
"The fuck?"
Gumam Muse dalam nada rendah. Tentu saja, kami bertiga terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan sang putri.
Apa...yang barusan itu?
"Istirahat di tempat, gerak!"
Setelah mendengar aba-aba sang kapten, kami mengubah cara berdiri dengan melebarkan kaki dan menggenggam tangan di belakang.
Blade mendehem dan bicara pada Sang Putri dengan bahasa yang halus. Tidak lupa dia merapatkan kakinya sebelum bicara. "Maaf Tuan Putri, saya pikir mungkin anda salah orang karena kami...berasal dari tempat yang sangat jauh dari sini. Kami di sini hanya sebagai perwakilan negara kami untuk membuka hubungan dengan negara-negara di sini."
Kapten kembali ke posisi 'Istirahat di tempat'.
Sang putri berdiri dari singgahsana dan berjalan ke arah kami.
"Tidak, aku tahu kalian adalah para ksatria pemberani itu. Ramalan berkata bahwa ksatria - ksatria pemberani dari negeri nan sangat jauh. Mereka akan menghancurkan semua kekuatan jahat dan membawa kedamaian ke dunia ini."
Sang putri berambut putih itu berhenti beberapa langkah di depan kami dan tersenyum cerah pada kami.
"Aku sangat berterima kasih..."
Kami hanya menatap datar ke depan. Bohong jika kami tidak terkejut. Apakah...Intel kami bocor? Aku yakin selain orang - orang yang terlibat dalam Operasi Katalis, tidak ada yang tahu kemana kami akan dikirim. Apakah ini bagian dari misi?
Ah, tidak mungkin...aku tak mendengar perwira penerang bicara sesuatu tentang 'hancurkan iblis dan selamatkan dunia'. Kami hanya perlu mengambil orang-orang kami dan pesawat dan menghilang dari sini.
Jeanne yang masih berlutut dengan Elisa membuka mulutnya.
"Tuan Putri, hamba..."
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun, Jeanne..." Sang putri menyentuh pundak Jeanne dengan lembut. Ia kemudian menatap ke kami satu per satu, dengan senyuman yang dapat menggetarkan hati itu. "Untuk sekarang kalian berdua boleh pergi. Terima kasih karena sudah mengantar mereka kemari dengan selamat."
"A-atas keinginan anda, yang mulia..."
Jeanne dan Elisa bangkit dan perlahan meninggalkan ruang takhta. Setelah mereka menghilang dari pandangan, Putri Tiara berjalan ke depan kami. Ekspresinya bagaikan seorang gadis yang terkagum - kagum melihat tokoh pujaannya secara langsung.
"Aku ingin bicara dengan kalian secara pribadi. Apa kalian keberatan?"
Kami bertiga menatap satu sama lain sebelum merapatkan kaki dan berseru secara bersamaan.
"Tidak sama sekali, Yang Mulia!"
Tuan Putri sempat terlihat kaget. Mungkin cara bicara kami yang serba formal terlalu asing di matanya. Ia kemudian pergi meninggalkan bersama 2 pengawalnya dengan kami berjalan di belakang mereka. Tuan Putri mungkin menganggap kami legenda yang menjadi nyata, namun kedua pengawal itu tentu tidak begitu saja memercayai kami.
Kami diajak berkeliling seluruh isi istana yang megah ini. Benar - benar sangat megah dan bergemilang pernak - pernik dari emas dan berlian Muse bahkan membandingkan istana ini dengan Gedung Putih. Ia bilang ia pernah masuk ke sana saat tamasya waktu SMP.
Setelah beberapa menit berkeliling, kami berhenti di kebun belakang istana. Kebun istana tak kalah indahnya dengan bagian lainnya. Kami disambut oleh tanaman - tanaman terlihat sangat asri. Pohon - pohon jenis langka tumbuh dengan subur dan bunga - bunga yang tak ternilai keindahannya bermekaran di sekitar jalan setapak yang kami lewati. Bau wanginya sudah tercium bahkan sebelum kami memasuki taman.
Tuan Putri menuntun kami dan mempersilahkan kami duduk di meja tempat minum teh di bawah salah satu pohon besar. Meja dan kursinya terbuat dari bahan seperti marmer. Benar-benar mengkilap. Aku bahkan melihat Muse mengusap-usap kursi yang ia duduki.
Sang Putri mengangkut salah satu cangkir teh dan meminumnya. Kami hanya duduk di kursi di seberang meja sambil menaruh tangan di paha. Senapan sudah kami lepaskan dari tali pengait dan kami letakkan di pinggir kursi.
Melihat kami yang duduk dengan tegap tanpa gerakan tambahan, Tuan Putri tersenyum dan menaruh cangkir tehnya.
"Ada apa? Santai saja, tuan - tuan. Silahkan diminum tehnya."
"Baik, terima kasih banyak, Yang Mulia."
Sahut Blade sambil mengangkat cangkir yang berada di depannya dan perlahan meneguk teh di dalamnya. Kami berdua sedikit enggan meminum teh tersebut. Mungkin menurut kalian ini langkah yang cukup pragmatis. Jika terjadi sesuatu pada Kapten setelah meminum teh, setidaknya kami dapat bersiap.
Setelah Blade menaruh kembali cangkirnya, Sang Putri mulai bertanya beberapa hal.
"Sebelumnya, boleh aku tahu nama kalian?"
"Sebut saja saya Blade," Sahut Blade dengan wajah datar. Ia berkata tanpa keraguan dalam dirinya. "Mereka berdua adalah bawahanku, yang di sebelah kiri adalah Wand sementara yang di kanan Muse."
"Blade...?"
Sudah kuduga, Putri Tiara pasti akan terheran-heran mendengar nama kami yang...sedikit aneh.
"Itu nama panggilan saya, Yang Mulia. Karena satu dua hal kelompok kami lebih sering memakai nama panggilan daripada nama lengkap asli. Saya harap anda maklum."
Sang Putri terkikik. "Baiklah, aku bisa memaklumi. Aku menghormati kerahasiaan pribadi seseorang. Ngomong-ngomong, bolehkah aku tahu dari mana asal kalian? Aku tahu kalian bukan berasal dari tempat yang sama."
Aku tidak terkejut Sang Putri bertanya seperti itu. Logat kami berbeda-beda, dan juga wajah dan kulit orientalku benar-benar sangat berbeda dengan kedua rekanku.
"Sesuai keinginan anda, Tuan Putri," Sahut Blade.
Aku pikir itu tak masalah jika memberitahu negara asal kami ke Sang Putri. Lagipula aku ragu dia tahu jika negara-negara tersebut ada.
"Kami berada di bawah naungan organisasi Perserikatan Bangsa - Bangsa. Sebuah organisasi yang beranggotakan banyak negara dari berbagai belahan dunia. Saya sendiri berasal dari Kerajaan Britania Raya, salah satu anggota tetap. Wand berasal dari Negara bernama Jepang, sementara Muse berasal dari Amerika Serikat."
Blade kemudian mengenaikan alisnya, memberiku isyarat untuk 'menerjemahkan' tujuan kami datang ke sini ke kata-kata yang mereka mengerti.
"Tujuan kami diutus kemari adalah demi seekor naga besi berukuran besar. Naga itu mengeluarkan suara raungan keras saat terbang dan memiliki segel yang berkelap-kelip seperti bintang saat malam hari. Apa anda tahu sesuatu tentang itu?"
Sebelum menjawab pertanyaanku, Putri Tiara sempat berpikir mengingat-ingat sesuatu.
__ADS_1
"Aku tahu tentang naga itu. Tapi, mengapa seekor naga begitu penting sampai-sampai organisasi antar negara mengutus sekelompok ksatria untuk mencarinya?"
Entah kenapa aku tertawa di dalam hati melihat Sang Putri terheran-heran seperti itu.
"Naga itu memiliki kekuatan hitam bernama Nuklir. Kekuatan itu sangat berbahaya, dan dapat meratakan satu kota besar dan meninggalkan awan beracun."
Nuklir memang bagaikan kekuatan hitam. Nuklir berguna sebagai pembangkit listrik alternatif. Sayangnya, manusia malah menggunakan benda itu sebagai senjata pemusnah massal. Aku memang seorang tentara. Tugasku adalah melindungi negara. Namun, sampai kiamat sekalipun aku tidak akan pernah setuju dengan adanya senjata nuklir. Harapanku untuk dunia baru ini semoga 500 tahun ke depan uranium maupun plutonium tidak akan ditemukan.
"Karena itulah, banyak negara mencarinya seperti kehabisan darah. Perserikatan bangsa-bangsa memerintahkan kami untuk membawa kembali naga itu untuk menghindari hal yang tidak diinginkan."
Sang Putri tertegun. Mungkin ia terkejut karena besarnya kerusakan yang dapat ditimbulkan 'kekuatan hitam' dan bagaimana banyak negara memburunya. Ia mengangguk dan bertanya.
"Izinkan aku bertanya. Apakah kalian punya misi lain selain membawa kembali naga itu?"
Blade menghela nafas panjang. "Maafkan saya, Yang Mulia. Kami diperintah untuk tidak mengatakan hal apa pun tentang misi kami selain tentang naga itu. Jika kami mengatakan hal-hal yang dilarang, kami bisa dianggap mengkhianati negara."
Diantara kami tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Sang Putri menunduk. Matanya tertutup oleh rambut. Ia kemudian kembali menatap kami. Secercah harapan bersinar di matanya. "Apakah itu ada hubungannya dengan..."
"Maaf, kami sama sekali tidak tahu menahu tentang ramalan yang anda sebutkan," Sahut Blade. Ia menghabiskan teh di cangkirnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Sebelum kami pamit, izinkan kami menyampaikan sesuatu. Sebagai perwakilan masing-masing negara, kami ingin mulai membuka kontak dan juga membuat aliansi dengan Kerajaan Finia. Jika Finia dilanda bahaya, kami siap untuk membantu."
"Benarkah...? Terima kasih banyak! Aku tahu kalian pasti ksatria yang ada di ramalan itu! Aku bisa merasakannya! Terima kasih!"
Aku heran mengapa ia menyebut kami sebagai 'Ksatria' padahal kami tidak punya satupun ciri-ciri seorang ksatria. Blade memang memakai patch perisai Crusader di lengannya, tapi itu sama sekali tidak mengubah imej kami.
"Tidak masalah, Yang Mulia. Kami siap membantu."
"Baiklah, aku akan mengantar kalian ke kamar tamu-"
Blade langsung memotongnya bicara. "Tidak usah repot-repot, Tuan Putri. Kami bisa mencari rumah kontrakan di dekat sini."
Sebenarnya, kami lebih memilih mengontrak rumah kosong di luar bukan karena merasa tidak enak, tapi demi kerahasiaan. Lebih baik memang di kontrakan yang sempit tapi bisa merencanakan sesuatu tanpa kebocoran informasi daripada di tempat ramai seperti istana ini.
"Aku merasa tidak enak hati bila ksatria seperti kalian harus tinggal di rumah kontrakan yang sempit."
"Justru kami yang tidak enak hati Tuan Putri..."
Blade sempat mendesah sambil mengalihkan pandangan ke bawah. Dia sepertinya memikirkan sesuatu untuk dijadikan alasan. Aku menatap mata violet Sang Putri dan berkata.
"Kami menghargai tawaran anda. Kami akan tinggal di sini sementara waktu sampai kami mendapatkan tempat tinggal yan layak. Bagaimana menurut anda?"
Sudah kewajibanku sebagai bawahan untuk membantu pemimpin bukan?
Namun, Putri Tiara terus bersikukuh. "Aku menyukai kerendahan hati kalian, wahai kesatria terpilih. Izinkan aku yang mencarikan tempat tinggal untuk kalian nanti."
Jawab Blade sebelum ia bangkit dan menghulurkan tangannya. Putri Tiara menjabat tangan Sang Kapten. Wajahnya terlihat sangat bahagia, seperti seorang fans yang kesampaian menjabat tangan idolanya.
"Kami akan mempersiapkan upacara penandatangan perjanjian aliansi besok. Aku harap kalian bisa beristirahat di kamar yang sudah aku siapkan."
"Yang Mulia!"
Kami mengalihkan pandangan pada seorang pemuda yang memasuki areal taman. Sesaat sebelum dia berhenti di dekat meja, para pengawal Sang Putri langsung membungkuk memberi salam padanya. Aku dan Muse berdiri dan mengangguk padanya. Pemuda itu tersenyum pada kami.
Ia mengenakan zirah ksatria abu-abu dan baju rantai di bagian leher. Jubah berwarna biru muda berisi salib putih terikat di punggungnya. Rambut biru selehernya sangat cocok dengan langit. Pedang yang terikat di pinggangnya terlihat sangat bersinar dengan campuran warna perak dan vermilion di bagian pegangan dan crossguard. Singkat kata, dia seperti sosok kesatria ideal dalam cerita dongeng. Usianya mungkin sedikit lebih tua dariku.
"Para Senat mengharapkan kehadiran anda di ruang sidang. Kita akan memulai rapat bulanan."
"B-baiklah, tolong antarkan para ksatria terhormat ini ke kamar tamu, Komandan Ksatria Montez."
Montez. Aku paham kenapa wajahnya terlihat seperti imigran ilegal...maksudku orang Latino.
"Dengan senang hati, Yang Mulia," Kata sang ksatria sambil membungkuk hormat dengan tangan di dada.
Entah aku melihat Sang Putri seperti tersipu atau itu cuma perasaanku saja. Ia menatap ke arah kami dan meminta permakluman. "Maaf, aku tidak bisa mengantar kalian. Aku sedang ada rapat penting."
Blade tersenyum ramah. "Tidak masalah, Tuan Putri. Aku justru segan bila anda yang mengantar kami."
Sang Putri tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum pergi meninggalkan taman bersama pengawalnya. Sekarang hanya kami bertiga dan Komandan Kesatria bernama Montez yang berada di taman ini. Sang Ksatria mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, namaku Juan Montez, pemimpin dari Orde Kesatria St. Whales. Senang bertemu dengan kalian."
Blade menyeringai sebelum menyodorkan tangannya. Kedua perwira berpangkat itu saling berjabat tangan.
"Senang bertemu denganmu juga, Ksatria Montez. Namaku-"
"Kapten Blade, bukan?" Potong Montez. Wajah Blade sempat menunjukan ekspresi terkejut. Sang Ksatria melirik ke arahku dan teman masa kecilku. "Dan dua bawahanmu, yang berambut hitam adalah Wand sementara yang pirang adalah Muse. Jeanne sudah melaporkan semuanya padaku."
Aku harap Jeanne tidak melaporkan 'kejadian itu'. Aku bisa mati karena saking malunya.
"Silahkan ikuti aku. Aku akan mengantar kalian ke kamar."
Kami mengikuti sang ksatria, kembali menyusuri seisi istana sampai kami tiba di koridor yang berisi banyak pintu kamar. Aku rasa tempat ini adalah tempat kamar tamu terletak.
"Ini kamar untuk Muse dan Wand," Kata dia sambil membuka pintu.
Kami hanya berharap mendapat kamar tidur biasa untuk bertiga dan makanan 3 hari sekali. Namun, yang kami dapatkan justru kamar paling mewah yang pernah aku lihat. Kami bertiga sampai ternganga melihatnya sambil bergumam "Homina, homina" di dalam hati.
__ADS_1
Lantai kamar tersebut dibuat dari sejenis kayu yang mengkilap dan 2 tempat tidur berukuran besar dengan tirai yang terlihat sangat lembut bila disentuh. Karpet yang melapisi sebagian ruangan seperti terbuat dari beludru merah dan mungkin akan terasa seperti dipijat setiap langkah jika tanpa alas kaki. Aroma dalam ruangan ini tercium sangat harum, seperti mereka bau pengharum ruangan. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan kamar Muse yang bau seperti kandang kambing.
"Maaf jika kamar ini tidak seperti yang biasa kalian tiduri, tapi aku berharap kalian dapat memaklumi apa yang ada."
'Tidak seperti yang biasa kalian tiduri' katanya? Mungkin iya, tapi tidak seperti yang ia pikir. Kamarku mungkin kurang dari seperempat dari luas kamar ini, dan dia kira ini masih kurang? Jika perwira kelas rendah sepertiku dapat tinggal seperti presiden, aku lebih baik pindah kewarganegaraan saja, haha lol.
"Kapten Blade, kamarmu ada di sebelah. Perlu aku-"
"TUAN MONTEZ!!!"
Suara teriakan melengking menggemuruh sepanjang koridor. Terlihat dari kejauhan, seorang gadis dengan pakaianmaid berlari kemari. Setelah ia mendekat aku mendapat gambaran jelas penampilannya. Ia memiliki rambut coklat pendek bergelombang. Yang membuatku agak terkejut, ia memiliki telinga dan ekor kucing. Posturnya sangat pendek seperti anak SD.
Gadis itu berhenti di depan kami. Ia terengah-engah setelah berlari. Montez melihatnya dengan wajah bingung. "Tomoe? Ada apa?"
"Anu, Tuan Putri dan Menteri Pertahanan meminta anda menghadiri rapat," Sahut gadis pelayan itu.
"Baiklah," Ia menghela nafas. Ternyata bukan aku saja yang merasa tertekan jika menghadiri rapat. "Maaf aku tidak bisa menemani kalian lebih lama, aku ada urasan penting. Jika kalian butuh sesuatu bisa minta pada gadis ini. Aku permisi."
"Terima kasih atas tur singkatnya, Komandan." Sahut Blade. Montez tersenyum ramah sebelum berbalik dan berjalan menjauh.
Setelah ia pergi, kami mulai memberes-bereskan barang bawaan kami. Gadis kucing itu, Tomoe hanya terpatung di dekat pintu ruangan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Tomoe ya?"
"N-nyan?!" Aku penasaran suara 'nyan' itu dibuat-buat atau tidak.
"Kamu boleh pergi. Kami akan memanggilmu jika memerlukan sesuatu."
Mendengar permintaan Blade, ia mengangguk. "Baik Master! Permisi!"
Gadis kucing itu menunduk hormat dan meninggalkan ruangan sembari menutup pintu. Setelah langkah kaki Tomoe tak terdengar lagi, aku memberi isyarat pada yang lain untuk bicara dengan suara rendah.
"Kapten yakin tentang ini? Kita bermain ksatria di negeri antah berantah ini? Bukankah ini sudah melenceng jauh dari misi kita?" Aku mulai berbicara.
"Saatbriefing, kita diperbolehkan untuk melakukan hal apapun demi menyelesaikan misi."
"Tapi, hal seperti membuka aliansi berdampak besar. Kapten yakin akan hal ini?"
"Aku yakin ini pasti hal yang diinginkan para atasan."
Mendengar jawaban Blade yang meyakinkan, Muse menghela nafas dan menaruh tangan di belakang kepalanya.
"Terserah apa katamu. Aku hanya berharap mereka nggak menghambat kenaikan pangkatku lagi."
"Mereka pernah menghambatmu naik pangkat?"
Aku menjawab pertanyaan Blade. "Ceritanya panjang...Sangat panjang..."
"Okelah," Blade mendehem. Ia mengumumkan pada kami rencana yang ia susun. "Kita akan memulai pencarian 2 hari lagi. Besok kita akan mengumpulkan perlengkapan untuk berpetualang. Yang terpenting adalah pakaian, zirah, ramuan, dan senjata jarak dekat. Entah itu, pedang, tombak, atau senjata lainnya. Itu terserah kalian. Aku tebakgaymers seperti kalian berdua tau apa yang harus kalian beli."
Aku mendengus saat mendengarnya memanggil kamigaymers. Jika kalian bertanya kenapa kami harus membeli perlengkapan petualang saat kami punya perlengkapan Pasukan Khusus yang jauh lebih modern, itu untuk penyamaran. Sama seperti polisi investigator yang sering berpakaian seperti preman, pasukan khusus lebih sering berpakaian layaknya orang sipil daripada berpakaian dinas. Belum lagi di tempat seperti ini, memakai 'pakaian kotor' sangat menarik perhatian.
"Aku akan menjual kedua tanduk Minotaur ini dan membagi hasilnya bertiga. Sampai jumpa!"
Ia pergi meninggalkan kami berdua di kamar. Saat kami pikir dia sudah menghilang, kepalanya menengok. Ia memberi tahu kami sambil menunjuk.
"Oh ya, jangan ada yang beli senjata premium. Ini perintah."
Setelah Sang Kapten pergi, aku dan Muse mulai membereskan dan mengumpulkan perlengkapan. Kami melepas rompi anti-peluru dan sepatu kemudian menaruhnya dengan hati-hati di pinggir tempat tidur. Senapan sudah kami kunci dan amankan di bawah kasur. Setelah semuanya selesai, kami tinggal perlu malas-malasan menunggu Blade. Muse duduk di pinggir kasurnya sembari melepaskan kemeja temur dan kaosnya.
"Tau nggak, Hajime?"
"Panggil aku, Wand! Jangan lupa, kita masih bertugas."
Muse tersenyum remeh seolah tidak memerdulikan kata-kataku.
"Aku sudah membaca puluhan novel yang karakter utama terlempar ke dunia fantasi...Apa namanya itu?"
"Isekai."
"Ya, itu! Aku merasa saat ini menjadi karakter utama cerita semacam itu. Dikirim ke dunia lain dan jadi pahlawan terpilih. Aku penasaran apa yang akan dikatakan oleh orang-orang di rumah."
Setelah aku pensiun mungkin aku akan membuat buku berjudul 'No Easy Day in Isekai'*. Banyak mantan anggota pasukan khusus menulis buku tentang pengalaman mereka, aku berpikir mungkin aku akan mengikuti jejak mereka.
"Hanya saja, aku bukan ksatria. Kita bukanlah ksatria," Aku melindungi negara dengan mencabut nyawa manusia. Mungkin ksatria juga melakukan hal yang sama, tapi mereka tidak akan mau melakukan pekerjaan kotor. Ku tatap tanganku dalam-dalam. Entah sudah berapa kali tangan ini menarik pelatuk dan melakukan hal-hal yang kemoralannya dipertanyakan. Aku sulit memaparkannya dalam kata-kata. Hanya prajurit yang pernah menginjakan kaki di medan perang yang mengerti perasaanku saat ini. Yang pasti, aku selalu bertanya-tanya apakah aku melakukan hal yang benar atau tidak.
Muse sebagai teman masa kecilku dan sesama prajurit yang pernah ke medan perang, tentu saja memahami apa yang aku rasakan. Ia menghela dalam-dalam danstretching melemaskan otot tubuhnya. "Kita akan berada di sini selama 1 tahun. Ikuti saja alurnya. Lama kelamaan juga terbiasa. Begitu saja kok repot."
"'Grab them by the pussy'**, 'harem', itu saja yang ada di otakmu bukan?" Muse langsung tertawa mendengarnya.
Aku merebahkan diriku di atas kasur.
"Mungkin kau ada benarnya, Muse," Aku mengingat apa yang ayahku katakan padaku. Yang menentukan benar atau salah adalah hasil. "Tapi masih banyak yang tidak kita ketahui tentang dunia ini."
"Karena itulah kita akan menjelajahinya.Get ready for the epic adventure of Knight in GREEN!" Sahut Muse sambil mengelus dadanya dan mendengus angkuh.
Knight in GREEN, hah? Nama yang sangat jelek. Aku sampai mau muntah mendengarnya.
__ADS_1
"Terserahlah..." Sahut aku sebelum menutup mata. Ini semua baru dimulai. Masih banyak rintangan yang harus kami lewati demi menyelesaikan misi ini....