Enigma

Enigma
Prolog


__ADS_3

Nama ku Vina, aku terlahir dari keluarga yang bisa di katakan berantakan. Orang orang di kampung ku sering menyebut aku dengan sebutan " Anak Umang Pejadi Genap" yang berarti " Seorang anak yang memiliki orang tua ganda".


Ya mereka menyebutku seperti itu karena aki memiliki dua orang ayah dan dua orang Ibu. Mama ku bernama Nani ia merupakan istri kedua papa ku, namub saat umur ku menginjak tujuh tahun, papa ku ketahuan menikah lagi hingga mama ku meminta cerai.


Papa ku terus menolak, namun keputusan mama ku sudah bulat, akhirnya mereka bercerai dan papa ku kembali kepada istri pertamanya yang bernama Gadis.


Aku memiliki adik bernama Okta, dia satu satunya saudara kandung ku. Saat aku berumur sembilan tahun mama ku menikah kembali dengan pria asal medan yang benama Martin.


Awalnya semua berjalan baik, Papa Marti juga baik terhadap ku dan adik ku. Walaupun begitu kami masih tinggal bersama nenek ku yang bernama Khadijah.


Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami konflik yang terjadi pada keluarga ku. Mama ku sering kali melarang kami untuk pergi bertemu papa ku dengan alasan keluarga mereka tidak baik.


Tapi menurut pandangan ku saat itu kelurga Ibu Gadis semuanya baik terhadap kami kecuali anak ke tiganya yang bernama Yoris, dia sering mengatai ku dengan sebutan "Serawai" Ya aku tahu dia tengah mengejek ku dengan menyebut kan nama suku asal mama ku.


Namun saat itu aku masih terlalu kecil, aku hanya menganggap itu sebuah candaan semata.


Hingga pada suatu hari setelah aku pulang dari rumah papa ku tiba tiba sebuah konflik terjadi.


"Ayuk nanti kalau mau main ke tempat papa lagi, telpon aja ya " Ujar papa ku ketika aku berpamitan untuk pulang.


Sedikit informasi "Ayuk" merupakan panggilan untuk kakak perempuan di daerah sumatera selatan.

__ADS_1


"Iya pa" lalu aku langsung masuk kedalam nqrumah.


Aku merasa takut ketika memasuki rumah, karena saat ingin berkunjung ke rumah papa ku, aku hanya di beri waktu satu malam untuk menginap tapi aku melanggar aku pergi hampir satu bulan.


"Assalamualaikum " aku mengucap salam saat memasuki rumah.


Sontak mama ku dan nenek ku yang berada di dapur langsung berlari ke depan saat mendengar salam ku.


"Ya Allah nak, kenapa baru pulang ? Mama khawatir " Mama ku langsung memeluk ku sambil menangis, tampak dari raut wajahnya ia sangat khawatir.


" Ya Allah cung jangan lagi seperti ini, kita semua khawatir, habis ini jangan lagi ke sana cung " ujar nenek ku ikut memeluk ku.


Entahlah saat itu yang ada di dalam pikiran ku , mereka hanya takut aku terluka.


Mereka tampak membicarakan hal serius, namun lagi lagi saat itu aku masih terlalu kecil dan sibuk bermain dengan sepupu ku.


Saat asik bermain aku melihat papa ku datang menjemputku.


"Yuk...ayuk ada papa " ujar adik ku Okta.


Aku menoleh dan melihat adik ku sudah berlari menghampiri papa ku, namun belum sempat adik ku tiba Papa tiri ku Martin langsung menhajar papa ku, namun papa ku hanya diam tanpa melawan.

__ADS_1


Keluarga yang berada di dalam rumah langsung keluar dan melerai mereka.


"Mau apa kau ke sini lagi ? Berhenti mendekati mereka, aku mampu membiayai mereka !" Ujar papa Martin dengan logat khas bataknya.


"Mereka anak kandung ku, aku berhak mengunjungi mereka, kamu hanya orang lain " timpal papa ku.


"Berhenti Hiksss...jangan bertengkar hiksss" teriak ku histeris di dalam pelukkan mama ku, adiku sudah di gendong oleh adik mama ku yang bernama Dewi.


"Sudah man, kamu pulang saja" Titah kakak ipar mama ku yang bernama Amir.


Karena tidak ingin menambah masalah akhirnya papa ku pergi. Aku menangis melihat papa ku pergi, aku merasa kasihan dengannya menurut ku papa ku cukup memperlakukan kami sebagai anaknya dengan baik.


Di dalam rumah aku menatap benci kepada papa tiri ku, aku marah kepadanya karena ia telah memukul papa ku. Sejak saat itu aku membencinya.


Keluarga ku kembali berdiskusi, kali ini aku di panggil oleh ayah Amir.


"Nak kalau Vina ikut ayah sama ibu mau gak ? Sekolah bareng ayuk Qina dan adik alvin" tawar Ayah Amir.


Aku senang bermain dengan Ayuk Qina, aku juga sering menginap di rumah mereka ketika libur sekolah, keluarga mereka cukup harmonis dan mereka juga kaya apa pun ada di rumah mereka.


Karena saat itu aku hanya mengetahui yang enak nya saja akhirnya aku menyetujui, dan hari itu mama ku langsung mengemasi pakaian ku, agar bisa ikut Ayah Amir.

__ADS_1


Rumah ayah Amir berada di kabupaten, jadi akan sulit bagi ku untuk bertemu mama ku. Tapi aku tahu ini pasti permintaan mama dan nenek ku karena mereka takut aku akan di bawa oleh papa jadi lebih baik aku tinggal bersama mereka.


__ADS_2