
Disclaimer ⚠️
Terdapat adegan kekerasan dan lain lainnya tolong bijak dalam membaca dan juga menyikapinya hal tersebut.
~ Selamat membaca enjoy ~
Setra Asih adalah sebuah desa yang amat subur, apapun yang ditanam dan dipelihara di sana banyak tumbuh-tumbuhan yang rindang. Di sana pula, terdapat sebuah hutan yang luas. Namun, tak ada seorang pun yang berani masuk ke hutan itu. Karena konon katanya, di pusat hutan yang paling dalam terdapat sebuah kerajaan Jin yang tak terlihat, para Jin di sana sering mengganggu orang-orang yang berani masuk ke dalam wilayah hutan dalam tersebut. Karena dahulu juga pernah ada dua orang pasangan yang pergi untuk camping di sana, tetapi mereka tak bisa kembali lagi hingga saat ini.
"Qi, sudah siap?" tanya seorang pemuda yang bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang itu memanggil Sabqi
"Sebenarnya aku masih ragu, Syam," jawab Sabqi. Sabqi adalah seorang pemuda yang berkulit putih dan memiliki kepribadian yang cerdas, sehingga banyak orang yang iri kepadanya karena kecerdasan dan juga kepintarannya.
"Ayolah, memangnya kamu tidak bosan berada di rumah terus, sekali-kali kita harus refreshing," bujuk Syamsu temannya Sabqi. Nama lengkapnya adalah Abdus Syamsu, ia sering dipanggil dengan sebutan Syam atau Syamsu.
Syamsu mengajak Sabqi untuk pergi ke sebuah hutan yang terkenal dengan kerajaan Jin yang angker di desanya. Walaupun Sabqi adalah penduduk sana, tetapi ia tak pernah pergi keluar tanpa seizin dari Ibu angkatnya yang bernama Ijem. Kini Bu Ijem sedang tidak ada di rumah, ia pergi ke luar kota untuk urusan penting sehingga Sabqi ditemani oleh Syamsu di rumah. Bu Ijem telah mempercayakan kepada Syamsu untuk menjaga Sabqi, karena Syamsu adalah sosok pemuda yang baik di mata Bu Ijem.
"Yuk berangkat," ajak Syamsu lagi, karena tak kunjung mendapat jawaban dari Sabqi.
"Syam, kamu tahu kan? Kalau Ibu pasti nggak akan mengizinkan aku untuk pergi ke sana," tanya Sabqi ragu, ia mempunyai firasat bahwa akan terjadi sesuatu.
"Sudalah, ada aku di sini, kamu tenang saja, aku yakin semua itu adalah mitos," balas Syamsu. Ya, Syamsu adalah orang yang hebat dan ia jago dalam hal bela diri. Namun, tetap saja masih ada keraguan dalam lubuk hati Sabqi untuk pergi ke sana. Walaupun ragu, Sabqi tetap ikut bersama Syamsu, karena ia juga sangat bosan di rumah, ia membutuhkan wawasan.
Mereka pergi berjalan kaki dengan segala persiapan, mereka akan menginap di sana selama satu malam. Saat mereka akan berangkat, suasananya sangat cerah. Namun, saat sudah berjalan menuju hutan lumayan dalam suasana mulai mencekam, walaupun langit cerah. Sabqi mulai merasakan firasat aneh, ia merasakan bahwa akan ada sebuah ular yang sangat besar yang akan menyerang mereka.
"Syam, kita pulang saja yuk, aku punya firasat nggak enak," ajak Sabqi mengurungkan niatnya untuk tidak membantah perintah Ibunya agar tetap di rumah.
"Kamu lemah banget seperti perempuan saja, sudahlah jangan takut," omel Syamsu tetap mengotot untuk berjalan ke arah hutan yang lebih dalam.
Setelah berjalan beberapa langkah, Syamsu dan Sabqi pun mendapatkan tempat yang bagus untuk mendirikan tenda. Mereka mulai mendirikan tenda di sana, tetapi di sana ada perlengkapan yang lupa mereka bawa yaitu kayu. Akhirnya mereka pun pergi untuk mencari kayu bakar. Saat di perjalanan mencari kayu bakar, Sabqi mengerjapkan matanya, ia melihat sebuah bangunan yang kuno terlihat megah dan amat tinggi di arah depan,"
"Syam, kenapa di hutan ini ada bangunan, ya?" Tanya Sabqi heran
"Mana?" tanya Syamsu heran, karena ia hanya bisa melihat sebuah pohon.
"Itu!" jawab Sabqi menunjukkan ke arah sebuah pohon yang Syamsu lihat. Sabqi pun terkejut karena tiba-tiba bangunan yang tadi ia lihat kini berubah menjadi sebuah pohon yang besar.
"Kenapa jadi nggak ada? Tadi ada kok, di sana!" ujar Sabqi heran.
"Ah ... mungkin kamu hanya halu saja, sudah ayo kita lanjut cari kayu bakarnya," balas Syamsu diikuti anggukan Sabqi.
Saat akan melangkah pergi tiba-tiba sebuah ular melingkar di kaki Syamsu. Sontak ia terkejut.
"Aa ... tolong!" teriak Syamsu.
Sabqi ikut terkejut melihat sebuah ular yang besar melingkar di kedua kaki Syamsu. Ia langsung berusaha menolong Syamsu. Namun, ular itu tetap tidak pergi.
"Qi, coba pakai pisau yang kamu bawa tadi," ujar Syamsu. Kebetulan Sabqi membawa sebuah pisau.
"Tapi, nanti ular ini bisa mati," balas Sabqi.
"Nggak ada cara lain, kalau nggak pakai itu nanti aku yang akan tewas,"
Sabqi dilema, ia bingung apakah harus menuruti perintah Syamsu atau kata hatinya. Hatinya berkata untuk tidak membunuh ular itu. Karena, sebelumnya pun Ibunya pernah melarang untuk jangan membunuh sebuah ular di hutan karena jika ada yang membunuh ular tersebut maka orang yang membunuhnya akan tewas. Bisa saja ular itu adalah jelmaan Jin.
"Ayo Sabqi, tunggu apa lagi?" ujar Syamsu.
Tanpa pikir panjang dan tak peduli dengan Firasatnya, Sabqi langsung saja menuruti perintah Syamsu, karena kasihan melihat Syamsu yang kesakitan. Ia langsung membunuh ular itu, sehingga ular itu tergeletak. Tiba-tiba ular itu berubah menjadi seorang manusia yang berpakaian aneh juga bersisik dengan berlumuran darah.
Sabqi semakin tegang dan merasa menyesal karena dirinya menuruti perintah Syamsu. Ternyata firasatnya benar bahwa ular itu adalah jelmaan Jin.
"Syam, apakah dia itu Jelmaan Jin?" tanya Sabqi gemetar dengan nafas yang tak beraturan. Syamsu tak menjawab, ia hanya terdiam.
"Bagaimana ini, Syam? Bagaimana kalau aku kenapa-napa? Ini semua gara-gara kamu, kalau saja kamu tidak menyuruhku untuk membunuhnya," teriak Sabqi cemas menggoyangkan tubuh Syamsu karena hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Sabqi.
"Ya, sudah sebaiknya kita kabur saja sebelum para jin-jin lainnya datang dan mengetahui bahwa kamu sudah membunuhnya," ajak Syamsu panik. Sabqi yang panik ikut kabur dengan Syamsu dan berlari sekencang Mungkin.
Di tengah-tengah ketika mereka berlari menjauh terdengar suara berteriak. "Siapa yang telah membunuh putraku ... " ujar seseorang entah siapa yang tak terlihat keberadaannya.
Sabqi sudah tahu pasti itu adalah Jin, ternyata kerjaan Jin memang benar adanya di hutan ini. Tiba-tiba datanglah seorang pria yang memakai pakaian kuno kerajaan dan juga sebuah mahkota ular dengan segerombolan pengawalnya. Sabqi semakin panik dan cemas. "Syamsu, bagaimana ini?" tanya Sabqi panik. Namun, ternyata Syamsu tiba-tiba hilang, tadinya Syamsu berada di sebelah Sabqi.
"Syamsu, kamu ke mana?" teriak Sabqi berusaha kabur dan sembunyi dari raja jin. Napasnya mulai tak karuan jantungnya berdegup begitu kencang.
"Di mana kau pembunuh?" teriak Sang Raja.
Deg!
Jantung Sabqi berdetak tak karuan, ia semakin panik, karena kini sang raja jin berada tepat di belakangnya. Sabqi berusaha menjauh dan berlari, tetapi nihil, karena sang raja cerdik, ia berhasil menangkap Sabqi.
"Tunggu!" ucap Raja Jin menghentikan Sabqi yang hendak pergi. Melihat tangan Sabqi yang berlumuran darah. Raja Jin berteriak marah dan langsung mengetahui bahwa Sabqilah yang telah membunuh putranya.
"Dasar manusia pembunuh, kau telah membunuh putraku," bentak Raja Jin marah.
__ADS_1
"A ... aku tidak melakukannya," jawab Sabqi gugup.
"Aa ... " teriak Raja Jin menyerang Sabqi dengan kekuatannya hingga Sabqi terjatuh.
"Tolong maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja. Karena putramu telah menyerang temanku. Jika saja putramu tidak melakukan itu, mungkin aku tidak akan terpaksa menyakitinya,"
"Kamu akan menerima balasannya," ujar Raja Jin menyerang Sabqi dengan seluruh kekuatannya penuh amarah hingga Sabqi tak berdaya.
"Aa ... sakit, tolong!" pekik Sabqi sembari memegang dadanya.
"Rasakan itu!" ujar Raja puas melihat Sabqi yang tergeletak lemah tak berdaya.
Uhu! uhu!
Sabqi terbatuk mengeluarkan darah, mulutnya bercucuran darah, ia tak berdaya, ingin bangun pun tak bisa. Setelah terjadi penyerangan raja pada Sabqi, Syamsu baru muncul.
"Ka ... kamu ke mana sa ... saja?" lirih Sabqi terbata-bata.
"Ya ampun, Kamu berlumuran darah," tungkas Syamsu.
"To ... tolong, Syam, ambilkan botol kecil yang ada di dalam tas aku," pinta Sabqi.
"Ini, ya?" tanya Syamsu mengambil sebuah botol kecil yang berisi air ramuan. Air itu adalah ramuan yang diberikan oleh Bu Ijem agar Sabqi menjadi kuat.
Syamsu akan memberikan botol air ramuan itu. Namun, Sabqi tak bisa menggapainya karena tangannya begitu lemah.
"Ayo ambil!" ujar Syamsu.
"To ... tolong bantu aku meminum air itu," lirih Sabqi dengan nafas yang tak karuan, tangannya memegang dadanya yang sakit.
"Manja banget, ambil sendirilah," balas Syamsu.
Sabqi terkejut karena tiba-tiba sikap Syamsu berubah, "Kenapa Syam, ayo cepat tolong aku, tolong selamatkan aku,"
"Untuk apa aku menyelamatkan kamu, tujuanku ke sini itu supaya aku bisa menyingkirkan kamu," ketus Syamsu sembari tersenyum sinis.
"S ... Syam, tolong jangan bercanda, cepatlah," pinta Sabqi.
"Siapa yang bercanda? Ha ha ha,"
"Argh ... " pekik Sabqi, "Aku nggak menyangka, ternyata kamu penghianat, aku kira selama ini kamu adalah sahabat aku," ucap Sabqi.
"Sahabat? Jangan harap kalau aku akan bersahabat dengan orang bodoh seperti kamu!" ledek Syamsu.
"Bodo amat!" ujar Syamsu tertawa jahat sembari pergi meninggalkan Sabqi yang terbaring lemah tak berdaya.
~ TBC ~
Terimakasih telah berkunjung jangan lupa vote, komen dan favorit semoga kalian suka dengan ceritanya ☺️🤎🤍
Secroll terus
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Iya terus
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selesai
.
.
.
Jangan kaget yah :v
__ADS_1
~ salam rebahan dari Minki ~