
!! PERINGATAN, KONTEN SENSITIF !!
Tiga hari telah berlalu semenjak kejadian membingungkan pada Dungeon dihari itu, Pemuda berambut ungu atau lebih dikenal sebagai Wilbert si Petualang, tidak lagi mengambil Quest untuk mencari barang-barang pada sebuah Dungeon.
Bahkan Quest kecil tidak lagi ia ambil untuk menutupi kesenggangan hari-hari, sehingga orang-orang yang terbiasa dengan aktivitas dari Wilbert mulai merasa sebuah keanehan dan menaruh rasa curiga, sekaligus khawatir mengapa Wilbert menjadi seperti itu?.
Namun tidak ada satupun dari mereka yang mendekati si Jenius Wilbert, karena merasa Wilbert sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk diajak berbicara. Wajar saja, dia sudah merasakan lebih dari dua kali kematian menyakitkan semenjak dari Dungeon.
Dia, Wilbert, hanya duduk diam dengan ekspresi bingung mengapa dia tetap hidup? Bukankah dia harusnya mati setelah dimakan hidup-hidup oleh Kadal itu?.
"Dan bukankah aku ditemukan pingsan dalam Dungeon itu?"
"Sepertinya semua itu hanyalah mimpi" ucapnya untuk meyakinkan dirinya bahwa semua kejadian itu hanyalah mimpi.
'Manusia mana yang bisa hidup kembali dari kematian?' nyatanya, tidak ada satupun kasus yang menyatakan seorang manusia bisa hidup kembali dari kematian.
Setelah semua pernyataan yang ia gunakan untuk meyakinkan diri, pada akhirnya dia menjadi yakin bahwa semuanya hanyalah mimpi atau sugesti yang keluar akibat kelelahan.
"Aku terlalu banyak berpikir, ayolah.. Kerja-kerja!"
Namun, dia akhirnya goyah. Tidak dapat mempercayai semua itu hanyalah mimpi. Bagaimana bisa sebuah mimpi memberikan rasa sakit yang teramat dalam pada bagian tubuhnya? Bukankah itu aneh?, lalu bukankah aneh juga seorang manusia masih bisa hidup setelah semua kejadian itu?.
Untuk saat ini dia masih terombang-ambing dalam dua sisi itu. Menggoyahkan mentalnya yang rapuh, hingga memberi sugesti buruk yang berdampak pada kondisi psikologis.
"Sial.."
Dia berdiri, beranjak dari tempat ia duduk sebelumnya. Bersama dengan armor raksasa dan pedang besar yang melengkung hingga menutupi bagian belakang tubuhnya, pergi dari tempat itu dengan perasaan bingung.
Jalan demi jalan dia lewati, tetapi tidak ada satupun tanda yang menjelaskan kemana ia ingin pergi? Bahkan tujuannya hidup selama ini masih belum diberitahukan? Tujuannya selanjutnya? Tidak tidak, pikiran Wilbert terlalu naif dan pragmatis untuk semua itu.
Meski berparas Dewasa dan terlihat berwibawa, Wilbert ternyata memiliki sifat yang naif, sehingga tidak jarang ia dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan. Terutama bagi manusia licik, bertemu Pria kuat yang bisa dimanfaatkan itu seperti surga, bukan?.
Wilbert akhirnya berhenti pada sebuah jalanan kosong, wajah datarnya kembali memancarkan semangat membara untuk melakukan sesuatu. Dan hey, dia ternyata hanya memakan sebuah bekal yang sama seperti yang dia bawa ketika berada dalam Dungeon, pengendalian ekspresinya tidak konsisten. Benar-benar pemuda yang aneh.
Dia duduk dan memakan bekalnya untuk beberapa menit..
"Aku akan memastikan ini semua sendirian" ucapnya dengan mulut penuh.
Setelah beberapa saat menghabisi bekal yang ia bawa, Wilbert kembali berdiri dan berjalan beberapa meter dari pijakan sebelumnya. Apa yang ingin ia lakukan? Memastikan? Apa yang ia maksud dengan itu?.
Tiba lah dia dalam sebuah Bar yang menyediakan Quest untuk diambil, di dalamnya hanya ada seorang kakek tua dan dua orang Penjelajah lain tengah duduk menikmati hasil dari barang yang mereka jual.
"Anne, lihatlah ini. Bagus seperti baru!"
"Dengar ya, botak. Kau sudah mengatakan itu untuk kesekian kalinya"
"Bisa tidak diam untuk beberapa saa-"
"Hiiihh...!!"
Suara dari Wanita itu terputus ketika melihat Wilbert masuk ke dalam bar, bayangkan saja seorang Pria besar tiba-tiba berada disamping mu, 'mengerikan' merupakan gambaran yang muncul pada benak setiap orang, tak terkecuali Wanita ini.
"Kakek, aku minta Quest tingkat Perak"
"Baik.."
"Oh.. Anda Wilbert si Jenius, ya? Tolong perlihatkan Kalung Tingkat Perak Anda, karena ini akan segera ditingkatkan menjadi Emas"
"Bila Anda tidak keberatan dengan itu.."
"Ah.. tidak perlu, terimakasih"
Kedua orang itu, Anne dan Steven, tingkat Perak, memandangi wajah Wilbert dengan perasaan kagum sekaligus terkejut. "Woah menolak kenaikkan tingkat Emas? Hebat!" pikir mereka.
Wilbert membalas pandangan mereka, tidak ada salahnya juga membalas pandang, karena mungkin mereka atau dia sendiri memiliki keperluan antara satu dan lainnya. Dan benar saja, Wilbert langsung mengajak mereka dalam "Party" nya untuk Quest kali ini ketika melihat kapak dari Pemuda Botak itu.
Semua orang, terkecuali Wilbert, tidak akan berpikiran mengajak orang asing seperti mereka. Tapi, bagi Wilbert tidak ada salahnya mengajak orang seperti mereka dalam penjarahan kali ini, karena mungkin mereka bisa menjalin hubungan pertemanan.
"A-Anda Wilbert, ya!"
"S-S-Senang sekali bisa diajak menjarah bersama Anda, tapi apakah Anda tidak masalah bersama kami berdua?"
"K-Kami berdua adalah Bot- maksudku, Steven dan Anne"
"Diamlah, botak, Tuan Wilbert dengan senang hati mengajak kita. Jangan dipertanyakan seperti itu!"
__ADS_1
"Tidak perlu formal begitu, kita ini seumuran"
Tentu saja orang-orang akan grogi jika diajak secara blak-blakan seperti itu oleh orang yang tidak mereka kenal, sangat wajar apabila mereka menggunakan kata-kata 'Apa Anda tidak masalah?' untuk menutupi rasa Grogi dan meyakinkan mereka satu kali lagi bahwa mereka benar-benar diajak.
Wilbert membentuk Ekspresi bingung, tidak mengetahui apa mereka menerima atau menolak ajakannya ini, hingga akhirnya keduanya menerima ajakan Wilbert untuk pergi menjarah bersama-sama layaknya sebuah Tim.
Party berisi 3 Tingkat Perak. Satu Swordsman, Satu Heavy, dan Satu Buffer telah terbentuk.
Quest Tingkat Perak:
[ Menghabisi Para Ogre ]
---
"Jadi inikah tempatnya?"
Mereka sampai pada sebuah Goa yang seperti Goa pada umumnya, namun Goa ini dipastikan sebagai tempat dari Dungeon itu. Jadi, diharuskan untuk berhati-hati.
Tidak ada yang mengetahui apa yang menunggu di dalam Goa itu selain Ogre. Karena tidak jarang sebuah Dungeon berisikan Monster-monster pengganggu lain.
Mereka semua menapaki kaki mereka dalam Goa dengan kewaspadaan yang tinggi. Setelah beberapa saat berjalan dan berjalan, makin dalam dan makin lembab. Mereka semua akhirnya sampai pada sebuah pintu ruangan.
"Ini ruangan Dungeon nya, kita semua harus berhati-hati"
"Pastinya disini tidak hanya Ogre yang menjadi musuh kita"
Wilbert sebagai pemimpin dari Party itu, bersiap-siap dengan pedang besarnya dan mendobrak pintu itu menggunakan tendangannya.
7 Ogre, tidak, 8 Ogre dan 1 Ice Golem mendekati ketiganya dengan larian yang menggetarkan. Namun tidak satupun dari mereka gentar untuk maju, terutama Pemuda bernama Steven itu, dia menggunakan kapaknya untuk memotong kaki para Ogre dalam waktu yang singkat.
Akibatnya, 3 Ogre terjatuh dan membentur tanah hingga mematahkan rahangnya. Tidak sampai disitu saja, Steven juga diberi 'buff' oleh Anne untuk mengeluarkan sebuah Bola Api Besar guna memusnahkan 3 Ogre itu dalam sekali serangan.
Ice Golem yang sebelumnya berada jauh dari para Ogre, kini mendekati Steven yang masih disibukan oleh Ogre lain. Namun, Ice Golem itu disingkirkan Wilbert dengan mudah menggunakan Pedang Besarnya.
"Lumayan juga kau, botak"
"Anda juga hebat seperti yang dikatakan, Wilbert"
Keduanya membentuk senyuman dan berlari maju mengalahkan para Ogre yang gila itu, sayatan demi sayatan menghancurkan tubuh para Ogre. Tidak sedikit pula darah yang keluar dari dalam tubuh mereka.
"Enchant Magic: Glamour Boost"
Bermandikan darah di tengah-tengah keasikan, begitulah pandangan Anne terhadap mereka berdua. Satu, dua, tiga? tidak-tidak, kesembilan monster telah menjadi mayat saat itu juga.
Tetapi, kotak harta tidak kunjung keluar. Apakah itu berarti..!
Tidak ada yang keluar? Apakah ini berarti Dungeonnya tidak mengeluarkan hadiah? Tidak-tidak, itu mustahil..
"Jangan jangan.."
Suara lonceng berbunyi keras, diiringi suara aneh lain yang mengisi kesunyian ruangan.
Wilbert segera menyadari hal yang tidak beres dalam ruanga ini, dan meminta Steven, juga Anne untuk tetap diam ditempat.
Seorang Veteran telah berbicara, mereka berdua sepatutnya mengikuti apa yang dikatakan Wilbert untuk tidak bergerak. Lantas mereka memilih untuk memercayai Wilbert dengan tidak bergerak.
"W-Wilbert, ada apa?"
"Jika kotaknya tak kunjung keluar, maka kita keluar saja. Kita juga akan dapat uang dari ini.."
"Seperti yang dikatakan Steven, lebih baik kita keluar saja. Tolong jangan membuatku takut.."
"Aku tahu itu, tapi kita saat ini tidak boleh bergerak.."
"Suara ini.. adalah pertanda dari kedatangan Goblin Tribe"
Benar saja seperti yang dikatakan Wilbert, kelompok Goblin dengan topeng mendatangi mereka. Tidak hanya satu-dua Goblin saja, melainkan puluhan Goblin yang langsung memenuhi ruangan.
"Yang benar saja.."
"Kami tidak pernah melawan yang seperti ini"
"Yah, itu wajar.. karena mereka adalah lawan di Dungeon Tingkat Emas"
"T-Tingkat Emas?!"
__ADS_1
Bingung dan takut, begitulah kondisi mental mereka berdua. Bagaimanapun, rasanya mustahil untuk segerombolan makhluk yang berasal pada Dungeon Tingkat Emas, berada pada Tingkat Perak tanpa campur tangan seseorang.
Jika benar ada yang mengirim mereka, maka dia itu siapa? Apa tujuannya? Tapi, tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Musuh sudah di depan mata.
Berdasarkan pengalaman dari Wilbert, Goblin Tribe adalah suku Goblin yang buta, namun mereka sangat brutal dan bergerak secara berkelompok, mereka mengandalkan indera pendengaran untuk mengetaui keberadaan mangsanya. Menilai dari aspek ini, satu Goblin Tribe setara dengan 10 Goblin biasa.
"Steven, Anne, tetaplah dibelakangku. Aku akan mengalihkan perhatian mereka, lalu kalian pergilah ke pintu keluar secara diam-diam." bisiknya
"T-Tapi.."
"Tidak apa, cepatlah."
"Aku terbiasa menangani hal seperti ini."
Setelah rencana itu dijalankan, Wilbert langsung berteriak kencang untuk memancing para Goblin dengan tujuan membunuh sebanyak-banyaknya dari mereka, lagipula, dia ada kemungkinan hidup karena kekuatan 'hidup kembali'-nya itu. Jadi ini semua sama seperti pertaruhan.
Sesuai dugaan.. para Goblin pergi mengincar Wilbert yang berteriak, dan siap menerkamnya dengan gigi tajam dan tombak kecil mereka.
Tetapi..
Tidak diketahui alasannya apa, Para Goblin justru mengincar dua orang dibelakang Wilbert yang sedang bergerak keluar menuju pintu ruangan.
Apakah Wilbert salah perhitungan? tidak.
Apakah mereka mengeluarkan suara bising? tidak.
"Lalu, kenapa mereka diincar?."
Keanehan.. semuanya makin aneh.. Goblin ini bergerak seolah-olah melakukan sebuah perintah.
[ "Hah..?" ]
Ekspresi wajah Wilbert berubah menjadi pucat setelah melihat ke belakang. Kengerian dan kebrutalan terjadi tepat di belakangnya. Bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang Manusia yang memiliki perasaan, tidak akan mengherankan bila dia berteriak ketakutan akan hal itu.. yang terjadi di belakangnya.
Mentalnya hancur, pikirannya campur aduk, keringatnya membludak keluar, wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Karena, yang terjadi di belakangnya adalah sesuatu yang lebih menyeramkan daripada kematian..
Steven, dia sekarat. Organ dalamnya dimakan hidup-hidup dan matanya dibuat buta. Teriakan kesakitan keluar terus-menerus dari mulutnya yang dipenuhi darah. Bahkan Alat Kelaminnya dipotong kecil-kecil oleh para Goblin.
"Tolong aku.."
Namun, Steven bukanlah satu-satunya yang sekarat disitu. Anne, dia ditelajangi dan dipaksa melakukan 'itu' dengan para Goblin secara bergantian, hingga organ-organnya dan mentalnya hancur-lebur, dirinya terlihat seperti mayat yang diam.
"Tolong bunuh aku.."
Kengerian ini terjadi tepat dihadapan Wilbert, dirinya hanya terdiam dan bertanya-tanya.
"Kenapa bukan aku yang diincar?."
"Apakah ini kesalahanku?."
"Kenapa aku mengajak mereka untuk pergi?."
"Andai saja aku tidak mengajak mereka."
"Kenapa aku melakukan ini semua?."
Kebrutalan itu semua menghantui kepala Wilbert hingga menghancurkan mentalnya secara total. Dia yang melihat semua kengerian dan kebrutalan itu, secara tidak sengaja memuntahkan banyak sekali makanan yang sebelumnya ia makan.
Lalu secara membabi-buta membunuh semua Goblin disana dengan pedang raksasa nya itu.
"MATI! MATI! MATI! MATI! MATI!."
"MATI KALIAN, PARA GOBLIN BRENGSEK!!!!."
Kepala Wilbert hancur, badannya hancur, semua kematian ia lewati. Mati, dan Mati, dan Mati lagi. Terus menerus Mati hingga akhirnya semua Goblin itu musnah.
Mayat keduanya, terlihat seperti ikan busuk yang digerogoti belatung. Ya, seperti itulah gambaran kengerian pada malam hari itu.
"Ternyata.. ini bukanlah mimpi."
"Steven, Anne, maafkan aku?."
"Kuharap kalian bisa memaafkan aku"
"Kuharap.. kita bisa berteman"
__ADS_1
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Wilbert merasakan perasaan yang gila ini menekan mentalnya hingga ke titik paling rendah. Kakinya tidak bisa berhenti gemetar, wajahnya memucat dan pikirannya dipenuhi kekacauan.
Apakah ini yang namanya.. Rasa Bersalah?