
Tak terasa 8 tahun telah berlalu, sekian lama menghadapi trauma berkepanjangan Lauren akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah besar yang sudah sangat lama ia tinggalkan.
Semenjak pembunuhan Sonia, Lauren memutuskan untuk tinggal bersama sang mama, sambil mengobati rasa traumanya, walaupun sekarang ia masih trauma melihat darah, tapi ia memutuskan untuk kembali kerumah itu.
Sekarang Lauren sudah cukup dewasa, ia sudah menginjak umur 18 tahun, ia memilih untuk melanjutkan pendidikannya di kota kelahirannya.
Tujuan kembalinya Lauren hanya satu, ia ingin mencaritahu siapa yang sudah membunuh sang nenek dengan bantuan Mama dan Papanya. Karena semenjak meninggalnya Sonia keluarga besarnya kacau, sifat asli terlihat jelas.
Duku saat Sonia masih hidup, walaupun Hani di anggap yang paling miskin tapi mereka tetap memperlakukan Hanj dan Lauren dengan baik, jika di depan Sonia. Namun sekarang jangankan hanya menanyai kabar jika bertemu mungkin mereka akan membuang muka.
Mereka yang gila harta, jabatan, saling menjatuhkan satu sama lain, dan yang menjadi korban selalu Hani,mamanya Lauren. Ia di tuduh menyembunyikan surat wasiat Sonia.
Alasan mereka menyalahkan Hani karena Hani yang paling miskin di antara mereka, Hani juga orang yang selalu di anggap merepotkan Sonia dengan menitipkan Lauren kepada Sonia.
Drrrrttt...drrrttt...
Getaran hp di tas Lauren menyadarkannya dari lamunan.
"Halo" Sapa Lauren ketika menerima telpon tersebut.
"Halo sayang kamu sudah sampai ?" ujar Hani dari sebrang telpon.
"Baru sampai ma "
"Ya sudah, mama sudah telpon mbak Inah, dia juga udah nungguin kamu tuh "
"Iya iya ma, Rere masih di depan belum masuk "
"Ya sudah, kamu hati hati ya di sana kalau ada apa apa kabari mama, atau papa ya " nasehat Hani.
Ya walaupun kedua orang tuanya bercerai tapi mereka tidak pernah mengabaikan Lauren, hubungan mereka juga baik, masing masing orang tuanya memilih untuk fokus dengan karir dan belum ada yang menikah lagi, atau mungkin mereka tengah mencari waktu yang tepat untuk rujuk kembali.
Lauren selalu berdoa ketika mereka berhasil menemukan pelaku pembunuhan Sonia, kedua orang tuanya bisa rujuk kembali, dan mereka bertiga akan hidup bersama kembali dan bahagia selamanya.
Ting...tong...
Lauren menekan bel saat berada di depan pintu.
"Ya sebentar" teriak mbak Inah dari dalam.
"Ya cari siapa ?" tanya Mbak Inah ketika membuka pintu.
Mendengar pertanyaan mbak Inah, membuat Lauren menahan senyumnya.
" Laurennya ada mbak ?" goda nya.
__ADS_1
" Aaa...itu dek Lauren...." mbak Inah tampak berpikir, lalu sedetik kemudian ia menyadari sesuatu.
" Ya ampun ini dek Lauren ? tambah cantik aja mbak jadi gak kenal " mbak Inah memeluk Lauren sekilas, lalu memutar mutar tubuh Lauren, Lauren hanya tertawa melihat tingkah lucu ART nya ini.
Mbak Inah sangat setia dengan keluarga mereka, walaupun Sonia sudah tidak ada, Lauren juga tidak di sana,ia tetap ingin merawat rumah tersebut, lagi pula ia dan pak Ujang selalu di gaji tepat waktu oleh Hani
"Hahahh...mbak udah pusing ini di puter puter " ujar Lauren ketika merasakan pening di kepalanya.
"Hehehh maaf dek, habis Rere udah beda banget " mbak Inah terkekeh.
"Ayo dek masuk, mbak udah beresin kamarnya, mbak juga udah masak makanan kesukaan Rere " ujar mbak Inah antusias.
Semua orang yang dekat biasa memanggil Lauren dengan sebutan Rere atau Reren,termasuk mbak Inah dan pak Ujang.
" Ya ampun Lauren mbak kangen banget sama kamu, dan sekarang mbak gak akan kesepian lagi karena Lauren sudah kembali " ucap mbak Inah dalam hati senang.
"Mbak...pak Ujang mana ?" tanya nya karena tidak melihat pak ujang di depan pagar.
"Ooo...itu tadi mbak suruh ke mini market buat beli sabun cuci piring hehehh " Ujar mbak Inah sambil terkekeh.
Lauren ikut terkekeh walaupun sudah 8 tahun berlalu, tapi sikap mbak Inah yang lupa menyetok sabun cuci piring masih tetap sama.
" Kebiasaan deh mbak, kasihan kan Pak ujang setiap ke mini market cuma buat beli sabun cuci piring " Lauren geleng geleng kepala, mbak Inah hanya terkekeh.
" Rere ke kamar dulu ya mbak " pamit Lauren sambil menaiki satu persatu anak tangga.
Saat akan membuka pintu kamarnya Lauren melirik kamar Sonia, ia meletakkan koper dan tas runselnya di depan kamar, lalu melangkah menuju kamar Sonia.
Sesak, itu yang Lauren rasakan saat ini, tapi ia menguatkan diri untuk masuk ke dalam sana.
Ckleeekkk...(suara pintu terbuka)
***
"Mang Ujang dari mana wae, lama banget cuma di suruh beli sabun cuci piring doang " omel mbak Inah kepada Pak Ujang yang baru saja pulang dari mini market.
"Ya sabar atuh neng, mang ke sananya kan jalan kaki, butuh waktu atuh "
"Alah ngeles wae, urang neng lihat tadi mang bawa motor, bilang aja tadi mampir ke jamu mbak Siti kan" mbak Inah memicingkan matanya, sedangkan Pak Ujang hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mbak Inah dan Pak ujang itu hanya berbeda beberapa tahun mereka juga sama sama Janda dan Duda. Mbak Inah Janda karena di tinggal suaminya menikah lagi dan dia tidak memiliki anak, wajahnya juga masih awet muda,sedangkan Pak Ujang Duda di tinggal mati istrinya dan anaknya tinggal bersama neneknya di kampung.
Dulu Lauren dan Sonia sering menjodohkan mereka namun, entah mengapa mereka selalu berkelahi.
Praannkkkk....
__ADS_1
Mereka berdua terlonjak saat mendengar suara pecahan dari lantai atas.
"Mang...mang... Rere " ujar mbak Inah sambil memukul bahu pak Ujang.
"Emang Rere sudah nyampai?" tanya pak Ujang.
"Sudah, ayo kita lihat" mbak Inah menarik tangan pak Ujang.
Tampak raut khawatir di wajahnya.
***
Ckleekkk....
Lauren menarik nafas panjang untuk meredakan sesak di dadanya. Ia masuk dan melihat sekeliling kamar Sonia.
Lauren tersenyum getir, tidak ada yang berubah dari kamar tersebut, kamarnya juga rapih dan bersih. Ia yakin mbak Inah pasti selalu membersihkan kamar Sonia.
Lauren duduk di atas kasur Sonia, tak terasa air matanya mengalir, sesak di dadanya semakin menjadi. Sulit bagi Lauren namun ia sudah berjanji pada dirinya untuk mencaritahu pelaku nya.
"Lo kuat Re, Lo harus kuat, niat Lo kembali untuk mencaritahu pelakunya, semuanya berawal dari kamar ini " ucap Lauren menguatkan dirinya.
Namun sesak di dadanya semakin mencekik hingga ia sulit bernafas, kepalanya juga ikut pening.
Lauren berdiri dari duduknya, ia tidak sanggup ia harus keluar sekarang, ia belum bisa mengalahkan traumanya.
Ia berjalan tertatih tangan kanan memegangi dadanya yang sesak, dan tangan kirinya berusaha menggapai benda apa pun agar bisa tetap berjalan.
Saat akan tiba di ambang pintu tubuhnya sudah tidak kuat berjalan, tangannya tidak sengaja menyenggol vas bunga yang ada di nakas.
Prankkkk.....
"Hssshhsss...mbak....hsssshsss....Tolong" ia berusaha meminta pertolongan dengan suara lirih.
Pandangannya memburam, namun ia bisa melihat mbak Inah dan Pak Ujang yang terburu-buru menghampirinya sebelum kesadarannya hilang.
" Lauren..." teriak mbak Inah sambil memangku tubuh Lauren.
" Pak ke rumah sakit" ujar mbak Inah pada Pak Ujang.
Dengan siggap pak Ujang langsung menggendong tubuh Lauren, menuruni anak tangga menuju garasi, dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Neng kunci semua pintu " peringat Pak Ujang.
" Sudah ayo kita ke rumah sakit, jangan sampai kejadian bu Sonia terulang lagi mang " mbak Inah sudah menangis sambil memeluk Lauren.
__ADS_1
"Semuanya akan baik baik aja, kamu tenang " ujar Pak Ujang mencoba menenangkan, lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.