
Di ruangan yang bernuansa putih, dan bau obat obatan khas rumah sakit, di sana seorang Lauren di bawa.
" Mbak ngapain ke rumah sakit ? Rere baik baik aja " protes Lauren ketika ia sadar ia sudah berada di rumah sakit dan tangannya di pasang infus.
" Ini apa lagi ? Rere tu cuma kecapekan " Lauren menarik jarum infus agar terlepas dari tangannya.
Pak Ujang dan Mbak Inah meringis membayangkan perih di tangan Lauren.
"Itu...anu...dek tadi Rere pingsan mbak khawatir, jadi bawa ke sini deh " jelas mbak Inah takut takut.
"Mbak, Pak Rere baik baik aja, kalian bisa lihat sendiri kan" Lauren tampak sedikit kesal.
Drrrttt....drrrttt....
Tiba tiba ponsel Mbak Inah berbunyi.
"Sebentar ya" izin Mbak Inah pada Lauren.
Lauren menatap Pak Ujang curiga. Pak Ujang yang mengerti arti tatapan Lauren langsung menjelaskan.
"Iya non tadi Mbak Inah panik jadi menghubungi mama neng" jelas pak Ujang tertunduk takut Lauren marah.
" Aaarrrggghhh, kenapa sih harus lapor laporan segala " kesal Lauren.
"Dek, nona Hani mau bicara " mbak Inah memberikan ponselnya kepada Lauren, dan di terima sambil menatap tajam kedua ART nya.
" Halo ma " Sapa Lauren.
"Kamu itu gimana sih, baru berapa jam udah masuk rumah sakit aja, kalau tau gini mama gak izinin ya kamu tinggal disana.... " Lauren menjauhkan ponselnya mendengar omelan Hani sama saja menyakiti telinganya.
" Rere...kami dengar gak apa yang—" Lauren langsung memotong ucapan Hani agar tidak berkelanjutan.
" Rere gak apa apa ma, Mbak Inah sama pak Ujang aja yang lebay, Rere cuma kecapekan kan baru nyampai, udah ya Rere tutup mau istirahat besok Rere udah mulai kuliah "
Tut...
Lauren mematikan ponselnya ketika Hani akan melanjutkan omelannya. Katakanlah Lauren tidak sopan namun ia melakukan hal tersebut demi telinganya juga.
" Ayo sekarang pulang " Titah Lauren langsung berdiri meninggalkan keduanya, namun sebelumnya ia mengembalikan ponsel mbak Inah.
***
Pagi yang indah menyapa, dengan langit biru dan matahari yang menghiasinya.
Lauren sudah siap dengan out fit ke kampusnya, hanya mengenakan celana dasar dan kemeja crop, simple namun tetap cantik untuk Lauren.
Memiliki kulit putih, rambut panjang, hidung mancung, bibir tipis dan ginsul yang membuatnya terlihat sangat manis.
Lauren turun kelantai bawah menuju ruang makan.
"Mbak...Pak...sini deh " Lauren mengajak kedua ART nya untuk duduk di meja makan bersamanya.
__ADS_1
"Kenapa neng ?" tanya Pak ujang.
"Ayo sarapan bareng, Rere gak mau sarapan sendirian " ujar Lauren.
"Wooaahh...dengan senang hati neng, ayo mbak makan " ajak Pak Ujang pada mbak Inah yang masih membawa lauk.
"Stop...Dek Rere duluan " Mbak Inah menepis tangan pak Ujang ketika ia akan mengambil ayam goreng,Lauren hanya terkekeh melihat tingakah keduanya.
"Sudah mbak, lihat muka pak Ujang udah mesem mesem" ledek Lauren, membuat pak Ujang jadi malu.
Mereka pun makan bersama, ruang makan yang biasanya sepi sekarang terasa ramai, Mbak Inah dan Pak Ujang sudah Lauren anggap sebagai keluarganya sendiri, sejak Lauren kecil mereka berdualah yang membantu Hani dan Sonia mengurusinya.
"Mbak, Pak mulai hari ini apapun yang terjadi sama Rere jangan pernah di laporkan ke Mama, kecuali nyawa Rere sedang terancam" Ujar Lauren ketika selesai makan.
"Tapi Dek—" Lauren langsung mencela ucapan Mbak Inah.
"Mbak mau Rere di bawa mama lagi ? Gak kan jadi nurut aja"Tegas Lauren.
"Iya deh Iya " Pasrah mbak Inah.
"Tapi neng, kalau ada apa apa neng Rere harus kasih tau pak ujang atau mbak inah ya " Ujar pak Ujang.
"Oke pasti, Rere berangkat ya " Lauren mengambil tasnya dan beranjak dari meja makan.
"Neng gak mau di antarin pak Ujang aja " Tawar pak Ujang.
"Gak pak, Rere udah gede bisa sendiri " teriak Lauren yang hampir tiba di pintu keluar.
Lauren sengaja membuat kesepakatan dengan kedua ART karena Lauren tidak ingin Hani khawatir, karena menurutnya mencaritahu kematian Sonia cukup beresiko.
Namun Mbak Inah dan Pak ujang tahu tentang siapa Hani sebenarnya, selain mereka berdua Sonia juga tahu akan hal itu, namub mereka sudah berjanji akan terus merahasiakan hal tersebut.
...***...
Di sebuah kafe Lauren memarkirkan mobilnya, lalu ia berjalan menuju kampus barunya. Jarak antara kafe tersebut tidak jauh dari kampus barunya hanya berjarak 10-15 meter.
Lauren sengaja memarkirkan mobilnya di kafr tersebut lantaran keluarga besarnya tahu jika keluarga Lauren itu tidak sekaya yang lainnya. Dan setahu mereka Lauren hanya menumpang di rumah Sonia karena tidak mampu membayar sewa apartemen, atau kos kosan.
Ya sejak kematian Sonia seluruh harta warisan Sonia dibagi kan kepada ke 3 anaknya, semua perusahaan di pegang oleh Sofyan, Nita dan Efendi. Hani hanya menerima rumah peninggalan Sonia.
Selama ini mereka tahunya Hani di luar kota bekerja sebagai karyawan swasta biasa, padahal sebenarnya Hani menjadi CEO di salah satu perusahaan properti terbesar di negara ini.
Mereka selalu berpikir jika Hani selalu kekurangan, sehingga mereka semua menjauhi Hani dan Lauren.
Lauren sudah mengetahui semua tentang sifat keluarga besarnya, mereka hanya memandang seseorang keluarga hanya dari seberapa banyak kekayaan mu, seberapa bagus mobil mu, dan seberapa besar rumah mu.
Jika ketiga hal tersebut tidak ada maka mereka akan di jauhi, seperti Hani. Hani memang tidak pernah menunjukkan kekayaannya kepada ketiga saudaranya karena Hani sudah paham betul akan sikap mereka.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya Lauren tiba di kampus barunya.
Drrrt...drrrttt...
__ADS_1
Lauren mengeluarkan ponselnya dari tasnya, dan mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo..." Sapa Lauren.
"...."
"Iya ini baru nyampe, Rere naik ya "Ucap Lauren ketika mendengar arahan dari orang tersebut.
"Gak sabaran banget sih " dumel Lauren.
Ia berjalan menuju ruang rektor, Lauren sedikit kebingungan namun berkat arahan orang tadi Lauren akhirnya menemukan ruangan tersebut.
Namun saat Lauren akan belok menuju lorong tersebut tiba tiba ia menabrak seseorang.
Braakkk...
"Awwsss..." Ringis Lauren ketika merasakan pantatnya mencium lantai.
"Kalau jalan hati-hati " sarkas orang tersebut, dan mengulurkan tangannya untuk membantu.
Namun saat Lauren menengok ke arah pria tersebut, dab berniat menyambut tangannya tiba tiba pria tersebut langsung pergi meninggalkannya. Lauren di buat terkejut olehnya.
"Wah...parah gak niat nolongin kenapa gak pergi dari tadi " kesal Lauren berdiri sendirian sambil membersihkan celananya yang sedikit kotor.
Setelah itu Lauren melanjutkan perjalanannya menuju ruang rektor.
Tok...tok...
Lauren mengetuk pintu coklat tersebut.
"Masuk " ucap seseorang di dalam.
Tanpa ragu Lauren langsung masuk ke ruangan tersebut.
"Haiii pa " Sapa Lauren tersenyum sangat manis.
"Ohhh my sweety girl " Herman merentangkan tangannya.
"Hahahh papa " Lauren memeluk pria paruh baya, yang ia panggil papa tersebut.
Herman adalah papa dari Lauren, ia seorang rektor di universitas ini, berkat beliau lah Lauren tidak perlu mengulang menjadi maba, ia hanya perlu melanjutkan mata kuliahnya di sini dengab jurusan yang sama.
Ya Herman dulunya seorang guru biasa, ia selalu di remehkan, dan di rendahkan oleh saudara saudara Hani hingga akhirnya Herman dan Hani di paksa bercerai.
Namun siapa sangka Herman akhirnya memutuskan untuk melanjutkan study hingga sekarang ia bisa menjadi rektor.
Tidak banyak yang tahu tentang dirinya yang sekarang, karena setelah perceraianya dengan Hani,Herman bagai hilang di telan bumi, namun ia terus bertukar kabar dengan Hani.
"Papa kangen banget sayang " ucap Herman mengekus kepala Lauren sayang.
"Rere juga pa, tapi kita baru ketemu beberapa minggu yang lalu pa " ujar Lauren lalu mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Ya beberapa minggu sebelum Lauren kembali ke sana, Herman sempat mengunjunginya dan Hani.
Dan saat itulah mereka bertiga merencanakan semuanya. Mereka bertiga akan menguak siapa pelaku atas kematian Sonia.