
"Gila gila, kalau gini caranya gue beneran mikir kalau Lo yang punya ini kafe Re " Yuni masih tidak percaya ternyata Lauren izin ke toilet sebenarnya memesankan es krim lain untuknya.
Mereka banyak mengobrol, sebenarnya tujuan Lauren mengajak Yuni kesini ingin memintai bantuannya karena Yuni tinggal di depan rumah Sonia sudah cukup lama mungkin ada sesuatu yang mencurigakan yang Mbak Inah, Pak ujang dan keluarganya tidak tahu.
"Yun..." panggil Lauren saat Yuni masih asik memakan es krimnya.
"Hmm"
"Gue mau nanya sesuatu"
"Tanya aja kali Re, kayak apa aja" Jawab Yuni sambil terus melahap habis es krimnya.
"Lo ingat kejadian 8 tahun lalu kan ? " Yuni mengangguk ia mengerti maksud pertanyaan Lauren.
"Lo dan Ibu Lo kan sampai rumah lebih dulu dari pada gue hari itu, kalian ada ngeliat sesuatu yang aneh gak saat itu di sekitar rumah nenek gue,atau di hari hari sebelum ke jadia atau setelah kejadian gitu Yun " Yuni langsung terdiam,raut wajahnya berubah pias, ia menggigit bibir bawahnya, seakan ia takut akan sesuatu.
"Yun jujur tujuan gue balik kesini buat cari tahu siapa pelakunya, dan Lo salah satu orang yang gue percaya "
"Sorry Re, gue gak tahu apa apa, oh udah sore gue cabut duluan ya, btw makasih traktirannya " Yuni beranjak dari sana.
Lauren tahu Yuni pasti mengetahui sesuatu, tapi ia tidak ingin memaksa Yuni.
"Oh ya sebaiknya Lo gak perlu mencaritahu tentang 8 tahun lalu, menurut gue itu akan lebih menyakiti Lo " nasehat Yuni sebelum ia benar benar pergi.
"Yun gak mau bareng gue ? Kitakan searah " tawar Lauren.
"Eee...itu gue mau ke suatu tempat dulu" ucap Yuni tetap berusaha tersenyum.
"Oh ya udah hati hati ya Yun, besok kuliah bareng gue ya " Yuni hanya mengangguk lalu ia menyetop taksi yang melintas.
...***...
Keesokan harinya, seperti janji Lauren ia sudah menunggu Yuni di depan rumahnya.
"Yuni....jadi berangkat bareng gue gak !" teriak Lauren seperti anak kecil.
"Yuni...." Lauren terus berteriak tidak perduli dengan tatapan tajam para ibu ibu komplek yang tengah membeli sayuran.
"Berisik Re " ucap Yuni ketika keluar rumah.
"Habisnya Lo lama sih Yun " Lauren terkekeh.
"Udah ayo, ngampus kita" merekapun masuk kedalam mobil Sonia.
Mulai hari ini Lauren hanya akan menggunakan mobil Sonia, anggap saja ia meminjamnya, dan mobilnya agar lebih aman ia sembunyikan di garasi.
Di perjalanan menuju kampus tak banyak hal yang mereka bicarakan. Setibanya di kampus juga sama, mereka hanya sesekali mengobrol.
Setelah usai 1 mata kuliah, mereka berdua menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.
__ADS_1
"Re Lo mau pesen apa ?" Tanya Yuni.
"Samain aja Yun " Yuni pun pergi memesan makanan untuk mereka, sedangkan Lauren memilih untuk memainkan ponselnya.
Saat sedang asik menscroll layar ponselnya tiba tiba ia merasakan sesuatu yang dingin mengalir di kepalanya.
Byuuurrr...
"What The..." Lauren mendongakkan kepalanya mencari sang pelaku.
Namun di depannya berdiri tiga orang wanita yang sambil tertawa melihat rambut Lauren yang basah dan lengket karena jus alpukat.
"Hahahh, mangkanya jadi cewek jangan ke gatelan " ujar wanita berambut panjang.
Lauren langsung berdiri bersedekap dada, mereka pikir Lauren takut setelah tindakan mereka beberapa menit yang lalu.
"Hehh, maksud Lo ke gatelan apa ? Emang gue kenal sama Lo !" sentak Lauren pada wanita tersebut.
"Wah berani dia Far " ujar teman wanita tersebut yang berambut pendek.
Lauren memperhatikan ketiga wanita tersebut dan melihat name tag nya, yang berambut panjang adalah Farah, yanh rambut pendek bernama Laras,dan yg hanya diam saja bernama Fanya.
Tunggu Lauren mengenal, wanita yang bernama Fanya. Walaupun sudah delapan tahun tidak bertemu tapi Lauren masih sangat mengingat wajahnya.
Fanya adalah sepupunya, kakak dari Alvin dan anak dari tante Nita.
"Ternyata selain kegatelan Lo juga sok berani ya " Farah menjambak rambut Lauren.
"Jadi ini sepupu Lo yang miskin, yang berani beraninya deketin Kalvin ?" Tanya Farah kepada Fanya.
"Iya, gue jijik lihat mukanya yang sok kecantikan, terserah mau Lo apain yang penting dia jauh jauh dari Kalvin " Ujar Fanya sambil bersedekap dada, tanpa perduli dengan Lauren yang meringis kesakitan karena di jambak.
Lauren mengepalkan tangannya, ingin sekali dia melawan ketiga wanita di hadapannya ini, namun ia harus bersabar karena selain miskin keluarga besarnya tahu kalau Lauren itu lemah.
"Woii apa apaan ini ?!" sentak Yuni yang baru saja tiba setelah memesan makanan.
" Diem Lo bocah gak usah ikut campur" tukas Laras.
"Lo gila ya kak, Lo itu sepupu Lauren satu nenek dan Lo tega ngelakuin ini sama dia ?" ucap Yuni pada Fanya.
"Lo gak tahu apa apa, gak usah ikut campur, dia itu miskin, dan sekarang jadi benalu di keluarga gue dengan tinggal di rumah nenek gue !" ucap Fanya sengit.
"Lo sama ibu Lo sama aja ya, sama sama gila harta, lagi pula rumah itu emang di wariskan buat Lauren dan mamanya, So gak salah kan " bantah Yuni lagi.
Sedikit banyak Yuni tahu tentang keluarga Lauren, karena ia besar bersama dengan Lauren dan ia juga tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu, namun ia berpura pura tidak tahu, dan dia tidak ingin memberitahu Lauren karena takut akan berbahaya untuk Lauren.
Plakkk...
Fanya menampar Yuni cukup keras hingga terdengar ke seluruh kantin, sekarang mereka sudah menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Lauren mencengkram tangan Farah yang masih menjambaknya hingga ia melepaskan jambakkannya. Lalu ia mendorong tubuh Fanya.
"Entah apa yang buat Lo benci sama gue kak, tapi yang pasti gue tinggal di rumah nenek cuma sementara, lagi pula yang ngurus rumah nenek selama ini mama gue yang kalian anggap miskin itu, dia yang membayar gaji Mbak Inah dan pak Ujang " Lauren menatap sendu Fanya.
"Gue gak nyangka ternyata selama ini Lo cuma pura pura baik ke gue, karena ada nenek, dan setelah nenek gak ada ternyata ini sifat asli Lo kak " Lauren hampir meneteskan air mata, namun ia langsung menarik Yuni agar menjauh dari sana nafsu makannya sudah hilang.
Tanpa Lauren sadari seseorang tengah memperhatikan Lauren. Sekilas ia tersenyum.
"Woiii kenapa Lo senyum senyum " Ujar pria ber name tag Dimas,katika mereka hampir sampai di ambang kantin
"Tahu kesambet kali ya " Tambah pria bermata sipit yang bernama Farhan.
"Itu " Kalvin menunjuk ke arah Lauren dan Yuni dengan dagunya.
"Hobbi ya Lo lihat cewek cewek menderita, karena Lo dia di bully sama geng nya Fanya" tukas Farhan tidak habis pikir, bisa bisanya Kalvin tersenyum melihat cewek yang basah karena disiram jus.
Plaakkk...
"Bukan itu bege " Kalvin mengeplak kepala belakang Farhan.
"Terus ?" tanya Dimas ikut penasaran.
"Lo pada ngeh gak, kalau si anak baru itu mirip seseorang"
Mereka bertigapun memperhatikan Lauren saat ia berjalan keluar kantin, dan saat Lauren dan Yuni melewati mereka bertiga sontak Dimas berteriak histeris.
"Aaa...tidak...pmfffttt" Farhan langsung membekap mulut Dimas.
"Tolol ngapain teriak" Geram Kalvin memukul kepala Dimas.
"Vin jangan bilang Lo naksir tu cewek karena dia mirip Selina " Dimas menatap Kalvin penuh tanya, begitupun dengan Farhan yang berpikiran sama dengan Dimas.
Kalvin tersenyum getir, lalu berucap "Apaan sih Lo pada, gue cuma ngerasa kayak Selina hidup kembali aja, cara ngomong dia sedikit mirip dengan Selina yang suka heboh, dan barbar"
Kalvin mengingat ketika pertama kali ia bertemu dengan Lauren, ya waktu Kalvin menabrak Lauren dan berniat menolongnya namun ia urungkan, semua itu karena ia terkejut karena saat itu dia berpikir jika itu adalah hantu Selina.
Selina adalah cinta pertama Kalvin, 8 tahun yang lalu saat ia akan merayakan ulang tahun Selina di sebuah taman dan sekalian ingin menyatakan perasaannya, tapi kejadian naas menimpa Selina yang meregang nyawanya.
Dua tahun Kalvin harus di bawa ke psikiater, karena trauma yang di akibatkan syok ketika melihat kejadian mengenaskan di depan matanya.
Ia jelas mengingat bagaimana Selina yang sedang tersenyum ke arahnya berniat untuk menyebrang menuju taman tempat mereka janjian. Namun saat Selina di tengah jalan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju dengan kenjang hingga menabrak tubuh mungil,Selina terpental 5 meter dari tempat kejadian dan mobil tersebut kabur meninggalkan Selina yang sekarat.
Kalvin sempat melihat wajah orang yang menabrak Selina, saat itu sang pria berniat membantu namun sang wanita langsung menarik pria tersebut dan kembali melajukan mobilnya. Setelah 8 tahun berlalu, saat mendaftar kuliah di universitas ini ia pernah melihat pria tersebut sekilas, namun karena sangat ramai Kalvin jadi kehilangan jejaknya.
"Dah melamun, pasti keinget kejadian Selina " Tegur Dimas merangkul Kalvin dan menyadarkannya.
"Ayoo aaa gue laper, masa lalu biarlah berlalu, siapa tahu si anak baru itu emang titisan Selina, coba aja Lo deketin " saran Farhan ikut merangkul Kalvin samb berjalan mencari bangku.
"Ide bagus" Kalvin membalas rangkulan kedua sahabatnya. Mereka memang seakrab itu.
__ADS_1
Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP, mereka juga mengenal Selina karena mereka juga satu SMP saat itu. Mereka berdualah yang selalu menemani Kalvin saat ia trauma, dimana semua orang menjauhi Kalvin karena menganggapnya stress, namun mereka berdua tetap setia dan tetap ingin berteman dengan Kalvin hingga saat ini.