
Cinta itu datang tanpa aba-aba, datang seperti badai salju yang mampu membekukan hati.
***
Kehidupan adalah misteri yang diatur oleh Tuhan dengan alur yang sudah disiapkannya untuk setiap makhluk. Sebagai salah satu tokoh dalam cerita yang Tuhan ciptakan mereka lemah dalam menalar masa depannya. Seperti Clovis dan Zayeena yang buta terhadap masa depan karena cinta terlarang yang terbangun megah.
Gadis cantik dengan hijab panjang yang terulur menutupi dadanya tengah membagikan takjil di pinggir jalan dekat mesjid, ini hari ke delapan ia membagikan sedikit rezekinya pada pengguna jalan setelah hari pertama di bulan suci ini. Senyum yang ramah nan manis membuat seorang lelaki tertarik padanya.
"Saya mau takjilnya," gadis itu sontak melirik pada lelaki tersebut. Mata gadus bernama lengkap Zayena Aneisha itu bukan tertuju pada wajah tampannya, akan tetapi pada kalung salib yang menggantung pada leher jenjang laki-laki tersebut.
Sadar dengan tatapan Zayena, laki-laki itu segera menyembunyikan kalung salibnya ke dalam kaos. "Boleh saya minta takjilnya? Kok malah bengong," ujarnya.
"Ah, eum. Maaf, ini." Zayeena segera menyodorkan takjil pada laki-laki tersebut kemudian menunduk.
"Thanks." Lelaki itu melangkahkan kakinya menjauh, secara tidak sadar Zayena memandangi punggung lelaki berkalung salib tersebut.
Gadis bernama Diba Syakira yang merupakan sahabat Zayeena menghampiri, ia menyenggol lengan gadis itu sambil menggoda. Pasalnya ia menintip interaksi Zayeena dan laki-laki yang baru saja pergi itu. Percayalah, lelaki itu tidak benar-benar pergi. Ia sedang mengamati Zayena dari kejauhan.
'Cantik,' batin laki-laki ituitu sambil tersenyum menatap Zayena.
"Acie... cie... cie... Ganteng banget ya buk, kayak Cha Eun Woo."
"Cha eunwoo, cha eunwoo, dikurang-kurangin tuh kpop-annya. Setiap laki-laki kamu samain sama Cha eunwoo," ujar Zayeena sedikit kesal.
"Iya deh buk ustadzah, ga bakal kpop-an lagi deh."
"Btw, cowo yang tadi ganteng loh Zay," lanjut Diba sambil terkekeh.
Zayeena menggeleng pelan, tidak habis pikir pada Diba yang selalu memuji laki-laki tampan.
"Eh Zay, dia keknya spek bad boy deh. Kece banget ga sih? Pacar idaman ciwi-ciwi," ujar Diba dramatis membayangkan laki-laki tadi menjadi pacarnya.
"Istighfar Diba cantik, pacaran dalam islam itu dilarang."
Diba nyengir lebar menunjukan deretan gigi rapihnya.
"Sebentar lagi magrib, kita beresin aja lalu siap-siap ke mesjid nunggu waktu buka," ucap Zayeena.
__ADS_1
"Nanggung ini sedikit lagi," ujar Diba.
"Biar saya yang bagiin aja, kalian siap-siap saja untuk beribadah dan berbuka." Entah datang dari mana laki-laki tadi, kini ia sudah berdiri di depan Diba dan Zayeena.
Diba menyerahkan dus berisi beberapa takjil yang tersisa, dengan senang hati lelaki itu menerima dus tersebut. Zayeena melotot tajam pada sahabatnya ini, bagaimana bisa mereka merepotkan orang lain yang bahkan tidak diketahui namanya itu.
Lucu. Mata bulat dengan bulu mata lentik itu sangat lucu. Lelaki itu terkekeh gemas.
"Diba kamu ngapain sih," ujar Zayena. Gadis itu hendak mengambil kembali kotak dia tersebut.
"Kamu juga kenapa ketawa? Ada yang lucu hah?" ucap Zayena galak pada laki-laki tersebut.
"Jangan menolak pertolongan orang Zay," balas Diba diiringi cengiran yang selalu membuat Zayena kesal.
Gemas, sangat menggemaskan. Lelaki itu ingin sekali mencubit hidung kucing Zayena, gadis di depannya ini membuat dirinya penasaran. Berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini ia temui, mereka selalu menggodanya sejak pertama kali melihat mata dan wajah tampannya.
Dari kejauhan, ketiga sabahat pria berkalung salib itu mengamati interaksi ketiga mahluk Tuhan tersebut.
"Lihat tuh, temen lo. Lagi caper sama cewe," ujar lelaki bernama Damian Danuarta.
"Bukan temen lo juga bangsat!"
Yap, lelaki berkalung salib tersebut bernama Clovis Pranata dan ketiga lelaki yang kini sedang mengamatinya adalah sahabat-sahabatnya. Damian Danuarta, lelaki playboy dengan mata tegas yang selalu berhasil merayu cewek yang ia inginkan. Oliver Roderick, lelaki dingin dengan sorot mata elang yang mampu melemahkan lawannya. Ia juga anak seorang pengusaha terkenal di bumi pertiwi ini. Bukan hanya Oviler, namun semua sahabat Clovis adalah anak dari kalangan atas termasuk dirinya. Terakhir Sakuta, lelaki humoris dan lemah lembut dibanding sahabat-sahabatnya.
***
Sepulang tarawih, Diba duluan pulang karena sudah ditelpon oleh ibunya dan tidak mengikuti tadarus al-qur'an terlebih dahulu. Zayena terpaksa harus pulang sendiri, gadis itu berjalan menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai ini. Jalan gadis itu diiringi oleh dzikir serta sholawat yang ia lantunkan pelan dari mulut mungilnya.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekatnya.
"Ayok naik, saya anterin." Pengendara motor tersebut menawarka tumpangan pada Zayena.
"Terima kasih, rumah saya sudah dekat."
"Nggak papa, biar saya anter."
"Tidak, terima kasih mas."
__ADS_1
Laki-laki itu pun menuntun motornya membersamai langkah Zayena.
"Kita belum kenalan, nama saya Clovis Danuarta pewaris tunggal PT. Danuarta," ucapnya berharap Zayena mulai tertarik pada dirinya. Namun apa yang ia dapat? Zayena hanya diam dan terus berjalan, tidak mengeluarkan reaksi yang diharapkan oleh Clovis.
'Gadis ini sangat menantang,' batin Clovis.
Ia berdehem. "Nama kamu siapa?"
"Zayena." Singkat dapat dan jelas.
"Maaf, untuk apa anda terus mengikuti saya?"
"Saya hanya ingin mengantarkan bidadari, tidak baik wanita berjalan sendiri."
Zayena menghentikan langkah.
"Lebih tidak baik lagi perempuan dan lelaki yang bukan mahrom berjalan berdua seperti ini," ucap Zayena.
Clovis menghentikan langkahnya, ia pun menyetandarkan motor sport miliknya yang sejak tadi ia tuntu. "Oke, saya akan mengikutimu dari belakang menyisakan jarak yang cukup jauh."
Zayena bergeming tidak peduli.
Baru saja Clovis akan melanjutkan langkahnya, seorang pria paru baya menghampiri Zayena. Mereka terlihat sangat akrab, mungkin saja itu ayahnya. Pikir Clovis. Lelaki itu hanya melihatnya dari jauh tanpa berniat menghampiri.
Zayena dan pria tersebut memasuki pekarangan rumah bercat putih bersih, Clovis berharap Zayena membalikkan badannya dan melambaikan tangan padanya. Akan tetapi itu hanya harapan, karena Zayena tidak mungkin melakukan itu. Setidaknya Clovis mengetahui dimana alamat rumah Zayena.
***
Clovis melempar tubuhnya di sopa. Ia berbaring lelah. Ketiga temannya sontak menghampiri laki-laki itu, mereka mulai bertanya dan menggoda Clovis.
"Gimana-gimana?" tanya Sakuta penasaran.
"Gimana apanya?"
"Cewe tadi yang di depan mesjid."
Clovis bangkit. "Sangat menantang," jawabnya dengan seringai.
__ADS_1
"Jangan bilang lo mau jadiin dia mainan baru?" Kini Oliver si cowo dingin yang bertanya.
Clovis mengangkat bahunya. Dipikirannya sekarang hanya wajah Zayena, ia harus mendapatkan gadis itu dan menjadikannya milik Tuan Muda Clovis Pranata. Ia usah bosan bermain dengan wanita-wanita sexy di luar sana, ia ingin mencoba hal baru. Dan sekarang tujuannya Zayena.