Enigma

Enigma
Arisan keluarga


__ADS_3

Entah bagaimana sekarang Hani meminta Lauren untuk pergi ke arisan keluarga yang di adakan di rumah Sofyan.


"Ayolah sayang, mama gak bisa kesana malam ini, mama ada metting penting " bujuk Hani.


"Gak mau ma, transfer aja uang arisannya " tolak Lauren.


Lauren paling malas jika harus bertemu dengan keluarga besarnya, pastilah kelak ia hanya akan menjadi bahan cemo'ohan.


"Katanya mau caritahu siapa pelakunya, ya kamu harus deket sama keluarga kita sayang" Hani terus membujuk Lauren.


Yang di katakan Hani ada benarnya, jika ia bertemu keluarga besarnya siapa tahu ia menemukan petunjuk.


"Ya udah Rere pergi" jawab Lauren lesu.


"Nah gitu dong baru anak mama, tadi mama udah minta Alvin jemput kamu " sontak kedua bola mata Lauren memblalak.


"Ma...Rere bisa pergi sendiri "


"No...pokonya bareng Alvin, dia udah otw katanya "


"Bye sayang, Love you "


"Tapi ma..." belum sempat Lauren akan memprotes lagi Hani sudah mematikan panggilannya, membuat Lauren menahan kesal.


Ya dari sekian banyak sepupunya hanya Alvin lah yang cukup baik terhadapnya, dan hanya Alvin yang tidak tergiur dengan harta.


Andai mamanya tahu apa yang di lakukan kakak nya Alvin kepadanya siang tadi mamanya akan berubah pikiran.


Lauren menggelengkan kepalanya, lalu bersiap siap untuk ke acara keluarga tersebut.


Setelah siap Lauren bersiap untuk turun ke bawah, namun saat ia membuka pintu kamarnya ia di kejutkan dengan keberadaan Alvin yang berdiri di depan pintunya.


"Eee...onyol.." Lauren reflek memukul kepala Alvin dengan tas kecilnya.


"Aiiiisssshhh sakit, ini yang gue dapat setelah sekian lama gak ketemu " ujar Alvin sambil mengelus kepalanya yang terasa nyut-nyutan.


"Lagian ngapain Lo berdiri di depan kamar gue kayak gitu " protes Lauren.


Jelas saja dia akan protes secara, seorang pria berdiri di depan kamarnya sambil menatap intens ke arah kamar, jika Lauren tidak menyadari itu sepupunya mungkin Alvin akan di teriaki maling olehnya.


"Ya gue kan cuma kangen sama sepupu gue yang comel ini, eeeuuggghhh " Alvin mencubit gemas pipi Lauren.


Sejak kecil Alvin sangat senang mencubit pipinya yang tidak tembem.


"Sakit aaa..." Lauren menepis tangan Alvin dan berlalu menuju lantai bawah.


"Mbak Rere pergi ke rumah om Sofyan ya " pamit Lauren sambil berteriak karena mbak Inah berada di dapur.


Lauren terus melangkahkan kakinya, sedangkan Alvin terus mengikutinya dari belakang sambik ngoceh ngoceh tidak jelas.


Setibanya di luar rumah, Lauren berniat membuka mobil Alvin namun tidak bisa di buka, sedang sang empu hanya berpura pura tidak tahu.


"Alvin !" Sentak Lauren kesal.

__ADS_1


"Iya iya elah, galak banget " timpal Alvin menekan tombol kuncinya.


"Lo di kasih makan apa sih sama tante Hani jadi galak banget " ujar Alvin ketika mereka sudah memasuki mobil.


"Di kasih makan singa, Errraaarrrggghhh" Lauren mengerang seakan akan menerkam Alvin.


Alvin bergidik ngeri melihat kelakuan sepupunya ini. Alvin berpikir itu akibat trauma yang di alami Lauren. Pasalnya saat mereka kecil Lauren sosok gadis manis yang baik, periang, murah senyum dan jarang marah.


Walaupun Alvin sering menjahilinya tapi Lauren tidak pernah marah atau membalas, oleh karena itu Alvin sangat menyayangi Lauren seperti adiknya sendiri.


***


"Eeeh...kalian tahu gak di kampus gue ketemu siapa ?" ujar Fanya memancing pembicaraan sepupunya.


"Siapa ? "Tanya Liza penasaran.


"Gue ketemu Lauren " sontak ke empat sepupunya terkejut.


"Loh kalian belum tahu kalau dia udah tinggal di rumah nenek lagi ?" tanya Fanya, mereka menggeleng tanda tidak tahu.


"Gila sih masih berani dia kembali ke sini " timpal Regina sambil memicingkan matanya.


"Ngapain dia di sini ?" tanya Alex dingin.


Alex dan Regina adalah cucu tertua Sonia jaraknya dengan Lauren sekitar 5 tahunan.


"Tau deh "


"Ngapai coba dia ke sini lagi, padahal keluarga kita udah bahagia tanpa dia, gue sempat punya pikiran kalau yang ngebunuh omah itu tante Hani sama om Herman " ujar Tiara.


Niat hati Lauren ingin menyapa mereka, karena jujur sebenarnya Lauren juga sangat merindukan mereka, tapi di luar ekspektasinya ia malah mendengar mereka bergosip ria tentang dirinya dan menuduh papa dan mamanya.


"Ehhh...Kok dia di sini sih " tukas Fanya terkejut dengan keberadaan Lauren yang tiba tiba.


"Maksud kak Fanya apa bilang gitu ? Mama sama papa gak bakal ngelakuin hal kayak gitu "Lauren berusaha membela kedua orang tuanya.


"Ya pembunuh mana ada yang ngaku gak sih " timpal Tiara dengan nada menyindir.


"Ren udah gak usah di dengerin, mereka cuma asal ngomong" Alvin berusaha menenangkan Lauren.


"Gak Tiara gak asal ngomong, orang tua dia punya motif" Alex menunjuk wajah Lauren.


"Motif apa ? Kalian jangan sembarangan !"Lauren mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Ya jelas mereka dendam karena Nenek memaksa kedua orang tua Lo buat cerai, mungkin mereka masih saling cinta, atau mungkin dendam lalu berniat merebut seluruh harta nenek, uppsss" Ujar Regina lalu menertawakan Lauren.


"Lo ngomong apaan sih kak "Alvin mulai jengah.


"Kalian semua pada ngaco, harus sebelum ngomong coba kalian ngaca, yang gila harta itu siapa !" sarkas Alvin berusaha membela Lauren.


Plaaakkk...


"Ngapain Lo belain dia !" ujar Fanya murka ketika tahu adiknya membela Lauren.

__ADS_1


"Ada apa ini ribut ribut ?"tanya Sofyan keluar rumah bersama yang lainnya menghampiri mereka.


"Om...Tante..." Lauren berusaha sopan dengan berniat mencium punggung tangan mereka, namun tak satupun di antara mereka yang mau menerimanya. Anak anak mereka tersenyum sinis melihat Lauren kecuali Alvin.


Lauren tersenyum getir, dan menyerahkan sebuah amplop kepada Sofyan.


"Sorry om, ini titipan dari mama, dia gak bisa hadir dan Rere di suruh buat nyampein itu" jelas Lauren, namun Sofyan hanya menerima amplop tersebut tanpa berbicara sedikitpun.


"Ngapain masih di sini "Sarkas Nita.


"Eeeuuummm kalau gitu Rere pamit pulang" Pamit Lauren, namun tidak ada yang memperdulikannya yang terdengar hanya kata kata kasar yang terlontar dari para sepupunya kecuali Alvin yang hanya bisa diam.


Namun saat Lauren akan melangkah kan kakinya tiba tiba ucapan Tina istri Sofyan sangat menyakitinya.


"Ibu sama anak sama aja, sama sama suka nyusahin, ngapain juga balik lagi ke rumah mama, pasti dia kesini tadinya mau minjem uang " Lauren masih mengepalkan tangannya namun masih diam.


"Iya kak pasti itu, memang mereka itu bawa sial, dulu gara gara Hani papa meninggal karena nyelamatin dia, terus mama meninggal karena jagain anak nya, gak tau terimakasih banget kan, aku rasa dia yang udah ngebunuh mama biar bisa nguasain harta mama " Ujar Tina sengaja.


Lauren berbalik arah lalu berucap " Kalian semua boleh benci sama mama, tapi kalian sadar mama Hani itu siapa ? Dia adik kalian adik kandung kalian !" Teriak Lauren dengan air mata yang sudah mengalir.


"Selama ini kami tidak pernah meminta bantuan kalian ! Selama ini kami tidak pernah merepotkan kalian ! Bahkan semua harta warisan nenek di tangan kalian semua hanya tersisa rumah nenek, dan selama ini yang membiayai rumah itu mama saya, mama Hani ! Dia yang bayar gaji pak ujang dan Mbak Inah, jadi kalian gak berhak mengatai mama saya !" Cecar Lauren habis kesabaran.


"Dan satu Hal lagi, saya bakal mencaritahu siapa pelaku sebenarnya, dan saya rasa itu salah satu dari kalian " Lauren menunjuk satu persatu tante dan om nya.


Plakkkkk....


Lauren memegang pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan dari Tina.


"Jaga ucapan kamu, tidak di ajari sopan satun kamu sama Hani hahh !" Tina menatap nyalang kearah Lauren.


"Harusnya saya yang bertanya, sudah benarkah kalian mendidik anak anak kalian ?" Lauren menatap tajam Tina.


"Kamu..." Saat Tina akan melayangkan tamparannya lagi, Sofyan mengintrupsi.


"Sudah hentikan, semuanya masuk biarkan dia sendirian, dari dulu dia memang tidak di ingin kan" Alvin menghampiri Lauren yang menangis di teras rumah, tapi teriakan Fanya membuatnya urung.


Lauren melihat tatapan bersalah dari Alvin, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.


Lauren menghapus air matanya, ketika berada di depan gerbang ia menelpon seseorang untuk menjemputnya.


Tak berselang lama seseorang datang menjemputnya.


"Di apain Lo sama mereka ?" ujar seorang pria yang duduk di bangku kemudi.


"Biasa " jawab Lauren begetar.


"Gak usah cengeng ini baru permulaan"pria tersebut mengelus pucuk kepala Lauren.


"Ke makam ?"tanya nya Laurenpun mengangguk.


Suasana hati Lauren sangat kacau, ia tidak bisa menceritakan kejadian ini kepada Hani, ia tidak ingin Hani khawatir. Ia butuh tempat menumpahkan semua uneg unegnya, yaitu ke makam Sonia.


Dari dulu setiap suasana hatinya kacau Lauren akan berkunjung kesana, walaupun ia harus menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal mamanya.

__ADS_1


Dan Frans pria yang menjemput Lauren, dia akan selalu bersedia menemani Lauren kemanapun dan kapan pun.


Usia Frans tiga tahun lebih tua dari Lauren, awalnya Frans hanya anak jalanan yang sering datang menawarkan minum ke perusahaan Hani,di sana mereka saling mengenal karena Frans cukup baik dan dia sudah tidak memiliki keluarga jadi Lauren meminta Hani untuk mengangkatnya menjadi kakak angkat Lauren.


__ADS_2