Enigma Setra By Syakiramiyuzi

Enigma Setra By Syakiramiyuzi
BAB 5 : SAMPAI TEMPAT TUJUAN


__ADS_3

  Disclaimer ⚠️


     Terdapat adegan yang tidak untuk ditiru tolong bijak dalam menyikapi hal tersebut. Dilarang keras meniru, mencopy dan juga plagiat !!


      ~ Selamat membaca dan enjoy ~


Mereka sampai di desa Setra Sari tepat pukul 18.00. Di sana mereka kurang akrab dengan warga-warga. Dikarenakan, warga di sana enggan pergi keluar semenjak rumor itu merajalela di Desa Setra Asih. Beruntung mereka mengenal kepala desa, mereka pergi ke tempat kepala desa dan kepala desa pun menyambut mereka dengan baik, bahkan ia mencarikan tempat tinggal.


Kepala desa memutuskan untuk memberikan kunci rumah yang lumayan besar dan cukup untuk mereka tinggal dengan cacatan tidak boleh memasuki wilayah di dekat rumah tersebut. Ia pun menyuruh salah satu asisten rumah tangganya untuk menemani Shabira dan teman-temannya selama KKN di rumah itu. Dikarenakan rumah itu jaraknya sangat dekat dengan hutan terlarang. Hanya beberapa menit dari rumah kepala desa, mereka pun sampai di tempat itu. Mereka menyewa rumah itu selama mereka kuliah di sana.


"Rumahnya bagus," puji Himeka.


"Iya," balas Safaniya.


"Saya senang jika kalian menyukai rumahnya, kalau begitu selamat istirahat, saya pergi dulu, ya," pamit kepala desa.


"Mari masuk," ucap Bu Inah, asisten rumah tangga yang disuruh oleh Kepala Desa.


"Iya, Bi," jawab Shabira.


Sabhira melihat ke sekeliling rumah. Pemandangan malam hari di sana begitu indah dan suasananya tidak asing bagi Sabhira. Shabira dan teman-temannya merasa beruntung karena mendapatkan rumah yang begitu besar dan nyaman. Untuk tidur, mereka memilih kamarnya masing-masing, laki-laki dibagi menjadi dua kelompok, Ruzain dan Wahnan di lantai atas sedangkan Ifranz berada di lantai bawah.


Sabhira memilih lantai dua di mana kamar tersebut dulunya kamar Sabqi. Dulu kamar Sabqi tak semewah ini, tetapi sekarang sudah direnovasi. Sedangkan Himeka dan Humeera di lantai bawah. Mereka melakukan aktivitas masing-masing seperti membersihkan diri dan juga istirahat. Sedangkan Shabira mengelilingi rumah kontrakan, di lantai bawah Shabira menemukan sebuah ruangan perpustakaan


Namun, ruangan itu gelap dan buku-buku yang ada di sana pun sangat tak terawat banyak yang berdebu.


Perlahan Shabira masuk ke dalam perpustakaan gelap itu dan menyalakan lampu, derap kakinya terdengar begitu kencang, dikarenakan di sana suasananya amat sepi. Ia melihat buku-buku dan menemukan salah satu buku yang menurutnya menarik. Bukunya berjudul “Forbidden Forest”. Baru saja, ia membuka lembaran pertama, ia merasakan ada suatu bayangan yang melintas pada salah satu jendela di perpustakaan itu, anehnya jendela itu pun terbuka begitu saja dan anginnya begitu kencang. Lantas, ia penasaran dan berlari ke arah jendela itu lalu menutup jendela itu.


"Sabhira, sedang apa kamu di sini sendirian?" panggil Ifranz.


Sabhira terkejut dan langsung menoleh ke arah Ifranz.


"Tadi jendelanya tiba-tiba terbuka, jadi aku menutupnya," jawab Sabhira.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pergi saja yuk, hati-hati, jangan pergi sendirian," ucap Ifranz khawatir, karena ia dipesankan oleh Omanya Sabhira untuk menjaga Sabhira.


***


Di sisi lain, Himeka melihat sebuah tulisan berwarna merah seperti darah di kaca kamar mandinya yang bertuliskan, 'Tolong Aku!' Himeka berteriak histeris berlari menemui Humeera ,Wahnan, Ruzain dan Safaniya di ruang tengah yang sedang membahas penelitian. Mereka heran melihat Himeka yang berlari dengan nafas yang tidak beraturan, raut wajah Himeka begitu pucat dan berkeringat.


“Himeka kamu kenapa?“ tanya Safaniya cemas.


“T ... tadi aku melihat ada tulisan warna merah darah yang bertuliskan (Tolong Aku!) di kaca kamar mandiku," jawab Himeka sambil mengos-ngoskan.


“Tenanglah, kamu harus baca do'a,“ saran Safaniya. "Nih, minum dulu," titah Safaniya memberikan air minum yang langsung diteguk habis oleh Himeka.


Ruzain dan Wahnan pergi ke kamar Himeka untuk memeriksa apakah yang dikatakan oleh Himeka itu benar atau tidak. Dan ternyata tidak ada sama sekali tulisan itu. Kemudian mereka kembali lagi menemui Himeka.


"Tidak ada tulisan apapun di kaca kamar mandimu," ujar Ruzain.


"Tapi .... "


"Mungkin karena kamu terbayang-bayang akan hantu-hantu, jadinya kamu nggak fokus," timpal Wahnan.


"Kalau benaran, pasti seram banget, jadi merinding!" ucap Humeera bergidik ketakutan.


Terdengar suara aneh yang memanggil nama Humeera, suara itu terdengar seperti dalam film horor, membuat buluk kuduk Humeera merinding.


"Dar!" ujar Sabhira memegang pundak Humeera hingga membuat jantungnya berdegup kencang.


"Ih, Sabhira, kaget tahu," cetus Humeera memanyunkan bibirnya kesal serta melipat kedua tangannya di dada.


Semua orang tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Humeera.


"Maaf!" ucap Sabhira memegang kedua telinganya.


"Iya," jawab Humeera. "Awas saja kalau kamu menakut-nakuti lagi!" ancam Humeera.

__ADS_1


"Iya, siap cantik!" ledek Sabhira sembari tertawa.


"Kalau begitu kita istirahat, yuk. Lagian sudah malam, kita kan harus siap-siap untuk berangkat ke kampus besok," ujar Himeka.


Mereka pun masing-masing istirahat di kamar masing-masing. Sabhira tertidur begitu nyenyak dengan memimpikan seorang laki-laki yang memakai pakaian serba putih, wajahnya berparas tampan dan gagah. Dalam mimpi itu Sabhira begitu terpukau dengan laki-laki itu sehingga membuatnya terjatuh dan lututnya terluka. Laki-laki itu menghampiri dan mengobati lukanya.


"Makanya hati-hati kalau jalan," omel laki-laki itu.


"Terima kasih, Kak," ucap Sabhira tiba-tiba mengucap kata Kak.


"Sama-sama, Adikku," balas laki-laki itu tersenyum menatap Sabhira.


Sabhira begitu terharu karena laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan Adik. "Apakah kamu benar Kakakku? tanya Sabhira diikuti anggukan laki-laki itu. Suasana dalam mimpi itu begitu haru, Sabhira tak bisa menahan air matanya yang mulai terjatuh, ia begitu bahagia karena bisa merasakan sosok seorang kakak. Karena selama ini ia sangat merindukan seorang kakak laki-lakinya. Namun, tiba-tiba, ada sesosok laki-laki yang memakai jubah hitam dengan wajahnya yang begitu seram. Perlahan sosok jubah hitam itu menarik paksa laki-laki yang menjadi sosok Sang Kakak di mata Sabhira.


Shabira terkejut karena sosok Si jubah hitam mendorong Sosok Kakaknya itu ke dalam sebuah jurang yang amat dalam. "Tolong ... " teriak laki-laki itu.


"Tidak, Kakak ... " teriak Sabhira terbangun dari tidurnya. Ia berkeringat dingin bercucuran, napasnya tak beraturan dan detak jantungnya pun tak beraturan. Hatinya merasa begitu gelisah. Ia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam dan menenangkan diri dengan mengambil air minum di dapur. Di dapur ketika Sabhira minum, hatinya memikirkan sosok laki-laki itu, rasanya tadi bukanlah mimpi melainkan nyata bagi Sabhira.


'Apa itu kembaran aku yang hilang?' ucap Sabhira dalam hatinya bertanya-tanya sambil melamun.


"Hey!" panggil Ifranz menepuk pundak Sabhira hingga membuat Sabhira tersadar dari lamunannya.


"Ngapain melamun di sini?" tanya Ifranz lagi.


"Aku ke sini cuma minum air," jawab Sabhira.


"Jangan melamun, sana tidur sudah malam, loh," titah Ifranz.


"Iya, aku tidur," balas Sabhira pergi kembali ke kamarnya dan beristirahat.


Terimakasih sudah membaca dan berkunjung ke cerita ini semoga kalian suka jangan lupa Favoritkan, vote dan komen ya ☺️🧡💛


__ADS_1


Salam Rebahan dari Minki


TBC


__ADS_2