Fate : The Second Chance

Fate : The Second Chance
BAB 2


__ADS_3

Dia kembali


setelah sekian lama dilupakan


-Nesandra Widya-


***


"Nes... Nes... Nes..."


"E..h.. kenapa?" Nesa mengalihkan pandangannya ke Angel


"Kamu enggak papakah" tanya Angel


"Eng...gak papa kok, eh kita pulang aja yuk"


Nesa langsung berburu buru mengambil tasnya berlari keluar tanpa melihat orang yang lewat. Tidak sadar Nesa menabrak seseorang yang dihadapannya.


"Maaf... Maaf ..." Nesa mulai memandang keatas melihat orang yang ditabraknya.


"ngapain kamu disini" suara yang terdengar sangat familiar, Nesa memandang ke atas melihat orang tersebut. "Kak Nando... aku cuma refreshing sama teman temanku"


"Daripada kumpul dengan teman teman mendingan kamu siapkan dokumen untuk lamaran kerja, kamu sudah persiapkan belum"


"itu... sudah kok, tenang aja aku udah persiapkan semuanya dengan baik" Nesa pun keluar dengan cepat tanpa menatap Nando.


Dua orang dari jauh memperhatikan Nando dan Nesa. Mereka memanggil Nando, pandangan Nando yang awalnya memandang kepergian Nesa terahlikan menatap kedua orang tersebut


***


"Sudah dari tadi Di"


"Enggak terlalu lama, baru 5 menit yang lalu. Bagaimana hubunganmu dengan Nesa" Adi menatap mata Nando menunggu jawaban dari pria itu.


"yah begitulah, orangtuaku sama orangtua Nesa minta kami tunangan" jawab Nando dengan wajah yang lesu. "Kenapa enggak tunangan Nan, sudah lama juga hubungan kalian".

__ADS_1


"Kami berduakan pacaran karena kedua orangtua, kalau aja orangtuaku gak kenal orangtua Nesa mungkin enggak akan begini." Nando berkata sambal tertawa ringan.


"Bukannya kamu sama Karin juga sudah lama pacaran, kapan nikahnya, kalau belum mau nikah setidaknya tunangan dulu" mendengar pertanyaan Nando, Karin pun mengundurkan diri tempat situ.


"Kak Adi, Kak Nando aku pergi dulu, baru ingat ada yang harus aku urus" Karin pun meninggalkan meja dan pergi keluar dengan muka datar.


Bagaimana enggak datar mukanya, mereka pacaran 7 tahun, tapi belum ada rencana atau pembicaran pernikahan antara dia dan Adi.


***


Adi hanya bisa terdiam menatap kepergian Karin, dia memang belum bisa menjanjikan apapun untuk Karin.


"Aku dan Karinkan beda agama, jadi susah untuk mempertibangkan ini"


"Kalau memang kalian saling mencintai, pasti akan ada yang mengalah diantara kalian berdua" ucap Nando mendukung Adi.


"sebenarnya aku mau ikut agamanya Karin, tapi ayahnya Karin tidak setuju. Kedua orangtua Karin ingin mencari imam yang baik untuk Karin" muka Adi mulai lesu, mengingat pertemuannya dengan orang tua Karin.


***


"***, ibu ayah. Ini Kak Adi yang sering aku ceritakan"


"Paman.. Bibi.. apa kabar"


"Baik Tole... Karin sudah sering ceritain kamu sama kami, rupanya lebih tampan dari yang Karin ceritakan" canda Siti menggoda anaknya itu.


"ih kok ibu ngomong gitu sih, akukan jadi malu" bisik Karin pada ibunya.


"Saya dengar dari Karin kalau kamu agama Buddha" Tanya pak Joko kepada Adi.


"Bapak jangan langsung ngomong gitu, kita masuk dulu ngobrol sambil minum, mau minum apa Le?"


"Enggak usah repot repot bu, air putih aja" Siti dan Karin pun pergi kedapur menyiapkan minuman sekalian cemilan.


"Jadi apakah kamu akan serius dengan anak saya" Tanya ayah Karin pada Adi. "saya serius pak, saya juga bersedia mengikuti agama yang dianut Karin" jelas Adi untuk menyakinkan ayah Karin.

__ADS_1


"Begini loh dek Adi, bukannya saya gak suka sama kamu, tapi saya ingin Karin mempunyai imam yang mengenal agamanya dengan baik" ucap ayah Karin dengan tenang, tanpa ingin menyinggung Adi.


"Kalau itu memang keputusan Paman, saya terima, saya pamit dulu salam untuk bibi dan Karin. Saya pergi dulu" sebenarnya Adi sudah menduga hal ini akan terjadi.


Pergi tanpa memperjuangkan cintanya dihadapan mertua merupakan orang pengecut.


"loh Yah, Kak Adinya mana" Tanya Karin. "Tadi sudah pergi, ada urusan" jawab ayah Karin. Karin kecewa karena Adi lebih mendahulukan urusannya.


***


"Udalah Adi, jangan terlalu dipikirkan. Pokoknya kamu tetap berusaha dan gigih, siapa tahu ayahnya Karin akan luluh" kata kata Nando tersebut membuat Adi tersenyum.


Tak berapa lama kemudian teman teman alumni basketpun datang. Mereka pun memulai obrolan santai mereka, tiba tiba telepon berdering.


"Selamat siang pak, maaf mengganggu tetapi ada seorang perempuan yang berkata mengenal bapak dan ingin bertemu" Ucap Ferry kepada bosnya.


"Baiklah, saya akan kesana 30 menit lagi"


Teman teman yang lain menatap Nando dengan seksama. Baru saja mereka bertemu sebentar dan sekarang pun Nando harus kembali ke kantornya.


"Maaf teman teman, aku harus pergi ada urusan, nanti kita ketemu di acara reunian angkatan sekolah.


Nando pun berpamitan kepada temannya temannya, dan pergi mengendarai mobilnya menuju kantornya.


Setibanya dikantor, orang yang menunggunya sudah pergi. "Pak, Nona tersebut menitipkan surat ini untuk bapak"


To: Nando


Hy, apa kabar Ndo. Kamu baik baik aja'kan selama aku pergi, maaf sudah pergi tanpa kabar. Ndo, kamu mesti percaya bahwa selama 3 tahun ini aku selalu merindukan kamu, hati ini masih untukmu. Aku harap kita dapat seperti dulu. Kamu ingat'kan kalau kamu mau putuskan pertunanganmu, kita akan kembali bersama'kan? Aku tahu kamu masih marah sama aku, tapi aku minta kamu jangan marah sama aku karena sebentar lagi kita akan bertemu.


By : Anggi


***


Thanks untuk teman teman yang sudah mau mampir di ceritaku ini, jangan lupa vote dan komennya ya, Follow ig : sihalohovaneza

__ADS_1


__ADS_2