Enigma

Enigma
Sahabat Kecil


__ADS_3

Setelah puas melepas kangen dengan sang Papa akhirnya Herman menunjukkan kelas Lauren, dan memberikan jadwal mata kuliahnya.


Tok...tok...


"Permisi, pak saya mahasiswa baru " Ucap Lauren kepada seorang dosen pria yang bertubuh gempal.


Dosen tersebut menurunkan kacamatanya memperhatikan Lauren, setelah di rasa cukup barulah ia berucap.


"Silahkan masuk" Lauren masuk dan langsung mencari tempat duduk yang kosong.


"Jangan disini !" seorang pria menarik bangku yang akan Lauren naiki.


"Kalvin ! " peringat dosen tersebut, membuat pria yang di panggil Kalvin tersebut kembali melepaskan bangkunya.


"Haiii, gue Yuni " Seorang gadis memutar badannya menghadap belakang untuk berkenalan dengannya.


"Haiii Lauren " Gadis tersebut sedikit bingung ketika mendengar nama tersebut, rasanya tidak asinh di telinganya.


"Kayak gak asing" gumam Yuni namun masih bisa Lauren dengar, Yuni hanya tersenyum canggung lalu kembali menghadap depan.


Melihat Yuni kebingungan Lauren hanya tersenyum, lalu ia mengeluarkan alat tulisnya.


Tak terasa jam mata kuliah telah usai, mereka di persilahkan keluar ruangan. Lauren dengan santainya menarik tangan Yuni.


"Eeehhh...mau kemana ?" ucap Yuni sedikit keki karena tiba tiba saja tangannya di tarik.


Lauren menghentikan langkahnya lalu menatap Yuni dalam dalam.


"Yun...Lo beneran lupa sama gue ?" Yuni tampak berpikir.


"Emang kita pernah kenal ? Atau mungkin kita pernah ketemu dimana gitu ya ?" Jawab Yuni masih belum mengingat Lauren.


Seketika Lauren melepaskan tangan Yuni, dan berniat pergi namun sebelum pergi Lauren mengucapkan sesuatu.


"Padahal sering piket bareng "


Yuni berusaha keras mencari sesuatu di memori kepalanya, yang Lauren ucapkan juga tidak asing di kepalanya, saat Lauren cukup jauh.


"Reren " Teriak Yuni kencang membuatnya jadi pusat perhatian sekarang.


Lauren memutar tubuhnya lalu tersenyum gembira, ternyata Yuni masih nengingatnya.


Ya ,Yuni ini adalah anak Sandy tetangga depan rumah neneknya. Saat itu merek sangat akrab, Yuni sering membantu Lauren piket di kelas, walaupun Lauren senang pijet setiap hari tapi Yuni tetap setia membantunya.


Saat masuk ke kelas tadi, Lauren sudah menebak bahwa gadis tersebut adalah sahabat kecilnya, di tambah ketika ia memperkenalkan diri membuat ia semakin yakin.


"Ya ampun Rere, ini beneran Lo ?" Yuni memutar mutar tubuh Lauren, Lauren hanya tertawa.


"Lama banget Lo ngenalin gue, dasar teman macam apa di tinggal 8 tahun langsung lupa " Lauren bersedekap dada ketika Yuni puas memutar tubuhnya.


"Eeeh Lo kira 8 tahun itu sebentar, gila Lo ya " timpal Yuni sewot.

__ADS_1


"Ye Lo nya aja yang pelupa, gue pertama kali liat Lo udah tau gue Lo itu Yuni si cebol " Ledek Lauren sambil memeletkan lidahnya.


Dari dulu hingga sekarang Yuni selalu lebih pendek dari Lauren, jadi wajar saja jika Lauren menggodanya.


"Wah mentang mentang pertumbuhan Lo bagus, sekarang Lo ngehina gue, nyesel gue seneng ketemu Lo "Rajuk Yuni.


"Atututu...si cebol ngambek, masih doyan es krim gak nihhh...gue traktir..." goda Lauren.


Sejak kec, Yuni memang sangat menyukai es krim. Ia bahkan hampir setiap hari memakan es krim sampai beberapa kali ia ke dokter gigi karena sakit gigi.


"Lo tau aja kelemahan gue, ayo cari es krim yang mahal ya " Yuni merangkul Lauren.


Cukup sudah mereka menjadi bahan tontonan, sekarang sudah banyak yanh menatap mereka dengan berbagai macam tatapan.


Namun sejak dulu Yuni dan Lauren memiliki sifat yang sama yaitu tidak memperdulikan pendapat orang lain.


"Berisik !" Sarkas seorang pria yang baru saja melewati mereka, ia juga sedikit menyenggol bahu Lauren membuat Lauren kesal.


"Woiii sirik aja Lo, bilang aja Lo ngiri karena gak punya temen !" teriak Lauren.


Lalu seketika pria tersebut berbalik, dan menghampiri Lauren dan Yuni.


Yuni yang melihat itu mendadak panik, dan menarik tangan Lauren namun Lauren hanya bergeming ia merasa di tantang.


"Apa Lo bilang, coba ulangi !" ucap pria tersebut ketika berdiri di hadapan Lauren.


"Kenapa ? Atau bener Lo gak punya temen huhh" sarkas Lauren tidak takut namun Yuni sudah berusaha menarik tangan Lauren untuk menjauh.


"Oohhh sekarang gue inget, Lo yang tadi pagi nabrak gue di lorong kan ? Dan Lo juga yang narik bangku gue tadi, Emang Lo kayaknya suka nyari masalah sama gue, jangan Lo pikir mentang mentang Lo cowok gue takut ya !" Tampak pria tersebut menahan emosinya.


"Lo—" saat cowok itu akan berucap tiba tiba 2 orang pria menghampiri pria tersebut.


"Sudahlah bro, come on kita ada urusan yang lebih penting " ucap Pria yang berambut keriting.


"Yoi Vin, ayo gak penting ngurusin cewek soj jagoan ini" tambah pria satunya lagi yang bermata sipit.


"Wah...berani banget Lo ya, mau gue buat mata Lo tambah sipit huhh" Lauren tersulut emosinya.


"Iya bener juga yang kalian bilang, ngapain ngeladenin cewek kayak dia " Pria tersebut menatap Lauren dari atas sampai bawah lalu beranjak meninggalkan Lauren yang kesal naudzubillah.


"Lepasin Yun, mau gue tampol tiga cowok kampret itu !" Yuni menarik tangan Lauren kencang, ia sudah sangat malu karena menjadi bahan tontonan.


Sebenarnya Yuni tidak perduli, tapi ini berurusan dengan Kalvin yang memiliki julukan Prince of univercity.


Yuni belum siap menjadi bahan gibahan para mahasiswa. Terakhir kali ada yang di bully habis habisan hanya karena orang tersebut tidak sengaja menjatuhkan kopi milik Kalvin hingga ia pindah universitas.


"Re, please udah ya, ayo kita beli es krim aja, kalau gak jadi gue beneran ngambek ni " ancam Yuni.


"Aaahh...sudah lah ayo gue butuh yang manis manis " Sekarang terbalik malah Lauren yang menarik tangan Yuni.


Lauren mengajak Yuni menuju kafe tempat ia memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


"Emang di sini ada es krim ?" tanya Yuni.


"Ada dong, khusus Lo gue adain " ujar Lauren santai.


"Gaya Lo, kayak yang punya kafe aja " Yuni terkekeh.


"Emang " seketika Yuni terdiam menatap Lauren kaget.


Lauren jadi bingung, hampir saja ia keceplosan, memang bebar ini kafe miliknya tapi tidak ada yang boleh mengetahui hal itu, cukup papa, mama, dan kedua ART nya yang tahu.


"Ee...itu emang kayak gue yang punya nya yakan, kan gue bayar, hahahh " Lauren tertawa hambar.


"Udah aah ayo masuk, tadi pagi gue udah liat semua menunya dan gue lihat ada es krim jadi gue ajak aja Lo kesini ya kan " Lauren mencoba membuat Yuni percaya.


"Oh iya sih, gue kaget aja, gue kira beneran Lo yang punya kafe ini, kalau benerkan gue punya temen Sultan" teriak Yuni heboh sambil memasuki kafe tersebut.


Lauren mengajak Yuni untuk duduk di belakang kafe yang langsung di sajikan pemandangan taman bunga yang berwarna warni.


"Lo tau gue denger denger yang punya kafe ini keturunan sultan, ibunya CEO perusahaan property terbesar, dan ayahnya rektor di salah satu universitas, tapi identitasnya masih di rahasiakan banget Re...."


Saat Yuni asik berceloteh, Lauren memberi kode kepada salah satu karyawannya untuk memperlakukan mereka seperti costumer lainnya.


Saat salah satu pelayan menghampiri mereka, Lauren dan Yuni langsung melihat lihat menu.


"Re mahal anjim es krimnya " bisik Yuni pada Lauren, pelayan di sebelahnya menahan senyum saat melihat ekspresi teman bosnya.


"Udah pesen aja, gue udah nabung banyak buat traktir Lo es krim" jawab Lauren ikut berbisik.


"Mbak pesen ini satu aja ya " Yuni merasa tidan enak hati kepada Lauren jadi dia memsan yang paling murah.


"Mbak nya gak pesen ?" pelayan tersebut menanyai Lauren.


"Oh ini saya pesen yang ini " Lauren menunjuk es krim yang paling mahal membuat Yuni cengo.


"Di tunggu ya pesanannya" Pelayan tersebut pergi meninggakkan kedua sahabat itu.


Plaakkk...


"Lo gila Re, jangan bilang Lo mau ngerjain gue ya, gue gak punya uang sebanyak itu Re" cemas Yuni.


"Udah tenang aja gue udah bilang gue udah nabung banyak buat traktir Lo Yun, Lo itu sahabat terbaik gue, gue gak pernah lupa sama jasa Lo yang selalu nemenin gue kemanapun dan selalu mau bantuin gue, walau terkadang gue sering banget nyusahin Lo dulu"


"Aaa terhura gue" Yuni memeluk Lauren.


"Yun bentar ya gue ke toilet sebentar"


"Wah jangan jangan Lo mau kabur ya, kayak di film film" seudzon Yuni.


"Nih dompet, nih hp gue Lo pegang, kalau gue kabur Lo kasih ini aja ke pelayan cukup kan " Yuni hanya terkekeh, namun tetap mengamb barang barang tersebut untuk jaga jaga.


Secara mereka sudah lama tidak bertemu dan sekali bertemu mendapat traktiran di kafe mahal lagi, dengan kondisi Lauren yang Yuni tahu membuatnya sulit percaya namun sebagai teman yang baik Yuni tetap akan mempercayai Lauren.

__ADS_1


__ADS_2