari sisi kiri, namun, aku menghindar dengan mundur beberapa langkah. Aku lalu mendobrak sisi kirinya yang terbuka dengan lenganku sampai ia hampir kehilangan keseimbangan.
Melihatnya hampir terjatuh, aku memfokuskan kekuatanku pada pedang sebelum menerjang maju. Aku menebas dari samping dengan cepat. Mengikuti pelajaran yang diberikan Jeanne, aku memfokuskan energiku pada genggaman pedang. Benar saja, pedangku bersinar hijau terang.
"Kazetorasen • Zan!"[ "Kazetorasen • Zan!" = (Wind Tiger Flash: Disaster) Salah satu jurus kenjutsu (Seni berpedang) aliran Shinohara Shinshin-Ryū yang dikuasai oleh Hajime. Hajime mempadukan jurus pedang ini dengan energi Mana yang ada di dunia lain.]
Tanpa kusangka, pedang di tangan pria itu mengeluarkan cahaya sebelum menepis seranganku. Akibatnya, Katana terlempar dari tanganku karena tak sanggup menggenggam akibat lemahnya energi sihirku.
Celaka! Aku lupa kalau dia seorang Paladin. Paladin memiliki kekuatan sihir sekuat kekuatan fisiknya. Setidaknya aku berhasil mundur beberapa langkah. Sedikit di luar jangkauan pedangnya.
Aku harus lebih banyak berlatih dengan Jeanne....
"Aku tak menyangka, ternyata kau sangat lemah dalam serangan sihir."
Ejek pria itu sementara nafasku terengah-engah. Melawan 10 tentara bayaran sekaligus di markas mereka sendiri tanpa senjata api benar-benar merepotkan. Keringat dan darah musuh yang aku bunuh membasahi sekujur tubuhku.
"Ada kata-kata terakhir?"
Dengan wajah datar, aku berdiri dengan tegap dan menunjuk ke arahnya. Aku lalu berkata dengan nada yang aku buat sedatar mungkin."Omae wa....mou shindeiru!"[ "Omae wa mou shindeiru!" = (Bahasa Jepang : Kau sudah mati!) adalah Catchphrase atau kalimat yang sering diucapkan oleh Kenshiro, karakter utama dari serial anime dan manga Hokuto no Ken.]
Kenapa? Aku perlu sedikit hiburan....
Pria itu menatapku terheran-heran. "Apa?"
Secepat mungkin, aku meraih pistol yang aku sembunyikan di balik sarung Katana-ku dan menembak kepalanya, tepat di antara alis.
Dalam waktu sekejap mata, pria itu jatuh terlentang, tersungkur tak bernyawa.
Aku berjalan mendekat dan menatap wajahnya. Ekspresi penuh tanda tanya masih tercetak di wajahnya, walaupun lubang berukuran 9 milimeter terukir di dahi dengan darah yang terus berkucuran.
Aku perlahan berjalan ke arah pedangku, berusaha tidak menginjak mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah. 10 orang sudah aku bunuh. Darah melapisi bagian atas tanah, menyebar bau amis ke udara sekitar. Aku mencabut pedangku yang menancap dan menghampiri kembali mayat ketua tentara bayaran itu.
Aku menunduk menatap wajahnya sesaat sebelum menutup matanya yang terbuka lebar.
"Beristirahatlah dengan tenang..."
Sahutku dalam nada rendah, sebelum memenggal kepala mayat itu.
*****
Setelah aku membuang kepala pemimpin tentara bayaran itu ke sungai demi memghilangkan barang bukti, aku kembali ke klien untuk memberi dokumen yang ia minta. Klienku memberi cukup banyak imbalan. 45 koin emas.
Aku sebelumnya mengambil questgelap di sebuah penginapan kecil di gang di distrik pasar, kota New Verdannia. Selain menjadi tempat rahasia untuk mengambil questgelap, tempat ini juga merupakan salah satu tempat prostitusi dan tempat beberapa petualang melepas lelah. Questhitam memang ilegal, tapi setidaknya imbalan yang aku dapatkan lebih besar dari yang bisa didapat jika mencari questdi perusahaan legal.
"Kau mengerjakan tugas dengan baik...tapi aku tidak menoleransi keterlambatan. Imbalanmu aku kurangi 10 koin emas," Kata seorang pria berbadan bundar yang merupakan klienku. Aku mengambil kantong berisi koin emas yang ia taruh di meja sebelum kembali berdiri tegap menghadap orang itu.
Orang itu sedang duduk di sofa ruang VIP sambil merangkul 2 wanita dengan paras menggoda, menggerayangi tubuh mereka. Banyak botol dan gelas bekas minuman keras tergeletak di atas meja. Bau alkohol menyebar di seluruh bagian ruang. Melihat orang ini bersenang-senang sementara tentara di bagian utara kekurangan suplai yang memadai membuatku muak.
Orang ini terkenal karena menjadi politikus kontroversial sejak ia menentang persamaan ras dan golongan. Ia juga terjerat kasus korupsi pembangunan jalan ke pangkalan militer di pesisir utara. Dokumen yang membuktikan ia bersalah sudah dicuri dari rumahnya oleh tentara bayaran yang disewa oleh lawan politiknya dan disimpan pada markas mereka di tengah hutan. Aku disewa untuk mencuri benda itu dan membawanya pada politikus bangsat ini.
"Benarkah itu, tuan? Saya sangat senang bisa membantu anda!" Jawab aku dengan nada ceria yang aku buat - buat. Aku sudah menganti Hakamayang tadi aku pakai dengan armor ksatria. Rambut juga aku sisir agar terlihat acak-acakan sampai mataku tertutup poni. Anggap saja seperti karakter laki-laki utama di anime Hentai. Ini harus dilakukan agar tidak ada yang mengenaliku.
"Sekarang, kau boleh pergi."
Aku menunduk hormat padanya. Aku merasa harga diriku diinjak-injak karena hormat pada orang sepertinya.
"Sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan sesuatu pada anda," Aku mendesah, berusaha menahan tawa.
"Apa itu?"
"Dokumen yang kuberikan pada Anda hanyalah duplikat palsu. Dokumen yang asli sudah saya simpan di tempat yang aman," Mesin scannerdan printer portableyang berada di dalam kotak suplai ternyata berguna juga.
Setelah aku mengungkapkan segalanya, raut wajahnya berubah seketika. "A-apa?!"
"Aku mengharapkan kerjasama denganmu ke depannya. Kau tidak mungkin melaporkan aku dan membuatmu terjerat kasus tambahan, bukan?"
Rencanaku sesungguhnya bukanlah mendapat imbalan, melainkan menggunakannya untuk memata-matai gerak gerik Finia. Di dunia politik, banyak kemungkinan kawan bisa menjadi lawan atau sebaliknya. Memasang mata duluan adalah strategi terbaik.
Pria gendut itu menggebrak meja. Ia menggertakkan giginya sambil menatapku geram. "Soichiro Sonoda! Kau sudah mengkhianatiku?"
"Soichiro Sonoda? Siapa itu?"
Aku tersenyum sambil memasang wajahinnocent. Jadi ini yang dirasakan Muse saat dia mengerjai orang?
"Permisi, saya harus pergi sekarang. Saya berjanji tidak akan memberitahu siapapun. Jadi tenang saja, Tuan Delsarte~"
__ADS_1
Kataku untuk terakhir kali sebelum berlari keluar ruang VIP seperti anak kecil. Dua tukang pukul yang berdiri di depan ruangan hanya diam mematung tanpa peduli. Sebelumnya, aku sudah menyogok mereka agar mereka diam saja jika disuruh oleh Delsarte.
Setelah aku pergi dari tempat itu, aku pergi ke kamar kecil untuk membetulkan rambutku dan mengganti zirah ksatria dan kemeja kembali keKimono.
Aku kemudian menjual zirah itu ke pedagang di pasar. Aku tidak berniat untuk menyimpannya karena itu hasil rampasan. Aku tidak menyangka harganya ternyata lumayan mahal karena terbuat dari batu Mana. Sebuah batu langka yang terkenal untuk membuat senjata dan zirah kualitas tinggi, lentera penerangan, dan berbagai jimat sihir.
Aku mendapat uang 5 koin emas dari menjualnya. Lumayan, untuk memperbaiki Katana.
Setelah menjual zirah itu, aku pergi ke toko perbaikan senjata yang direkomendasikan oleh Jeanne.
Saat ini, aku sedang duduk dan menunggu si pandai besi menempa pedangku. Seorang pandai besi bernama Vulcan yang merupakan salah satu pandai besi paling berpengalaman di Finia. Banyak ksatria St. Whales yang membeli dan memperbaiki senjata di dia, dan mereka semua puas akan hasilnya.
Aku sempat membayangkan Vulcan ini adalah pria kekar berwajah sangar. Tapi ternyata, justru sebaliknya. Sang pandai besi ternyata adalah seorang gadis yang terlihat baru 13 tahun! Tetapi, tenaganya yang bisa mengangkat palu berat dan membentuk pedang dengan mudahnya membuat aku percaya kalau dia bukan gadis biasa. Sesuai namanya, gadis ini terlihat sangat tomboi dengan rambut perak pendek dan luka jahitan di bawah matanya. Ia juga memakai celana super mini dan kemeja kulit panjang.
Setelah menunggu beberapa saat, aku mendengar langkah si pandai besi menghampiriku.
"Yak!"
Aku menengok dari lamunan ke arahnya. Cepat juga...
"Oh sudah selesai?"
"Aku sudah meningkatkan kandungan batu Mana di dalamnya. Silahkan dilihat!" Jawab nya sambil menyerahkan kembali Katana-ku.
Aku memainkan pedangku sesaat sebelum membolak-balikkan sisi pedang. Terlihat sangat tajam seperti baru.
"Benar-benar bagus. Sesuai dengan reputasi, ya?"
Ia tertawa dengan gugup sambil menggaruk kepalanya. "Hehehe, aku tidak sehebat itu kok."
Aku memberinya uang 1 emas walaupun biaya yang seharusnya hanya 20 perak.
"Ah! Uang yang kau berikan kelebihan, Wand!"
"Tidak apa, anggap saja sisanya tip. Terima kasih!"
"Terima kasih kembali! Datang lagi ya!"
Aku pergi meninggalkan toko itu dan kembali ke markas. Markas kami hanyalah sebuah toko kecil tak terpakai di kawasan pasar. Bangunan toko itu terbuat dari kayu dan memiliki 2 lantai ditambah ruang bawah tanah. Karena tempatnya yang strategis -dekat dengan Katedral St. Michael, markas Orde St. Whales di New Verdannia dan istana kerajaan- kami membelinya dengan 80 koin emas.
"Aku pulang." Aku membuka pintu depan dan melihat sesosok gadis yang sangat familiar tersenyum padaku
"Selamat datang kembali, Wand."
Blade menepuk tangannya saat ia melihatku. "Tepat sekali. Aku baru saja berniat menghubungimu. Pitts membawa kabar dari istana."
Sang Kapten melipat tangannya dan menatap ke arah Muse.
"Muse, buatkan teh!"
Muse yang sedang merapikan catur mengerang kesal. "Aarrgghh! Kenapa harus aku?!"
"Perintah."
Pemuda itu beranjak dari kursi dan menggerutu. "Huh, fucking brits."
Jeanne terlihat segan. Gadis itu melambaikan kedua tangan di depannya. "Tidak usah, Muse. Aku hanya menyampaikan permohonan Tuan Putri saja. Aku harus kembali ke Katedral secepat mungkin."
"Permohonan?" Tanyaku. Tidak biasanya kami mendapat permohonan dari Tuan Putri sendiri.
"Iya," Jeanne menjelaskan situasinya. "Tuan Putri akan berangkat ke Kota Fraegiligr di Kebangsawanan Alfheim untuk pertemuan antar pemimpin negara."
"Bukankah itu tugas pengawal kerajaan untuk mengawal Tuan Putri? Kenapa Putri ingin kami untuk menjaganya?" Tanya Si Kapten SAS dengan heran. Sebenarnya kami tidak ingin melakukannya, tapi G.R.E.E.N dan PBB sudah terikat perjanjian dengan Finia.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin ini ada hubungannya dengan maraknya percobaan pembunuhan terhadap pemimpin negara... Beberapa tahun yang lalu, Kaisar Maximus dari Asthern tewas di tangan pembunuh tak dikenal setelah beliau berkunjung dari Finia."
Aku saling bertatap muka dengan kedua rekanku. Setelah mendengarkan penjelasan Jeanne, aku bisa mengerti mengapa putri seperti ketakutan. Blade mengangguk dan memberi jawaban.
"Baiklah, kami mengerti. Kami akan segera bersiap. Tolong katakan pada Komandan Montez bahwa kami membutuhkan 3 pasang seragam Ksatria lengkap dengan zirah dan perlengkapan standar."
Sang gadis ksatria tersenyum gembira. "Baik, nanti akan aku sampaikan!"
"Kapan kita akan berangkat?"
"Besok."
*****
Keesokan siangnya, kami sudah pergi meninggalkan New Verdannia. Jumlah penjaga yang dibawa sekitar satu kompi atau 70 orang. Beberapa diantaranya menaiki kuda yang mengelilingi kereta Sang Putri. Aku dan rekan satu timku menumpang pada kereta kuda yang menyimpan perlengkapan di belakang kereta Putri. Kami bertiga berpakaian seperti ksatria St. Whales dengan zirah besi, baju rantai, jubah biru muda berisi salib putih, dan sabuk berisi kantung yang terbuat dari kain untuk menaruh berbagai perlengkapan. Setiap ksatria mendapatkan seragam yang sama setelah dilantik. Hanya saja unit intelijen & ksatria yang berpangkat di atas letnan diperbolehkan memakai seragamcustom.
Rasanya sangat berat dan panas. Seragam Pasukan Bela Diri yang biasa aku pakai cukup panas, namun itu tidak sebanding dari zirah ksatria ini. Belum lagi aku dan Muse duduk di kursi kusir sehingga panasnya matahari langsung bersinar ke arah kami. Belum ada 1 jam perjalanan aku sudah dibasahi keringat, seperti tikus yang tercebur ke dalam selokan. Aku yakin bila telur dipecahkan pada baju zirah ini pasti akan langsung matang.
Jeanne sendiri berada di dalam kereta Sang Putri agar ia tidak kesepian di dalam sana. Jeanne sendiri bilang kalau ia sudah berteman dengan Putri Tiara sejak kecil.
__ADS_1
Tujuan kami adalah Fraegligr, ibukota Kebangsawanan Alfheim. Perjalanan dari New Verdannia ke Fraegligr kemungkinan akan memakan waktu sekitar 1 minggu. Seperti nama negara tempat tujuan kami, aku sudah bisa menebak bahwa itu adalah negara yang dihuni oleh Elf, terutama High Elf yang merupakan ras langka.
Aku jadi sedikit antusias untuk melihat High Elf secara langsung.
Menurut Elisa, seluruh Elf dahulunya memiliki umur panjang dan kekuatan sihir yang dahsyat. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak Elf mulai bercampur dengan manusia dan ras lain sehingga menciptakan ras Elf biasa, atau yang Muse sebut Normie Elf. High Elf merupakan sebutan untuk para Elf yang memiliki darah murni. Elisa merupakan Elf biasa karena nenek moyangnya dulu sudah bercampur dengan manusia.
Elf biasa memiliki umur setara dengan manusia, berbeda dengan High Elf yang dapat hidup beratus-ratus tahun. Kekuatan sihir mereka juga tak semurni dulu. Ini juga menyebabkan kesenjangan sosial, terutama di bidang ras karena banyak High Elf menganggap Elf biasa sebagai pengkhianat.
Aku sudah melihat masalah yang melibatkan ras beratus - ratus kalinya. Bisakah kita mengesampingkan ras dan bersatu? Lagi pula nanti kalau sudah mati kita juga akan menjadi tulang dengan bentuk yang sama.
Aku sudah melamun terlalu lama sampai aku tidak menyadari bahwa rombongan kami sudah mencapai perbatasan. Dataran rendah Finia yang hijau nan subur sudah mulai berganti dengan daerah pegunungan yang merupakan ciri khas Alfheim. Kami sudah menempuh perjalanan kurang lebih selama 3 hari untuk mencapai tempat ini.
Daerah kekuasaan Finia dan Alfheim dibatasi oleh Pegunungan Hvittfjall yang dalam bahasa Nordik artinya pegunungan putih. Bukit - bukit berdiri kokoh menjulang tinggi. Pohon-pohon di sini juga terlihat jauh lebih tinggi dan lebih besar dari pohon di Finia. Setiap puncak dari pegunungan dilapisi oleh salju abadi. Aku tidak percaya beberapa tahun yang lalu sempat ada pertempuran besar di pegunungan indah ini.
Beberapa tentara Alfheim berjaga di pos perbatasan. Berbeda dengan tentara Finia yang memakai zirah ksatria sederhana, zirah tentara Alfheim terlihat sangat mengkilat dan berisi pernak - pernik marmer dan berlian yang dipercaya dapat meningkatkan kemampuan sihir. Alfheim memiliki tentara jauh lebih sedikit dari negara lain, tapi kemampuan tempur mereka tidak boleh diremehkan.
Awalnya mereka berupaya menghentikan kami sebelum melihat bendera Kerajaan Finia: Bendera dengan garis - garis biru muda dan putih dengan 12 bintang berwarna emas yang membentuk lingkaran di tengahnya berkibar. Mereka menunduk memberi hormat. Komandan Montez yang menunggangi kuda turun dan menghampiri ketua dari penjaga perbatasan itu.
Sekitar 10 tahun yang lalu, Alfheim dan Finia terlibat dalam 'Perang Benua Uressea' atau 'Perang 10 Tahun'. Orang-orang Finia sering menyebut perang ini sebagai 'Perang Revolusi'. Finia yang saat itu hanyalah negara yang baru terbentuk berhasil mengalahkan Alfheim dan mengambil sebagian besar wilayah mereka yang berada di luar Pegunungan Hvittfjall. Pegunungan Hvittfjall sendiri sekarang menjadi zona perbatasan antara kedua negara. Alfheim saat ini menjadi negara netral akibat penduduknya yang masih trauma akan perang.
Aku melirik buku yang tergeletak di sampingku, tempat aku menggali informasi itu. Buku itu aku pinjam beberapa hari yang lalu dari perpustakaan karena sejarah yang dimuat aku rasa lebih dalam dan juga ditulis dalam Bahasa Jepang...maksudku Bahasa Fuso. Selama perjalanan aku sempat membacanya untuk menghilangkan rasa bosan. Walau begitu, aku merasa ini tidak lebih dari sekedar novel fantasi yang menceritakan karakter utama yang 'seorang ksatria gagah berani berjuang melawan invasi pasukan Alfheim yang kejam' karena sudut pandang yang berat sebelah dan banyak perbedaan dari kejadian sebenarnya di buku sejarah yang kujadikan sebagai patokan. Yep, history is written by the victor. Kinda.
Aku kembali memfokuskan pandanganku pada kedua ksatria berpangkat tinggi itu. Aku tidak tau secara rinci karena berada terlalu jauh dari pos penjagaan, tapi yang jelas aku bisa merasakan aura tekanan yang mencekam saat kedua pemimpin pasukan itu berbincang walaupun aku tidak bisa mendengar dengan jelas tentang apa yang mereka katakan.
Setelah mereka selesai berbincang, Komandan Montez menjabat tangan ketua penjaga perbatasan itu. Sang pemimpin penjaga perbatasan kemudian memerintahkan beberapa anak buahnya untuk membawa kuda dan mengantar kami ke ibu kota.
Aku bernafas lega setelah kami melewati pos penjaga itu. Rasanya seperti saat aku ke Favela** di Rio de Janiero. Aku dan timku dengan hanya membawa pistol masuk ke sana untuk mencari informasi. Kami disambut oleh beberapa preman dengan senapan otomatis yang menatap kami dari jauh. Aku lega karena misi kami bisa selesai tanpa pertumpahan darah.
Aku melihat ke dalam kereta yang ditutupi kain. Beberapa ksatria termasuk Blade yang menyamar duduk dengan diam. Salah satu di antara mereka adalah Elisa yang mengenakan seragam dinas sedang tertidur. Aku tidak pernah melihatnya memakai baju zirah ksatria sebelumnya, tetapi dia tetap terlihat imut seperti biasanya.
Pandanganku kemudian tertuju pada seorang gadis kecil bertelinga dan berekor anjing di sebelahnya. Dia adalah Xenous, salah satu Archmage atau penyihir agung di Finia. Kudengar orang yang mempunyai gelar Archmage memiliki kekuatan yang melebihi penyihir biasa. Ia mengenakan jubah penyihir standar yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang mungil. Rambut peraknya yang sangat panjang bersinar di antara rombongan ksatria lainnya. Wajahnya pun sangat menggemaskan, seperti anjing kecil.
Entah bagaimana caranya, kedua orang itu bisa tertidur dengan nyenyak dari tadi....
Hoam, angin sepoi - sepoi yang berhembus di daerah ini membuatku sedikit mengantuk, tapi aku berusaha untuk menahan diri agar tidak tertidur.
"Jadi, Wand, aku kepikiran sesuatu. Kita sekarang 'kan dalam perjalanan ke Fraegligr, ibukota para High Elves..." Sambil mengendarai kereta kuda, Muse mulai meracau. Sepertinyaripped fuel yang ia konsumsi tadi pagi mulai menunjukan efek samping.
"Apa?" Aku mengalihkan pandanganku pada pegunungan Hvittfjall yang indah, berusaha tak mengacuhkan racauan Muse. Setidaknya racauan Muse tidak se menyebalkan tingkah idiot kakakku.
"Gini... Menurutmu gimana 'lubang' mereka dibandingkan dengan cewek Thailand? Rapat atau longgar? Tahu sendiri lah mereka sudah hidup ratusan tahun, sudah berapa kali 'main'?"
Ah, aku tidak terkejut. Bukan Nathaniel Pitts namanya kalau tidak tanya soal hal nyeleneh begini.
"Nggak tau...dan nggak mau tau."
"Oh, come on!" Muse mengeluh. Ia memperlihatkan kepalan tangan. "Gampang kok," Ia membuka tangannya hingga terlihat celah lebar -"Lebih longgar?"- sebelum mengepalkan tangannya kembali hingga hanya celah kecil yang terlihat. "Atau rapat?"
Aku mendesah panjang sementara teman tololku terus mengulang pertanyaan dengan demonstrasi visual, mengepal dan membuka telapak tangannya.
"Longgar atau rapat? Longgar atau rapat? Longgar atau-"
"Demi tuhan, Yank! Diamlah!" Teriak Blade dengan lantang. Sepertinya Captain Britain juga sudah kehilangan kesabaran.
"Baik, Kapten..."
Selama beberapa jam kemudian, yang berasa seperti berpuluh - puluh jam, kesunyian kembali merebak dalam perjalanan kami. Yang terdengar di telingaku hanya suara langkah kuda. Mendengar Muse meracau memang membuatku kesal, tapi aku juga jadi bosan jika semuanya sunyi seperti ini.
Breakdown, Breakdown, Listen
Breakdown, Breakdown, Listen
Beberapa saat kemudian, Muse mulai bersenandung. Ia menatap ke arahku sambil menyeringai. Seperti biasa, aku 'tertular virus' darinya dan jadi ikut bernyanyi.
Breakdown, Breakdown, Let's go
Shining justice burning in me
Brand new bed town is the place I wanna be
Everyone just raise your hand
Raise it till you touch the sky
All you need to do is just to stand up to the top
Aku melanjutkan menyanyi sambil melihat sekeliling. Sepertinya beberapa ksatria ada yang tertarik dengan nyanyian kami. Yah, ada pula yang terganggu sih.
Let joy bring love and greatness of all
There's just nothing about love
And I'd do everything to give you my heart
Let the voice of love take you highe-
Tiba - tiba, teriakan terdengar dari depan rombongan. Aku dapat melihat salah satu ksatria yang menaiki kuda terjatuh setelah terkena sebuah panah menembus dadanya.
"Oi, ada apa?!"
"Kita diserang!"
__ADS_1