
Setelah kejadian dihari itu, yang menewaskan dua Penjelajah Tingkat Perak secara mengenaskan, reputasi dari Wilbert si Jenius muda menjadi sangat buruk.
Rumor-rumor liar beredar secara luas. Keberadaannya tidak diindahkan dalam masyarakat, bahkan orang-orang yang semula mengaguminya, sekarang menjadi benci terhadap semua hal yang ia lakukan.
Rumor ini telah menyebar hingga ke satu kota, sampai-sampai tidak ada yang tidak membenci Wilbert di dalam kota itu. Bahkan karena kebencian yang menggila itu, orang-orang dengan teganya menaruh harga buron pada kepalanya.
'Dia yang melakukan semua itu'
'Si Jenius muda ternyata gila'
'Tidak dapat dipercaya'
'Bocah seperti itu mati saja'
Banyak lagi celaan yang dilontarkan padanya, meski semua itu hanyalah rumor yang tidak berdasar pada fakta apapun.
Orang-orang menunjukkan seberapa busuk diri mereka itu, menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk konservatif yang tidak ingin mencaritahu fakta sebenarnya, iri dan dengki dilontarkan dengan kata-kata metafora seakan-akan mereka adalah makhluk yang tepat untuk menjustifikasi, dan bahkan menunjukkan bahwa mereka itu bermuka dua. Benar-benar busuk seperti hewan.
---
Beralih pada sebuah Bukit kecil dipinggir kota, tepatnya pada padang rumput yang berisikan rumput hijau dan kicauan burung dalam cakrawala pagi.
Wilbert duduk pada sebuah batu besar dengan kondisi fisik dan mental yang buruk, hanya bisa diam dan terus-terusan tertekan karena memikirkan kesalahannya itu berulang kali.
Tidak hanya sekali dua kali saja, melainkan puluhan kali ia dihantui perasaan bersalah dan bimbang ini. Tak jarang pula ia merintih seolah-olah kesakitan dalam pikirannya yang tidak tenang itu.
"Mengapa aku melakukan semua ini..?."
__ADS_1
"Maafkan aku, maafkan aku.."
Hari silih berganti dan cakrawala mengganti kulitnya beberapa kali selepas peristiwa itu terjadi. Empat, tidak, 5 hari telah berlalu setelah kejadian dalam Dungeon.
Pemuda besar itu terlihat sedikit menirus sekarang, matanya juga terlihat letih, dan kantung matanya menebal. Pemuda ini ternyata tidak mengisi perutnya maupun tidur untuk mengisi energinya, sedikitpun tidak.
Kondisi psikologisnya benar-benar hancur parah, tidak seperti Wilbert Victorio yang penuh semangat dan ambisi. Tujuan hidupnya yang semula hanya sebatas 'bersenang-senang' dan 'hidup untuk mencoba', saat ini telah hilang ditelan inti bumi. Hidup tanpa tujuan dan arah, begitulah nasib Wilbert saat ini.
Terombang-ambing dalam rasa bersalah yang dalam, rasanya cukup sulit untuk diobati dan dihilangkan.
Tidak bisa mati, dan harus menanggung semua penderitaan, tidaklah terbayangkan dan memungkinkan terutama untuk Pemuda berusia 16 Tahun yang masih tergolong labil. Sangat wajar apabila kondisi mentalnya hancur.
"Apa yang harus kulakukan?." ucapnya. Saat ini dia telah kehilangan semangat untuk hidup, dan bahkan tanpa tujuan untuk dicapai. Dia menganggap bahwa dirinya hanya akan membawa bencana bagi orang lain.
"Menyedihkan" adalah perumpaan yang tepat untuk menggambarkan seberapa gila kondisi Wilbert pada saat ini. Tidak memiliki tujuan maupun semangat untuk hidup, terpuruk, dan dianggap sampah bagi penduduk kota. Hey, teman, apa kau terbayangkan seberapa buruk kondisinya?.
Seorang Wanita yang berpakaian kasual, melayang dipikiran Wilbert ketika menatap angin dengan sedihnya, tersenyum dan memeluknya dengan hangat layaknya seorang Ibu.
Kehangatan menyelimuti tubuh Wilbert, menjatuhkan air mata nya yang penuh kesedihan dan rasa rindu akan sosok Ibu. Wajah itu.. Seperti Mendiang Ibunya yang telah lama wafat.
Sosok ibunya itu memberinya semangat untuk terus hidup, dan terus maju agar mendapat kebahagiaannya sendiri. Terus murung tidak akan menjadi hal baik untuk Wilbert.
[ "Wilbert ku sayang, cerialah, dan hiduplah dengan bahagia." ]
[ "Aku akan selalu berada disisi mu dalam keterpurukan." ]
Kata-kata itu menyentuh hati Wilbert yang terguncang. Memberinya semangat untuk kembali hidup dari keterpurukan yang menghantuinya.
__ADS_1
"Terimakasih, ibu." batinnya.
Dia berdiri dari batu besar itu, melemparkan segala pikiran buruk yang menghantuinya untuk tetap merasa bersalah, menetapkan tujuannya yang baru. Kini, hampir semua rasa bersalah itu telah hilang.
Dia bergerak seolah-olah telah dilahirkan kembali menjadi pribadi yang lebih baik, wajah depresinya berubah menjadi hangat. Mentalnya yang hancur menjadi terobati.
Meski telah 'terlahir' kembali, Wilbert tetap memiliki bekas luka dalam dirinya. Tetapi sisi baiknya, hal itu tidak menganggu Wilbert untuk terus hidup.
Senyumannya menghangatkan pagi hari yang indah itu, hentakan kakinya menjadi awal untuk lembaran baru. Ia saat ini, tidak merasa bimbang sedikitpun.
"Aku yang sebelumnya, hanya memikirkan sebuah hal praktis untuk hidup. Saat ini juga begitu, tetapi tidak sepenuhnya sama, karena tujuanku kali ini adalah mendapat dan mencari kebahagiaan itu sendiri."
"Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkannya."
"Hidupku adalah milikku, aku akan bahagia."
"Maju dan terus maju, begitulah kehidupan."
"Anne dan Steven, kuharap kalian mengerti.."
Langkahan kakinya melewati rerumputan rindang itu, armor besinya berdecit keras seakan-akan telah siap untuk melewati segala rintangan.
Tempat yang ia tuju adalah, kota Tribald, kota Adventurer terbesar yang berada jauh di barat.
Dia, Wilbert, akan mengawali semuanya disana!
Petualangan pun.. Dimulai!
__ADS_1