Fatwa Cinta Sang Bidadari

Fatwa Cinta Sang Bidadari
Dia Gadisku!


__ADS_3

"Lo jangan deketin dia!" seru Clovis pada Oliver yang tersenyum miring menatapnya.


"Why?"


"Why? Why? Dia milik gua!"


Oliver tertawa mengejek. "Milik lo? Sejak kapan? Bahkan lo nggak pernah bilang suka Zayena," ucapnya.


Clovis terdiam. Ia akui, ia hanya mengklaim gadis itu sebagai miliknya tanpa dasar apapun yang membuatnya berhak berlaku seperti itu.


"Lo ga pantes milikin Zayena," tambah Oliver.


"Zayena gak bakal mau sama cowok yang udah nidurin banyak cewe."


"Lo bukan tipenya." Oliver memojokkan Clovis yang hanya diam.


"Dan lo," Oliver menunjuk laki-laki dihadapannya dengan telunjuk tepat di didalam wajah. "Kalo niat lo cuman mau jadiin Zayena ****** lo, mending lo pergi jauh-jauh! Sebelum lo gila karena Zayena ga mungkin mau jadi mainan lo, cewe suci kayak dia gak pantes sama lo."


Clovis mengepalkan tangan kuat disamping tubuhnya, ia menahan agar tidak menonjok Oliver di sini. Padahal tangannya sudah gatal ingin meninju si batu yang tiba-tiba menghanyutkannya ini. Dari kejauhan pula Zayena mematung setelah mendengarkan ucapan Oliver, tanpa sadar setitik air jauh dari matanya.


"Clovis sayang!" seru Arista yang baru saja keluar dari mobil merah yang terparkir di seberang sana. Wanita bertubuh sexy itu berlari ke arah Clovis dan Oliver, ia tidak lepas dari pandangan Zayena.


"Kamu kenapa ninggalin aku gitu aja sihh, cape tau aku nyari-nyari kamu." Arista memeluk Clovis dan bergelayut manja pada laki-laki itu yang tampak membuat muka, Clovis tidak senang dengan kehadiran Arita.


Mendengar pernyataan dari mulut laki-laki bernama Oliver saja sudah mampu membuat hatinya yang tidak tahu apa-apa ini terasa tertusuk panah, setelah itu ia harus melihat pemandangan ini. Zayena memegang dadanya yang sesak kemudian mengusap air matanya yang sudah menetes sejak tadi. Gadis itu merutuki dirinya yang terlihat bodoh.


Akhir-akhir ini hati Zayena merasakan sesuatu yang berbeda, ada gejolak aneh ketika melihat Clovis. Ada rasa kesepian saat lelaki itu menguntit kemana pun ia pergi, ada rasa senang yang hinggap ketika lelaki itu datang untu merecoki harinya, dan sekarang ada rasa baru lagi. Seperti rasa cemburu ketika melihat Clovis dirayu wanita lain, ada rasa sakit dan tidak percaya ketika mendengar ucapan Oliver.


"Zay, kamu kenapa sih. Kayak orang bodoh aja," ucap gadis itu, ia hendak pergi kembali memasuki rumahnya. Namun ia tersandung oleh dressnya, suara jatuhnya membuat Clovis, Oliver serta Arista.


Gadis itu berusaha untuk berdiri.


Clovis, Oliver serta Arista masih berdiri cengo. Kemudian Oliver pun melangkahkan kakinya begitu pun dengan Clovis, terlihat Clovis mendorong Arista menjauh darinya. Dengan langkah kaki panjangnya, Oliver mendahului laki-laki itu.


"Lo urusin aja ****** lo yang satu ini," ujar Oliver sambil menepuk bahu Clovis, jangan lupakan juga senyum miringnya.


"Sialan!"

__ADS_1


Clovis segera menyusul Oliver, ia tidak ingin laki-laki itu menyentuh gadis itu. "Zayena kamu tidak papa?" Clovis berjongkok di hadapan Zayena dengan tatapan khawatir, sedangkan Oliver mengulurkan tangannya hendak membantu gadis itu.


Arista hanya memperhatikan ketiga interaksi manusia tersebut dengan wajah ditekuk kesal.


"Saya tidak papa," ucap Zayena tanpa menoleh kearah dua cowok tampan di hadapannya. Sial, kakinya terasa ngilu. Gadis itu pun terhuyung kembali ke tanah.


"Zayena!" seru Oliver. Lelaki itu hendak membantu Zayena, namun ia terlihat ragu untuk menyentuh gadis itu.


"Kamu bilang tidak papa? Kaki kamu pasti tergelir!" Clovis tidak sabaran dan secara paksa menggendong gadis itu bridal style, Zayena meronta minta di turunkan. Bukan Clovis namanya yang tidak nekad.


Oliver menyunggingkan senyumnya. "Ternyata pemain akan selalu menang," gumamnya.


Dari kejauhan, Arista menghentakkan kakinya kesal. "Cewe sialan! Awas lo, jangan coba main-main sama gua!"


**


[Clovis]


Zay, kaki kamu masih sakit?


Kamu jangan terlalu banyak kegiatan dulu


Zayena jangan sampe ada bagian tubuh kamu yang sakit lagi ya


Zayena hanya membaca pesan dari Clovis tanpa ada niat untuk membalasnya.


"Chat dari siapa tuh? Mas Clovis? Aduhh yang diperhatiin ayang," ucap Diba dengan nada meledek. Bola mata Zayena berotasi, ia cape dengan Diba yang selalu menggodanya.


"Dib, tolong beliin thai tea yang di depan itu," perintah Zayena menghiraukan ucapan Diba tadi.


"Okey yang mulia." Diba bersikap hormat kemudian ngacir ke luar dari kamar Zayena, tidak berselang lama gadis itu sudah kembali lagi dengan nafas ngos-ngosan.


Zayena menatap Diba bingung. "Ada apa?"


"Di bawah ada dokter, kamu manggil dokter?"


"Nggak."

__ADS_1


"Kamu tanya disuruh siapa, ummah sama abi nggak mungkin manggil dokter," ucap Zayena.


Diba pun menemui dokter tersebut yang masih berada di luar.


"Bagaimana saya bisa masuk?" sambar dokter perempuan tersebut.


"Sebelumnya dokter disuruh siapa ya?"


"Ah itu, saya disuruh pak Clovis Pranata. Kebetulan saya salah satu dokter pribadi keluarganya," jawab dokter tersebut. Diba hanya menganggukan kepalanya mengerti, kemudian menyuruh dokter tersebut masuk untuk memeriksa Zayena.


**


Clovis tampak mondar-mandir sejak tadi bak setrikaan, pasalnya chat yang ia kirim hanya dibaca saja oleh Zayena. Damian, Sakuta dan Oliver sudah pusing melihat manusia itu.


"Duduk dulu lah, pusing gua liatnya." Damian berucap, pandangannya hancur gara-gara Clovis yang hanya mondar mandir gelisah.


Handphone digenggaman Clovis bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Laki-laki itu sangat antusias segera melihat pesan masuk tersebut, ah ternyata pesan yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang.


[Zayena]


Terima kasih sudah menyuruh dokter memeriksa kaki saya dan terima kasih juga untuk makanannya


Alis Clovis mengkerut bingung saat membaca kalimat terakhir. 'Terima kasih untuk makanan?' ia tidak mengirimkan makanan pada Zayena, mata lelaki itu kini tertuju pada Oliver yang kini meliriknya dengan wajah tanpa dosa.


"Apa?" tanya Oliver saat Clovis berjalan kearahnya.


"Lo yang ngirim makanan?" Clovis menyeret tubuh tinggi Oliver pada pojok ruangan hingga punggung lelaki itu terhentak pada tembok.


Sakuta dan Damian tidak mengerti apa yang akan Clovis dan Oliver ributkan, kedua manusia itu hanya bersama untuk menonton dia sahabatnya yang tengah berseteru.


"Iya, itu gua. Kenapa nggak seneng?"


"Lo jangan deketin gadis gua!"


Oliver tertawa. "Gadis lo? Atas dasar apa dia gadis lo? Kemarin udah gua bilang lo nggak pantes sama Zayena!"


Clovis mengarahkan tinjuannya, Oliver menutup matanya ia tidak akan menghindari tinjuan sahabatnya ini. Akan tetapi tinjuan Clovis bukan mengarah pada wajah Oliver, melainkan pada tembok di sampingnya. Laki-laki itu membuka matanya melihat wajah Clovis yang menahan amarah.

__ADS_1


"Lo pikir, lo pantes sama Zayena? Nggak anjing!" bisik Clovis kemudian melepaskan cengkramannya. Oliver hanya terkekeh geli kemudian membenarkan bajunya yang acak-acakan.


__ADS_2