Ella Noer Amyzee: Aku Bukan Objek

Ella Noer Amyzee: Aku Bukan Objek
Reo Membawa Ella ke Sasip Teahouse


__ADS_3

Saat masa Ella di SMP dulu, kehidupan sekolahnya seperti musibah bencana yang sebanding dengan runtuhnya langit yang menenggelamkan kota. Bahkan sekarang memikirkan tentang itu kembali, itu hanya mengingatkan Ella pada kenangan buruk selama masa SMP.


Ella akhirnya keluar sekolah dan pindah kota. Ella berusaha melupakan masa lalunya yang menyakitkan dulu.  


Memang benar mereka yang membully-nya waktu itu hanyalah anak-anak nakal yang masih ada polosnya karena belum sepenuhnya dewasa. Anak-anak seumuran itu sering membuat kesalahan dan belum menemukan arah hidupnya. 


Saat Ella pindah kota ke Kota Tang dari Kota Angspoer, hidupnya sedikit demi sedikit membaik meski ia selalu dipusingkan dengan hutang-hutangnya yang menumpuk. Setidaknya tidak ada lagi bully-an dari orang-orang. Ella kembali mendapat bully-an baru-baru ini di lingkungan tempat kerjanya yang baru.


Ella bukankah orang yang pendendam. Memikirkan bahwa dia dibully oleh anak-anak yang belum dewasa, dan hidupnya juga membaik setelah ia pindah kota, kenapa Ella harus menyimpan dendam pada masa lalu?


Ella tidak memiliki kebencian pada Reo, hanya saja ketakutan dan rasa rendah dirinya saat menghadapi Reo yang terlihat belum berubah sama sekali dibanding Reo yang dulu kala, membuatnya ingin menjauh dari Reo sejauh mungkin!


Ya, nada bicara dan tingkah laku Reo sangat mirip dengan Reo saat SMP yang membully-nya, Ella ketakutan akan kembali dibully oleh Reo.


Beberapa rekan kerja yang juga keluar dari restoran untuk pulang melihat Ella dan tuan Reo.


Amy Doank bertanya, "Siapa pemuda kaya itu?"


Rekannya yang lain menjawab. "Dia Tuan Reo Kawenz."


Amy Doank, "Oh, apa mereka ada sesuatu?"


Aranjo Wolf, koki yang menemaninya menyahut. "Mungkin saja! Tidak heran ia terpilih menjadi koki yang diundang, tampaknya ada transaksi tubuh dibelakang layar!" 


Ada keheningan di antara Ella dan Reo yang membuat keduanya merasa tidak nyaman. Reo akhirnya berusaha mencairkan suasana. "Masuklah ke dalam mobilku."

__ADS_1


Ella menatap Reo dengan tatapan curiga. "Kenapa aku harus masuk ke mobilmu?"


"Untuk membicarakan soal pekerjaan tentunya." Reo menjawab.


Ella ingin mengatakan pada Reo bahwa Ella tidak memiliki urusan untuk didiskusikan pada jam malam ini yang sudah larut dan ingin meminta Reo untuk kembali di hari yang lain. Tapi memikirkan bahwa itu tidak akan bagus untuk menyinggung Reo dengan menunda meeting mereka, dan karena sudah terlanjur bertemu, Ella tidak seharusnya menolak tawaran Reo.


Jadi Ella mengangguk dan akhirnya bersedia masuk ke dalam mobil.


Saat Reo juga masuk ke dalam mobil dan menutup pintu, dia mencium bau makanan yang kuat. Ini adalah aroma makanan dari dapur. Aroma makanan dari tubuh dan pakaian Ella yang sangat kuat sehingga ruangan di dalam mobil menjadi bau makanan.


Saat berdiri di ruangan terbuka, Ella sama sekali tidak mencium bau makanan pada tubuhnya dan pakaiannya. Hanya saja, saat ia masuk ke dalam mobil dan pintu mobil ditutup, ruangan di dalam mobil menjadi aroma makanan. Ella merasa malu karena ia tahu dari mana aroma makanan itu berasal.


Reo memalingkan hidungnya sedikit ke arah jendela, Ia juga membuka jendela mobil agar udara dari luar masuk ke dalam. Karena apa yang dilakukan Reo, Ella menjadi semakin merasa malu. Pipi Ella bahkan merona karena saking malunya!


Sejak Ela pindah kota dan memulai pekerjaan baru di kota Tang dan telah memiliki pemasukan yang stabil, Ella selalu mencuci badannya sendiri cukup sering. Ini hanya kebetulan dia baru saja selesai bekerja dan tidak memiliki waktu untuk untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. 


Dia tidak berharap bahwa saat ini ia sedang duduk di samping seseorang pada saat ini dengan aroma pakaian dan tubuh yang mengeluarkan aroma makanan dapur yang begitu kuat. Terutama aroma jengkol dan ikan teri yang terasa sangat kuat.


Ella melirik Reo secara samar-samar dan memperhatikan Reo. Tampaknya tidak ada yang berubah, Reo masih bersikap layaknya seorang bangsawan yang selalu bersih dan sombong, sedangkan Ella yang yang duduk di sebelahnya masih Ella yang bau. Ella benar-benar membenci dirinya sendiri pada saat ini.


Ella telah tumbuh besar, kenapa Reo masih membuatnya merasa sangat malu? di hadapan Reo yang bersinar seperti matahari, Ella masih merasakan rasa rendah diri.


Mobil sport yang dikendarai Reo mulai melaju secara perlahan dan kecepatannya meningkat dengan sangat cepat. Aroma hembusan angin dari luar yang masuk melalui jendela mobil telah meniup mata Ella sehingga ia menutup matanya.


Secara perlahan, tiba-tiba Ella merasa mual. Ella meremas erat sabuk pengaman di mobil mencoba menahan diri agar tidak muntah. Mungkin karena Ella tidak terbiasa naik kendaraan mewah sehingga ia ingin muntah.

__ADS_1


Di tengah jalan, Reo tiba-tiba melambatkan mobilnya, Ia lalu berbicara pada Ella. "Ella, apa kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?"


Ella segera menggelengkan kepalanya, wajahnya benar-benar pucat saat ini. "Aku sudah makan, tidak perlu makan lagi."


"Karena kamu sudah makan, maka aku akan membawamu ke tempat untuk membeli camilan malam. Aku sudah lama tidak pergi ke Kota Tang. Sebelumnya saya sudah pernah ke mari, hanya saja tidak sering."


Ella hanya mendengarkan, Reo kembali berbicara. "Kali ini aku memiliki urusan bisnis yang harus diselesaikan di Kota Tang, jadi aku akan tinggal di Kota Tang untuk waktu yang cukup lama untuk saat ini. Aku tidak berharap aku akan bertemu dengan kenalan (Ella) di Kota Tang ini."


"Di mana kita akan membicarakan urusan pesta?" tanya Ella.


Reo tertawa, "Lihatlah kedai teh itu. Sasip Teahouse adalah kedai teh yang menyajikan teh import yang berkualitas baik. Camilannya juga tidak buruk, tapi aku tidak tahu kamu sebagai seorang koki apa bisa mengatakan enak pada camilan yang ada di teahouse ini? Tapi ayo kita masuk ke dalam dulu dan mencobanya!"


Ella tidak mengatakan apa-apa karena Ella tahu meskipun ia menolak, Reo akan tetap membawanya masuk ke dalam tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu sama sekali. Sama seperti sebelumnya, tidak ada seorangpun yang bisa berbicara kepada Reo dengan kata penolakan dan semuanya harus berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan Reo. Begitulah Reo yang dikenal Ella.


Reo membawa masuk Ella ke dalam Sasip Teahouse. Pelayan menghampiri mereka. Pelayan terlihat seperti dia sudah mengenal Reo, dan pelayan itu langsung membawa Reo dan Ella ke dalam sebuah ruang pribadi.


Reo memesan  teh lasi dari susu kambing (Nepal) dan teh poci (Indonesia) beserta beberapa camilan ringan.


Ella tidak terbiasa dan tidak tahu harus memesan apa selain teh manis. Jadi saat Reo memesankan teh dan camilan untuknya, Ella tidak keberatan dan tidak mengatakan apa-apa.


Teh lasi dari susu kambing. Lasi merupakan jenis teh di daerah Asia Selatan. Teh lasi mengandung susu fermentasi. Karena sapi dianggap sebagai hewan suci di negara dengan mayoritas penganut agama Hindu, maka digunakanlah susu kambing sebagai gantinya. Tradisi minum teh lasi telah berlangsung turun menurun secara umum di negara tersebut. Teh lasi dibuat dengan menempatkan susu fermentasi ke dalam guci besar selama beberapa hari dengan teknik tradisional tersendiri. Hasilnya, teh terasa agak asam tetapi baik bagi kesehatan. Sayangnya, minuman unik ini hanya tersedia di daerah terpencil dan terisolasi seperti Nepal yang kondisi geografis Nepal berupa daerah pegunungan yang memungkinkan penduduknya memelihara kambing sebagai sumber bahan baku teh lasi. Ini keberuntungan bahwa Sasip Teahouse memiliki teh lasi ini.


Adapun teh poci itu berasal dari Indonesia. Tradisi minum teh berkembang di tanah Jawa. Teh poci menjadi minuman khas masyarakat Tegal Slawi, Pemalang, Brebes dan sekitarnya. Disebut teh poci karena teh diseduh dalam poci yang terbuat dari tanah liat lalu ditambah gula batu untuk diminum selagi panas. Teh poci sangat khas dan begitu populer, teh ini juga lekat dengan istilah FASTIGEL yaitu singkatan dari wangi, panas, sepet, legi, lan kentel. Artinya, teh panas, manis, wangi beraroma bunga melati, dan pekat.


Tradisi teh poci ini berkembang seiring pertumbuhan pabrik-pabrik teh di Tegal pada tahun 1930-an. Teh poci menggunakan teh hijau melati yang beraroma khas yang membuat rasa dan aromanya begitu khas. Yang membuat rasa dan aromanya begitu khas adalah  poci tanah liat yang berpori-pori bereaksi dengan teh ketika diseduh air panas. Bagian dalam poci, biasanya tidak pernah dicuci. Cukup dibuang saja sisa tehnya. Menurut masyarakat Tegal, kerak sisa teh justru akan menambah cita rasa dan aroma teh poci. Teh poci sangat nikmat disajikan di pagi hari atau sore hari dengan ditemani kudapan ringan.

__ADS_1


__ADS_2