Eclipse - Special Operation in Another World

Eclipse - Special Operation in Another World
Episode 14


__ADS_3

"Muse....apa maksudnya ini?" Tanyaku datar sambil memperhatikan gelas berisi cairan kuning berbusa di depanku. Apakah ini benar-benar bir? Rasanya lebih buruk dari kencing onta.



"Minum saja," Jawab Muse tanpa rasa tak bersalah sama sekali. Ia memainkan gelas bir yang sudah setengah habis di tangannya, seolah ingin memancing kemarahanku. "Hutangku sudah lunas, kan?"



Dasar pelit.



Saat ini kami sedang berada di sebuah bar di daerah pusat perniagaan kota Fraegligr. Muse memilih tempat ini karena menurut dia makanan dan birnya enak tetapi dengan harga yang bersahabat. Sesuai janji Muse waktu di bukit Hvittfjall, ia akan mentraktirku minum bir. Yah, aku juga salah sih. Dia tidak bilang sih kalau birnya akan enak, tapi tetap saja...!



Sebuah ide muncul di kepalaku. Aku menepuk pundak Muse dan menunjuk pada suatu hal. "Lihat! Penari telanjang!"



Dengan antusias, si cabul menatap ke arah jariku menunjuk. Matanya terlihat sangat lapar. "Hah?! M-mana?!"



Sementara ia lengah, aku merebut gelas Muse dan menegak habis isinya. Uh, rasanya benar-benar segar. Mungkin ini bir terbaik yang pernah aku minum....



"Woi!" Seru ia dengan kesal sambil menggebrak meja. Pengunjung yang duduk di sebelah tersentak mendengar hentakan sebelum melanjutkan urusan mereka sendiri. Aku hanya menaruh kembali gelas kosong itu di meja sambil bersendawa.



"Mentraktir teman kok perhitungan banget?"



"Itu kadar alkoholnya tinggi, oon!"



"Peduli setan!" Jawabku ketus.



"Kepalamu peduli setan! Aku nggak mau nyeret kamu ke barak gara-gara gituan."



"Oh ya, makasih banyak, sandnigger," Sahut aku dengan nada sarkastik. Jangan heran kalau kami sering melempar ejekan rasis. Ini sudah biasa.



Aku kemudian memesan dua gelas bir lagi pada pelayan bar. Aku yang akan bayar agar dia tidak mengamuk. Kami berdua duduk dengan santai sambil mengamati keramaian di bar ini. Semakin larut, semakin ramai pula pengunjung yang datang. Kebanyakan pengunjung, terlihat dari seragam yang mereka kenakan merupakan tentara-tentara yang mengawal para delegasi. Mereka bersenang-senang dan bersenda gurau dengan rekannya masing-masing. Mereka terlihat seperti orang yang berbeda dari yang aku lihat di ruang pertemuan tadi siang.



Mataku melirik arloji yang menunjukkan jam 0138. Tak terasa sudah lewat tengah malam. Segerombolan ksatria Santa Whales masuk ke bar. Aku tidak tahu kalau pasukan mereka diperbolehkan ke tempat seperti ini.



Aku menyadari tatapan mereka ke arahku. Tatapan antara rasa takut dan kesal. Mereka pasti ksatria di bawah pimpinan Jeanne atau mungkin yang nge-fans dengan dia. Aku tahu karena anggota ksatrian di regu yang lain terlihat biasa-biasa saja denganku, seperti Ingrid dan Xenous. Muse kemudian berbisik padaku.



"Wand, nanti kamu harus minta maaf ya."



"Pada ksatria-ksatria itu?"



Seriusan? Apa jangan-jangan Muse sudah terlalu mabuk sampai-sampai tidak tahu apa yang dia ucapkan?



"Pada Ingrid dan penyembuh lainnya, gara-gara kamu terlalu kuat, mereka kesulitan mengobati luka si bajingan bertelinga runcing itu."



Oh, ternyata dia masih sadar, matanya sama sekali tidak ada tanda-tanda kelelahan atau mengantuk. Jangan-jangan Muse mengkonsumsi ripped fuel lagi?



"Aku juga baru sadar. Ksatria kok lemah banget ya? Dipukul sekali langsung KO," Lanjut dia dengan nada mengejek, membuatku terkekeh.



Itu bukan sekali sih, tapi berkali-kali. Edward bisa saja mati. Mungkin kalau Muse dan Frey tidak ada di sana, pasti akan jatuh korban jiwa.



Hah, bisa-bisanya aku lepas kendali seperti itu. Suara-suara yang ada di dalam kepalaku benar-benar mengerikan....



"Baiklah, akan aku lakukan nanti."



Tapi kalau dipikir-pikir rasanya lega bisa membuat lebam muka songong itu.



Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Jeanne saat ini ya? Luka di pundaknya terlihat cukup dalam....



"Mikirin Jeanne? Tenang saja, bocah itu sudah dirawat, nggak ada luka serius."



"Sok tahu," Ekspresi wajah dan ucapanku tidak sinkron. Sejak dulu, Muse bisa tahu jelas kalau aku berbohong, tapi bagaimana dia bisa tahu aku tidak tahu.



"Ternyata di sini kalian."



Sahutan suara familiar berlogat Inggris terdengar dari pintu bar. Kami memutar kepala guna melihat orang itu, yang tak lain adalah Blade. Ia berjalan menghampiri kami bersama...Xenous? Bukan kah dia masih di bawah umur? Maksudku, ia tampak seperti gadis kecil berusia tak lebih dari 14 tahun. Apakah mereka tidak ada peraturan yang melarang anak di bawah umur minum alkohol?



Mereka berdua duduk di kursi kosong di sebelah kiriku.



"Aku pikir kalian lagi 'ena-ena' di lantai bawah tanah," Lanjut pria itu, membuat kami berdua menghela nafas.



"Maaf ya, kapten, aku masih punya harga diri, nggak sudi burungku dimainin pelacur."



Blade tertawa setelah mendengar ujaran Muse.



"Dasar Navy SEAL, harga diri kalian setinggi langit, ya?"



Aku rasa ini saat yang tepat untuk menggigit balik. "Halah, pura-pura jual mahal, padahal seleramu gyaru macam Tsuba-"



Muse tiba-tiba menancapkan sangkurnya di meja dan menatapku santai sambil bertopang dagu.



"Lu ngomong apaan tadi?" Tanya pemuda Amerika itu sambil tersenyum polos.



"Nggak jadi..." Aku menggeleng kepala dan berusaha mengalihkan topik. Kok dia bisa seseram itu ya? "Kapten sendiri nggak ke bawah?"



"Heh, istriku jauh lebih enak daripada puki penuh pejuh itu," Pria itu terkekeh sambil tersipu. Aku baru tahu kalau dia sudah punya pasangan. Wajahnya kemudian menunjukkan ekspresi ngeri. "Selain itu, dia punya semacam indra ke enam. Johnny-ku bisa dipotong nanti sampai rumah."



Muse dan aku tertawa mendengar ungkapan kapten kami sebelum melanjutkan menegak minuman keras. Fuh, benar-benar menyegarkan pikiranku setelah memikirkan hal tidak penting seharian.



Hmm? Apa hanya aku atau Blade menatapku terus dari tadi.



"Ini pertama kalinya aku melihat kamu minum," Tanya atasanku khawatir. Sebagai atasan dan komandan GREEN Task Force sudah kewajiban dia untuk memperhatikan moral bawahannya, tapi haruskah dia menanyaiku setiap kali aku merenung? "Ada masalah?"



"Tentu saja ada, tentang 'si gadis perawan suci'," Jawab Muse sambil terkekeh seolah mengejek 'Payback Bitch!', membuatku ingin membakarnya hidup-hidup. Mendengar itu, Blade menggeleng keheranan.



"Masalah itu lagi? Kamu seperti anak kecil saja."



Yap, dia memang benar...



"Setelah apa yang terjadi, kayaknya susah banget agar aku bisa minta maaf dan berbaikan dengannya. Aku bahkan nggak sanggup tatap mata sama dia," Aku hanya bisa mengeluh dan mendesah panjang. Aku merasa sangat tak berdaya dihadapkan situasi seperti ini...."Aku ini emang pengecut ya?"



Kami semua menoleh pada Xenous yang bersuara meneguk bir seperti minum air mineral.



"Hah, segarnya!" Kenapa mereka semua membiarkan anak kecil minum minuman keras? Kedua mata jingga itu menatap mataku dalam-dalam. Ia mengangguk-angguk paham seperti mempelajari sebuah buku. "Kalau kamu memang bersungguh-sungguh, langsung saja minta maaf, mu. Tidak usah pikir yang macam-macam."



"Tapi aku tidak yakin dia akan-"



"Kalau tidak dicoba, bagaimana kau bisa tahu, mu?"



....dia benar.



"Bukan kesempatan yang datang pada kita, tapi kita yang mencari kesempatan. Semakin lama kamu berpikir semakin lama pula akan terus begini."



Ini pertama kalinya aku mendapat ceramah seperti ini selain dari Pak Tua itu. Hal itu membuatku tersenyum.



"Baiklah... Terima kasih, Xen."



"Sama-sama!" Jawab gadis anjing itu sambil menepuk-nepuk pundakku. "Aku yakin Jeanne pasti akan memaafkanmu. Dia gadis yang baik dan pemaaf."



"Untuk ukuran anak kecil, kamu bijak juga ya, doggo?" Sanjung Muse sambil terkekeh.



"Anak kecil? Umurku sudah 27 tahun, mu!"



"Ha?!" Gadis kecil ini....ternyata lebih tua dari aku dan Muse?!



"Iyap! Aku sudah mempelajari sihir sejak aku berusia 14 tahun, dan sejak saat itu tubuhku tidak tumbuh karena efek samping sihir."



Penjelasannya membuatku semakin penasaran tentang efek samping sihir. "Bagaimana dengan Ingrid atau pengguna sihir lainnya? Kenapa mereka tetap tumbuh seperti normal?"



"Hehehe, aku ini Archmage. Berbeda dengan Magus biasa, Archmage dapat menguasai 4 elemen sihir sekaligus. Untuk penyebab mengapa aku tidak dapat tumbuh, kami masih mencari tahu tentang itu."



Aku mengangguk paham mendengar penjelasan dari Xenous. Mungkin tempat ini akan menjadi ladang berburu para ilmuwan untuk mempelajari ilmu baru.



Mengesampingkan penjelasan ilmu sihir, aku kembali merasakan rasa cemas di dadaku.




Masalahnya ini pertama kalinya aku dihadapkan ke situasi seperti ini. Aku memang sudah pernah pacaran tapi aku benar-benar merasa Jeanne sangat berbeda dengan mantan-mantanku selama ini. Saat mereka ingin putus dariku, aku biasa-biasa saja. Aku maklum kenapa mereka menginginkan itu, tapi soal Jeanne....



Aku harus benar-benar hati-hati. Salah-salah pertemanan kami bisa tambah rusak. Aku benar-benar tidak ingin menjauh darinya....



"Pokoknya, besok kamu harus sudah baikan sama Jeanne. Percuma punya tampang Ikemen tapi nggak dimanfaatkan dengan baik," Sahut Muse sambil mengelus-elus punggungku. Bau nafasnya sudah mengeluarkan bau alkohol. "Aku bisa tebak beberapa cewek di pojokan sana kebelet mau bercinta sama kamu."



Aku menatap cewek-cewek yang ditunjukan oleh Muse. Memang cantik-catik dan juga dengan body yang 'wah', tapi dari baju mereka yang seperti kekurangan bahan, aku bisa tahu bahwa mereka itu pelacur. Jenis wanita yang akan tanpa ragu membuka selangkangannya jika disodorkan uang. Aura mereka sangat jauh berbeda dengan Jeanne.



Aku tertawa pada diriku sendiri. Mengapa aku selalu membandingkan semua gadis dengan dia? Apa yang salah denganku?



Tanpa kusadari, Blade terkekeh mendengarku gelisah. "Buat nyemangatin kamu, sekarang aku yang bayar deh."



"Mantab, kapten!" Muse langsung menggebrak meja untuk menarik perhatian bartender. "Master, aku pesan-"



"Biar aku yang memesan!" Nice move, Captain Britain.



"Dasar pelit," Gumam maling kepada maling.



Untuk malam ini mungkin lebih baik jika aku fokus refreshing walaupun sangat sulit bagiku untuk bisa tenang dan memikirkan rencana untuk besok. Setidaknya minuman yang dipesankan Blade rasanya lebih enak. Aku jadi lebih bisa santai sampai-sampai aku rasanya ingin tertidur di bar.



*****


Keesokan paginya, aku bangun dengan kepala terasa sakit sekali. Aku pasti kebanyakan minum tadi malam. Yah, setidaknya aku masih bisa berjalan sampai barak sebelum roboh di atas matras yang keras dan tipis. Aku bahkan sama sekali tidak menanggalkan baju zirahku sebelum tidur.



Untung saja, sakit kepala itu berhenti setelah aku meminum obat pusing yang diberikan Ingrid. Ramuan yang dapat menyembuhkan luka, anti-toksin yang bekerja cepat, obat penambah stamina yang lebih efektif daripada dopping, dan sekarang obat pusing dan penyakit dasar. Dunia ini memiliki ilmu pengobatan yang lebih baik daripada di duniaku. Mungkin ini akan jadi salah satu dampak positif jika dunia kami saling terhubung. Sekarang aku menyesal tidak masuk fakultas kedokteran.



Dari pagi sampai siang, aku diperintah untuk menjaga keamanan di istana. Malam ini akan diadakan pesta untuk penutupan sekaligus pengukuhan konferensi tahun ini. Sebab itu, penjagaan semakin diperketat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.



Aku dan kedua rekanku saling berkomunikasi dari jarak jauh melalui radio. Blade sudah menyisir lokasi di dalam ballroom yang akan digunakan untuk pesta nanti malam. Tidak ada hal ganjil yang ditemukan, walaupun ia sempat dihalang-halangi oleh para Paladin penjaga istana. Aku mengerti menyisir tempat itu adalah tugas dan wewenang mereka sehingga jika orang lain seenaknya ikut campur, itu seperti masuk ke rumah orang dengan memakai sepatu. Namun, Frey, pemegang kekuasaan tertinggi kedua di Alfheim mempersilakan Blade untuk memeriksa seisi ruangan tersebut dengan alasan "Kenyamanan dan keselamatan tamu penting adalah prioritas sebagai tuan rumah".



Frey....Aku penasaran apa tujuan orang itu....Kata-katanya di rapat kemarin terus terngiang-ngiang di kepalaku. Apakah dia memang politikus berhati murni yang aku pikirkan...atau sebenarnya dia punya maksud lain? Dan dia ada hubungan apa dengan Jea-



Balik lagi ke situ. Dasar kau, Hajime.



"Wand! Ganti tempat dong! Aku bosan jaga di kandang terus!" Rengek Muse untuk kesepuluh kalinya di radio.



"Ogah," Jawabku ketus.



"Kamu mah enak, jaga di tembok istana. Pemandangannya bagus. Di sini aku cuma bisa liat kuda hohohihe. Mana bau tai lagi!"



Tanpa mempedulikan Muse yang terus menerus memohon, aku menikmati pemandangan seisi kota Fraegligr yang terlihat sangat jelas dari atas tembok istana. Bukan hanya kota ini terlihat sangat asri menyatu dengan alam, di sekitar kota juga terdapat barisan bukit dan hamparan hutan yang Indah dan terasa kesan mistisnya. Ditambah sebuah pohon raksasa yang berada di taman kota, semakin menambah kesan bahwa ini benar-benar ibukota negara para Elf.



"Ayolah, aku mohon-"



Aku langsung mencabut kabel sambungan headset ke radio saking tidak tahannya. Elisa tertawa melihat wajahku yang tampak kesal.



"Enak ya, punya sahabat seperti Muse."


__ADS_1


"Kau mengejekku ya?"



"T-tidak, tidak! Aku hanya tidak pernah berteman dengan orang yang lucu seperti Muse."



"Itu mungkin karena Muse tidak pernah peduli dengan sekitarnya," Setelah menatap ekspresi yang ia buat, aku semakin mengerti gadis seperti apa Elisa itu. Ia terlihat sangat kesepian dan tidak memiliki teman selain Jeanne. "Kami bertiga juga sudah menganggapmu teman kok."



"Iya, aku tahu, hanya saja aku iri melihat kedekatan kalian...." Ia juga seperti mempunyai masalah yang ia pendam sendiri. Dia sangat mirip sepertiku....



Yang bisa aku lakukan hanya mendengarkan keluh kesahnya. "Jika kamu ada masalah ceritakan saja padaku. Aku mungkin tidak bisa memberi masukan berarti tapi....aku bisa menjaga rahasia."



Gadis berambut pirang itu tiba-tiba memelukku, membuatku terkejut dan hampir terjatuh.


"Terima kasih, Wand! Kau baik sekali!"



Aku dengan sedikit ragu-ragu membalas pelukannya, meskipun aku merasa tidak enak ditatap oleh penjaga lain. Senyuman lega dari Elf ini membuatku merasa puas sudah membantu orang lain.



Aku perlahan melepaskan pelukannya sambil memasang kembali kabel sambungan headset. "Wand, di sini Blade. Cepat kembali ke barak dan ganti baju. Kita mendapat kehormatan untuk berjaga di dalam ballroom."



"Solid copy!" Aku melepaskan tombol, memberi tahu Elisa bahwa aku diperintah untuk berjaga di dalam.



"Baik! Selamat bertugas, wahai ksatria hijau~" Jawab Elisa dengan seringaian jahil.



"Diamlah...."



*****


Jarak dari tempat aku berjaga tadi cukup jauh dengan barak. Aku harus berjalan melewati berbagai koridor dan tempat seperti dapur, ruang makan, dan juga lorong tempat kamar untuk tamu berjejer. Mungkin sepuluh menit berjalan baru sampai. Tempat ini benar-benar luas, apalagi lorong-lorong dan tangga bagaikan labirin. Aku penasaran bagaimana mereka membangun istana serumit ini?



Di lorong depan sana, aku melihat Kaisar Asthern berjalan dengan 2 ajudannya. Salah satu di antara mereka adalah Pangeran Lucius, orang yang kemarin saat rapat terlibat perdebatan dengan Frey.



Melihat mereka menuju arah sebaliknya denganku, aku menepi dan memberi mereka lewat duluan. Aku juga berdiri tegap dan merapatkan kakiku sebagai bentuk rasa hormat pada komandan tertinggi negara lain.



Namun, ajudan Kaisar Octavius yang berambut jabrik itu menatapku dengan ekspresi tersinggung. "Beraninya kau! Kau tidak tahu siapa yang ada dihadapanmu?!"



Aku hanya terdiam sambil membalas tatapannya, membuatnya semakin kesal.



"Berani sekali kau menatapku seperti itu dan diam saja! Kau berada di hadapan Yang Mulia Kaisar Octavius dari Kekaisaran Asthern! Kenapa kau tidak menunduk hormat padanya?" Bentaknya untuk kesekian kalinya, membuatku jengkel dalam hati.



Tanpa basa basi, aku langsung menunduk hormat pada sang Kaisar. "Terima salamku, Yang Mulia Kaisar."



"Tidak cukup! Kau sudah membuat kesalahan," Orang ini maunya apa sih?! Membuat tanganku gatal ingin mencabut pedang. "Sekarang, berlutut dan minta maaf!"



"Hentikan, Brutus! Sudah cukup. Jangan melewati batasanmu," Bentak Kaisar Octavius tiba-tiba. Ajudannya itu, yang ternyata juga seorang pangeran berusaha berdalih tapi lototan mata sang Kaisar membuatnya bungkam.



Ia lalu memindahkan tatapan itu ke arahku, memperhatikanku baik-baik. "Siapa namamu anak muda?"



"Hirasawa Kohei, Yang Mulia...." Jawab aku sambil kembali menunduk. Mataku diam-diam melirik ke arah wajah sang Kaisar.



"Angkat kepalamu, anak muda. Ksatria yang menunduk pada yang bukan atasan sudah tidak memiliki harga diri...." Sahut sang Kaisar dengan nada setengah mengejek sambil menggaruk janggutnya. Dia benar, siapa yang butuh harga diri di medan perang? Aku juga bukanlah ksatria. Aku hanya-



Ia lalu terkekeh kemudian berbisik pada telingaku. "....tapi, tatapan matamu itu membuatku sangat terkesan...."



A-apa? Di balik kata-katanya itu, aku bisa melihat sesuatu. Jangan-jangan....dia tahu apa yang aku pikirkan?!



Hanya dengan melihat tingkah dan tatapan mata seseorang, dia bisa menebak seperti apa orang itu. Benar-benar pria yang mengesankan, juga mengerikan. Aku harus melaporkan ini pada Blade nanti. Kita harus memasang dua pasang mata lagi.



Aku melihatnya berjalan menjauh dan memanggil kedua putranya. "Ayo, Lucius, Brutus."



Brutus untuk terakhir kalinya melotot padaku dengan penuh amarah kemudian bergegas mengikuti ayahnya. Lucius sementara itu mengangguk permisi sebelum bergabung dengan saudara dan ayahnya.



Setelah mereka menghilang di balik koridor, aku kembali berjalan ke arah barak.



*****


"Terima kasih banyak, Xen," Sahut aku pada Xenous yang menjawab dengan tersenyum. Aku meminta bantuannya untuk memasangkan seragam untuk pesta nanti. Berbeda dengan seragam ksatria yang biasa dikenakan sehari-hari, seragam ini terlihat lebih mewah.



Jubah punggung berwarna putih berisi salib biru muda lambang Ksatria St. Whales, zirah dengan berbagai aksesoris medali dan pita, sabuk kulit coklat yang mengilap, dan juga sarung tangan, pelindung paha, betis, dan lengan besi yang hanya berisi ukiran-ukiran mencolok. Berjalan dengan seragam ini cukup sulit, salah satu penyebabnya karena aku tidak mau ada yang kotor atau lecek.



Pantas saja ksatria abad pertengahan memerlukan bantuan pengiring untuk memakai zirah. Ternyata memang serumit ini. Sepatu yang harusnya aku kenakan harusnya sepatu besi, namun aku memaksa tetap memakai sepatu boots yang biasa digunakan karena sepatu besi hanya akan membuatku sulit berlari. Aku benar-benar penasaran bagaimana cara Jeanne dan yang lainnya bisa selincah itu dengan sepatu besi?



"Ngomong-ngomong, kau tidak ikut?" Tanya aku ke Xenous sambil memasang sangkur dan pistol SIG Sauer P220 di sabukku. Ada peraturan yang melarang pedang panjang dilarang dibawa masuk ke dalam ruang pesta.



"Tidak...aku mengantuk...." Mungkin lebih cocok kalau dia jadi gadis kerbau. Kerjanya cuma tiduuuuuur saja. "Oh ya, Wand! Semoga berhasil merebut hati sang Putri~"



Kenapa sih, semua orang pada mengerjaiku?



Aku beranjak bangun dan berjalan meninggalkan barak. 



*****


Beberapa menit berjalan dari barak, aku akhirnya sampai di pesta. Aku menarik nafas sejenak sebelum melangkah masuk dengan kaki kanan terlebih dahulu. Aku disambut dengan sebuah ruangan megah penuh cahaya. Langit-langitnya tampak 2 kali lipat lebih tinggi dari ruang biasa. Para pemusik yang berada di depan ruangan sibuk memainkan musik —terdengar seperti karya Mozart tapi aku juga kurang tahu—, sementara di tengah ruangan orang-orang berpakaian mewah berbagai macam berbincang dan berdansa.



Seragam ksatria super mewah yang aku kenakan —yang menurutku sudah 10 kali lebih megah dari pakaian dinas JGSDF— masih terbilang lowkey jika dibandingkan dengan pakaian yang mereka kenakan.



Begitu aku masuk, aku merasa puluhan pasang mata menatapku. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan di antara mereka, tapi aku sadar mereka membicarakanku dan kejadian kemarin saat aku menghajar Edward sampai masuk klinik. Bahkan beberapa penjaga yang berlalu-lalang di dalam ruangan menatapku dengan waspada, seolah aku adalah ancaman potensial.



Heh. Sepertinya aku sudah mendapat reputasi ya?



Tanpa memperdulikan ocehan mereka, aku berjalan ke arah salah satu pojokan di dekat meja jamuan, posisi tempat aku berjaga yang sudah ditentukan. Dengan tangan di belakang punggungku, aku mengamati sekitar. Blade, yang juga mengenakan setelan seragam yang mirip sepertiku berdiri di dekat Putri Tiara yang sedang berbincang-bincang dengan Pangeran Al-Fatih.



Sang Putri tampil dengan pakaian lebih mencolok. Gaun putih yang ia kenakan tampak sangat berbeda dengan tambahan aksesoris ungu dan emas perak, begitu pula mahkota yang lebih mengilap. Sang pangeran juga mengenakan jubah hitam emas dan mahkota sorban yang terlihat lebih rapi dan mencolok dari yang kemarin. Pangeran Al-Fatih sendiri juga dikawal oleh Amir Hasan -yang juga tampil sedikit berbeda dan juga tanpa membawa pedang simitarnya. Aku melihat Operator SAS itu menyentuh lehernya, kemudian headset-ku berderak.



"Blade ke Wand, kamu kemana saja? Lama sekali."




"GREEN Lead, copy. Over and out!"



Aku kembali mengamati seisi ruangan. Suasana di sini mengingatkanku pada pesta dansa setelah kelulusanku dari Akademi Pertahanan Nasional. Aku juga sudah pernah menjadi pengawal delegasi Jepang saat Konferensi PBB. Walau begitu, kedua acara itu terlihat seperti pesta ulang tahun anak-anak jika dibandingkan dengan ini.



Mataku otomatis tertuju pada Frey yang tengah berbincang-bincang dengan tamu yang lain di sisi lain ruangan. Ia tersenyum dengan ramah sambil mengobrol dan berjabat tangan dengan beberapa tamu. Beberapa gadis -kemungkinan anak-anak para bangsawan Alfheim- yang berdiri tak jauh dari lokasi aku berdiri dengan malu-malu memperhatikan sang pangeran. Dengan berbagai perhiasan, gaun mewah, dan kuku yang dicat keemasan, penampilan mereka terlihat lebih heboh daripada semua orang yang hadir di sini. Mereka saling berbisik di balik kipas yang menutupi mulut mereka, membuatku sangat sulit untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.



Tanpa mengindahkan jeritan kecil mereka saat Frey menatap kemari, aku kembali mengamati situasi, memastikan tidak ada yang mencurigakan di sini.



Di dekat lantai dansa, aku melihat seorang gadis berambut pink berdiri di dekat Montez.



Ia masih tampak periang dan murah senyum seperti biasa. Namun, gaun putih yang ia kenakan membuatnya sangat berbeda. Rambut yang biasanya diikat kuncir kuda dibiarkan terurai dengan hiasan rambut perak yang berkilauan. Ia tampak seperti seorang Putri. Ia bahkan jauh lebih mempesona daripada Tiara.



Beberapa pemuda sempat mengajaknya berdansa, namun Jeanne menolaknya dengan sopan.



Ia terlihat meminta izin pada Montez. Setelah sang Grandmaster mengangguk dengan wajah cemas, ia berlari kecil sambil mengangkat gaunnya, lalu berhenti di dekat Frey. Jeanne mencolek lengan sang pangeran, membuatnya membalas tatapan gadis itu. Mereka berdua saling mengobrol dan tersenyum pada satu sama lain, membuatku merasakan aura pembunuh di sekitarku.



"Perempuan itu....berani-beraninya dia memikat perhatian Pangeran Frey dari kita...."



"Iya, mentang-mentang ksatria Santa Whales tapi sudah berlagak bak putri raja...."



Aku terkekeh mendengar gerutuan gadis-gadis di sebelah yang dibakar api cemburu. Panasnya seperti bisa menggoreng telur dadar di atasnya.



Walau begitu, bohong rasanya kalau aku tidak merasakan hal yang sama seperti gadis-gadis itu....Rasanya seperti dadaku dipukul berkali-kali, lebih sakit dari semua luka fisik yang pernah aku rasakan.



Ngomong-ngomong, perasaanku saja atau Jeanne dan pemuda itu melirik ke arahku-



Oi! Letnan Shinohara Hajime, fokuskan dirimu!



Kamu bukan lagi seorang FNG[FNG : Fucking New Guy], apalagi bocah SMA yang baru mengenal perasaan suka! Kamu adalah perwira SFGp, Unit pasukan khusus paling elit di Pasukan Bela Diri! Camkan itu baik-baik!



Seseorang tiba-tiba mengetuk-ngetuk pelindung lenganku, membuat lamunanku buyar dan menoleh ke samping, menatap tatapan polos sepasang iris biru muda. "Ayo berdansa denganku, Wand!" Ajak Jeanne sambil tersenyum lebar.



Senyuman polos itu seolah menghipnotis diriku, membuat tanganku bergerak menggenggam tangan bersarung tangan itu. Aku menunduk dan dengan bahasa yang lembut menjawab ajakannya.



"Dengan senang hati, Mademoiselle...." Jawabku sambil menahan rasa malu. Aku pasti terdengar cringy.



Lalu, sejak kapan aku bisa Bahasa Perancis?!



Gadis itu tersipu dan tersenyum geli, lalu perlahan ia menuntunku ke lantai dansa.



Mengikuti irama musik, kami berdua bergabung berdansa dengan bangsawan dan tamu lainnya. Aku berusaha konsentrasi untuk tidak mengacaukan dansa ini, mengingat-ingat kembali saat aku berdansa di pesta kelulusan Akademi Pertahanan.



"Santai saja, Wand. Tidak usah terlalu serius," Aku hanya mengangguk paham, tidak berani mengeluh atau apapun selain hanya membenarkan genggaman dan langkah kakiku agar ia tetap nyaman.



Jika aku bisa melepaskan zirah menyebalkan ini mungkin sudah aku lepaskan. Sangat berat dan membuatku tidak bisa bergerak leluasa.



"Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Asli Finia," Sahut Jeanne lagi, membuat perhatianku teralih dari gerakanku dan menatap gadis di depanku.



"Aku hanya tahu beberapa kata saja." Jawabku simpel.



Aku merasakan tatapan orang mengarah pada kami, membuatku agak sedikit gugup. Beberapa di antaranya adalah pelototan kesal pemuda-pemuda yang ditolak untuk berdansa oleh Jeanne. Di dalam hatiku aku merasa sedikit lega bahwa Jeanne lebih memilihku daripada mereka, terutama setelah apa yang terjadi di antara kami.



Aku melirik ke samping, melihat Frey memperhatikan kami dari jauh sambil mengobrol dengan delegasi dari Volga —atau Legionik? Ia terlihat tidak begitu sibuk.mengapa Jeanne tidak mengajaknya berdansa? "Kau tidak mengajak Frey berdansa?"



"Tolong rahasiakan ini ya!" Aku mengangguk,memberi tanda padanya untuk lanjut berbisik."Sebenarnya Kak Frey tidak pandai berdansa. Selain itu, dia juga orang yang terlalu serius, sulit diajak bersenang-senang."



Wow, aku baru tahu kalau pangeran yang tampak sempurna sepertinya memiliki kekurangan.



"Selain itu, aku juga sangat ingin berdansa denganmu," Bisik ia dengan sangat dekat. Terlalu dekat sampai aku dapat merasakan nafasnya di telingaku. Wangi semerbak bunga lavender seperti menyumbat dan memenuhi hidungku. Senyuman dibibir merah muda itu terus terpancar ke wajahku.



Tangan kami perlahan terjalin semakin erat. "Aku tidak menyangka tanganmu sehangat ini, Wand...."



Sial. Lain kali aku harus bersiap-siap mendengar 'godaan' darinya agar jantungku tidak melompat keluar karena berdetak saking cepatnya.



Baiklah, ini saatnya, Hajime. Kesempatan yang dikatakan Xenous sudah kamu temukan. Saatnya gunakan itu dengan sebaik-baiknya. "J-Jeanne, aku....aku..."



Anjing! Kenapa bisa-bisanya aku tergagap seperti itu!



Aku berhenti mengumpat dalam hati setelah Jeanne perlahan menuntunku keluar dari ruang pesta. Ia kemudian melepaskan genggamannya kemudian menarik lenganku dan menggiring aku melalui koridor istana, melewati beberapa penjaga yang tampak kebingungan melihat kami.



Kami akhirnya sampai di teras belakang istana. Tepat di depannya adalah sebuah taman berisi bunga-bunga yang bermekaran sangat indah di malam hari, disinari oleh puluhan kunang-kunang. Jeanne melepaskan tanganku dan duduk di tangga teras. Ia juga menyuruhku untuk duduk di dekatnya. Aku mengangguk senyap dan duduk di dekatnya sambil menyandar di pinggir tangga.



"Wand, aku dengar dari Muse ada satu hal yang ingin kau katakan," Muse? Si Kampret itu ternyata serius.



"Katakan saja."



Menarik nafas dalam-dalam, aku berusaha meyakinkan diriku untuk memberitahu Jeanne semuanya. Ayolah, Shinohara Hajime. Jangan jadi pengecut. Man the fuck up!



"Jeanne, aku...aku minta maaf," Akhirnya, aku mengatakannya. Ayo, lanjutkan! "Aku tidak bermaksud menghinamu di depan semua orang...."



Selesai....



Sudah begitu saja 'kan? Kenapa sangat sulit bagiku untuk mengatakannya?



Jeanne tiba-tiba saja terdiam. Aku tidak berani memindahkan tatapanku dari tanah, apalagi untuk menatap wajahnya, melihat ekspresi seperti apa yang ia pasang.



"Seharusnya aku yang minta maaf," Jawabannya membuatku terkejut. Aku perlahan menatap wajahnya, melihatnya menggigit bibir merah muda itu. Ia menelan ludah beberapa kali, memilah kata-katanya. "Aku tidak peka akan perasaanmu. Aku dengan sombongnya menceramahimu tanpa mengerti apa yang kau rasakan."

__ADS_1



"Aku selalu merasa paling bena-"



"Tidak perlu menyalahkan dirimu terus. Kau sama sekali tidak salah," Potong aku dengan segera. Aku tidak tega mendengarnya menyalahkan dirinya terus. Walaupun aku tahu jelas jalan pikirannya berlawanan denganku, aku tidak mau melihat wajah imut itu membuat eksprei terluka.



"Aku juga terpaksa membunuh orang itu. Aku membunuhnya agar nyawa Putri Tiara tidak terancam. Aku harap kamu mengerti.... "



"Aku mengerti kok. Tenang saja!" Entah mengapa setiap kali aku melihat wajah itu tersenyum, pipi dan tenggorokanku terasa panas. Dadaku terasa sesak, seperti dipenuhi oleh air.



Perasaan ini....Mungkinkah, aku memang tertarik dengan gadis ini?



"W-Wand, kau kenapa?"



"Aku...aku tidak apa-apa. Tenang saja...." Sialan. Suaraku kembali tergagap. Aku berusaha menghalangi wajahku dengan lengan. Dengan wajah merona seperti ini, aku tidak memiliki nyali untuk bertatapan langsung dengannya.



Aku diam-diam meliriknya. Tatapannya terpaku padaku seperti menyadari sesuatu. Ia lalu tertawa geli sambil menghalangi bibirnya.



Dia malah ketawa. Jika rasa malu bisa membunuh, mungkin aku sudah mati sekarang. Kampret memang....



"Apanya yang lucu?" Tanyaku dengan kesal yang kemudian dibalas dengan ledekan.



"Tidak ada~"



"Lalu kenapa kamu tertawa?"



"Rahasia~"



Huh! Aku sudah mempersiapkan diri jika seandainya semua tidak berjalan sesuai perkiraanku, tapi bisa-bisanya aku malah di tertawakan.



Setidaknya, ini berarti masalah di antara kita sudah tidak ada lagi. Itu berarti aku tidak perlu ragu-ragu lagi untuk bersamanya....iya, 'kan?



Selain itu, menurutku....tawa itu terdengar sangat manis....



Ia berhenti tertawa dan kesunyian kembali merebak di antara kami. Suara serangga dan sepoi-sepoi angin kembali mengisi malam yang sunyi ini.



Aku diam-diam, melirik gadis yang duduk di sebelahku. Matanya menghadap ke atas,menatap langit malam. Wajahnya terlihat sangat terang dan berseri. Ia terus menatap langit sambil tersenyum, walaupun aku merasa air matanya seperti akan menetes.



"Bagaimana menurutmu bintang-bintang itu?" Ia bertanya tiba-tiba. Suaranya terdengar agak serak.



Aku ikut menatap ke atas, menatap jutaan bintang di atas sana. Aku sudah 2 bulan di sini tapi aku baru menyadari bahwa langit malam di Uressea sangat...."Indah."



"Aku senang kau menikmatinya," Balas gadis itu sambil tertawa kecil. Namun, tawaan itu hanya sebentar kemudian nada bicaranya berubah drastis. "Ayah dan ibu, semuanya berada di sana. Di rumah Tuhan."



Aku kembali menatapnya terkejut. Ternyata dugaanku benar. Ia seorang yatim piatu, kemungkinan dikarenakan oleh perang. Kenapa orang baik selalu menderita...?



"Maaf, aku...aku turut berduka mendengar hal itu."



"Tidak apa, aku sudah lama mengikhlaskan kepergian mereka. Aku bahkan sudah lupa akan masa kecilku...."



Aku menatap ke arah langit sana dengan diam, mendengarkannya mengingat-ingat masa lalunya.



"Aku hanya mengingat bahwa ayahku sangat protektif dan memanjakanku. Ibu juga sering menimangku dan membacakan dongeng setiap malam...." Mengangguk paham, aku hanya bisa mendengarnya bicara tanpa menanggapi.



"Tapi, aku sangat berterima kasih pada Tuhan," Lanjutnya sambil memegangi kalung salib dari emas putih yang tergantung di lehernya. Ini pertama kalinya aku melihat seseorang bersyukur meskipun diberikan takdir sepahit itu.



"Kenapa?"



"Karena aku pernah mempunyai orang tua yang sangat menyayangiku, walaupun aku tidak bisa mengingatnya lagi."



Gadis itu menutup kedua matanya, mendekatkan kalung salib itu ke wajahnya dan menggenggamnya dengan dua tangan. Ia terus berpegang teguh pada apa yang ia percayai.



"Aku selalu berdoa agar mereka selalu bahagia di surga dan dari sana melihatkan menjadi ksatria yang tangguh, sehingga kelak aku bisa menghadap mereka dengan bangga."



"Itu....harapanmu?"



"Um! Melindungi semua orang dan tanah Finia yang Indah adalah kewajiban dan keinginanku sebagai seorang ksatria. Aku juga sangat ingin dunia ciptaan Tuhan yang indah ini terus damai sepanjang masa. Aku dengan senang hati akan memastikan itu terjadi walaupun aku harus kehilangan nyawa."



Ia seperti akan terisak beberapa saat lagi tapi ia menahan segalanya. Ratapan sedih yang tadi sempat ia tunjukan berubah menjadi tatapan penuh ambisi, tegar menantang dunia. Sepasang mata biru itu berkilau penuh dengan cahaya. Senyuman yang ia rekah penuh optimisme.



"Rasanya sangat menyenangkan ya.... kalau menjalani kehidupan dengan ambisi yang luar biasa, hidup kita terdengar sangat bermakna...." Sahutku lirih.



Impian yang ia katakan mustahil terjadi, seperti mimpi anak kecil. Konflik dan kehancuran adalah hal yang sangat melekat pada diri manusia. Bertahan hidup di tempat yang bagai neraka dunia, melihat kekejaman yang merajalela, kehilangan saudara-saudara seperjuangan, dan merasakan penderitaan orang-orang yang tidak bersalah sudah membuka mataku tentang bagaimana busuknya dunia ini.



Namun, saat ia mengatakannya, ia seperti yakin akan hal itu...Tidak, gadis ini sangat optimis bisa membuat itu menjadi kenyataan.



Aku benar-benar iri....



"Kau terdengar seperti orang yang ingin bunuh diri, Wand," Ia menatapku dengan heran. "Kita harus tetap bersyukur sudah dilahirkan ke dunia ini."



Bersyukur? Untuk apa...?



"Ada masalah apa, Wand?" Tanya gadis ini dengan sedikit memaksa. Ia menatap mataku dalam-dalam, bersikeras untuk menyuruhku bicara. "Ceritakan saja padaku!"



Haruskah aku memberitahunya?



Hal ini bersifat pribadi, aku tidak boleh menceritakannya pada siapapun, tapi....ya sudahlah, aku ceritakan saja. Asal aku tidak memberitahu nama tidak masalah bukan?



"Ceritanya cukup panjang....Kau ingin tahu?"



Ia menganggukkan kepalanya, tidak sabar mendengarkan masa lalu yang aku simpan rapat-rapat. Aku mengalihkan pandanganku dan mulai bercerita panjang lebar.



"Aku tidak bisa melupakan hari itu. Aku baru saja kembali dari upacara kelulusan dari bangku SMA.



Saat aku berjalan kembali ke rumah, ada suatu hal yang mengganjal. Memang sempat terjadi hal tak terduga seperti adik kelasku Ibuki tiba-tiba mengungkapkan perasaannya, tetapi aku yakin bukan karena itu.




Aku langsung ingat bahwa ayahku pulang dari medan tugas hari itu. Aku segera bergegas berlari. Tidak ada yang dapat menggambarkan ekspresi bahagia yang aku buat saat itu...."



Aku menarik nafas panjang, mengingat-ingat kembali hari itu. Rasa sakit yang aku rasakan hari itu.




"Namun, rasa senang dalam hati seketika sirna setelah aku sampai di rumah....




Langit senja pertanda matahari terbenam di ufuk barat, angin sepoi-sepoi yang tidak mengenakan, ruang tamu yang entah kenapa gelap, dan juga....juga suara tangisan ibu dan kakak. Aku menatap tiga orang yang berdiri di depan mereka. Sahabat ayah dan kedua ajudannya. Sambil meremas topi beretnya keras-keras, sahabat ayah memberitahu semuanya. Sebuah operasi gabungan koalisi Amerika-Jepang di Suriah Utara berakhir dengan kegagalan. Enam tentara koalisi gugur, salah satunya adalah ayahku...."



Aku mendengarnya tersentak, terkejut mendengar hal tersebut. "M-maaf, aku-"




"Seketika itu, aku terasa seperti disambar petir. Tenggorokan terasa sangat kering kerontang. Kakiku seolah tidak dapat menopang tubuhku dalam waktu lama. Aku hanya bisa berkata "oh, begitu?" dan berjalan ke lantai atas sambil terhuyung-huyung.




Sesampai di kamar, aku langsung mengunci diri dan duduk menyandarkan punggungku pada pintu. Aku memeluk lututku dan berusaha menahan air mataku yang sudah tak bisa dibendung."



Tanganku tanpa sadar mengepal keras. Gigiku menggertak sampai mengeluarkan suara desis. Aku berusaha sekuat tenaga membendung air mataku.



Aku bisa merasakan tatapan khawatir dari sepasang mata biru. "Wand....tidak usah memaksakan diri-"




"Padahal aku ingin ia melihatku lulus dari Akademi Pertahanan, kemudian menjadi bagian dari SFGp. Aku ingin menunjukkan bahwa semua yang ia ajarkan padaku sama sekali tidak sia-sia. Membuatnya melihat semua didikannya yang keras membuahkan hasil.



Saat itu, aku dikuasai kesedihan dan kebencian. Kesedihan karena kehilangan ayah....dan kebencian pada mereka yang sudah menghabisinya....  



Kedua perasaan itu itu kemudian berubah menjadi rasa ingin balas dendam. Nafsuku untuk membunuh keparat-keparat itu semakin memuncak. Aku akhirnya diterima di SFGp, unit kebanggaan ayah dan terus berlatih menjadi penembak jitu terbaik di Pasukan Beladiri."



Aku melirik gadis di sebelahku. Ia hanya duduk diam mendengarkan ceritaku sambil menatapku dengan ekspresi cemas dan penasaran.




Aku melanjutkan kisah 'menyedihkanku' itu.



"Seiring berjalannya waktu, rasa dendam itu perlahan-lahan menghilang. Yang tersisa hanya....rasa hampa dan perasaan tidak tenang. Aku dihantui mimpi buruk setiap malam. Tanpa aku sadari aku sudah ketagihan dengan narkoba bernama perang. Aku tahu tidak ada yang berubah dengan perang tapi aku tetap saja kembali. Tidak peduli berapa nyawa aku cabut, berapa rekanku yang sudah terbunuh, aku terus ingin merasakan sensasi pertempuran, menghirup bau Cordite, dan memegang senjata.




Aku terus menempuh jalan yang tidak jelas ini, entah kemana ia akan membawaku walaupun aku sadar bahwa aku bisa saja hilang."



Aku tanpa sadar memegangi kepalaku, berusaha sekuat tenaga mengabaikan bayangan dan suara yang mulai mengganggu pikiranku. Seperti kaset film horror yang terus diputar tanpa henti. Aku mengerang sebentar setelah bayangan itu berangsur-angsur melemah, lalu mengakhiri ceritaku.



"Akhirnya, di sinilah aku. Di sebuah dunia asing yang seperti dalam game Fantasi RPG."



Jeanne hanya bisa mengangguk-angguk mendengar semuanya, menaruh rasa iba dan khawatir padaku. Sebenarnya, menceritakan hal pribadi pada yang bukan rekan resmi itu dilarang, hukumannya bisa berupa dipenjara atau tembak mati. Apalagi aku tidak ingin dikasihani oleh siapapun....tapi aku lega bisa mengeluarkan semua isi hatiku pada orang lain yang aku bisa percaya.



"Terkadang aku sempat bertanya. 'Kenapa aku masih di sini? Hanya untuk menderita?' Aku sudah terlanjur jatuh ke neraka ini. Tidak ada jalan keluar.... Kalau bukan karena ibu dan kakakku, mungkin aku sudah menggantung diriku sejak lama."



Aku mengakhiri ceritaku dengan tawaan yang pahit. Tertawa pada diriku, keputusanku, dan takdirku.



"Jangan berpikir seperti itu, Wand!" Seru Jeanne, membuatku membalas tatapannya. Ia mengarahkan telunjuknya ke atas, memberitahuku hal yang sudah aku ketahui sejak lama. "Tidak peduli seperti apa penderitaan yang kita jalani. Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa diatasi oleh hamba-Nya."



Semua orang berkata seperti itu dengan mudahnya tapi sama sekali tidak ada yang berusaha untuk mengerti tentang orang yang mereka ceramahi. Bagaimana dengan mereka yang terus saja menderita sampai-sampai kehilangan kewarasannya dan bahkan mengakhiri hidupnya? Apakah Tuhan menutup mata pada penderitaan makhluk-Nya, seperti politikus-politikus keparat itu?



Aku berusaha menyanggah semua ceramah naif darinya. "Tidak perlu menghiburku, Jeanne. Aku-"



"Lakukan terus apa yang kau anggap benar, niscaya pasti akan ada jalan keluar," Potongnya tiba-tiba. Kedua matanya melotot ke arahku, seperti sedang menasehati anak kecil, membuatku terdiam sesaat. "Jangan pernah putus asa!"



"....Akan aku ingat baik-baik."



Lakukan apa yang aku anggap benar, ya? Aku bahkan sudah lupa mana yang benar dan mama yang salah. Dimataku semuanya serba abu-abu. Walau begitu, seperti nasehat Jeanne, aku akan melakukan semuanya sesuai perintah, dan sesuai firasatku.



"Oh ya, aku juga punya satu keinginan....yang mungkin agak aneh," Tuturku sambil tersenyum geli, mengingat-ingat suatu hal lain yang membuatku tetap bertahan di Pasukan Bela Diri.



"Hmm? Apa itu?"



Aku terkekeh sesaat lalu memberitahu Jeanne. "Aku ingin sekali tahu rasanya terkena tembakan."



"E-eeeh?!"



"Mungkin aku sudah gila ya?"



"A-aaa...." Jawab Jeanne sedikit tergagap. Matanya terbelalak menatapku. Ia menggelengkan kepalanya lalu menarik dan menggenggam tangan kiriku, menatapku penuh keyakinan. "Yang pasti, tidak akan aku biarkan keinginan gila itu menjadi kenyataan! Aku akan selalu melindungimu!"



Aku terkejut mendengar pernyataan itu, kemudian tertawa dalam hati karena menghiburku seperti itu–



Tidak, aku yakin ia bersungguh-sungguh takkan mengingkari janjinya. Namun, di dalam diriku ada yang menyuruhku untuk tidak terlalu dekat dengannya. Misiku adalah yang terpenting sehingga aku tidak boleh terikat dengan yang lain...apalagi aku tidak ingin dia merasakan beban dalam diriku ini. Tekanan ini takkan bisa ditahan oleh gadis remaja berusia 17 tahun.



Namun, satu hal yang pasti. Untuk pertama kalinya aku bisa percaya sepenuhnya pada orang lain. Aku tersenyum gembira, merasakan kelegaan dalam dadaku terangkat. Aku kemudian berdiri tegak dan memberikan hormat militer kepadanya.



"Mohon bantuannya, Kapten!"



__ADS_1


__ADS_2