
"Kita diserang!"
Teriak seorang ksatria yang berada di rombongan depan. Aku melihat puluhan anak panah meluncur dari sisi kanan depan ke arah kami. Kereta yang berada di paling depan berhenti secara mendadak. Beruntung Muse berhasil menghentikan laju kuda dan menghindari tabrakan.
Secepat mungkin aku meraih senapan serbuku dan melompat dari kereta sambil merunduk. Sebuah anak panah hampir saja menembus kepalaku. Beberapa ksatria yang tidak beruntung menjerit setelah anak panah menancap di tubuh mereka.
"Semuanya, keluar! Berlindung di balik kereta!" Pekik aku pada ksatria yang berada di dalam kereta. Walaupun mereka terkejut karena serangan dadakan, dengan sigap mereka keluar dari kereta dan berlindung di balik kereta.
"Lindungi Tuan Putri!"
Aku melihat di balik pepohonan ada bayangan manusia. Salah satu dari mereka tampak membidikan anak panah pada Blade yang membukakan pintu untuk Putri Tiara.
Sebelum ia menembak, aku membidik kepalanya dan menarik pelatuk 2 kali. Sepasang peluru meluncur dan mengenai kepala orang itu.
"Kontak: sisi kiri!"
Muse menghujani setiap batang pohon dimana ia melihat bayangan orang. Blade beserta Jeanne menuntun Putri Tiara keluar.
2 penyerang lainnya yang tiba - tiba berada di atas kereta sang Putri melompat secara bersamaan. Dengan belati tajam terhunus, mereka menerjang ke arah Sang Putri.
Jeanne menangkis serangan salah satu penyerang sementara Blade men-tackle musuh lainnya ke tanah. Penyerang itu berusaha melawan dengan mendorong Blade, namun, si Kapten SAS menahan badannya dan menembak kepalanya berkali-kali dengan pistol sampai darah dan bagian otak berceceran kemana-mana.
"Tuan Putri, tolong mundur!" Teriak Jeanne pada Sang Putri. Musuh mengayunkan pedangnya pada Jeanne, berusaha untuk menyingkirkan nya agar ia bisa meraih yang aku rasa adalah target: Putri Tiara.
Aku memindahkan tangan kiriku ke grip belakang senapan sementara tangan kanan menggenggam grip depan. Dengan penuh ketepatan, aku membidik kepala musuh yang dihadapi Jeanne dengan mata kiri. Dalam sekali tarikan nafas, aku menarik pelatuk. Pundakku sempat merasakan hentakan popor sebelum peluru mengenai kepala penyerang itu dalam sekejap.
Setelah memastikan ia tewas, aku berbalik ke arah pepohonan di sisi kiri. Muse menarik pin granat dan melemparkan nya ke arah pepohonan seraya berteriak, "Frag out!"
Ledakan granat itu disertai oleh pecahan fragmentasi dan teriakan para penyerang.
Aku menepuk punggung Muse dan memberitahunya dengan bahasa isyarat bahwa aku akan menyerbu ke sisi kanan sementara ia ke sisi kiri. Muse mengangguk dan menepuk kembali punggungku sebelum bergerak maju secara serempak.
Aku berjalan melewati semak-semak di areal pepohonan, dengan hati-hati memperhatikan sekitar. Aku melihat beberapa orang berpakai hitam dengan memakai tudung terhuyung oleh ledakan granat. Beberapa ada yang tersungkur dan merintih kesakitan karena terkena serpihan fragmentasi.
Tanpa ampun aku langsung menembak mereka semua yang berbentuk manusia, termasuk yang terkapar di tanah. Peluru bersarang di tubuh mereka dengan mudahnya walaupun setiap mengganti target gerakanku melambat akibat beratnya zirah ksatria ini. Setelah menghabisi mereka, aku bersembunyi di balik pohon, memerhatikan situasi sampai ke atas pohon.
Di sana aku melihat beberapa di antara mereka membentangkan busur, mengarahkan panah tepat ke arahku.
Beruntung Muse dapat menembak para pemanah itu duluan, membuat mereka terjatuh dari pohon dalam keadaan tubuh terluka terkena terjangan timah panas. Beberapa di antara mereka masih ada yang hidup, tapi kami biarkan saja, nanti juga mati.
"Clear!"
Setelah memastikan mereka semua tewas, aku mengganti magasin senapanku dengan magasin baru yang tersimpan di kantong di sabuk sebelum menepuk punggung Muse dan kembali ke konvoi, di mana aku melihat para ksatria bertarung dengan puluhan orang tak dikenal yang menggunakan jubah hitam sama seperti yang tadi kami tembak.
Banyak di antara ksatria yang kesulitan menghadapi kegesitan para penyerang itu. Beberapa dari mereka bahkan bisa merobohkan 3 ksatria sekaligus. Dari balik pohon, aku mengeluarkan sebuah flashbang dan menarik pin.
"Flashbang!" Teriak aku sebelum melemparkan granat kejut itu ke arah konvoi.
Beruntung sebelum perjalanan aku sudah memberi tahu setiap pengawal dan pelayan yang ikut konvoi untuk menutup mata dan telinga mereka jika ada di antara kami yang berteriak 'Flashbang'.
Saat flashbang tersebut meledak, seluruh ksatria sudah menutup mata dan telinga mereka, sementara para musuh yang tak tahu menahu hanya menatap ke arah kami sebelum terlambat.
"Aaarrgghhhh!"
Suara desing yang memekakkan telinga dan sinar yang membutakan mata membuat mereka berteriak kesakitan.
Dengan segera, aku dan Muse bergerak maju.
"Lumpuhkan!"
Sahut Muse pada aku. Secara bersamaan menembak seluruh musuh yang masih linglung. Melihat kesempatan ini, para ksatria menghabisi musuh-musuh yang berada paling dekat dengan mereka. Blade yang bersembunyi di balik kereta menembak penyerang yang tersisa. Terhitung 11 orang sudah di lumpuhkan.
"Aman!"
Blade berjalan ke arahku sembari mengisi ulang senjatanya dengan magasin yang baru. "Muse, bantu regu penyembuh. Wand, gunakan senapan sniper-mu dan habisi penembak di depan!"
"Baik!"
Sementara aku kembali ke kereta untuk mengambil Senapan Remington-ku, Muse berlari ke balik kereta kuda dan membantu regu penyembuh menolong ksatria yang terluka.
"Ini gawat! Senjata mereka beracun!" Sahut salah satu penyembuh setelah memeriksa keadaan salah satu ksatria. Ingrid Parè, seorang Elf merupakan salah satu penyembuh handal yang menguasai farmasi alkimia dan sihir penyembuh. Sambil mengikat rambut pirang panjangnya dan menggulung lengan kemejanya, ia menoleh ke arah Muse. "Muse, kau punya penawar racun?"
"Punya!"
Muse mengeluarkan satu botol kecil berisi ramuan berwarna ungu dari kantong depan dan membuka tutup botolnya dengan mulut, sementara tangan kanannya sibuk merogoh kantong. Sebuah jarum suntik yang masih steril berada berhasil ia raih.
Muse mengambil penawar racun dengan jarum suntik, menghitung dosis yang diperlukan. Rasanya cara pengobatan pertolongan pertama di sini lebih maju daripada di Bumi.
Ia menghampiri salah satu ksatria yang bersandar pada kereta. Pria itu batuk - batuk mengeluarkan darah yang sudah menghitam, pertanda racunnya sudah menyebar.
"Son of a bitch," Muse menggerutu dengan kesal. Ia menepuk punggung Ingrid. "Ingrid! Gunakan jarum suntik cadangan di kantong belakangku. Racunnya menyebar dengan cepat, nggak akan sempat kalau ramuannya hanya diminumkan."
"Aku mengerti!" Jawab Ingrid. Sang penyembuh mengambil sebuah suntikan, beberapa jarum cadangan, dan kapas berisi alkohol di kantong Muse sebelum menghampiri ksatria lain yang terluka.
"Bertahanlah, bung," Sahut Muse dengan tenang. Ia menggulung lengan kemeja ksatria itu dan membersihkan lengannya dengan alkohol sebelum menyuntikan penawar racun.
"Ugghhh," ksatria itu merintih kesakitan saat disuntik.
Sementara itu, aku membuka tempat duduk kusir, dimana tersembunyi tempat aku dan Muse menyimpan tabung peluncur roket M72E10 dan senapan sniper M24A3. Dengan terburu - buru, aku meraih senapan sniper dan menaruh senapan serbuku ke dalam tempat itu sebelum menutupnya.
"Wand, cepat!" Perintah Blade yang tengah berlindung, berjongkok di sisi kiri kereta kuda Putri Tiara.
Aku tiba-tiba mendengar suara langkah kaki di atap kereta di sebelahku, membuatku melangkah mundur menghindari tebasan sebuah pedang. Setelah gagal menebasku, pembunuh itu mencoba menerjang namun langkahnya terhenti setelah aku menembak perutnya dengan sniper. Ia terjatuh ke tanah sambil memegangi perutnya yang terluka.
Kokangan senapan aku tarik dan majukan sebelum aku arahkan moncong yang masih panas itu ke kepala pembunuh itu dan menarik pelatuk untuk kedua kalinya. Lubang besar terbentuk di tengkoraknya dan isi otaknya bertumpah ruah keluar.
Di sisi lain, aku melihat Komandan Montez menghajar beberapa musuh tanpa ampun. Ia berteriak seperti banteng terluka, menebas dengan liar seluruh musuh yang ada di sekitarnya. Bukan hanya dengan pedang, ia terkadang meninju, menendang, bahkan memukul kepala musuh dengan ganggang pedang seolah mengayunkan palu besar. Musuh yang seharusnya mengepungnya justru malah terlihat gentar. Bercak-bercak darah menempel di zirah dan pedang peraknya. Aku tidak bisa melihat wajahnya namun aku tahu, pria itu sedang menyeringai ganas.
"Hahaha! Hyaaah! Muere, pendejos!" Teriaknya sebelum kembali menerjang musuh yang mulai ketakutan.
Aku sempat dibuat tak percaya. Seorang ksatria yang terlihat sangat bersinar bak ksatria dalam cerita dongeng bertarung seperti orang kesurupan. Ia sama sekali tidak menggunakan teknik apapun, tapi semua serangan dapat ia tangkis dan ia dapat menghabisi musuh yang jauh lebih banyak tanpa bantuan. Komandan Orde Ksatria ter-elit memang orang yang hebat, dan menyeramkan.
Aku tidak perlu membantunya dan berusaha fokus pada misiku. Aku berlari ke arah Blade yang menunggu di kereta paling depan. Ia menembakkan puluhan timah panas ke pepohonan lebat di sisi kanan.
Menggunakan tembakan Blade sebagai covering fire, aku berlari ke arah tumpukan mayat kuda dan berbaring di atas perutku di belakang mayat-mayat itu. Bau amis darah sama sekali tidak menggangguku. Aku melihat salah satu pasukan penjaga perbatasan yang masih hidup bersandar di sebuah mayat kuda di sampingku sambil memegangi perutnya yang tertancap panah. Ia menunjuk ke arah di mana Blade menembak tadi.
"Di sana....kurang lebih 10 pemanah....Ugghhh...."
Aku mengangguk paham dan melemparkan sebuah perban ke arahnya. "Gunakan ini untuk menekan lukamu, kawan."
Aku melirik ke arah Blade yang memberi tahu dari jauh informasi yang aku butuhkan.
Jarak, 150 meter. Hembusan angin, 30 kilometer per jam ke arah tenggara.
Aku mengangkat jempol dan mulai mengatur teropong. Bagi sniper sepertiku menembak target dengan jarak segitu hanyalah perkara mudah. Semudah membalikkan telapak tangan. Tapi angin yang berhembus kencang di pegunungan memberiku sedikit tantangan.
Ku atur jarak dan arah angin di teleskop sebelum membidik target pertama. Ia bersembunyi di balik pohon. Perlahan kepalanya menengok keluar. Di saat itu pula, aku menarik nafas dan meremas pelatuknya. Dorongan keras dari popor senapan menghantam pundakku. Dalam hitungan kurang dari satu detik, peluru menembus kepala orang itu.
Dengan segera, aku mengokang senapanku dan membidik target yang lain. Ia bersembunyi di atas pohon, mencoba memanahku sebelum ku tanamkan peluru berikutnya di dada kirinya, membuatnya terjatuh dari pohon. Aku dapat melihat satu orang menariknya ke persembunyian, namun orang itu sulit untuk ditembak sehingga aku memindahkan bidikan ke musuh lain dan mengambil ancang-ancang untuk meremas pelatuk.
Ini terus berulang sampai 7 selongsong peluru berukuran 14,93 x 69,20 mm berserakan di tanah. Semua peluru yang meluncur dari senapanku mengenai kepala atau badan target tanpa ada yang meleset. Jadi, jumlah orang yang sudah ku bunuh dengan senapan sniper menjadi delapan puluh....entahlah, aku tak pernah menghitungnya. Aku bukanlah psikopat yang suka menghitung jumlah orang yang aku cabut nyawanya.
Blade mengangkat jempolnya ke arahku.
Aku hanya mengangguk tanpa berkata apapun sambil memasang kembali safety pada senapan.
Operator SAS itu bangkit dan berjalan ke arah Muse yang sedang membantu Ingrid mengobati ksatria yang terluka. "Muse, laporkan situasi!" Perintah pria itu.
Melihat pekerjaan sepertinya sudah selesai, aku melipat bipod senapan, membangkitkan tubuhku dari tanah, dan menggantungkan tali di senapan sniper pada pundakku. Sesaat sebelum aku berjalan mengikuti Blade, aku melihat sesuatu.
Di depan jalan, aku melihat seseorang berjalan ke arah kami. Ia menghunuskan pedangnya yang bersinar perak dan menerjang....tepat ke arahku. Aku mengangkat senapan ku, membidiknya dengan teleskop, kemudian....
Lho? Orang itu....
Bukankah dia....
Bocah yang terpaksa aku bunuh waktu itu. Bocah yang ayah dan kakaknya aku tembak mati, dan kemudian aku pula yang membunuhnya demi melindungi rekanku dari tikaman.
Kenapa...? Jariku...tidak bisa menarik pelatuk....
Aku menatap kembali bocah itu. Matanya menatapku dengan penuh dendam....
"Kau sudah membunuh mereka! TERIMA AKIBATNYA!!!"
Teriakkan penuh amarah itu menggema, bercampur dengan teriakkan sama dengan suara yang berbeda....
Teriakkan Jeanne, Muse, dan yang lain seolah terbendung di luar telinga. Aku hanya berdiri di sana...seolah menunggu kematian....
Aku penasaran, bagaimana rasanya ditebas serangan sihir....
__ADS_1
Tiba-tiba, seorang ksatria Finia muncul dari semak-semak dan menabrak orang itu dari samping. Mereka berdua menghantam sebuah kereta kuda dan membuat kereta itu hancur akibat energi mana yang mereka gunakan.
Aku kembali tersadar....
Hal pertama yang aku dengar adalah pekikan Jeanne.
"Wand!"
Kedua rekanku beserta ksatria yang lain berlari menghampiriku.
Blade tiba - tiba menamparku sangat keras, sampai aku terhuyung. Ia memegangi dahiku, memaksaku menatap ke arah jari telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya yang terangkat. "Berapa jari, letnan?"
"T-tiga jari, pak...." Jawabku dengan nada terhuyung.
"Wand, kau baik - baik saja? Tadi, matamu terlihat...." Tanya Jeanne. Ia menatap mataku dengan tajam. Aku mengalihkan pandangan dari tatapannya.
"Aku tidak apa. Mungkin aku kelelahan...." Sahutku dengan nada tenang yang aku buat - buat, namun ia tetap bersikeras.
"Tapi kau-"
Aku hanya memegang pundaknya sambil tersenyum. Aku berjalan menjauh darinya, menghampiri kereta yang hancur tersebut. Jeanne berusaha memastikan jawabanku lagi, namun Muse menghentikannya.
Terima kasih, bung....
Setelah debu menyusut, aku melihat salah satu bawahan Jeanne, Leon si manusia singa tergeletak di sebelah pembunuh berkemeja putih itu di atas sisa - sisa kereta. Ingrid menghampiri ksatria itu, membantunya duduk.
"Leon! Kau baik - baik saja?"
"Tidak apa, Ingrid....Hal seperti itu kurang mampu membunuh ku...."
Ia terkekeh sambil melirik penyerang yang tak sadarkan diri di sebelahku. Orang itu terlihat...sangat muda, hanya seorang bocah berusia 16-17 tahun. Ia mengenakan semacam kemeja putih panjang dan celana panjang biru beserta dengan sepatu boots kulit. Rambutnya berwarna hitam dan acak - acakan.
Ingrid membantu Leon berdiri. Ia terlihat masih sempoyongan dan masih membutuhkan bantuan Elf itu untuk berjalan. Ia menatap orang itu untuk terakhir kali sebelum dibopoh ke kereta kuda yang lain. "Yang terpenting orang ini bisa ditangkap."
Aku hanya menatap manusia singa itu, kemudian melirik bocah pembunuh itu. Bocah itu perlahan sadarkan diri dan merintih kesakitan. Aku berjalan mendekat, tapi lengan Blade menghalangi.
"Wand, kamu istirahat," Kata Sang Kapten.
"Kapten, aku-"
Ia tiba - tiba memegang kerahku, menatapku dingin. "Take a fucking rest," Bentak Blade dengan nada rendah.
Aku hanya mengangguk perlahan. Blade melepas kerahku dan berjalan menjauh. Muse mengikutinya dari belalang. Ia menepuk lenganku saat melewati ku sambil menyeringai. "Nanti aku traktir bir."
Sementara aku berjalan ke arah kereta, Muse dan Blade menghampiri bocah misterius itu. Mungkin mereka mau menginterogasi nya, tapi aku terlalu lelah untuk ikut.
Aku melihat Xenous duduk di atas kursi kusir salah satu kereta. Ia melampar sebuah botol minuman ke arahku. "Tangkap, Mu!"
Aku dengan sigap menangkap botol itu. "Terima kasih, Xenous...." Jawab ku sebelum meminum isi botol itu sampai habis. Aku duduk di sebelah Xenous. Aku mencabut magasin senapan dan menaruhnya di sampingku.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Wand?" Tanya Elisa yang tiba - tiba berada di belakangku. Ia memegang kedua pundakku. Suaranya terdengar sangat cemas.
Jeanne duduk di samping kananku dan menanyaiku dengan nada memaksa. "Ceritakan pada kami! Mungkin kami bisa membantu!"
Rupanya sejak tadi dia selalu mengikutiku. Aku menatap kedua bola mata biru berbinar tersebut. Terlihat...sangat suci sampai aku terpaku padanya. Aku hanya bisa tersenyum dan menghindari tatapannya.
"Wa-"
"Jalan!" Bentak Muse sambil mendorong bocah itu ke tengah hutan. Tangannya sudah diikat dengan borgol plastik dan kepala ditutupi karung goni.
Blade memanggilku dari jauh, memerintahkan ku untuk ikut dengan mereka. "Baiklah, waktu istirahatku sudah selesai. Aku harus kembali bertugas," Aku bangkit dan berjalan mengikuti kedua rekanku, meninggalkan yang lain.
Akhirnya aku bebas juga dari mereka. Aku tidak mau orang lain tahu masa laluku. Aku takut mereka akan membenciku, apalagi Jeanne....
Aku dan Blade berjalan bersebelahan mengikuti Muse yang menuntun tahanan kami dari belakang.
"Kamu sudah tenang?" Tanya Blade dengan sedikit khawatir. Aku hanya menjawab dengan mengangguk.
Kami akhirnya tiba di tengah hutan tempat beberapa ksatria sedang menggali liang lahat dan memakamkan jasad pembunuh dan ksatria yang tewas dengan sekop. Beberapa ksatria yang lainnya mengangkat jasad-jasad itu dan menderetkannya di dekat sana. Kami kehilangan 9 ksatria. Dari 5 penjaga perbatasan Alfheim yang ikut bersama kami, 3 di antaranya gugur termasuk ketua mereka. Seluruh penyerang yang berjumlah 32 orang tak ada satupun yang hidup, kecuali bocah yang kami tangkap ini.
Dengan kasar, Muse menendang si tahanan sampai ia terjatuh ke tanah. Muse menarik kerahnya dan menyeretnya ke salah satu pohon dan menyandarkannya ke sana. Para ksatria di sana hanya menatap kami sesaat sebelum melanjutkan menggali.
"Selain Wand dan Muse, tinggalkan tempat ini!" Perintah Blade menggema di telinga semua orang di sana.
Para ksatria tersebut menghentikan pekerjaan mereka dan berjalan menjauh dari tempat itu. Aku bisa mendengar beberapa dari mereka menggerutu. Sepertinya mereka masih belum percaya pada kami atau mungkin iri karena kami mendapat gelar 'pahlawan terpilih', tapi Komandan Montez sudah memberitahu mereka untuk juga mengikuti perintah Blade. Jadi mereka tidak punya alasan untuk menolak perintahnya.
Sebenarnya ini juga bagian dari interogasi. Dengan berdiam diri tanpa bicara apapun, tawanan akan mulai merasa tidak nyaman. Simpel namun berguna. Apalagi, pemuda ini terlihat seperti pembunuh amatiran.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya pemuda itu. Namun, tidak ada yang menjawabnya. "Apa yang kalian inginkan?!"
"Hei!" Teriakkannya berbuah sia-sia. Kedua rekanku tetap menggali tanpa memperdulikannya, seolah itu hanya angin lewat. Aku hanya diam-diam memperhatikannya sambil pura-pura tidak acuh. Permainan diam-diaman ini aku akhiri setelah aku merasa dia semakin tidak tenang.
"Hei..." Dengan nada tenang dan akrab aku memanggilnya. "Aku ingin bertanya satu hal."
Pemuda itu tersenyum sinis. "Heh, tidak akan aku beri-"
Aku menaikan volume suaraku.
"Dengarkan aku dulu, oke? Aku merasa...kau sangat berbeda dari kawan-kawanmu yang lain. Bisa beritahu aku kenapa aku bisa berpikir seperti itu?"
Pertanyaanku itu, membuat pemuda itu semakin heran. "Kau yang berpikir seperti itu, tapi kenapa malah menanyaiku?"
"Aku hanya ingin tahu tentangmu lebih dekat," Hal pertama dalam interogasi yang perlu diingat bukanlah rasa sakit yang ditimbulkan pada subjek. Jika kita bisa mendapatkan rasa simpati atau menekan beberapa tombol yang tepat, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa harus menggunakan kekerasan.
"Kau bertanya seperti itu padaku...setelah membunuh Lura dan teman-temanku dengan senapan terkutukmu itu?!" Sahutnya dengan geram.
Lura. Jadi itu nama salah satu musuh yang aku bunuh. "Apakah itu....seseorang yang berharga bagimu?"
"Dia...." Aku melihat matanya menatap mayat seorang gadis pirang di antara mayat-mayat pemanah yang aku tembak. "Dia adalah teman masa kecil...dan tunanganku...."
Mendengar ia terisak, aku jadi sedikit kasihan. "Jika kalian tidak menyerang kami, mungkin tunanganmu masih hidup. Kenapa kalian mengincar nyawa putri kami?"
"Kau bertanya hal bodoh lagi! Bukankah sudah jelas?! Jika aku tidak membunuh putri titisan iblis itu, dunia ini tidak akan pernah damai dan perang besar akan melanda seluruh dunia seperti 400 tahun yang lalu!"
"Begitu..." Entah siapa yang sudah mencuci otak anak ini dan mencekokinya propaganda, mereka sudah berhasil membuat seorang prajurit pembunuh yang hebat. Hanya saja, dia bodoh. Tapi setidaknya aku berhasil mendapatkan motif mereka.
"Aku dan Lura sudah berjanji....akan menikah setelah membawa kedamaian pada dunia...." Ia menatap ke bawah dengan tatapan kosong sambil tersenyum pahit. Dengan mata berlinang air mata penuh amarah dan kesedihan ia melotot ke arahku. "Tapi kau! Kau sudah membunuhnya! Aku tidak akan memaafkanmu! Aku berharap kau juga akan mengalami hal yang sama denganku!"
Kalimat itu terdengar seperti kutukan di pikiranku.
"Maaf, kalian jadi menderita seperti ini karena aku," Permohonan maaf ku ini tidak dibuat-buat. Entah kenapa, aku sendiri merasa bersalah telah memisahkan dua insan ini. Aku tahu yang aku lakukan adalah benar tapi.... "Aku merasa lega jika aku dapat membayar semua perbuatanku..."
"Eh?"
Aku hanya tersenyum ramah padanya dan mengambil botol minuman dari kantong di pinggangku. Setelah minum beberapa teguk, aku menawarkan padanya.
"Kau haus?"
"Tidak, terima kasih."
"Oh ya, aku belum tahu namamu."
"Toby, Toby Bronzerock."
"Panggil aku, Kohei."
Aku sempat menanyainya beberapa hal yang bersifat basa basi. Terkadang ia enggan untuk menjawab. Walaupun begitu, setidaknya aku kemungkinan bisa mendapatkan rasa percaya nya.
"Sudah cukup bincang-bincangnya," Kata Blade yang saat ini berjalan ke arah kami. Aku melihat ia menyeret salah satu mayat pembunuh dan melemparnya ke depan Toby. Sang Kapten berjongkok di depannya dan melotot tepat ke matanya. "Sekarang beritahu aku siapa yang menyuruhmu!"
"L-Lura...."
Melihat pemuda ini menatap jasad gadis berambut pirang itu dengan shock. Wajahnya yang cantik kini dipenuhi darah dan terdapat lubang dimana peluru menancap di dahinya. Bohong jika aku sendiri bisa berdiri dengan tenang saat melihat jasad orang yang aku bunuh tepat berada di depanku.
Aku berusaha menahan semua emosiku dan menggunakan kesempatan itu untuk berpura-pura membela Toby.
"K-Kapten...."
"Diem lu, kentod!" Bentak Muse dengan lantang padaku. Ini memang hanya sandiwara, tapi aku sempat terkejut mendengarnya berteriak seperti itu.
"Singkat saja," Mulai Blade dengan enteng. Ia mencabut pisau tempur nya dan memutar-mutarkan benda tajam itu. "Aku sudah mengetahui orang yang menyuruh kalian untuk membunuh tuan putri. Aku hanya ingin memastikannya. Jadi jawab semua pertanyaanku dengan jujur, atau lacur ini akan merasakan akibatnya!"
"K-kau....!" Pemuda itu berteriak dengan geram.
"Kapten, ini tidak benar!"
"Ku bilang diam!" Muse memukul selangkanganku, membuatku tersungkur ke tanah sambil memeganginya. Seharusnya ini juga sandiwara, tapi buah pelerku rasanya seperti mau pecah. Aku lupa kalau Muse tak bisa mengontrol tenaga saat kami sparring.
__ADS_1
"Kohei!" Toby menyerukan nama palsuku, terkejut melihat musuh di depannya tega menyakiti rekannya sendiri.
"Kau juga diam!" Muse melanjutkan siksaan dengan menendang Toby berkali-kali sampai menyebabkan pemuda itu batuk-batuk mengeluarkan darah.
Blade berjalan mondar-mandir di depan bocah berambut hitam itu sambil mengetuk lehernya dengan bagian tumpul pisaunya.
"Ayo, cepat beritahu. Kalau tidak...."
Kapten SAS itu kemudian menarik Lura ke atas melalui rambutnya. Pria itu mengarah pisaunya ke arah dada jasad gadis itu.
"Aku akan merobek dadanya dan melemparkan seluruh organ-organnya!"
"Jangan!" Perasaan marah dan sedih tercampur di wajahnya.
Blade melepaskan kembali tubuh Lura sementara Muse berjalan mendekat. Letnan Navy SEAL tersebut tersenyum jahat pada bocah itu.
"Makanya cepat beritahu! Kalau tidak-"
"Kurang ajar!"
Muse tidak sempat menyelesaikan kalimatnya sebab pemuda itu, entah bagaimana berhasil melepaskan ikatan borgol plastik dan menerjang ke arah Muse dengan tangan mengeluarkan api ungu.
"Awas!"
Aku segera men-tackle Tony ke tanah sebelum ia dapat melukai Muse. Dengan refleks ku hunuskan sangkur dan menusuk kemudian menyayat lehernya. Darah memancar keluar dari lukanya dan menciprat ke wajahku.
Ia tewas secara perlahan dengan ekspresi terkejut masih ter-gambar di wajahnya. Mata tanpa cahaya yang sudah kehilangan nyawa menatap tepat ke mataku.
Perlahan aku mulai bangkit, mundur tanpa mengalihkan pengelihatanku pada mayat pemuda itu. Pemuda yang masa depan bahagianya aku renggut, dan aku pula yang merenggut nyawanya.
"Bloody Hell," Bahkan Blade terkejut akan kebrutalan ini.
Sangkur yang aku genggam perlahan terlepas dari genggaman Kedua tanganku dipenuhi oleh warna merah darah. Aku yakin siapapun yang melihat wajahku saat ini, mereka pasti akan lari ketakutan. Bau amis darah menyengat hidungku. Sisi diriku yang paling aku benci keluar dengan sendirinya tanpa sadar, dan itu membuatku sangat ingin muntah.
"Aku...."
"Nggak apa, bro," Seru Muse sambil mengelus punggungku. Pemuda berambut pirang itu kemudian mengelus belakang kepalaku sambil tersenyum ceria. "Terima kasih sudah menolongku."
Menyadari bahwa aku berhasil melindungi teman masa kecil ku membuat aku merasa lebih baik. Tapi tetap saja....
Oh ya, Intelnya....
"Intel bisa kita dapatkan lain kali," Blade memberikan ku sapu tangan untuk mengelap darah di wajahku. Pria berambut merah itu kemudian berjalan ke arah sekop dan mengambilnya. "Ayo, walaupun mereka musuh, kita harus memberi pemakaman yang layak."
Muse mengangguk dan segera mengambil sekop untuk menggali lebih banyak lubang, sementara kapten masih tetap berdiri di sana, melihatku berdiri dengan tatapan kosong.
"Kamu boleh istirahat," Lanjut Blade.
Setidaknya, harus ada yang perlu kulakukan untuk menebus dosaku ini. "Kapten, izinkan aku mengubur jasad orang ini, dan juga kekasihnya."
"Jangan paksa dirimu," Dengan diam aku perlahan menarik kedua jasad sepasang kekasih itu dan menggali kemudian menguburkan mereka berdua bersebelahan. Sebagai pengganti batu nisan aku menancapkan senjata mereka, pedang milik Toby dan busur panah milik Lura.
"Gomeifuku wo oinori itashi-masu."*
Setelah mengucapkan doaku pada mereka, aku menunggu Blade dan Muse menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum kembali ke konvoi.
Sesaat kami tiba, kapten kami menghampiri komandan Montez yang sedang berbincang dengan salah satu penjaga perbatasan Alfheim. Penjaga itu masih bisa berdiri walaupun dengan lengan terbalut perban.
"Kita beruntung mereka tidak membawa penyihir dengan sihir peledak," Kata Blade pada kedua ksatria itu.
"Ya, tapi jika mereka membawanya, aku optimis Tuan Putri akan tetap aman," Jawab Montez sambil bernafas lega. "Ini berkat 'Simulasi Pengamanan VIP' yang kita lakukan selama ini. Walaupun banyak atasan yang menganggapnya membuat tidak nyaman, aku terkesan pada teknik kalian mengamankan."
"Tak perlu memuji kami. Kami mempelajari ini dari akademi militer."
"Matahari sudah mau terbenam, lebih baik kita bergegas mencari tempat berkemah."
"Bagaimana kondisi luka Leon?"
"Hanya sedikit luka goresan. Dia sempat takut saat ditengok Tuan Putri karena berkat dia kereta milik Tuan Putri hancur."
Sementara Blade dan Montez bercengkrama dan berdiskusi tentang rencana berikutnya, aku dan Muse berjalan kembali ke kereta kami. Jeanne dan Xenous dengan gembira menunggu kedatangan kami.
"Mana pemuda yang kita tangkap itu?" Tanya Jeanne dengan sebuah senyuman yang dapat menyinari kegelapan.
"Yha, keparat itu entah bagaimana bisa meloloskan diri dan berusaha menusuk ku, tapi untunglah kita bisa mengirimnya ke alam baka terlebih dahulu," Jawaban Muse membuat raut wajah Jeanne berubah.
"Kalian membunuhnya?!" Seru Jeanne pada Muse dengan geram.
"Kejadiannya sangat cepat. Sulit untuk menangkapnya hidup-hidup. Tapi menurutku lebih baik dia mati daripada menjadi ancaman bagi Tuan Putri."
"Tapi mencabut nyawa tawanan adalah kejahatan! Ksatria dilarang melakukan hal itu!" Jeanne terus mengeluarkan argumennya, membuat Muse makin jengkel.
"Maaf sekali ya, aku nggak bisa 'Edo Tensei'*! Lagi pula aku hampir mati dibacok oleh bajingan itu dan Wand sudah mengirimnya ke nereka! Apalagi yang perlu dipermasalahkan?!"
"Wand....Wand tidak mungkin yang melakukannya kan? Dia bisa menghentikannya tanpa membunuh. I-iya kan, Wand?" Tanya Jeanne lirih. Gadis itu menatapku sambil menggigit bibirnya.
Tanpa berpikir panjang aku langsung menjawab Jeanne.
"Aku lebih baik membunuh seratus orang jika itu untuk melindungi Nate."
"W-w-wand," Jeanne terbelalak mendengar jawabanku. Aku benar-benar tidak ingin melihat ekspresinya saat itu. "Apa yang kau katakan, Wand?! Ini tidak benar! Bagaimanapun juga itu sudah kewajiban kita melindungi orang yang menyerah! Menghabisi mereka hanya akan membuat kita-"
"Diamlah, lacur! Aku sudah muak dengan semua omong kosong naifmu!" Entah bagaimana kata-kata mengerikan itu keluar dari mulutku. Seolah setan dalam diriku yang berkata demikian.
Gadis berambut pink itu hanya berdiri terdiam, tak percaya apa yang sudah aku katakan.
Salah satu ksatria di bawah pimpinan Jeanne geram dan menarik baju rantai di leherku.
"Beraninya kau berkata seperti itu pada kapten! Kubunuh kau!"
"Lu mau bunuh gue, hah?! Bunuh saja kalau bisa!" Teriakku dengan nada menantang. Membalas menarik baju rantainya dan mengepalkan tangan seperti ingin membunuh orang itu.
"Hentikan kalian berdua!"
Jeanne dengan cepat memisahkan kami berdua. Sepasang mata biru berbinar itu menatap aku dengan intens, membuat ku tak mampu untuk membalas tatapannya. Ksatria itu perlahan melepaskan kerahku dan meludah ke kaki.
Sesaat setelah orang itu menjauh, Jeanne menggenggam baju zirahku dan menatap ke atas.
"Wand, tolong katakan padaku. Ada apa denganmu?"
"Tinggalkan aku sendiri, Jeanne....Sebelum ada yang terluka...." Jawabku sebelum pergi menjauh darinya.
"T-tunggu," Gadis polos itu berusaha menggenggam lenganku tapi aku melepaskannya dengan kasar.
"Mu, biarkan dia sendiri, Jeanne," Kata Xenous untuk menghentikan Jeanne.
Gadis normal pasti akan kabur setelah melihat sosok tersembunyiku ini, tapi kenapa Jeanne selalu berusaha mendekatiku? Apakah dia tidak tahu konsekuensinya? Apakah dia senaif itu?
Aku tidak mengindahkan lagi tentang yang lainnya. Aku hanya berjalan cepat meninggalkan mereka tanpa mempedulikan tatapan kesal ksatria-ksatria di bawah pimpinan Jeanne.
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba jadi seperti ini?"
Elisa yang sedang duduk di dalam kereta bertanya sambil memperhatikanku. Aku tidak menjawab seolah hanya mendengar angin lalu dan duduk di kursi kusir. Aku menatap kosong ke tanah. Ingin sekali aku memukul sesuatu tapi aku tahu itu akan menyebabkan kekacauan.
Elisa terdengar mendesah di belakangku.
"Aku mengerti," Seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang. Aromanya seperti bunga melati. Orang itu berbisik di telingaku dengan lembut. "Tenang saja, aku di sini kok."
Ternyata memang dia. Aku membiarkan diriku nyaman di pelukan oleh gadis Elf ini. Setelah beberapa saat dipeluk seperti ini, kesadaran dan emosi berangsur-angsur kembali dengan pulih. Aku ingin sekali menangis, tapi air mataku seolah kering, sama sekali tidak mau keluar.
Diam-diam aku melirik Jeanne yang memperhatikan kami dari jauh. Ekspresi di wajahnya....cukup untuk membuat ku ingin menembak kepalaku sendiri....
Aku menggenggam tangan Elisa dan berbisik. "Ku mohon, tinggalkan aku, Elisa. Aku sudah tidak apa."
"Kalau perlu apa, panggil saja aku."
"Um," Elisa mengelus rambutku dan mengecupnya dengan lembut sebelum melepaskanku, membiarkan aku menyendiri.
Aku meraih sebatang rokok di kantong ku, menaruhnya di mulut kemudian menghidupkannya dengan korek api. Aku menghela nafas, menikmati asap yang menenangkan keluar dari hidung dan mulutku. Aku sangat jarang merokok karena tak elok untuk kesehatan, tapi aku sudah tak memikirkan nya lagi saat ini. Ku luapkan semua emosi pada sebatang alat perusak paru-paru itu.
Aku kesal pada diriku sendiri.
Aku menyesal telah membunuh mereka, tapi sisi lain dalam pikiranku berkata bahwa aku melakukan hal yang benar. Itu bukanlah salahku karena mereka berada di sisi yang berbeda dan apapun tujuan mereka, tujuan mereka berseberangan dengan misiku, sehingga sebagai seorang tentara adalah tugasku untuk menghabisi mereka. Setiap kali aku memejamkan mataku, aku melihat puluhan bahkan ratusan orang yang telah kubunuh menatap ke arahku, seolah menghantuiku setiap saat.
Tapi yang paling aku tidak bisa maafkan adalah aku sudah mengatakan hal mengerikan pada Jeanne.
Seluruh perasaan ini bercampur aduk dalam pikiranku, dan keluar secara perlahan dalam bentuk asap rokok.
Tanpa memperdulikan tatapan pedih seorang gadis ksatria berambut pink, aku hanya bisa terus mengatakan pada diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja walaupun mataku terus menatap kosong seribu yard ke depan.
__ADS_1