Eclipse - Special Operation in Another World

Eclipse - Special Operation in Another World
Episode 15


__ADS_3

“Mohon bantuannya, kapten!”



Jeanne tertegun melihatku berdiri hormat padanya. Secara teknis, pangkat gadis ini jauh lebih tinggi dariku. Namun, aku sebenarnya melakukan itu dengan maksud bercanda, sekaligus berterima kasih sudah mau repot-repot menjaga punggungku. Sontak, kami berdua memecah keheningan dengan tawaan.



Setelah kami berhenti tertawa, aku mengajaknya untuk kembali ke ruang pesta. “Yang lain pasti sudah menanyai keberadaan kita.”



Jeanne menjawab dengan mengangguk. Sebelum ia beranjak bangun, aku menunduk dan menyodorkan tanganku sambil tersenyum lembut padanya. Dengan pipi memerah, ia meraih dan menggenggam tanganku. Aku perlahan menariknya untuk berdiri. Kami berdua pergi meninggalkan halaman belakang, berjalan kembali ke arah ruang pesta sambil berpegangan tangan.



Walaupun mengenakan sarung tangan yang cukup tebal, aku bisa merasakan betapa mungilnya tangan Jeanne, tidak jauh berbeda dengan tangan gadis-gadis lain yang seumuran dengannya. Namun, kehangatan yang aku rasakan darinya sangat berbeda dari gadis lainnya. Membuat pikiranku sangat tenang….



Saat kami berjalan melewati sebuah koridor, Jeanne tiba-tiba berhenti.



“Ada apa?” Tanyaku heran.



“Kau menyadari sesuatu, Wand?” Tanya gadis itu dengan serius. Ia menatap sekeliling dengan waspada.



Aku merasa tidak enak. Lorong ini walaupun disinari oleh lampu, terdengar sunyi. Sangat sunyi. Dengan refleks aku menarik pistol dari holster-ku.



“Tidak ada penjaga di lorong ini….” Jawab aku saat mengamati sekitar, mengarahkan pistol ke arah belokan dan pintu-pintu. “Dimana mereka?”



Aku melirik Jeanne yang sedang mengangkat gaunnya, melihat sebuah pedang pendek terikat di pahanya. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Ia kemudian mengikat roknya agar tetap sepaha, kemudian melepaskan sepatu hak yang ia kenakan.



“Wand, ikuti aku!”



“Baik!” Jawabku sambil mengikutinya berlari kecil melewati lorong.



Semakin jauh kami menelusuri koridor, semakin aku merasakan firasat tidak enak. Seperti ada….tidak. Memang ada sesuatu yang ganjil.



Sambil bergerak, aku segera memperingatkan Blade tentang ini. “Blade, di sini Wand. Aku mendeteksi sesuatu yang mencurigakan. Disarankan memperketat penjagaan di sekeliling Pearl.”



Untuk informasi, Pearl adalah kode sandi radio kami untuk Putri Tiara.



“Di sini, Blade. Terima kasih akan peringatannya,” Jawab Sang Kapten SAS dengan suara musik dan orang mengobrol terdengar di balik transmisi. Belum ada tanda-tanda yang tidak beres di sana. “Blade ke Muse, beritahu ksatria di posisimu untuk menyisir lokasi di halaman istana. Peringatkan juga para penjaga istana untuk menaikkan kewaspadaan, titik. Lakukan semuanya dengan tenang agar tidak memicu kepanikan.”



“Di sini Muse, got it, boss!” Jawab Letnan Muda Navy SEAL itu dengan tanggap.



Setelah melewati belokan di koridor, aku tiba-tiba terpeleset dan jatuh dengan punggung duluan. Aku mengumpat dalam Bahasa Jepang. “Kuso!”



Jeanne segera menghampiri dan membantuku berdiri. Sudah kubilang, zirah ksatria ini benar-benar membuatku tidak nyaman! Berat, panas, membuatku tidak bisa konsentrasi dengan sepenuhnya.



“Wand! Kau tidak apa?” Tanya gadis itu cemas sembari memiringkan kepalanya ke samping.



Aku mengangguk sambil tersipu. Walaupun ini saat genting, sangat sulit bagiku untuk berpaling dari wajahnya yang membuat ekspresi yang….uh. “Maaf, aku tidak hati-hati.”



Setelah aku berdiri, aku sedikit merapikan seragamku sambil menggerutu kesal, sampai aku menyadari cairan yang membuatku terpeleset.



Darah.



Aku melihat Jeanne membuka pintu ke sebuah ruangan tempat dari mana darah itu berasal. Setelah ia membukanya, ia seketika terdiam. Matanya penuh dengan kengerian.



“Ada apa?” Tanyaku sambil berjalan mendekat, mengarahkan pistol ke berbagai sudut dan koridor ruangan sebelum membidik isi ruangan itu. Namun, isi ruangan itu membuatku tertegun.



Di dalam ruangan itu —yang merupakan ruang kebersihan—, aku melihat mayat-mayat penjaga istana yang tewas mengenaskan ditumpuk-tumpuk dan dijejal di dalam ruangan sempit itu. Di antara mereka ada yang lehernya disayat, kepala terpenggal, bahkan ada yang bolong setelah ditembak peluru.



“Bangsat,” Umpatku sambil menggertakan gigi. Ternyata benar tempat ini sudah disusupi tamu tak diundang. Aku dengan segera menghubungi Blade di radio.



“GREEN Lead, this is GREEN 2. Hostile is operating in this area! I repeat, hostile is operating in this area! Over!”



Namun, tidak ada jawaban.



“Ayolah, GREEN Lead. Jawab aku!”



Tetap tidak ada yang menjawab. Sial, alat komunikasiku pasti rusak saat terjatuh tadi.



Aku melihat Jeanne memungut sesuatu di lantai. Ia segera menghampiriku dan menyerahkan sebuah benda berukuran kecil. “Wand, bukankah senjata kalian juga menjatuhkan tabung kecil ini?”



Aku mengambil benda berwarna emas kecokelatan itu.



I-itu, selongsong peluru!



Setelah memperhatikan panjang dan diameternya, aku tahu ini peluru pistol. Tapi darimana mereka mendapatkannya? Apalagi kami tidak mendengar suara letusan. Itu berarti….



“Dia pasti menggunakan peredam,” Simpul aku dengan kesal. “Jeanne, cepat segera masuk ke ruang pesta lewat pintu lantai dasar dan jangan lupa untuk memberitahu siapapun yang kau temui. Aku akan lewat lantai dua.”



“Baik! Jaga dirimu, Wand!”



Aku mengangguk dan segera bergegas ke arah tangga yang akan membawaku ke lantai dua.



Setelah mencapai tangga, aku secepat mungkin berlari menaikinya, tak lupa membidikan pistol ke atas. Setiap kali melewati lorong bercabang, aku mengecek pojokkan dan sudut-sudut mati, tempat musuh biasa bersembunyi sebelum menyerbu anggota pasukan khusus yang lalai. Untungnya, semua aman sampai akhirnya aku sampai di pintu ruang pesta di lantai dua.



Tidak ada penjaga. Beberapa selongsong peluru juga berserakan di lantai. Suara musik dan percakapan dari ruang pesta masih terdengar sangat jelas, seperti tidak terjadi apa-apa. Aku masih belum terlambat.


__ADS_1


Menghampiri pintu yang sedikit terbuka, aku memeriksa kemudian mengintip ke dalam, memastikan tidak ada jebakan atau musuh yang menungguku. Aku harus ekstra hati-hati karena lawanku ini pasti orang yang ahli infiltrasi dan persenjataan.



Setelah memastikan semuanya aman, aku membuka pintu itu dan masuk, lalu berhenti setelah melihat seseorang memakai hoodie loreng hijau membidikan sebuah senapan Kalashnikova ke lantai satu ruang pesta, lebih tepatnya ke arah Putri Tiara. Orang misterius itu menyadari keberadaanku lalu dengan cepat memindahkan bidikannya ke arahku.



“Umeret’, kazyol!”



Dengan refleks, aku menghindar dan bersembunyi di balik tembok. Rentetan senapan serbu menggema di seisi ruangan, diikuti oleh teriakan panik para tamu dan bangsawan.



“Semuanya, merunduk!” Teriakanku sialnya tenggelam di balik letusan senjata dan kepanikan di dalam istana.



Tembakan pistol semi-otomatis terdengar membalas Kalashnikova itu. Itu pasti Blade.



“Ksatria Santa Whales! Lindungi Tuan Putri!”



Aku segera menerobos ke dalam ruangan, mengarahkan senjata ke pria itu yang sekarang sudah berganti posisi, berlari dan menyerbu menuruni tangga. Pintu besar di lantai dua yang tepat ada di belakang orang itu didobrak dan beberapa sosok bertudung menyerbu masuk. Di lantai dasar sudah ada puluhan sosok bertudung sama menyerbu dari segala arah dan saling bertarung jarak dekat dengan penjaga istana dan pengawal delegasi masing-masing negara. Para penjaga dan pengawal semakin terdesak karena kalah jumlah dan karena mereka hanya membawa pedang pendek.



Beberapa orang bertudung mendekat dan berusaha menyerang para tamu. Teriakan panik semakin menggema di ruangan. Aku dengan cepat menembaki mereka dari atas. Tembakanku ada yang mengenai beberapa di antara mereka, sisanya meleset, namun, itu membuat yang lain teralih, memberi kesempatan bagi para penjaga untuk menyerang dan melindungi para tamu.



Pria misterius dengan senapan AK itu kembali menembakan senapannya ke arah Tuan Putri. Tembakan dapat dihalau oleh seorang Ksatria Santa Whales menggunakan perisai. Namun, setelah ia berhenti menarik pelatuk, sang ksatria tersungkur merintih keras dengan tangan bersimbah darah dan perisai bolong tertembus peluru.



Aku mengganti magasin pistol lalu meraih sebuah granat di kantong, mencabut pin, lalu melemparkannya ke arah pria misterius itu. Granat itu meledak beberapa saat setelah menyentuh tanah, tetapi gagal mengenainya setelah ia melompati pagar tangga dan berhasil menghindar. Walau begitu, beberapa sosok bertudung yang ikut menuruni tangga terlempar terkena ledakan granat.



Dari lantai 2, aku menghunuskan sangkur ku dan melihat ke bawah, melihat seorang penyusup yang tepat akan berlari lewat di bawahku.



Aku melompat ke lantai dasar, mendarat di atas salah satu sosok bertudung. Saat ia terjatuh, aku langsung menusuk dan menyayat lehernya. Darah menciprat membasahi tangan dan baju zirahku.



Aku segera menarik pistolku dan menembak dua sosok bertudung lainnya yang menerjangku. Setelah mereka dilumpuhkan, aku memindahkan bidikanku pada pria dengan AK itu. Ia menengok dari balik tiang penyangga, menembakan senapannya ke arahku. Aku berguling menghindar ke balik tiang penyangga di dekatku sebelum membalas tembakannya. Baku tembak terjadi di antara kami sebelum sebuah tembakan mengenai pundaknnya, memaksanya untuk berlindung di balik tiang penyangga.



Aku lihat di sisi kiriku, Blade berdiri di balik pintu keluar darurat, mengarahkan pistolnya pada pria itu sementara 2 ksatria lainnya bergerak membopong temannya yang terluka keluar dari ruang pesta.



“Kapten! Orang itu mengincar Putri Tiara! Prioritaskan untuk melindunginya! Biar aku yang mengurus orang itu!” Teriakku dengan lantang sambil mengisi ulang peluru.



“Baik! Usahakan tangkap keparat itu hidup-hidup!” Jawabnya sambil menunggu kedua ksatria itu mengevakuasi rekannya yang terluka keluar ruangan sebelum menutup pintu.



Pintu-pintu di lantai dasar terbuka, memperlihatkan puluhan pasukan pengawal dari berbagai negara dengan pedang dan tombak terhunus. Mata mereka haus akan darah pengacau.



“Serang!”



Teriak salah satu dari mereka sebelum mereka semua menerjang para tamu tak diundang dan membantu mengevakuasi penjaga yang terluka.



“Kak ty smeyesh' dobavit' men'she sakhara iv moy kompot!” Orang misterius itu kembali berteriak sambil menembakkan senjatanya pada 2 orang ksatria yang menerjang ke arahnya sebelum berpindah tempat berlindung di balik tiang penyangga berikutnya.



Setelah mengisi ulang magasin, aku menengok dari persembunyian, berusaha mengincar orang itu. Aku menunggunya sampai keluar. Setelah menunggu beberapa saat, ia akhirnya keluar, mengarahkan senapannya ke arah pasukan penjaga dan sosok bertudung yang sedang bertarung. Sebelum ia menembak, aku mengicar pundaknya dan menarik pelatuk 2 kali. Salah satunya berhasil mengenai lengannya. Membuatku tersenyum dalam hati.




Namun, bukannya kembali bersembunyi, pria itu justru balas menembakiku. Aku kembali berlindung di balik pilar. Peluru berdesing melewati atau mengenai tempat aku berlindung. Sepertinya ia mencoba memancingku untuk keluar.



Aku hanya membawa 2 magasin cadangan, sehingga saat ini hanya 7 peluru yang aku punya. Sementara dia rompi orang itu terlihat ada cukup banyak magasin. Aku pasti akan kehabisan amunisi lebih dulu sebelum dia. Aku ingin sekali segera menghabisinya dan mengakhiri semua kekacauan ini, tapi orang itu membawa sangat banyak informasi. Ia menggunakan senjata AK yang terlihat baru saja keluar dari pabrik. Belum lagi seragam dan peralatan yang dipakainya terlihat seperti yang digunakan pasukan khusus negara eropa timur. Dia juga berjalan, memegang, dan menembak senjata layaknya orang terlatih. Belum lagi aku yakin ia bicara Bahasa-



Aku dengan cepat menghindar dari serangan panah dari samping. Beberapa sosok bertudung menembakiku dengan crossbow dari jauh. Aku membalas tembakan mereka, menjatuhkan 2 dengan satu tembakan sebelum sisanya ditebas dan ditikam oleh seorang ksatria Dark Elf Beklagia. Orang yang sama dengan ksatria yang aku ajak bicara kemarin di ruang konferensi.



Sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan identitas orang itu! Aku harus memikirkan suatu cara untuk menghentikannya.



Setelah berpikir sebentar, sebuah ide muncul di kepalaku.



“Oi! Lindungi aku! Aku akan menghentikan penembak itu!” Teriakku pada semua orang di sekitar, terutama pria Dark Elf itu —walaupun aku ragu ia akan mendengarnya.



“Terserah apa katamu!” Balas si Dark Elf dari jauh sambil menebas salah satu musuh. Telinga Elf memang tajam ya?



Aku lalu melepaskan sarung tanganku, menggenggam pistolku lebih erat dan memejamkan mata, menghitung sampai 10 detik.



Yang dipikiranku hanyalah bagaimana aku menjatuhkan orang itu.



Aku membuka telingaku lebar-lebar jika seandainya ada di antara musuh yang menyerangku.



1….2….



Aku menghela nafas sejenak, mengatur kembali sirkulasi udara dalam tubuhku. Aku tahu dia masih bersembunyi di balik tiang itu, terdengar dari suara tembakan yang masih cukup jauh.



3....4….



Rentetan tembakan yang diikuti dengan suara pedang beradu dan jeritan kesakitan menggema di seluruh ruangan, membuat konsentrasiku sedikit buyar. Aku kembali menelan ludah untuk sekian kalinya.



5....6….



“Yob tvoyu’ mat!” Umpatan dan suara langkah sepatu boots yang saling bersahutan dengan tembakan semakin mendekat. Peluru melesat mengenai dan melewati tiang penyangga tempat aku bersembunyi. Orang itu menyerbu ke arahku.



7...8…



Aku sudah semakin tidak tahan. Aku merogoh kantong dan mengeluarkan sebuah korek api dan sebuah bom perak bersumbu tali.



9….

__ADS_1



Aku menyalakan korek lalu membakar sumbu bom itu.



10!



Secepat mungkin, aku melempar bom itu ke atas, ke arah langit-langit ruangan. Ledakan yang dihasilkan bom Ljòsbrotsjòr itu menghancurkan dan mematikan lampu yang terbuat dari batu Mana, membuat seisi ruangan gelap gulita, tapi tidak bagiku.



Aku berlari dari persembunyian, menembak pahanya lalu menerjang pria bersenjata AK itu yang tertegun saat lampu tiba-tiba mati. Ia menyadari aku berlari ke arahnya dan menembaki diriku, namun, semuanya meleset kecuali satu yg menggores pelindung pundakku.



Sama seperti saat aku berhadapan dengan bandit saat pertama kali mendarat di Uressea. Adaptasi dalam kegelapan. Mata manusia bisa melihat dalam gelap jika berada di kegelapan setelah lebih dari 15 detik. Namun, dengan menutup mata selama 10 detik di ruangan terang, kita bisa melihat dengan jelas jika ruangan tiba-tiba gelap.



Aku men-tackle orang itu sampai ke dinding lalu menghantam perut bagian bawah dengan lutut dan menyikut rahang bawahnya. Ia membalas dengan mengadu kepalaku dengan kepalanya sendiri yang dilindungi helm, membuatku sedikit sempoyong. Aku berusaha menahan rasa sakit, bergelut berusaha merebut senapan AK-12-nya. Orang itu tanpa sengaja menarik pelatuk, menembak ke samping dengan membabi buta sampai magasin habis –yang mungkin mengenai beberapa pengawal dan penyusup yang tak beruntung. Ledakan senapannya sangat keras sampai memekakkan telinga.



“Vernite moi kvass, blyat!” Umpat orang itu sambil terus menarik dan mendorong senapannya sampai terlepas dari genggamanku lalu menendang perutku sampai aku terpental sejauh 3 meter. Aku juga menyadari kakinya tergores tembakanku, tetapi ia bisa berdiri tegak. Bagaimana bisa dia sekuat ini?!



Orang itu membidikku dan menarik pelatuk, tapi isi magasin itu sudah kosong. Ia lalu menerjang ke arahku, mengayunkan popor AK-12-nya seperti tongkat baseball sambil berteriak. “Urrraaaa!”



Aku segera berguling ke samping, menghindari hantaman popor ke bawah lalu menendang belakang betisnya sampai ia jatuh bersimpuh. Aku melanjutkan serangan dengan memegang kepalanya lalu menghantam wajahnya dengan lutut sambil berteriak, “Ora!” Ia jatuh terlentang sementara aku bergerak mundur.



Aku mengira dia sudah KO dan mencoba untuk mengambil jarak dan mengeluarkan pistol, namun, orang itu melepaskan dan melemparkan helm kevlarnya, membuatku segera bereaksi melindungi kepalaku, menangkis helm itu. Ia memanfaatkan waktu sepersekian detik aku lengah untuk bangkit dan menghajarku kembali dengan popor senapan. Dua serangan pertama mengenai dada dan wajahku, tapi itu belum cukup untuk membuatku tumbang.



Aku terpaksa bertahan, melindungi tubuhku dari setiap ayunan popor dengan kedua tanganku, sampai akhirnya popor itu patah saat menghantam pelindung lengan besi.  Tanpa memikirkan tanganku yang rasanya penuh memar, aku mengayunkan tanganku, menghajar kedua sisi wajahnya berkali-kali. Saat aku melayangkan pukulan terakhir, ia menangkis tanganku lalu mundur beberapa langkah seraya mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya pada wajahku.  



Aku segera meraih pistol itu, menggenggam erat slide-nya dan memiringkan kepalaku, menghindari tembakan spontan darinya. Setelah itu, aku berusaha sekuat tenaga merebut pistol itu, namun, tenaganya sangat kuat. Setelah bergelut cukup lama, saling menyikut dan menanduk satu sama lain agar melepaskan genggaman, aku matahkan ibu jari tangan yang memegang pistol. Ia lalu menendangku menjauh, tapi aku sudah berhasil merebut pistolnya.



Selesai sudah. Aku membidik pistol itu ke arahnya. Pistol GSh-18 kaliber 9mm buatan Rusia.



Aku menarik kokangan pistol untuk memastikan kamar terisi, tetapi tidak ada peluru yang masuk. Aku melihat orang itu memegang magasinnya sambil terkekeh, kemudian melemparkannya ke samping.



Dengan teriakan penuh amarah, ia menerjang ke arahku. Lemparan pistol dariku sama sekali tidak menyentaknya. Orang itu lalu menyereduk aku dari depan dan terus mendorongku. Aku berusaha melepaskannya dengan memukul punggungnya. Sayangnya, ia tak kunjung melepaskanku dan terus mendorong lalu menghempaskan aku sampai menabrak meja jamu di belakang, membuat meja itu beserta seluruh makanan dan gelas di atasnya terjatuh.



“Idite syuda, suka!” Belum sempat aku tersadar sepenuhnya, ia menarik kedua pundakku, memaksaku untuk bangkit kembali.



Ia menghajarku bertubi-tubi seperti banteng mengamuk. Aku bisa memblokir semua serangannya, kecuali pukulan terakhir yang mengenai mata kiriku. Ia lanjut tanpa ampun meninjuku, membuatku sempoyongan dan mundur beberapa langkah.



Tiba-tiba, orang berbalaclava itu berlari ke arahku dan melakukan tendangan melayang, mengenai dadaku dan membuatku terpental ke belakang, menghantam pintu dapur sampai roboh.



Punggungku rasanya seperti retak, tapi aku tak begitu memperdulikannya.



“A nu cheeki breeki iv damke!” Mendengar sahutan pria misterius itu lagi, aku segera bangkit dan berlari masuk ke dalam dapur, menarik pistolku, mengatur nafas dan detak jantungku, lalu membidiknya ke arah pintu yang sudah roboh itu.



Dua orang pembunuh bertudung yang menyerbu masuk ke dapur langsung aku tembaki tanpa ampun sampai mereka roboh. Musuh ketiga yang membawa 2 pedang masuk ke dapur, namun, aku sudah kehabisan peluru. Aku menyarungkan pistolku, lalu melakukan hal yang orang normal pasti lakukan bila berhadapan dengan pedang….



Lari.



“Hei, berhenti!” Teriaknya sambil mengejarku dari belakang. Aku berhenti di depan meja pemotongan, menaruh sangkurku, dan mengambil pisau sebanyak-banyaknya lalu melemparnya ke arah orang itu. Ia berhasil menepis separuh pisau dengan kedua pedangnya, namun separuh lagi menggores tubuhnya. Aku lalu bergegas mengambil sekarung tepung yang sudah terbuka tidak jauh dari sana dan menyiram musuhku dengan seluruh isi karung tersebut.



“Ahhh! Mataku!”



Sementara orang itu teralihkan untuk menghilangkan tepung dari matanya, aku segera meraih sangkurku lalu menyelinap dan menusuk lehernya dari belakang.



Aku mencabut sangkur dari lehernya, membiarkan penyerang berpedang ganda itu tersungkur, lalu berhadapan dengan musuh lain yang masuk ke area dapur, yang tak lain adalah pria misterius berseragam tentara modern itu. Di tangannya juga terhunus sebuah pisau balistik.



Melihat itu, aku memasang kuda-kuda, menegakan kepala, dan menggenggam sangkurku lebih erat, memerhatikan gerakan berikutnya. Ia membalas tatapanku dan memasang kuda-kudanya, berdiri dengan sedikit menunduk dan lutut yang sedikit menekuk. Sebuah kuda-kuda yang tidak asing di mataku.



Aku perlahan berjalan beberapa langkah mendekat. Pria itu juga melakukan hal yang sama, sampai ia kehabisan kesabaran dan berlari ke arahku. Ia berdiri tepat beberapa meter di depanku menusukkan pisaunya dari samping. Aku menangkap tangannya namun belum sempat aku menusuk tangannya, ia sudah menendang bawah perutku sampai aku mundur berlutut.



Bangkit kembali, aku menghindari tebasan pisau yang menyasar leherku lalu berguling melompati meja saji yang berada di sisi kananku. Aku segera menaruh sangkurku, megambil sebuah bangku dan menunggu pria itu melompat ke atas meja saji.



Namun, ia tidak kunjung melompat melainkan melempar pisau balistiknya ke wajahku. Pisau itu menggores pipiku. Rasa perih memenuhi mengiris wajahku. Aku melempar kursi yang aku angkat ke arah pria itu. Ia menangkis kursi itu ke samping sementara aku bergegas meraih sangkur. Pria itu bergegas melewati bawah kolong meja dan langsung menyambar tangan kananku yang memegang pisau.



Orang ini, hanya dengan kekuatan fisiknya dapat memelintir tanganku dan membuatku menjatuhkan pisau. Ia lalu meninjuku berkali-kali, beberapa di antaranya masuk mengenai rahang dan hidungku. Suara tulang retak yang tidak mengenakan terdengar saat tangannya menghantam.



Aku membalas dengan tendangan ke dapan yang mengenai dadanya kemudian melanjutkan dengan tendangan samping. Ia menangkis tendangan sampingku, menangkap kakiku dan mengangkatnya lebih tinggi, membuatku kehilangan keseimbangan lalu mendorongku ke lantai.



Ia kemudian berusaha menaikiku, tapi aku bereaksi dengan menendangnya beberapa kali sebelum kembali berdiri tegak. Aku segera berlari ke arahnya dan sebelum ia bangun, aku melempar sebuah uppercut ke perutnya. Jariku sedikit sakit karena mengenai rompi anti-pelurunya.



Saat aku akan meninju pelipisnya, ia menangkis dan segera membalas, melempar pukulan ke perut dan menghantam wajahku dengan lutut. Aku bisa merasakan darah menetes dari hidung dan mulutku. Ia lalu memutar dan melempar tubuhku ke samping. Aku jatuh dengan menabrak meja saji, membuat meja itu terjatuh dan makanan di atasnya berjatuhan. Aku segera bangkit dan menangkis tendangan ke samping darinya. Ia lalu melempar tendangan berputar, tetapi aku dapat menangkap kakinya sebelum menghantam wajahku lalu mengayunkannya ke samping. Orang itu ikut terayun dan menghantam sebuah rak tinggi berisi piring dan bahan masakan yang rubuh saat dihantam tubuhnya.



Aku segera mencekiknya dari belakang, menyumbat pembuluh arterinya di lehernya. Ia berusaha memberontak, memukul-mukul kepala dan menjambak rambutku. Sekuat tenaga aku mencoba menahan rasa sakit, menguatkan cekikan. Dalam waktu 10 detik, ia kehilangan kesadaran.



Setelah memastikan dia KO, aku melepaskan cekikan lalu perlahan menaruhnya di lantai. Aku mendesah keras, mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Rasa sakit di sekujur tubuhku mulai terasa perih dan berdenyut. Aku sudah pernah bergulat dengan berbagai teroris dan pasukan khusus negara lain, tapi ini pertama kalinya aku sampai berantakan begini. Seandainya aku tidak memakai zirah ini, mungkin aku sudah terluka parah….



“Wand! Kau tidak apa?! Di sini berantakan sekali!” Aku menatap ke pintu menuju koridor yang terbuka, melihat Jeanne berdiri dengan gaun putihnya yang sedikit kotor dan robek. Pedang Silver Light terhunus di tangannya. Ia tertegun setelah melihatku bersimbah darah, penuh luka lebam dan goresan. “Ya Tuhan, wajahmu!”



“Tidak apa, hanya memar. Dikompres saja akan sembuh kok,” Jawabku sambil tersenyum, berlagak kuat sekalipun rasanya tulang-tulangku seperti ditusuk berkali-kali.



Aku memutar tubuh orang itu untuk memeriksanya lebih detail. Aku melihat sebuah boneka teddy bear kecil terikat di rompinya dan satu patch tertempel di lengan kirinya. Patch bendera dengan 3 garis vertikal putih hijau hitam dengan tulisan aksara Kiril ‘Росси́я’ tercetak di atasnya.



Aku lalu membuka balaclava yang menutupi wajahnya. Aku tersentak setelah melihat dengan jelas wajahnya. Rambut perak sedikit panjang yang menutupi telinga dan leher belakang lalu kulit pucat yang seputih salju dan dipenuhi lebam. Tidak salah lagi….



Melihatku terkaget, Jeanne berjalan menghampiriku sambil menatap orang itu.“Kau mengenalnya?”

__ADS_1



Aku mengangguk, memutuskan untuk memberitahunya. “Dia kru pesawat itu….”


__ADS_2