
Memastikan senjata tetap bersih merupakan hal yang harus dilakukan secara rutin agar senjata tidak macet saat digunakan. Caranya dengan memisahkan tubuh senapan tanpa memerlukan alat kemudian memberi pelumas dan membersihkan pemicu, kamar peluru, ekstraktor, ejektor, dan beberapa bagian dalam lainnya. Kami menyebut kegiatan ini sebagai Field Strip.
Ini adalah hal pertama yang aku pelajari sebelum belajar menembak. Salah satu materi dalam pelatihan pasukan khusus adalah memisahkan kemudian memasang kembali senapan tanpa melihat. Mungkin ini sebabnya bagiku Field Strip sangatlah mudah.
Setelah memasang kembali senapan serbu Type 89-ku, aku menghela nafas sejenak, mendengarkan rintik-rintik hujan yang semakin deras di luar jendela. Sudah 2 hari sejak kejadian penyerangan waktu itu yang menewaskan 9 ksatria terbaik Orde St. Whales dan melukai belasan lainnya. Kami saat ini menginap di kediaman Duke Elashor, salah satu bangsawan Alfheim dan pemimpin kota Grosugrheim.
Grosugrheim terletak cukup dekat dengan Fraegligr, hanya beberapa puluh kilometer. Namun, hujan yang turun cukup lebat, ditambah matahari yang sudah tenggelam memaksa kami untuk beristirahat sejenak. Aku, Muse, dan ksatria lainnya saat ini berada di aula tempat biasanya diadakan pesta. Berbeda dengan Blade, Montez, dan Jeanne yang mendapat kamar tidur, kami menginap di sini karena tidak banyak kamar tamu tersedia. Tentu saja, beberapa ksatria ada yang mengeluh namun kebanyakan lebih memilih untuk menerima apa adanya. Ruangan berlangit tinggi seperti ini dengan karpet yang terlihat mahal sudah seperti hotel bintang lima bagiku mengingat tidak jarang aku tidur di bawah kolong kendaraan tempur atau di rumah penduduk yang sudah setengah roboh.
Sementara aku dan teman masa kecilku membongkar pasang senjata, ksatria yang lain sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang membersihkan senjata dan perlengkapan, ada yang mengobrol bersama rekannya, dan ada pula yang sudah tertidur. Montez melarang para ksatria agar tidak ke kota untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan mengingat hubungan Finia dan Alfheim belum benar-benar pulih.
Aku mengalihkan perhatianku pada keadaan sekitar ke arah Muse memasang kembali senjatanya yang tadi dipisah-pisah sambil bersenandung ria.
Lovely chance pettanko-chan!
Lovely chance pettanko-chan!
Ya Tuhan, dosa apa aku di kehidupan sebelumnya sampai aku harus satu regu dengan wibu bau bawang ini....
PEEJI mekuru kyou no SUTOORII
Dakishimeru mune ni himeta PAWAA
RUUTO GAIDO ni nottenai atarashii sekai e to
Tanpa memperdulikan nyanyian Muse, aku meraih sebotol pelumas senjata api di sebelah ku....yang ternyata sudah habis.
"Na....Muse," Aku mencoba meminta pelumas dari Muse, tapi...
RETTSU GO METAMORUFOZE!!
"Muse!" Muse justru mengeraskan volume nyanyiannya. Saking kerasnya, beberapa ksatria melirik ke arah kami. "MUSE!!!"
Hiime hime!! Hime!
Suki suki daisuki!♥
Hime!! Hime!!
Muse tak mengacuhkan dan terus bernyanyi sambil nge-dab sana sini, membuat kesabaranku habis. Aku melempar botol pelumas ke arahnya. "Woi!"
Botol kosong yang aku lempar tepat mengenai mata kirinya, membuatnya mengaduh kesakitan. Ia mengucek matanya sebelum menggerutu. "Nggak usah ngegas, anjing."
"Ada orang ngomong dengerin kek?!" Balasku ketus. Mungkin kalau hanya kami berdua yang ada di sini, kami sudah bergelut dari tadi.
"Ada apa?"
"Punya LSA[ LSA = Lubricant Small Arm. Pelumas untuk melicinkan isi senjata api.]?" Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya dan kembali mendengus kesal. Sial, bagaimana cara agar bisa membersihkan senapan ini?
Tiba-tiba seseorang menaruh sebotol pelumas LSA di atas pundakku. Aku memutar kepalaku, menatap orang itu. Ternyata Blade. "Juru selamatmu sudah datang," Kata pria itu sambil menyeringai.
Aku membuka botol pelumas itu sambil memandangnya, tersenyum nakal. "Aku nggak mau terdengar seperti orang homo, pak, tapi....aku bisa menciummu."
Pria itu menyeringai dan menepuk belakang kepalaku. Ia berdiri di depan kami dan menaikkan tangan kirinya bak seorang raja yang akan memberikan sebagian hartanya kepada rakyat.
"Rejoice, lads. Aku mendapat kabar dari Zeus bahwa kita akan mendapatkan tambahan beras untuk bulan ini."
Maksud dari 'beras' tadi adalah amunisi & perlengkapan yang kami butuhkan, seperti baterai, ransum, sparepart senjata, dan barang lainnya. Kakak dan tim ilmuan sepertinya sudah berhasil membuat portal buatan, tetapi bentuknya masih sangat kecil dan hanya dapat terbuka sebentar. Perlu waktu yang cukup lama untuk mengembangkan mesin itu.
Mendengar pengumuman singkat dari Blade, Muse menyeringai ganas seperti psikopat yang akan membunuh korban berikutnya.
"Hell yeah."
Aku hanya tersenyum puas, berharap ada ransum nasi kare kesukaanku. Aku sudah bosan dengan daging & sayur yang disajikan tanpa bumbu setiap hari dan dengan roti atau jagung sebagai pengganti nasi. Banyak orang bilang kalau orang Asia belum makan kalau tanpa nasi. Kurasa itu ada benarnya.
"Bagaimana denganmu, Wand. Sudah baikan?"
Blade menatapku sambil melepaskan baju zirahnya satu per satu sebelum mengambil senapan miliknya dan duduk di sampingku.
"Sepertinya, kapten...."
Aku berhenti berbicara. Sambil tanganku bekerja menyemprotkan pelumas pada kamar peluru senapan, aku memikirkan apakah aku harus mengatakannya atau tidak. Berbeda dengan Muse yang blak-blakan, sangat sulit bagiku untuk curhat pada orang lain.
Namun, aku teringat pada latihan militer. Aku dilatih untuk mempercayai orang di sampingku.
Akhirnya ku putuskan untuk memberitahu Blade soal itu. Sambil mengalihkan tatapanku dari sepasang mata marun itu, aku mencurahkan isi hatiku.
"Hanya saja...aku bingung bagaimana harus berhadapan dengan Jeanne."
Suara tawa Muse membuatku merasa tidak enak.
"Dekati dia, beri dia rayuan gombal dan jika saatnya tepat, sarungkan 'Excalibur'-mu pada 'Avalon'-nya. Profit!" Pemuda berambut pirang itu mengakhiri kalimat terakhirnya dengan sebuah demonstrasi visual.
Aku menaruh senapanku kemudian berdiri dan mentackle tubuhnya ke lantai. Orang seperti ini harus diberi pelajaran.
"Mungkin akan aku mulai dengan mematahkan 'Balmung'-mu!" Seru aku sambil menginjak alat vital Muse seperti sedang menstarter motor manual.
"Kyaaah! Ampun, Wand! Pikirkan masa depan keponakanmu! Aaaaa!"
Pemuda pirang itu menjerit kesakitan sampai aku merasa banyak pasang mata mengarah pada kami. Blade bukannya melerai kami justru tertawa terbahak-bahak. Sepertinya ia sangat bersyukur Muse mendapat karmanya.
Setelah ia puas tertawa, pria itu menyuruhku berhenti. "Hentikan, Wand. Nanti kamu harus tanggung jawab jika pacarnya sampai tidur dengan Jody."
Aku melepaskannya dan duduk di tempatku tadi.
__ADS_1
"Sebenarnya, pacarnya sudah dibawa kabur sejak lama...." Aku menutup mulutku, berpura-pura batuk dan menyebutkan suatu nama. "Uhuk, Tsubaki, uhuk...."
"Fuck you, Jap," Ia menggerutu setelah mendengar nama terkutuk itu. Sepertinya, ia masih trauma akan hal di masa lalu yang aku juga mengetahuinya. Jody adalah sebutan bagi pria yang meniduri istri atau pacar tentara yang sedang pergi bertugas. Ya, bahkan spesies seperti kami juga tidak kebal dari virus Netorare.
Sementara itu, Blade mendeham dan mulai membongkar G36C miliknya. Sepertinya dia akan memulai kuliah tujuh menit untukku.
"Minta maaf dan bicara dengannya seperti biasa, itu saja sudah cukup. Asal kamu tahu, kata 'maaf' itu sekuat mantera sihir."
Mendengar kata-katanya itu, aku berhenti memasang kembali senjataku dan menatapnya penasaran.
"Nggak percaya? Aku sudah beberapa kali bertengkar dengan istriku, tapi hanya dengan kata maaf kami bisa berbaikan seperti biasa...."
Orang Jepang memang selalu mengucapkan maaf tentang hal sepele, bahkan sampai mengatakannya saat tidak ada yang berbuat salah, tapi aku tidak tahu kalau kata-kata yang sering aku ucapkan itu bermakna lebih bagi orang Inggris di depanku.
"Hmmmm, begitu...."
"Jangan sekali-kali meremehkan nasihat senior. Aku ini sudah hidup 10 tahun lebih lama dari kamu," Kalimat terakhir dari Blade itu berhasil menghilangkan semua keraguan dalam benakku.
"Akan aku coba," Orang yang pernah kuliah jurusan filosofi di Oxford benar-benar hebat. Belum ada satu tahun aku mengenalnya, ia sudah bagaikan kakak bagiku. Mungkin, aku bisa percaya padanya seperti aku percaya pada Mayor Kisaragi.
"Setelah itu, ikuti saran Muse," Mendengar hal itu, tawa Muse langsung meledak.
Aku tarik kata-kataku tadi....
*****
Keesokan paginya, kami langsung bersiap-siap dan berangkat menuju tujuan kami yaitu Ibukota Kebangsawanan Alfheim, kota Fraegligr.
Berbeda dengan kota New Verdannia yang terlihat seperti kota pada umumnya di abad pertengahan, kota Fraegligr sangat berbeda.
Pohon-pohon dan di lereng tebing membuatnya terlihat lebih alami daripada kota-kota di Finia. Tembok raksasa yang besarnya dua kali lipat tembok New Verdannia mengelilingi kota itu.
"Selamat datang di Fraegligr, Yang Mulia Tuan Putri Tiara De Finia," Sambut penjaga gerbang sambil menunduk hormat.
Saat rombongan kami memasuki kota, kami disambut oleh ratusan bangunan-bangunan tinggi. Namun, bangunan-bangunan itu sama sekali tidak menghilangkan kesan alami kota ini. Seisi kota sangatlah sejuk dan teduh karena sebagian besar cahaya matahari ditutupi oleh berbagai jenis pohon besar. Beberapa jembatan layang menghubungkan satu bangunan dengan bangunan yang lain. Sungai-sungai besar dan air terjun mengalir dengan deras melewati kota, seolah menyatu dengan bangunan-bangunan kota. Walaupun kota yang hiruk pikuk, udara di sini sangat sejuk, lebih sejuk dari New Verdannia.
Di pinggir jalan yang terbuat dari batu terdapat banyak pejalan kaki yang mayoritas adalah Elf. Patung-patung dan ornamen menghiasi berbagai sudut kota. Tepat di tengah kota, terdapat sebuah pohon raksasa yang tingginya bahkan menembus awan dan menyentuh langit tertinggi. Mungkin 5 sampai 20 kali lebih tinggi dari Tokyo Tower atau bahkan Burj Khalifa. Mungkin tempat ini seperti pornografi bagi fotografer.
"Itu Yggdrasil."
Aku menengok ke arah Putri Tiara yang duduk di dalam kereta tepat di belakangku. Aku saat ini mendapat tugas duduk di kursi kusir bersama Muse yang lagi-lagi diperintah mengendarai kereta. Berbeda dengan kereta kuda sebelumnya yang dimiliki sang Putri, kereta kuda satu ini terlihat biasa saja. Duke Elashor 'berbaik hati' meminjamkan kita satu.
Aku merasa dia mau cari muka. Para politikus bahkan yang di dunia lain juga seperti itu kan?
"Kalau saya tidak salah itu berarti Pohon Dunia di Bahasa mereka. Tolong beritahu jika saya salah," Sahut aku dengan sopan.
Aku memindahkan tatapanku dari Putri Tiara ke arah pohon raksasa itu. Menatap betapa tingginya pohon itu dan mendengarkan cerita dari sang Putri.
"Melalui pohon itu, pendahulu-pendahulu kami datang ke Uressea. Mereka membangun dunia ini dan memulai peradaban baru sampai sebesar sekarang."
Jadi begitu? Sekarang aku paham kenapa banyak dari kebudayaan dan bahasa dari penghuni dunia ini mirip dengan kita di Bumi. Walaupun itu masih sekedar legenda, tapi hal itu sangat memungkinkan. Kami tinggal perlu menyampaikan ini pada Markas Besar.
"Wand, aku ingin tahu apa benar kau membunuh tawanan kita?"
Aku menundukan kepalaku dan mengangguk dengan perasaan sedikit takut. Apakah dia juga akan marah padaku?
"Kenapa?"
"Jika saya tidak membunuhnya, orang itu akan membunuh Muse," Aku menjawab pertanyaannya dengan singkat.
"Begitu," Aku bernafas lega setelah mendengar reaksinya yang terlihat biasa saja."Aku juga mendengar bahwa kau bertengkar dengan Jeanne."
Aku tidak suka kemana pembicaraan ini berjalan. Bukan karena aku kesal, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Tuan Putri.
"Tolong maafkan dia. Jeanne membenci pembunuhan, apalagi terhadap mereka yang tidak berdaya karena itu melanggar sumpah ksatria." Jika yang dikatakan Putri adalah benar, Jeanne mungkin salah satu orang yang menganggap perang sebagai sesuatu yang mulia dan penuh dengan peraturan. Ia juga terlihat belum pernah menginjakkan kaki di medan perang. Kebanyakan ksatria muda di zaman ini berpikir seperti itu.
Walaupun begitu, orang sepertiku tidak berhak menilainya.
"Aku paham betul kenapa kau melakukannya, tapi...."
"Saya tidak menyalahkan Jeanne. Saya hanya...." Aku kembali menghentikan mulutku berbicara. Aku tidak yakin dengan apa yang ingin aku katakan.
"Hanya apa?" Tanya Sang Putri dengan nada sedikit memaksa.
Menghumbuskan nafas dalam-dalam, aku memberitahu Putri Tiara isi pikiranku sejujur mungkin.
"Saya hanya kesal pada kenaifan gadis itu. Menolak menghabisi musuh hanya akan membuatnya dalam bahaya. Tapi...."
Aku menatap ke arah Jeanne yang sekarang tengah menunggangi kuda di depan. Aku bisa melihat kepala gadis itu menunduk. Tangannya menggenggam tali kuda dengan erat.
"Sejujurnya, saya juga merasa bersalah karena sudah membunuh dua orang yang memiliki masa depan cerah. Namun, meski mau merasa bersalah seperti apapun, itu sudah resiko bagi mereka karena melawan kita. Saya harap anda mengerti."
"Wand..."
"Maaf, sepertinya saya terlalu banyak berbicara," Aku mendesah dalam-dalam.Walaupun sedikit tidak enak terlalu blak-blakan pada seorang Putri, aku merasa lega bisa mengatakan pemikiranku. "Pada akhirnya, meskipun saya memaparkan pemikiran seperti apapun, saya akan terpaksa melumuri tanganku dengan lebih banyak darah karena berada di zona berbahaya. Membunuh atau dibunuh."
Aku menghela nafas dalam-dalam. Apapun jawaban Putri Tiara, aku sudah siap menerimanya.
__ADS_1
"Aku maklum kok," Jawaban Putri sontak membuatku terkejut. "Ayahku melakukan hal yang sama, demi tanah air Finia. Montez juga, sampai-sampai dia mengorbankan segalanya dan membuang kehormatannya sebagai ksatria, membiarkan dirinya dihina dan dicemooh demi negara ini."
"Mengorbankan segalanya? Kehormatan?"
"Eh?! M-maaf, aku sudah berjanji untuk tidak mengatakannya," Hmm, kenapa wajahnya memerah? Mata violetnya berusaha sebisa mungkin menghindari tatapanku. Gadis berambut putih ini berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Oh ya, bagaimana pendapatmu tentang kota Fraegligr dan Alfheim? Indah bukan?"
"Sangat indah, Tuan Putri. Saya tidak pernah melihat tempat seindah ini. Benar-benar seperti di negeri dongeng," Pemandangan di sini sama indahnya dengan daerah pedalaman Finia. Yah, aku tidak bisa bilang kalau kami terkadang menyusup ke wilayah sekitar untuk berburu informasi.
Aku berhenti mengamati sekitar dan bertanya pada Muse, yang anehnya dari tadi sama sekali tidak bicara sepatah katapun. "Apa yang ingin kamu katakan?"
"Kata-katamu tadi seperti komunis hippie," Jawabnya dengan nada lesu.
Aku mendengus dan memasang wajah kesal. Kutatap wajah pemuda berambut pirang itu.
Wajahnya....terlihat lebih buruk dari mayat hidup.
Matanya terlihat tidak fokus dan sedikit mengantuk. Bibirnya kering-kerontang. Wajahnya sangat pucat, seperti hanya ada tulang di dalam kulitnya.
"Kamu kenapa? Kok tumben nggak meracau?"
"Ripped Fuel-ku habis," Hah, sudah kuduga.
"Aku 'kan sudah bilang, jangan keseringan minum gituan," Aku memarahinya seperti seorang kakak yang mendapati adiknya bermain lumpur . Kemudian, aku merogoh kantung persediaanku dan mengeluarkan sebotol Ripped Fuel. Aku mengambil 2 kapsul dan memberikannya pada Muse. "Nih, mulai dari sekarang, aku akan menakar dosis-nya. Demi kebaikan bersama."
"Hai, hai! Arigatou, Onii-chan~" Sahut pemuda itu sambil tersenyum dengan wajah pucat pasi. Ia menelan kapsul tersebut kemudian mendorongnya dengan air putih.
Kembali memfokuskan penglihatanku pada sekitar, aku memperhatikan setiap ekspresi wajah yang dibuat oleh penduduk Fraegligr. Ekspresi wajah mereka bermacam-macam. Ada yang menengok dari pinggir jalan sambil terkagum-kagum melihat kedatangan kami, ada yang terlihat biasa saja, tetapi kebanyakan memberengut seolah menunjukan rasa ketidaksukaan mereka. Putri Tiara juga sadar tentang hal yang aku sebutkan terakhir, terlihat dari ekspresi matanya yang sayu.
"Perang sudah lama berakhir. Tapi mereka masih saja membenci kita," sahut seorang ksatria perempuan. Ia menunggangi sebuah kuda, menjaga kereta Putri Tiara dari samping.
"Luka mungkin akan sembuh dengan cepat, tapi bekas luka sangat susah dihilangkan."
"Hmm? Apa maksud anda, Ksatria Wand?"
Aku menatapnya sambil tersenyum kecil. "Pikirkan saja sendiri...."
Aku sudah melihat sebuah negara yang porak poranda karena perang, pulih dalam sekejap. Namun, tidak ada yang bisa menghilangkan ingatan semua orang tentang sejarah kelam itu dan pengorbanan seluruh orang, tentara dan rakyat sipil yang kehilangan nyawa dan semua hal yang berharga bagi mereka....
"Saya baru mengerti maksud anda," Jawab wanita itu setelah berpikir panjang.
"Bagus."
"Oh ya, anda belum mengenal saya. Nama saya, Alicia Le Blanc D'Lefeuvre. Panggil saja Alicia, salam kenal, ksatria Wand," Ia memperkenalkan dirinya sambil menunduk hormat.
Aku memperhatikannya baik-baik. Dengan seragamnya yang terdiri dari jubah panjang berwarna putih berisi lambang salib biru muda St. Whales dan baju besi dengan ukiran-ukiran yang wah dan juga nama super panjang itu, aku bisa menebak kalau ia berasal dari keluarga bangsawan. Rambut perak panjang dengan mata abu-abu yang tajam memberikan kesan seorang ksatria yang tegas dan berhati dingin.
"Senang berkenalan denganmu juga, Alicia."
Mama Don't Let Your Babies Grow Up To Be Cowboys
Cowboys ain't easy to love and they're harder to hold
"Siapa orang aneh di sebelahmu itu?" Mungkin lebih tepatnya orang autis, hah!
"Sebut saja dia Muse, rekanku."
"Rekan...mu?" Ia menatap kami berdua dengan terheran-heran. Aku tidak kaget jika orang lain mempertanyakan kedekatan kami. Kami berdua memang sama sekali tidak cocok. Dari dulu persamaan di antara kami hanya minat dalam bidang militer dan seni bela diri, tidak ada yang lain.
Tawa kecil Muse membuatku merasa tidak enak. Ia kemudian melingkarkan tangan kanannya pada leherku dan menarik tubuhku mendekat. "Benar! Kami sudah lebih dari teman masa kecil. Setiap malam kami tidur bersama dan setiap kami mandi aku menggosoknya dari ujung kaki ke ujung kepala. Iya kan, Wand?" Ia memelukku makin erat dari belakang.
"Muse," Belum ada 10 menit aku mengenal ksatria wanita itu, kata-kata Muse sudah memberiku impresi pertama yang buruk dimatanya. Tanganku sudah bergetar ingin menonjok giginya. Sebelum aku bisa melakukannya, ia membisik di telingaku.
"Hei, aku membantumu agar bisa terhindar dari lalat seperti orang itu. Rute Harem bukanlah pilihan. Kamu 'kan milik Jeanne."
"Rute Harem dengkulmu? Dan sejak kapan aku ini properti punya Jeanne?"
Aku mendengar suara melengking kecil dan melirik Alicia. Sebelum ia memutar kepalanya, aku melihat wajahnya berubah seperti warna tomat. Uap panas keluar dari telinga dan kepalanya. Hidungnya terlihat seperti akan mengeluarkan darah. Matanya menatap ke samping, berusaha sekuat tenaga menghindari tatapan kami.
"Oh, shit...." Dia pasti salah paham. Setelah kami kembali, mungkin aku akan mulai memutilasi Muse.
*****
Di sebuah ruangan gelap yang hampir kosong melompong, seorang pemuda duduk di atas kursi menghadap ke pintu. Di depannya ada sebuah meja yang diisi oleh satu piring dan gelas kosong dan sebuah lentara yang menerangi kegelapan. Kakinya yang dilapisi sepatu boots sedari tadi mengetuk-ngetuk lantai sebelum berhenti setelah seseorang membuka pintu.
"Selamat pagi," seorang pria misterius dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya menyapa sebelum menutup pintu dan memasuki ruangan. Ia duduk di kursi di seberang meja. "Bagaimana sarapannya? Kau sudah baikkan? Kau mau keluar sebentar? Kita bisa bicara di sana."
Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sama sekali tidak diacuhkan pemuda itu. Ia hanya menatap kosong pria misterius itu.
Pria berjubah itu mendesah kemudian terkekeh. "Kamu sulit diajak basa basi ya."
"Kita langsung saja ke bisnis. Bagaimana dengan tawaranku? Sebagai ganti keberhasilanmu dalam misi ini, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Bagaimana? Kau setuju?"
Pemuda itu menatap pria di depannya dengan dingin sebelum akhirnya menjawab.
"Apapun?"
Pria misterius itu membalas tatapannya sambil menyeringai ganas.
"Apapun itu."
__ADS_1