
Kami akhirnya sampai di tempat tujuan kami,sebuah istana tempat kediaman keluarga kerajaan Alfheim. Istana ini terlihat jauh lebih tinggi dan megah daripada istana di New Verdannia. Belum lagi tepat di taman di belakangnya, pohon raksasa Yggdrassil berdiri dengan kokoh membelah langit. Walaupun sedekat ini, aku masih tidak dapat melihat ujung pohon tersebut. Aku jadi semakin penasaran seperti apa puncak pohon itu....
Sesaat rombongan kami berhenti di depan istana, beberapa Elf dengan pakaian mewah dengan campuran emas dan hijau dan jubah berwarna merah menyambut kedatangan Putri Tiara. Sang Putri dibantu oleh dayang-dayang perlahan turun dari kereta sebelum berjalan ke arah para bangsawan Alfheim yang menunggu di depan dan menyalami mereka satu per satu.
Aku turun dari kereta dengan memasang pedang Katana pada sabukku dan langsung bergerak mengamankan sisi belakang Putri Tiara bersama ksatria yang lain. Yah, mereka terlihat tidak suka berada di dekatku, tapi pekerjaan adalah yang terpenting. Setidaknya ada Kapten Blade yang berdiri di sebelahku.
Muse mendapat tugas untuk mengantar kereta ke kandang dan bergabung dengan pasukan. Beruntung kami masing-masing membawa radio untuk berkomunikasi jarak jauh. Headset yang kami gunakan juga berwarna bening sehingga tidak menarik perhatian.
Setelah beberapa menit bercakap-cakap, Putri Tiara dipersilahkan untuk masuk ke dalam istana. Montez dan Jeanne masing-masing berada di samping Sang Putri. Aku menyadari Jeanne sesekali melirik ke arahku, tapi aku hanya pura-pura tidak menyadarinya. Aku benar-benar penasaran apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
Apakah dia kasihan padaku? Apakah dia benci padaku?
Jangan bilang dia menyadari sesuatu dariku.....
Heh, kurasa aku terlalu banyak berpikir. Tidak mungkin bocah seperti dirinya mengetahui sesuatu tentangku....
Iya, kan?
Aku terlalu lama berpikir sendiri sampai-sampai waktu berjalan dengan cepat. Kami tiba di depan pintu ruang yang terlihat seperti ruang konferensi. Ada banyak orang dengan berbagai macam pakaian mewah berdiri di seisi ruang depan, berbincang-bincang dengan satu sama lain. Beberapa ada yang membawa segelas anggur di tangannya. Beberapa pelayan berdiri di beberapa sudut sambil memegang nampan berisikan berbagai minuman.
Setelah menulusuri seisi ruangan, mataku kemudian menatap sepasang mata merah darah seorang Orc.
"Selamat pagi, Putri Tiara de Finia. Syukurlah Anda terlihat sehat-sehat," Sapa Orc itu sambil tersenyum. Ia memakai setelan kemeja dan celana panjang (kemungkinan ukuran XXXXL) layaknya seorang bangsawan. Sebuah mahkota yang terlihat seperti dibuat dari tulang dan perunggu menghias kepalanya.
"Salam Kepala Suku Xunag, senang bisa bertemu dengan Anda kembali," Jawab Putri Tiara dengan senyuman ramah sambil bersalaman.
Walaupun memiliki badan yang besar dan taring panjang yang menyeramkan, sifat dan cara bicara Orc ini terlihat seperti seorang lanjut usia yang bijaksana. Matanya yang merah menyala sama sekali tidak memberi kesan mengancam. Sangat aneh mengingat seperti apa Orc biasa digambarkan di cerita fantasi dan...ahem, Hentai.
Ia menghabiskan minuman di gelasnya sebelum melanjutkan pembicaraan. "Kalau saya boleh tahu, apa yang terjadi? Saya tadi sempat bertanya-tanya kenapa rombongan dari Finia belum tiba juga."
"Kami sempat ada kendala di perjalanan tadi, tapi syukurlah semua bisa diatasi," Sang Putri menghela panjang. Ia kemudian mengalihkan topik pembicaraan. "Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi di Norsku sekarang?"
"Syukurlah semuanya berjalan lancar. Semua kepala suku mau bekerja sama dan sekarang kami sedang memulai membangun pasukan pertahanan yang lebih solid."
Tatapanku kemudian teralih dari Tuan Putri dan Kepala Suku itu setelah seseorang memanggil dari jauh.
"Hei, imigran gelap!"
Montez adalah yang pertama menatap ke orang itu. Wajahnya terlihat sangat terkejut.
"Hasan?"
Aku ikut memindahkan pandanganku, melihat seorang pria berperawakan tinggi berjalan mendekat. Jubah hitam dan sorban merah yang ia kenakan berkibar ditiup angin setiap kali ia melangkah. Wajah, warna kulitnya yang pucat, dan rambut coklatnya terlihat seperti campuran orang Arab dan Eropa. Mungkin jika aku harus mendeskripsikannya lebih detail, aku harus bilang dia lumayan mirip dengan Zayn Malik.
Tapi yang paling menarik perhatianku adalah sepasang mata hijau itu. Terlihat seperti mata seorang yang pernah bertempur melawan berbagai musuh. Simitarnya yang tersarung di pinggang juga terlihat agak lusuh, seperti sudah dipakai bertempur bertahun-tahun.
Pria itu menyapa Montez dengan nada sedikit lesu. "Lama tak jumpa."
"Selain kantung matamu, kau sama sekali tidak berubah," Balas Montez sambil menyeringai. Mereka berdua kemudian bersalaman seperti dua teman yang lama terpisah. "Aku dengar kau sudah diangkat jadi Amir sekarang."
Pria 'Arab' itu menghela nafas panjang. "Gelar itu membuatku sangat stres. Aku bingung apa enaknya terus berada di istana tanpa bisa bebas kemana-mana, tapi....aku tidak enak menolak permintaan Sultan. Beliau sudah banyak membantu kita."
Beberapa pelayan datang menghampiri kami dengan nampan berisi beberapa gelas anggur. Melihat Blade, Montez, dan Hasan mengambilnya, aku juga ikut mengambil sebuah gelas kemudian berterima kasih pada pelayan itu. Mungkin hanya akan aku pegang sebagai formalitas saja, aku tidak begitu suka minum minuman beralkohol saat bertugas. B-bukan berarti aku lemah pada alkohol, okay?
"Kata seseorang yang dulunya adalah 'budak uang'."
Aku mulai tidak mengerti tentang apa yang mereka berdua bicarakan, tapi tidak ada salahnya ikut mendengarkan.
"Sejak kapan kau belajar bicara seperti itu, hah?" Jawab Hasan dengan nada tersinggung yang terdengar dibuat-buat.
"Entahlah," Jawab Sang ksatria dengan tidak acuh sebelum meneguk anggur di gengamannya. "Sepertinya 'kesucianku' mulai ternodai oleh busuknya dunia ini."
"Heh, dulu kau membenciku, tapi sekarang malah ikut-ikutan seperti aku," Pria 'Arab' itu terkekeh kemudian menatap ke luar jendela yang terbuka lebar. "Yah, setidaknya sekarang masa depan Fialka dan calon anak kami lebih terjamin."
"Wah, selamat kalau begitu! Anak ke berapa? Sekarang sudah berapa bulan?"
"Ini yang pertama, sekarang sudah 5 bulan sih."
Pria itu mengalihkan tatapanya pada aku dan Blade yang sedari tadi berdiri tak jauh di belakang Montez. Komandan Ksatria itu kemudian mengambil inisiatif untuk mengenalkan kami.
"Ah! Perkenalkan, ini teman lamaku, Amir Zain Hasan bin Al-Haitham. Dia sudah mengajari banyak hal saat aku masih bocah ingusan," Setelah memperkenalkan temannya, ia beralih memperkenalkan Blade pada pria itu. "Ini perwira menengah di keksatrian yang baru saja dilantik...."
"Charles Norris, bisa dipanggil Chuck," Blade menyambungkan kata-kata Montez sambil bersalaman dengan Amir itu.
Dia masih saja menggunakan nama itu....
"Senang bertemu denganmu. Panggil saja saya Hasan."
"Hirasawa Kohei, senang bertemu dengan anda," aku memperkenalkan 'diri' sambil menunduk hormat.
Setelah kami berdua bersalaman, Hasan kemudian memberi tahu Montez yang sedang meminum segelas anggur. "Oh ya, aku juga mendapat kabar bahwa Sultan berencana untuk menjodohkan Pangeran Al-Fatih dengan Putri Tiara."
"Pffftt!" Sang Ksatria tiba-tiba tersedak dan menyemburkan minumannya, membuat temannya tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, hanya bercanda!"
"Kau ini!" Sang Grandmaster Santa Whales memalingkan wajahnya sambil tersipu sementara Sang Amir tersenyum jahil. Ini pertama kalinya aku melihat Montez seperti itu. Mungkin dugaanku memang tepat.
"Sebenarnya Sultan sempat ingin menjodohkan mereka dulu, tapi karena banyak halangan, ditambah Raja Richard yang tiba-tiba jatuh sakit, kami tidak berani mengambil keputusan," Lanjut Hasan. "Pangeran sendiri sepertinya juga belum tertarik untuk menikah. Lagi pula Finia sudah merupakan sekutu Mubarak melalui pertukaran ilmu pengetahuan dan ilmu sihir."
"Jika seandainya beliau segera dijodohkan pasti itu dengan-"
"Salah seorang putri dari Shah[ Shah : Gelar yang diberikan kepada Kaisar Persia/Iran, atau yang di Isekai untuk Kaisar Nazarah
] Mohammed Reza Abbas dari Nazarah, iya kan?" Jawab Blade memotong pembicaraan Montez.
Kekaisaran Nazarah adalah sebuah negara tertutup di selatan Mubarak, seberang selat Malkuth, di sebuah benua baru yang hampir seluruhnya dilapisi gurun pasir. Banyak yang tidak diketahui tentang negara ini kecuali letak dan nama ibukota mereka, Abyatin. Setahuku, mereka selalu menutup diri karena alasan yang tidak jelas, dan mereka tidak pernah datang saat konferensi seperti ini. Seperti itulah yang disebutkan dalam buku yang dipinjam Blade. Untung saja ada Muse yang fasih berbahasa Arab sehingga kami bisa menerjemahkannya.
"Tepat sekali," Ekspresi wajah Hasan menjadi semakin suram. Tangannya megoyang-goyangkan gelas berisi anggur yang ia pegang. "Para sepuh dan Ulama tidak menyetujui Perang Dingin di antara Mubarak dan Nazarah terus berlanjut."
"Anda tidak yakin bahwa pernikahan itu akan mendatangkan kebaikan?"
Hasan menjawab pertanyaanku sambil tertawa sinis. "Saya orang yang sulit untuk memercayai orang lain."
Pembicaraan kami berhenti saat seseorang berlari kecil menghampiri kami.
"Maaf membuatmu menunggu, Amir Hasan!"
Kata seorang pemuda yang mengenakan pakaian serupa dengan Hasan, yang membedakan hanya baju gamis yang berisi hiasan emas dan mahkota yang menjadi satu dengan surban. Ia juga memakai sepasang kacamata, memberi kesan bahwa ia adalah orang yang Pemuda berambut hitam pendek dan berjenggot tipis itu kemudian menoleh ke arah Montez dan langsung menjabat tangannya.
"Ah, Grandmaster Montez! Kebetulan sekali anda di sini! Saya sudah mendengar banyak cerita tentang anda! Saya sangat ingin bertemu anda!"
Ia melihat sang Grandmaster dengan mata berbinar-binar. Sangat tidak cocok dengan penampilannya yang agak brewokan. Ngomong-ngomong, aku benar-benar penasaran bagaimana cara pangeran arab memelihara janggut tanpa merusak penampilan. Aku juga ingin dideportasi dari Arab Saudi karena terlalu tampan....
Ah, sudah lupakan!
Ksatria berambut biru tersebut terlihat terkejut. "E-eh? Cerita....tentang saya?"
Sang pangeran mengangguk. "Mhm, saya mendengarnya dari Amir Hassan."
"Hmmm, sepertinya ada yang punya penggemar baru~" Goda Hasan sambil tersenyum jahil, membuat Montez menggerutu dalam bahasa asalnya.
"Pendejo."
"Oh ya, Grandmaster Montez, aku punya hadiah untuk anda," Sebuah pedang yang berukuran lebih pendek dari yang digunakan Montez. Sebuah pedang dengan pegangan dan sarung abu-abu. "Mohon diterima."
Ksatria itu mencabut pedang itu dari sarungnya. Alangkah terkejutnya ksatria itu setelah melihat corak-corak khas pada belati pedang tersebut. "I-ini, kan?!"
"Iya, pedang Damaskus. Pedang yang dibuat dengan teknik yang menjadi rahasia selama berabad-abad. Bahannya hanya tersedia di Mubarak," Jawab Pangeran Al-Fatih sambil tersenyum bangga. Aku tidak begitu mengerti tentang pedang, tapi aku pernah mendengar tentang pedang itu. Pedang yang konon dapat membelah batu dan merobek sutra dengan mudah. Aku penasaran darimana mereka mendapatkan nama itu.
"T-tapi ini kan pedang Premium dengan harga sangat fantastis!"
Montez terus mencoba untuk menolak hadiah itu, tapi sang pangeran tetap memaksa.
"Tidak apa, di istana pedang seperti itu ada ribuan."
Sepertinya ada beberapa hal yang tetap sama. Yah, sultan mah bebas.
Aku kembali menatap sekitar, melihat-lihat siapa saja yang ada di sini. Selain perwakilan yang berpakaian seperti orang Arab dan Eropa Barat, ada juga yang mengenakan pakaian khas orang Eropa Timur, orang Tiongkok, dan bahkan yang terlihat seperti dari Asia Tenggara. Masih banyak yang perlu aku ketahui dari dunia ini.
Aku juga sesekali mengamati mereka berbicang satu sama lain. Senyuman dan tawa mereka terlihat palsu. Mereka terlihat sangat akur walaupun aku merasa mereka tidak akan ragu-ragu untuk menusuk satu sama lain. Ini hal yang umum di politik, makanya aku selalu menghindari hal kotor itu.
Hmmm, itu kan? Jeanne dengan....siapa pria itu.
Yang di depan Jeanne adalah seorang pria Elf berperawakan tinggi, kemungkinan lebih tinggi dariku. Rambutnya yang berwarna emas panjang terurai. Ia juga berpakaian selayaknya bangsawan Alfheim lain, namun terlihat lebih mewah dengan baju zirah emas dan pedang dengan sarung berwarna perak dan hijau. Ia seperti seorang pangeran dari negeri dongeng.
Jeanne terlihat sangat dekat dengannya, seperti seorang fans yang bertemu idolanya. Ia terkadang merekah senyuman indah dan tertawa manis saat pria itu bercerita suatu hal. Wajahnya terlihat sangat bahagia bertatapan dengannya....
Tidak ada yang salah. Pria itu sama sekali tidak terlihat memberi ancaman pada Jeanne maupan perwakilan Finia, tapi....
Aku merasa ingin melenyapkannya dengan segera. Tanganku gemetaran dan mengepal keras. Jari telunjukku gatal ingin menembak wajah flamboyan itu.
Kenapa?
Apakah aku....cemburu?
Hah, tidak mungkin. Aku sudah beberapa kali pacaran dan terkadang melihat beberapa di antara mereka selingkuh dengan Jody, tapi aku tidak pernah berpikir menghabisi Jody-Jody sialan itu.
Tapi jika ini memang rasa cemburu....
Sambil menaruh gelas minuman yang masih penuh itu di atas meja, aku terus memikirkan perasaan yang sangat mengganggu ini.
Sebenarnya, Jeanne itu apa bagiku? Sekedar rekan dan sekutu? Teman? Atau mungkin....
"Letnan," Blade berbisik dari belakang, membuat apa yang aku pikirkan buyar. "Urus-urusanmu nanti. Kita membawa HVI[ HVI : High-Value Individual, Individu Bernilai Tinggi. Sebutan untuk orang penting(semacam VIP) dalam kemiliteran.]. Buka mata lebar-lebar. Ancaman bisa datang kapan saja."
"Baik, pak."
Fokus, Wand! Fokus! Misimu menentukan masa depan dunia dan keselamatan mereka yang ada di pesawat hilang itu. Misimu lebih penting dari apapun!
Montez kemudian bersalaman dengan Hasan dan Pangeran Al-Fatih kemudian berjalan ke arah Putri Tiara yang sedang berbincang dengan seorang pria tua. Dari pakaian pria itu yang terdiri dari jubah merah yang menutupi baju zirah ksatria dan sebuah mahkota, aku bisa langsung tahu bahwa ia merupakan seorang raja. Dua orang ksatria juga berdiri di dekatnya, mendengarkan kedua pemimpin itu bercengkrama.
Pria berambut biru itu mendekati mereka. Ia kemudian memberi tahu dua pemimpin negara itu dengan penuh sopan santun. "Permisi, maaf mengganggu pembicaraan anda, tapi saya ingin memberitahu bahwa konferensi akan segera dimulai."
"Oh, baiklah. Maaf, sepertinya saya terlalu asik berbincang," Jawab pria tua itu sambil tertawa. "Terima kasih sudah mengingatkan, Grandmaster Montez."
"Senang bisa membantu, Yang Mulia Arthur," Jawab Montez sambil menunduk hormat.
Yang Mulia....Arthur?
Sang Raja meminum habis minuman anggur di tangannya kemudian menaruh gelas kosong tersebut di meja sebelah.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali lagi ya, Putri Tiara," Kata Raja Arthur sambil tersenyum pada Putri Tiara. Sang Putri membalas senyumannya sebelum sang Raja berbalik dan memanggil kedua ajudannya."Bedivere, Lancelot."
"Sesuai perintah anda, Yang Mulia."
Jawab kedua ksatria itu secara serempak. Mereka berdua kemudian merekah senyuman ke arah kami kemudian mengantar raja tua itu masuk ke ruang konferensi. Mereka berdua terlihat lebih bersahabat daripada ksatria-ksatria di Orde St. Whales.
"Tuan Putri," Aku melirik ke arah Jeanne yang berjalan ke arah kami. Jadi dia sudah selesai berbincang dengan orang itu. Ia memberitahu Putri Tiara sambil tersenyum. "Ayo, kita sudah ditunggu di dalam."
Sang Putri mengangguk dan membalas senyuman Jeanne. Kami langsung bergerak mengawalnya ke ruang konferensi.
Saat berjalan mengawal Putri Tiara, Aku melihat Montez mendekat ke Jeanne, mengatakan sesuatu padanya. Aku berdiri tidak begitu jauh dari mereka sehingga aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Jeanne, tadi kau berbicara dengan Pangeran Frey?" Tanya Ksatria itu.
Jadi pria Elf itu seorang pangeran? Aku mengira dia hanya seorang bangsawan biasa, tapi ternyata....
"Iya, sudah lama aku tidak bertemu dengannya," Jawab Jeanne sambil tersenyum manis, seperti mengingat-ingat apa yang mereka bicarakan tadi. Aku tidak menyangka dia memiliki kenalan anggota kerajaan, apalagi kerajaan tetangga. "Ada apa, Ketua?
"Tidak apa. Ini pertama kalinya kau ikut konferensi antarnegara. Lain kali berhati-hatilah jika berbicara dengan orang-orang di sini, kita tidak tahu kapan mereka akan menikam kita dari belakang," Kata Montez dengan nada datar.
"Apa? K-kak Frey tidak mungkin melakukan hal semacam itu! Aku mengenalnya sejak kecil. Tidak mungkin sampai berbuat serendah itu!" Sanggah gadis itu sambil menatap mata Montez dalam-dalam. Jadi, mereka semacam teman masa kecil?
"Walau begitu dia mengabdi bukan pada Finia maupun katedral. Dia bisa saja menjadi musuh," Sang Grandmaster melotot sesaat ke bawahannya itu, memperingatinya. Gadis itu menyadari ia hampir melewati batas dan menunduk malu. "Jika kau sampai salah bicara, membocorkan rahasia negara maupun rahasia orde ksatria ke musuh meskipun tidak disengaja, itu adalah tindakan pengkhianat. Kau tahu hukuman untuk seorang pengkhianat, bukan? Kapten Jeanne Pitts?"
"Dibakar...di tiang," Gumam gadis itu. Pengkhianat dan desertir biasanya dihukum dengan penjara militer atau paling parah ditembak mati. Tapi sampai dibakar hidup-hidup....
"Maka dari itu, berhati-hatilah, Jeanne," Lanjut Montez tanpa memalingkan pandangan. Ekspresi khawatir dan takut tergambar di wajahnya. "Mengeksekusi bawahan kepercayaanku adalah hal terakhir yang tidak ingin aku lakukan."
"Namun, aku yakin Kak Frey tidak akan melakukan hal buruk! Aku bisa tahu dia orang baik!" Tapi gadis berambut pink itu tetap bersikeras.
"Ingat saja kata-kataku, Jeanne."
Jeanne hanya terus menunduk dan mengangguk dengan diam. Sebenarnya, ada apa di antara dia dan pangeran Elf itu? Aku jadi semakin ingin tahu.... Apa mereka memiliki sebuah hubunga-
Tidak. Aku tidak boleh sampai ikut campur urusan pribadi mereka.
Sialan, kenapa pikiranku jadi seperti anak-anak? Aku sudah berusia 25 tahun, for fuck's sake.
Di dalam ruang konferensi itu, terdapat banyak kursi yang disusun melingkar, anggap saja seperti ruang sidang PBB pada umumnua. Setiap beberapa deret kursi, ada sebuah meja panjang dengan nama negara masing-masing partisipan terpampang di depannya. Sebagian besar kursi sudah diisi oleh masing-masing perwakilan.
Kami berjalan ke arah deretan kursi untuk delegasi Finia. Beberapa ksatria St. Whales sudah stand-by di sana, mengecek setiap kursi agar tidak ada hal yang dapat membahayakan Putri Tiara maupun anggota delegasi yang lain. Perwakilan Finia hanya terdiri dari beberapa orang. Selain Putri Tiara, Komandan Montez, dan Jeanne, ada beberapa anggota senat kerajaan yang juga ikut dengan kami dan pegawai dari duta besar Finia untuk Alfheim.
Aku menempati posisi sebelah kiri deretan, di paling belakang sampai tembok berada di belakang punggungku. Ini untuk mencegah ambush dan agar aku bisa melihat dengan jelas seisi ruangan dan Putri Tiara, dan terutama pintu keluar. Panggil aku seorang paranoid tapi aku tidak merasa aman jika seseorang berada di belakangku. Sepertinya Blade juga mempunyai pemikiran yang sama. Ia berdiri juga di paling belakang, hanya saja di sisi kanan.
Tepat di sebelah kiriku berjarak 1 sampai 2 meter, seorang Dark Elf berseragam ksatria berdiri tegak di dekat kursi-kursi untuk delegasi Konfederasi Beklagia, sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah Dark Elf dan manusia setengah hewan. Awalnya negara itu adalah bagian dari Alfheim sebelum melepaskan diri sepuluh tahun yang lalu. Aku dan ksatria itu saling bertatapan satu sama lain sebelum kembali menatap ke depan, mengawasi sekitar.
"Hei, kau kenapa? Keliatan serius sekali," Tanya Elisa yang berdiri di depanku. Aku membalas tatapan penasaran iris hijau itu.
"Tidak, aku hanya tidak suka berada di dalam ruangan...yang berisi banyak orang."
"Kenapa?"
"Anggap saja, aku punya pengalaman buruk," Jawabku sambil menghela. Aku memanfaatkan situasi saat ini untuk menyuruhnya berhenti bertanya. "Rapat akan segera dimulai. Perhatikan Tuan Putri."
Pemanah Elf itu menatapku khawatir sebelum kembali menatap ke depan.
Ruangan yang awalnya ramai perlahan-lahan mulai hening sampai yang terdengar hanya suara batuk dan suara kursi digeser perlahan.
Aku menggunakan kesempatan ini untuk mengamati sekitar. Dari meja dan deretan kursi yang dipisahkan, ada 13 negara yang mengirimkan delegasi. Semuanya memakai desain pakaian yang cukup berbeda dengan yang lain. Kemungkinan masing-masing negara memiliki kebudayaan yang cukup berbeda.
Sesaat kemudian, seorang wanita Elf berambut pirang panjang berjalan ke podium yang terletak di depan meja Alfheim sambil membawa secarik kertas. Wanita itu sangat mirip dengan si Frey itu, mereka berdua seperti kembar. Ia mengenakan gaun putih panjang dan sebuah mahkota kecil di kepalanya.
"Yang saya agungkan dan hormati Penguasa Kerajaan Alfheim, Yang Mulia Raja Njord," Kata wanita itu, memulai pidato pembuka sambil menatap seorang Elf tua yang duduk di deretan Alfheim paling depan. Setelah pria itu mengangguk, ia kemudian melanjutkan sambutan kepada para hadirin sambil tersenyum.
"Yang saya hormati seluruh pemimpin negara-negara di Uressea beserta staf. Suatu kehormatan bagi saya, Freya Alfheim untuk menyampaikan pidato pembukaan sebagai duta perdamaian dan pembicara dalam pertemuan tahun ini.
Ini juga suatu kehormatan untuk Kerajaan Alfheim karena sudah dipercayakan menjadi tuan rumah dalam konferensi tahun ini. Kami melihat ini sebagai bukti komitmen kami untuk ikut serta dalam usaha perdamaian dunia dan memajukan peradaban di Uressea. Saya mengucapkan banyak terima kasih bagi seluruh hadirin perwakilan negara-negara di Benua Uressea yang sudah jauh-jauh datang ke Fraegligr untuk ikut berpartisipasi. Atas nama pemerintah dan seluruh rakyat Alfheim, saya ucapkan selamat datang di Alfheim."
Semua partisipan yang hadir menepuk tangan. Setelah tepuk tangan mereda, ekspresi wajah wanita Elf itu berubah dari awalnya tersenyum gembira menjadi serius. Ia menaikkan nada bicaranya.
"Hadirin sekalian, sepuluh tahun sudah berlalu semenjak 'Perang 10 tahun', perang paling mematikan sepanjang sejarah berakhir. Konflik berdarah yang melibatkan sebagian besar negara di Uressea dan memakan korban ribuan bahkan jutaan jiwa. Perjanjian damai sudah ditanda tangani, ekonomi masing-masing negara sudah mulai membaik, tetapi kerusakan, hilangnya nyawa, dan penderitaan sudah terlanjur terjadi," Siapa Suruh mereka memulai peperangan? Aku juga yakin mereka yang berada di sini tidak pernah merasakan penderitaan saat perang sementara para korban, militer maupun sipil yang meninggal menjadi data statistik dan yang selamat akan merasakan luka untuk seumur hidupnya.
"Kita harus memastikan bahwa hal mengerikan itu takkan pernah terjadi lagi. Namun, cita-cita meraih sebuah dunia yang damai dan tentram takkan bisa kita raih selama ketidak adilan, ketidak percayaan, rasa egoisme dan kebencian masih mendarah daging."
Bicara ketidak adilan dan rasa egoisme, tapi para penguasa menganggap rakyat tak lebih dari hewan ternak dan selalu mementingkan dirinya sendiri, dan selama orang masih mempunyai perasaan, kebencian akan selalu ada. Ngomong memang gampang ya.
"Oleh karena itu, saya mengajak para hadirin sekalian untuk ikut saling bekerja sama, menggapai cita-cita kita bersama, yaitu dunia yang damai nan tenteram, demi memajukan peradaban dan demi masa depan anak cucu kita."
Seluruh hadirin menepuk tangan setelah mendengar pidato itu, berbeda denganku yang hampir tertawa.
"Kata-katanya manis sekali ya? Dasar Bangsawan High Elf," Sahut ksatria Dark Elf di sebelahku dengan nada sarkastik. Kami bertatap muka kembali, melihatnya tersenyum sinis. Aku kemudian membalasnya dengan sebuah tawa kecil. Aku tidak tahu dia pernah punya masalah apa dengan High Elf, tapi aku bisa setuju dengannya.
Politikus dimanapun, terutama yang belum pernah merasakan susah, semuanya hanya bisa menjual kata-kata. Hanya sedikit yang benar-benar memikirkan rakyat, tapi mereka pasti akan mulai melupakan rakyat saat mereka ada di puncak.
"Wand, dengarkan dengan teliti setiap poin yang mereka bicarakan. Siapa tahu ada yang bisa berguna untuk mengenal lebih jauh dunia ini," Perintah Blade melalui radio. Aku menekan tombol menjawab dua kali sebagai jawaban 'dimengerti'. Aku kembali memfokuskan diri pada rapat yang berlangsung.
Setelah pidato pembukaan itu, para pemimpin beserta staf kepercayaan mereka masing-masing memulai rapat. Aku mendengarkan dengan teliti apa yang mereka bicara kan. Hal pertama yang mereka bahas adalah ekonomi. Ekonomi di dunia ini digerakan oleh hasil tambang emas, besi, dan terutama sebuah sumber daya alam yang bernama 'Batu Mana'.
Aku kurang tahu benda macam apa itu tapi itu sangat berguna untuk membuat senjata dan zirah kualitas terbaik, bahan obat-obatan, dan juga sebagai bahan dasar lampu penerang. Dari informasi yang aku dapatkan di perpustakaan kota, batu Mana berasal dari sisa-sisa kekuatan sihir orang yang sudah meninggal. Konon, setelah tubuh dan roh mereka terpisah, roh akan melepas kekuatan-kekuatan sihir orang tersebut sebelum mereka naik ke surga. Sisa-sisa kekuatan ini kemudian membatu dan mengeras.
Karena itu, batu ini cukup sulit ditemukan dan hanya terdapat di beberapa daerah di Uressea, salah satunya di Finia yang merupakan eksportir batu Mana terbanyak di dunia. Ini lah salah satu sebab Finia dapat menjadi salah satu negara terbesar dalam waktu hanya 10 tahun.
Kembali pada rapat, para perwakilan mulai berdiskusi menentukan harga batu Mana per gramma. Gramma adalah cara orang menyebut satuan gram saat zaman klasik. Diskusi berjalan cukup lancar walaupun sempat terjadi perdebatan karena harganya yang semakin tinggi. Bagi Finia, hal ini justru menguntungkan.
Bahasan selanjutnya menyangkut ilmu pengetahuan. Yang memulai pembahasan tentu saja perwakilan Alfheim. Mereka dikenal karena ilmu pengetahuan dan ilmu sihir tradisional mereka yang sangat murni. Karena kemurniannya itu, mereka memiliki sihir terkuat. Berbeda dengan Mubarak yang modern dan terus berkembang setiap berjalannya waktu. Pembahasan berjalan cukup lancar walaupun aku merasa semua delegasi terutama dari Alfheim dan Mubarak kelihatan menyembunyikan kebanyakan hasil penemuan dan ilmu mereka pada yang lain.
Berikutnya adalah masalah sosial dan politik. Aku tidak begitu mengerti akan gelar dan tingkatan bangsawan pada abad pertengahan jadi aku lebih baik melangkari hal ini.
Diskusi kembali berlanjut dan bahkan menjadi semakin alot saat masalah perbudakan diangkat. Berbeda dengan Finia, di sebagian besar negara Uressea perbudakan masih dilegalkan sehingga jumlah perwakilan negara yang pro lebih banyak daripada yang kontra. Akhirnya, topik ini ditutup tanpa penyelesaian lebih lanjut. Aku mendengar Elisa yang berdiri di sebelahku menggertakan giginya. Kedua tangannya mengepal dan gemetaran seperti ia sedang ingin menghajar seseorang.
"Elisa, kau tidak apa?"
"Aku...tidak apa-apa...." Jawaban itu sama sekali tidak meyakinkanku. "Ini bukan saat yang tepat untuk bicara...."
Aku mengangguk perlahan dan kembali fokus menggali informasi dari rapat ini. Kemudian, seseorang yang duduk di kursi bangsawan Alfheim berdiri dengan secarik kertas di tangan. Ternyata, orang yang bersama Jeanne tadi. Ia terlihat sangat berwibawa dan aku juga merasa ia adalah orang yang paling bersih di antara para bangsawan Alfheim. Tidak bisa dibandingkan dengan tikus-tikus berdasi di Parlemen. Namun, setiap kali aku melihat orang itu, aku merasa sangat kesal. Kekesalan ini semakin memuncak saat aku melihat Jeanne menatap pemuda itu dengan mata terbinar-binar, penuh akan harapan.
"Terima kasih atas waktu yang diberikan. Sekarang, saya akan mulai membahas topik yang ingin saya angkat...." Pria Elf itu berhenti sejenak dan menatap seluruh perwakilan negara yang mulai berfokus pada dirinya. "Yaitu, masalah perang saudara di Fuso yang sudah berlangsung selama tiga dekade dan memakan korban ratusan ribu jiwa."
Para staf mulai bergumam dengan satu sama lain. Pria berambut panjang itu kemudian melanjutkan kata-katanya. "Ini merupakan konflik bersenjata terburuk semenjak Zaman Gelap. Negara-negara lain sudah menandatangani perjanjian damai untuk mencegah perang besar terjadi lagi. Namun, Fuso terus bergejolak. Apakah ada dari para hadirin sekalian yang ingin mengemukakan pendapat?"
"Silahkan, Pangeran Lucius Von Asthern," sang pangeran bangkit dari kursinya dan mendehem sebelum memulai.
"Terima kasih atas waktunya, Pangeran Frey. Seperti yang telah anda ketahui, situasi di Fuso sangatlah rumit. Bukan hanya 3 Fraksi saja yang berperang merebut kekuasaan di sana, tapi lebih daripada itu. Saya takut jika kita mengambil langkah gegabah dan ikut campuran dalam urusan mereka, ini akan menyebabkan bencana," Jawab pria berambut cokelat itu. Dari tatapan mata kuning di balik kacamata itu dan ekspresi wajahnya, aku dapat menebak orang ini sangat hati-hati.
"Jadi kita biarkan saja sampai sumbu peledak terbakar habis, begitu?" Jawab pria Elf itu dengan nada kesal. Di sepasang mata violet itu, sama sekali tidak terdapat maksud culas atau maksud lain di dalamnya. Aku tidak tahu darimana aku bisa tahu, tapi aku tahu.
Aku mendapati diriku sendiri ikut tenggelam di perdebatan ini.
"Izinkan saya menambahkan, Pangeran Frey."
Orang berikutnya, seorang ksatria berambut hitam panjang yang duduk di sebelah Raja Arthur dari Albion mengangkat tangannya kemudian berdiri. Ia terlihat sedikit lebih tua dan lebih berpengalaman dari Montez. Ia merupakan salah satu ksatria yang bersama Raja Arthur saat berbincang dengan Putri Tiara tadi.
"Seperti yang kita ketahui, Perang Saudara Fuso disebabkan oleh pemberontakan Sutoku yang menggulingkan kekuasaan Kaisar Konoe. Dan saya menduga bahwa ada sekelompok orang yang sengaja membiarkan gejolak di sana demi mengeksploitasi sumber batu Mana dengan cara memberi dukungan pada salah satu fraksi."
Pria itu melirik ke arah para perwakilan Kekaisaran Asthern dengan senyuman meremehkan.
"Saya sangat setuju dengan pendapat Ksatria Lancelot," Kata sang pangeran Asthern. Berbeda dengan Lancelot, ekspresi wajah Lucius datar dan sangat tenang. "Tetapi, perang saudara tersebut tidak akan bertahan lama jika seandainya hanya satu fraksi yang mendapat dukungan. Fraksi lainnya pasti mendapatkan dukungan yang sama. Apa saya salah?"
Aura panas di ruangan itu semakin mengeskalasi. Para pengawal dari Asthern dan Albion seperti siap untuk menyerang satu sama lain.
Aku menatap ke arah Putri Tiara yang memasang wajah cemas. Montez tiba-tiba bangkit dari kursinya.
"Hadirin sekalian," Sahutan Sang Komandan Orde Ksatria St. Whales menggema di ruang sidang, menghentikan setiap debat dan diskusi yang berlangsung. "Ini bukanlah saatnya untuk berdebat dan saling lempar batu sembunyi tangan. Apapun yang terjadi di Fuso kita harus sebisa mungkin memadamkan pergolakan, bukannya menyiram minyak ke api yang semakin besar."
Beberapa perwakilan terlihat mangut-mangut mendengarkan kata-kata pria berambut biru itu.
"Saya bersama para pastor sudah bekerja sama dengan biksu-biksu dan pemuka agama di Fuso, sebisa mungkin mengupayakan perdamaian. Namun, pemimpin ketiga fraksi utama, Kaisar Sutoku dari Kamakura, Ratu Tamamo dari Muromachi, dan Jendral Shuten dari Kōfun, semuanya menolak melakukan perundingan dan seperti yang terlihat sekarang, mereka tidak hadir dalam pertemuan ini."
Aku melirik ke arah sang Kaisar yang berbisik sesuatu pada Pangeran Lucius. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku sangat yakin itu ada hubungannya dari jawaban Montez.
"Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa agar konflik di sana mereda dan melakukan upaya pencegahan agar perang tidak melebar," Ia menarik napas sejenak dan menatap ke arah Putri Tiara yang tersenyum ke arahnya. Sang Ksatria kemudian melanjutkan, "Saat ini, Finia sudah menempatkan satu divisi pasukan di provinsi Asuka, daerah perbatasan dengan Muromachi. Dengan melakukan hal yang sama, mungkin negara-negara anda sekalian akan terhindar dari kekacauan."
Para perwakilan setiap negara kembali saling bergumam satu sama lain. Aku juga terkejut ia memberi tahu terang-terangan tentang sesuatu yang seharusnya jadi rahasia militer.
"Grandmaster Juan Montez, apakah anda serius terang-terangan memberi tahu pergerakan pasukan Finia dan membeberkan rahasia militer?" Tanya sang pemimpin Kekaisaran Asthern. Tatapan menyeramkan pria berjanggut itu hanya dianggap remeh oleh Montez.
"Oh, tidak perlu khawatir Yang Mulia Kaisar Octavius, itu bukanlah rahasia militer," Jawab pria itu sambil membalas tatapan Kaisar Octavius dengan mata marunnya. Ksatria itu tersenyum sinis. "Lagi pula, kami, Orde Ksatria Santa Whales hanya akan bertindak jika Finia tidak diserang terlebih dahulu. Kami bukanlah serigala agresif. Kami hanyalah hamba yang diberi kekuatan oleh Bapa untuk melindungi yang lemah."
Orang itu....Montez....
Aku sempat mengira bahwa dia hanyalah seorang ksatria dengan zirah bersinar seperti di cerita-cerita fantasi lain. Ternyata, dia lebih daripada itu. Aku merasa dia bukan orang biasa. Dia bisa jadi ancaman bila tidak diawasi. Aku menatap ke arah Blade yang berdiri di sisi seberang staf deretan kursi untuk perwakilan Finia. Ia membalas tatapanku dengan ekspresi mengerti sambil mengangguk-angguk.
"Bagaimana, Pangeran Frey? Apakah anda puas dengan jawaban Grandmaster Montez, atau ada sanggahan?" Tanya Pembicara Freya pada pangeran Elf itu, yang kemungkinan adalah saudara kembarnya.
Sang Pangeran mendesah kemudian tersenyum sambil menjawab. "Baiklah, terima kasih atas jawaban anda Grandmaster Montez. Dewan katedral Santa Whales memang tidak salah menunjuk anda sebagai Grandmaster."
"Anda terlalu memandang tinggi saya, Pangeran Frey," Jawab ksatria itu sambil tersenyum sebelum kembali duduk.
Tiba-tiba, headset-ku mengeluarkan suara berderak, tanda seseorang menghubungiku melalui radio. "Wand, temui aku di luar. Bilang ijin mau ke kamar kecil."
Ternyata Blade.
Aku menekan tombol menjawab dua kali. Kemudian, aku berbisik di telinga Elisa.
"Elisa, aku mau ke kamar kecil dulu."
"Kau tahu tempatnya?"
"Iya," Tidak.
Gadis Elf itu mengangguk. Ekspresi wajahnya terlihat sangat khawatir. "Baiklah, hati-hati ya."
Aku kemudian berjalan keluar ruangan itu. Di koridor luar, aku melihat Blade menungguku. Ia mengajakku berjalan di koridor. Ia melirik sekitar, memastikan tidak ada orang yang menguping pembicaraan kami kemudian menanyaiku dengan suara rendah.
"Kamu tahu apa yang ingin aku beritahu?"
"'Montez bisa berpotensi menjadi ancaman?'"
"Benar. Selain itu, kita juga perlu mengawasi Asthern dan Albion. Gerak-gerik dua negara itu sangat mencurigakan. Mereka bisa jadi ancaman bagi pasukan inti."
"Dimengerti," Aku mengangguk paham. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari kalimat terakhir yang dikatakan Blade. "Pasukan inti?"
Ekspresi wajah Blade menjadi cemberut. "Walaupun belum ada pemberitahuan, aku bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya."
Jika dipikir-pikir, apa yang kapten SAS ini katakan sangat memungkinka- tidak, itu pasti akan terjadi. Alam yang masih asri, sumber daya banyak tersedia, dan banyak spesies fauna dan flora yang tidak pernah ditemukan sebelumnya. Negara mana yang tidak tergiur dengan dunia ini?
"Kembali ke pembicaraan, bisakah kamu pergi ke kota untuk mengintai daerah ini dan membeli beberapa barang? Detailnya di sini," Suruh Blade sambil menyerahkan selembar kertas kecil. Aku mengambil kertas itu dan langsung kumasukkan ke dalam kantong celana. "Untuk hasil pengintaian, beritahu aku nanti malam."
"Baik, pak, akan aku kerjakan," Blade tiba-tiba berhenti berjalan.
"Hajime."
Aku berhenti melangkah, mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan Blade. Apapun itu, hal itu pasti sangat penting karena ia memanggil nama asliku. Saat di Area 51, ia beberapa kali memanggilku 'Shinohara', tapi ini pertama kalinya ia memanggilku dengan nama depan.
Ia mendekatiku dan berkata dalam suara pelan. "Satu lagi, aku paham apa yang terjadi di antara kamu dan Jeanne Pitts, tapi ingatlah....Jika misi kita sudah selesai, kita akan langsung pergi dari sini. Kita tidak pernah berada di tempat ini maupun dunia ini. Jangan terlalu terikat dengan orang-orang di sini."
Yang dia katakan memang benar. Pasukan khusus bergerak secara rahasia. Aku sendiri yakin jika seandainya misi kami sudah selesai dan kami dipulangkan, dokumen yang menjelaskan tentang misi kami pasti akan dikunci di brangkas rapat-rapat selama bertahun-tahun, atau mungkin dibakar jadi abu.
Itu karena, secara resmi, GREEN Task Force tidak pernah ada dan Operasi Katalis tidak pernah terjadi.
Tapi sangat sulit bagiku untuk meninggalkan dan melupakan semua orang yang ada di sini, terutama Jeanne.
Menghela nafas dalam-dalam, aku menjawab suruhan pria Inggris itu. "Akan aku ingat baik-baik."
__ADS_1
Setelah pembicaraan singkat itu, kami langsung bergegas berjalan kembali ke ruang konferensi.
Konferensi itu selesai tepat setelah kami sampai di depan ruang konferensi. Setelah, aku melepaskan zirah dan menaruh pedangku di barak yang sudah disediakan. Aku pergi berkeliling kota Fraegligr untuk menjalankan perintah Blade, mengintai area dan membeli beberapa barang. Aku berkeliling di distrik perniagaan yang cukup ramai sehingga aku yang memakai pakaian layaknya warga sipil abad pertengahan dengan jubah kulit tidak terlihat mencolok.
Aku menatap di sekelilingku. Tempat ini benar-benar ramai dan aku tidak suka itu. Aku merasa tidak nyaman berjalan sendiri.
Aku....takut?
Mungkin, tapi setiap kali aku menyentuh pegangan Tanto dan pistolku –yang keduanya aku pasang tersembunyi di masing-masing sisi pinggang– perasaan itu seketika menghilang. Seharusnya aku mengajak seseorang....
Blade sedang ada urusan dengan Montez dan Putri Tiara sementara Muse diperintah untuk memindahkan barang-barang. Blade juga memperbolehkan aku untuk mengajak orang saat berkeliling, tapi Elisa, Xenous, Ingrid, dan yang lainnya juga sibuk dengan tugas masing-masing.
Aku sempat berpikir untuk mengajak Jeanne jalan-jalan sekaligus untuk meminta maaf karena ucapanku waktu itu, tapi....
Aku penasaran apa yang sedang dilakukan Jeanne saat ini, dan juga si Frey itu. Kira-kira mereka pergi kemana....
Ah, lupakan saja! Aku tidak boleh dijebak oleh emosi tidak penting.
Namun, mau berusaha sekeras apapun aku tetap tidak bisa-
"Hmm?"
Pikiranku teralih pada sebuah toko berlantai tiga di pinggir jalan. Sebuah toko alkimia. Aku merasa ada sesuatu yang dapat berguna di dalam sana. Sepertinya Indra ke-enamku bereaksi kembali.
Sesaat aku memasuki toko itu, aku melihat berbagai macam perlengkapan-perlengkapan mulai dari alat-alat alkimia, buku, tongkat sihir, ramuan, hingga berbagai bahan peledak tertata rapi di setiap counter yang tingginya melebihi 3 meter. Aku mengelilingi seisi tempat itu, mencoba mencari sesuatu yang menarik perhatianku. Setelah ditelusuri, areal toko ini juga ternyata terlihat lebih luas dari perkiraanku. Aku bisa saja hilang di dalam tempat ini.
Mendengar suara langkah kaki, aku menengok ke belakang, melihat seorang gadis Elf berambut putih berpakaian seperti penyihir di film Harry Potter turun dari lantai dua sambil duduk di atas sebuah sapu. Aku dibuat takjub oleh kemampuannya hingga-
"Whoaaa!" Mungkin karena tidak bisa menjaga keseimbangan atau karena suatu hal, ia terjungkal ke belakang, mendarat dengan sangat tidak mulus di lantai satu. "Aduuuh!"
Gadis itu mengelus kepalanya sambil meringgis kesakitan. Aku berjalan mendekatinya, mungkin aku bisa membantunya. Namun, ia langsung memakai kembali topinya dan berdiri. Tersenyum grogi sambil menyembunyikan rasa sakitnya.
"S-selamat datang di Phantasma! A-a-ada yang bisa saya bantu?" Phantasma? Itu nama tokonya? Yah, sedikit mengingatkanku pada suatu Anime super ngawur.
"A-ah, aku ingin melihat-lihat perlengkapan," Sambil menggaruk kepalaku, aku berpikir apa yang aku inginkan. Toko ini sepertinya menjual banyak hal yang tidak umum. "Aku membutuhkan bom yang bisa digunakan tanpa melukai, seperti bom asap."
"B-baik, sebelah sini, tuan."
Aku mengikutinya mengantarku masuk lebih dalam ke toko. Aku sesekali melihat ke arah pintu depan, memastikan agar pintu itu tetap di sana dan aku tidak terjebak di sini kemudian dijadikan bahan percobaan oleh penyihir. Aku memang selalu waspada tapi aku tidak ingat sejak kapan aku jadi paranoid seperti ini. Mungkin karena tempat ini mengingatkanku pada suatu kejadian....
Hah, lupakan! Aku terlalu memikirkan rasa paranoidku sampai aku tidak menyadari tatapan heran penjaga toko itu.
Setelah beberapa saat, kami sampai di deretan rak tempat dipajang berbagai bom. Di sana terdapat banyak sekali bahan peledak mulai dari bom dengan sumbu tali, bom asap, hingga jenis lainnya yang tidak aku ketahui. Di tembok juga terpampang tulisan dalam bahasa Norse Kuno yang mungkin dibaca 'Awas! Barang mudah meledak/terbakar' atau semacamnya.
Saat melihat-lihat, aku terpikat oleh salah satu dari bom itu. Sebuah bom kecil berwarna perak dengan sumbu tali. Bom itu mengeluarkan bau seperti campuran karbon dan bau kabel terbakar. Aku mengambilnya dari counter dan menimang-nimang beratnya. Kurang lebih setengah kilogram.
"Bom apa ini?"
"Itu Ljósbrotsjór, Penghancur Cahaya. Dibuat dari sihir elemen gelap, bom ini mampu untuk mengikat kekuatan mana monster berelemen cahaya. Benar-benar sangat berguna untuk berburu di dungeon kelas tinggi yang penuh monster kuat," Jawab gadis penyihir itu dengan panjang lebar. Mengikat kekuatan mana berelemen cahaya. Terdengar seperti barang yang sangat langka....
"Berapa harganya?"
"Hanya 10 koin besi untuk satu unit," Jawaban pelayan toko itu spontan membuatku sangat terkejut. Koin besi merupakan yang kedua paling rendah dari semua koin yang ada -yang terendah adalah koin tembaga.
"Murah sekali, bukankah benda seperti seharusnya banyak dicari? Apakah ini juga dapat bekerja pada target orang?"
"I-itu karena monster dengan elemen cahaya hanya ada sedikit. Selain itu, ini sama sekali tidak berpengaruh pada orang walaupun mereka memiliki elemen cahaya."
Walaupun begitu bom ini sangat menarik perhatianku. Tidak ada salahnya membeli dan mengetesnya sendiri. Siapa tahu alkemis di Finia tahu cara memodifikasikan bom itu menjadi flashbang mini, atau bahkan granat EMP[ Granat EMP : Electromagnetic Pulse, granat yang dapat mengeluarkan gelombang energi yang dapat membuat error energi listrik (korsleting) sehingga terjadi kerusakan pada setiap benda yang memakai listrik (alat elektronik). Sampai saat ini, granat EMP mungkin masih hanya sebatas wacana di kalangan para ahli teknologi.]. Lagipula harganya murah. "Baiklah, aku ambil tiga."
Kebetulan aku di toko seperti ini aku memutuskan untuk membeli semua yang diminta Blade di sini. Aku mengambil kertas itu dari saku dan membacanya. "Um, aku juga membutuhkan penawar racun, bulu phoenix, garam epsom, serbuk mineral Yggdrasil, ekstrak bunga anggrek, asam lambung tumbuhan pemangsa, sisa Slime, kunci hitam, dan....testis unicorn? Bisa tolong ambilkan masing-masing 100 gramma?"
Dia mau buat apa sih?
"Baik, akan saya ambilkan. Tolong tunggu sebentar di kasir!"
Gadis itu segera berlari bergegas mengambilkan yang aku minta. Selagi menunggunya aku melihat-lihat buku yang terpajang di counter di dekat kasir. Hanya melihat-lihat karena semuanya ditulis dalam bahasa yang terlihat seperti bahasa negara-negara Nordik(Aku tidak bisa membedakannya).
Setelah melihat-lihat sebentar, gadis penyihir itu kembali sambil membawa pesananku yang seluruhnya ditaruh dalam kotak dan botol kaca. Aku memeriksa semua isi kotak itu, memastikan semuanya benar kemudian membayarnya.
Aku mengerti mengapa Blade membeli bahan baku alkimia di sini. Harganya jauh lebih murah dari di New Verdannia. Mungkin karena di Alfheim banyak terdapat flora dan fauna yang merupakan sumber bahan-bahan tersebut.
"Terima kasih! Datang kembali!" Sahut penjaga toko tersebut sambil melambaikan tangannya. Aku membalas senyumannya dan pergi meninggalkan toko itu.
Oke, membeli perlengkapan sudah, pengintaian area....Sepertinya aku sudah mengelilingi seisi kota ini dan mencatat point penting.
Baiklah, saatnya kem-
"Hei, kau!"
Teriak seseorang di belakangku, diikuti dengan beberapa langkah sepatu besi di atas jalan yang terbuat dari batu.
"Hmm?"
Sebelum aku menengok ke belakang, sekelompok ksatria menarik dan menyeretku ke sebuah gang kecil. Mereka kemudian mendorongku sampai aku menabrak tembok.
Apa-apaan ini?
"Berani-beraninya kau menyakiti Nona Jeanne! Rasakan ini!" Tidak sempat aku mengatakan apapun, sebuah pukulan menghantam ulu hatiku.
Suatu kesalahan aku tidak memakai baju zirah ke kota. Pukulan gauntlet itu langsung membuat ulu hatiku sakit sampai aku tersungkur, kesulitan untuk bernafas. Hal pertama yang aku lihat adalah 5 pasang sepatu besi. Menengok ke atas, aku menyadari siapa yang menyerangku.... Ksatria Santa Whales.
Aku mengerang sekeras mungkin agar oksigen bisa kembali masuk ke paru-paruku. Aku menumpu badanku dengan kedua tanganku, berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, tapi aku tidak mampu....
"Jadi benda ini, flintlock sihir yang dapat menembak berentetan," Salah satu dari mereka, seorang Elf berambut pirang dengan senyum congkak menggenggam pistolku dan berusaha mencabutnya dari holster. Aku masih bisa tersenyum walaupun kesakitan. Aku bisa menebak apa yang akan terjadi. "Tidak bisa....dicabut?!"
Sudah kuduga. Holster yang aku pakai dilengkapi sistem tombol lock sehingga tidak akan mudah terlepas.
"Sihir apa yang kau gunakan?!"
"Tidak ada sihir, kalian saja yang terlalu lemah...."
Ejekku remeh, walaupun aku sadar bahwa itu seperti menggali kuburan sendiri. Si telinga runcing itu menggertakan giginya dan menendangku sampai aku harus terjatuh lagi ke tanah. Ah, sialan....
"Berani sekali kau!"
Sial....Mau melawan sekalipun aku tidak akan menang. Mereka memakai zirah dan bersenjata sementara aku? Aku hanya membawa sebilah sangkur dan bom yang tadi aku beli. Jika aku menggunakan pistol, itu akan menarik perhatian. Belum lagi aku pasti akan digantung jika aku kedapatan membunuh 'rekan' sendiri.
Kampret memang.
Aku harus memikirkan suatu rencana....
"Siapa yang lemah sekarang, hah?!" Umpat salah satu 'ksatria' itu, diikuti oleh teman-temannya sambil menendangku terus-menerus.
"Tanpa senjata sihir itu, kalian bukan apa-apa dibanding kami!"
"Dan kalian juga mengaku sebagai ksatria dari dunia lama. Membual juga ada batasnya tahu!"
"Aku harus memberi tahu Nona Jeanne tentang ini agar dia tahu bahwa kalian hanya kumpulan orang lemah yang tidak punya harga diri!"
"Dia tidak pantas menghabiskan waktu dengan pengecut seperti kalian!"
Aku berusaha melindungi sekujur tubuhku dari tendangan mereka, walaupun sama sekali tidak berbuah hasil. Aku hanya bisa merintih kesakitan dan memohon. "T-tolong, hentikan...."
"Oh ya, aku baru ingat! Dia juga sudah menyiksa dan membunuh seorang tawanan perang!" Seru salah satu dari mereka pada yang lain. Bajingan-bajingan ini sepertinya ingin membunuhku....
"Benarkah itu? Hah?!"
Si telinga runcing itu 'membantuku' berdiri dengan menarik kerah bajuku kemudian menghajar pelipisku sampai aku terhuyung dan terjatuh tengkurap. Dengan susah payah aku kembali mengangkat tubuhku dengan kedua tanganku, berusaha kembali berdiri. Aku bisa merasakan rasa darah di mulutku. Sial, gusiku pasti ada yang berdarah.
Dengan tembok gang sebagai tumpuan, aku berhasil berdiri kembali. Walau begitu ulu hatiku masih sangat sakit, seperti ada yang menyumbat oksigen masuk ke dalam paru-paru.
Aku melirik keluar gang. Banyak orang hanya menonton kami dari luar gang. Ya, mereka hanya menonton seperti sedang menonton pertunjukan Barongsai di kota Cina. Tidak ada yang mencoba membantuku atau setidaknya memberitahu pihak berwajib....
Walaupun dunia yang berbeda, hal busuknya sama sekali tidak berubah, ya?
"Tindakanmu itu....sudah mempermalukan orde ksatria Santa Whales!"
Salah satu dari mereka melemparkan sebuah pedang yang tepat mendarat di depan kakiku. Aku mengatur nafasku kembali dan menatap kembali mereka, tidak yakin apa yang mereka inginkan.
"Kalau kau merasa kuat, angkat pedang itu dan hadapi aku," Seru dia sambil menghunuskan pedangnya, sebuah pedang berwarna biru dan putih berbentuk salib. "Orang sepertimu wajib hukumnya untuk dipermalukan. Demi harga diri Nona Jeanne!"
Aku mengambil pedang itu dan memasang kuda-kuda seperti saat aku ber-kendo. Aku tidak bisa menggunakan pedang ini. Pedang barat yang bermata dua dan lebih lebar sangat berbeda dengan pedang Jepang yang memiliki satu mata dan belati lebih kecil namun tebal.
Orang ini....Edward? Kalau aku tidak salah. Dia terlihat sangat kuat. Apalagi mengingat dia adalah Kapten pasukan kavaleri Griffin atau apalah itu. Kecil kemungkinan aku bisa menang bertarung pedang dengannya.
"Mereka akan bertarung?"
"Pemuda itu pasti akan mati."
"Aku bertaruh 100 koin perak untuk ksatria itu!"
Mereka ingin melihat pertarungan? Oke, akan aku tunjukan pertarungan yang sebenarnya.
"Rasakan ini!" Ia mengambil inisiatif menyerbu, berlari sambil mengaktifkan serangan sihir.
Dengan memegang bagian tengah pedang, aku sedikit menancapkan ujung pedang itu ke dalam tanah secara diagonal seperti mencangkul dengan sekop. Kemudian, dengan sedikit serangan sihir, aku mencongkel dan melemparkan segenggam tanah dari ujung pedang ke mata Edward, membuatnya kehilangan pengelihatan.
"Aaagghhh!" Menggunakan kesempatan ini, aku menendang tubuhnya sampai ia terdorong ke belakang menabrak dua temannya. Bertarung di gang sempit seperti ini ternyata memberikan keuntungan. Aku melemparkan pedang yang aku genggam ke arah dua ksatria lainnya yang terlihat ingin menyergapku. Mereka langsung mundur menghindari pedang itu sementara aku berlari menyelamatkan diri. Hanya orang bodoh yang mau berhadapan dengan 5 ksatria bersenjata lengkap secara langsung dan berpikir akan menang.
Master Sun Tzu[ Sun Tzu : Seorang Jenderal, ahli strategi militer, dan filsuf dari Tiongkok yang hidup pada masa kekuasaan akhir Dinasti Zhou (770 - 476 SM). Beliau terkenal sebagai penulis The Art of War, buku tentang strategi dan taktik militer yang menjadi pedoman di berbagai negara hingga saat ini.
] pernah berkata 'Jika musuh berada dalam posisi yang lebih kuat, menghindar' dan 'Berpura-puralah lemah sehingga musuh dikuasai rasa arogansi'." Aku tinggal perlu melarikan diri dan menyerang mereka kembali saat mereka tidak siap.
"Hentikan dia!"
"Minggir, bangsat!" Aku berteriak sambil mendorong kerumunan warga di luar gang dengan kasar seperti seorang Hooligan yang merusuh. Beberapa orang sampai terjatuh dan terinjak karena aku. Siapa suruh mereka hanya menonton.
Salah seorang dari mereka merintih dengan suara yang sangat familiar.
"Kyaaa!"
Aku berdiri mematung, menatap seorang gadis berambut pink terduduk di tanah sambil merintih kesakitan.
"Jeanne...."
"Habisi dia!" Teriakkan itu sontak membuat gadis itu terkejut.
Jeanne kemudian berdiri dan mendorongku ke belakang dirinya. Ia menggunakan gauntlet-nya untuk menepis sabetan pedang yang mengarah padaku. Namun, serangan itu terlalu kuat hingga mengenai lengan atas Jeanne. Melihat siapa orang yang menahan serangannya, ksatria itu bersama teman-temannya berdiri mematung.
"N-nona Jeanne?"
Gadis itu menggertakan giginya sambil memegang pundaknya yang terluka. Aku melihat darah mulai menetes dan semakin memancar, mengotori seragam putih yang ia pakai.
Seketika itu, diriku dikuasai oleh amarah.
Jeanne...berdarah...mereka....
Kurang ajar...beraninya mereka!
Akan kubunuh....
Akan aku bunuh mereka semua!
__ADS_1