Fatwa Cinta Sang Bidadari

Fatwa Cinta Sang Bidadari
Penguntit


__ADS_3

...Aku bukan wanita yang bisa kau dapatkan begitu saja,...


...percayalah usahamu akan sia-sia....


...-Zayena Aneisha...


Gemerlap bintang menghiasi langit malam, cahaya bulan bersinar menerangi gelap. Seorang laki-laki tampan dengan gelas di tangannya sedang duduk di teras balkon. Siapa lagi kalo bukan Clovis Pranata.


Wanita paru baya berjalan menghampirinya. "Tumben kamu nggak main keluar bareng temen-temenmu," ujar Sonya Pranata-bundanya.


Sontak Clovis menoleh, mata sayunya menatap sang Bunda. "Males, bun."


Sonya duduk di sebelah Clovis. "Males?


"Kamu kesambet apa? Atau salah makan? Biasanya jam segini lagi keluyuran di jalan, di club sampe lupa rumah.Pulang-pulang udah sempoyongan," lanjutnya.


"Bunda ga seneng liat anak tunggalnya ada di rumah?"


"Aneh aja," balasnya.


"Bunda juga tumben ada di rumah? Nggak kerja?" Clovis menatap wanita paru baya yang masih saja terlihat cantik.


"Pengen istirahat aja,“ balasnya. Sonya bangkit dari duduknya, " bunda mau tidur."


Clovis memegang tangan Sonya, mencegah langkah wanita itu. Kedua mata Clovis menatap sedu Sonya membuat wanita itu mengernyit bingung.


"Bunda di sini dulu, sebentar saja. Clovis kangen, pengen dipeluk bunda."


Sonya tersenyum seraya mengacak rambut Clovis gemas. "Kamu ini udah besar tapi masih aja manja kalo sama bunda."


"Clovis jarang banget menghabiskan waktu sama bunda," ujarnya.


Begitulah nasib Clovis yang terlahir di keluarga konglomerat, kedua orang tuanya hanya memprioritaskan pekerjaan sehingga ia kurang kasih sayang. Waktu kebersamaan mereka cukup terbatas.


**


"Hallo!" sapa.Clovis saat Zayena membuka agar rumah. Gadis itu nama memutar bola mata jengah melihat laki-laki itu berada di depan rumahnya.


Gadis itu menutup kembali pagar rumah kemudian melangkahkan kakinya menghirauoan Clovis. Sontak laki-laki itu mengejar Zayena dan mencekal tangan gadis itu.

__ADS_1


"Hei kamu mengabaikan saya?"


Clovis mendapat tepisan kasar dari gadis tersebut.


"Kamu jangan pegang-pegang tangan saya," sentak Zayena tidak suka.


Clovis mengerjapkan matanya. "Maaf, maaf." Lelaki itu Menyeringai, gadis ini benar-benar membuatnya semakin tertantang.


Laki-laki itu kembali mengimbangi langkah Zayena, membiarkan mobil sport mahalnya terparkir di pinggir jalan. "Kamu mau kemana? Saya anter, sekarang saya bawa mobil. Takutnya bidadari saya gamau naik motor," ucapnya berharap Zayena akan luluh seperti gadis lain yang jual mahal padanya. Mereka akan luluh ketika melihat dirinya mengendarai mobil mahal keluaran terbatas itu.


"Tidak, terima kasih," jawab Zayena.


Clovis menghembuskan nafasnya kasar. Laki-laki itu menendang kerikil di depannya kesal kemudian mengusap wajahnya.


Seraya berjalan, Zayena menggerutui laki-laki bernama Clovis itu. Ia sangat risih, orang yang baru saja ia temui itu selalu menguntitnya. Apa jangan-jangan ia seorang penguntit?


"Nak kamu ngapain ngumpet di situ?" tanya seorang bapak-bapak pada pemuda yang sedang berada di dekat pilar masjid. Terlihat sangat mencurigakan, pasalnya lelaki itu memakai kalung salib.


"Eh pak, saya mau cari toilet."


Bapak itu nampak mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian memberi tahu letak toilet. Zayena hanya bisa melihat punggung laki-laki itu sekilas, gadis mengernyit.


"Ah mungkin orang lain," Zayena menepis pikirannya. Lagi pula untuk apa lelaki itu berada di mesjid.Zayena bergegas masuk ke dalam mesjid untuk melaksanakan salat dzuhur. Ia pergi ke tempat wudhu terlebih dahulu, lantainya sangat licin hingga ia terpeleset. Zayena pasrah jika bokongnya akan menyentuh lantai yang basah, namun tubuhnya terasa ada yang menopang.


Gadis itu pun membuka matanya perlahan, ternyata laki-laki berkalung salib yang telah menahan tubuhnya. Ia segera pelepaskan diri sambil mendorong dada Clovis. Arghh, sangat canggung sekali. Zayena tampak begitu kikuk.


"Kamu nggak papa?"


"Kamu ngapain di sini?


Kata Clovis dan Zayena bersamaan.


Zayena merotasikan matanya. " Kamu ngapain di sini?" desisnya mengintimidasi laki-laki di depannya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling penjuru tempat wudhu.


"Ini tempat wudhu wanita."


"Hah? Kamu bercanda, kamu yang masuk tempat cowo." Clovis terkekeh.


"Lihat tuh!" Zayena menunjuk papan bertuliskan tempat wudhu wanita. Mata Clovis pun mengikuti kemana arah telunjuk gadis itu, sontak pupil matanya melebar.

__ADS_1


"Sana pergi!" usir Zayena.


"Iya, iya. Galak amat jadi cewe," ucapnya bergegas pergi.


Sebelum punggung laki-laki itu lenyap, Zayena membalikkan tubuhnya. "Terima kasih," ucapnya samar-samar masih terdengar di telinga Clovis.


Clovis tersenyum simpul dan tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh pada gadis itu. Zayena mencak-mencak, ucapan Terima kasihnya diabaikan begitu saja. Ia menyumpah nyerapahi Clovis.


Tiba-tiba handphone Clovis berdering, ia pun segera mengambil handphone nya yang berada di saku jaket. Terpampang nama Sakuta di layar ponselnya, ia menggeser tombol hijau kemudian menempelkan ponselnya di telinga.


"Woy bangsat lo di mana?" Suara Sakuta di seberang sana sangat melengking memasuki gendang telinga, Clovis sontak menjauhkan ponselnya.


"Kita-kita udah nungguin lo dari tadi," lanjut Sakuta.


"Gua nggak jadi ke sana, kalian enjoy-enjoy aja tanpa gua."


"Goblok lo, kenapa ga bilang dari tadi, nyet."


"Lo di mana anjing!" Itu bukan suara Sakuta melainkan Oliver. Laki-laki itu tampak tidak sabaran apalagi ditengah panas tengah hari seperti ini mereka menunggu Clovis yang tidak kunjung datang. Oliver sangat benci dengan orang yang tidak menepati janji.


"Biasalah," balas Clovis santai kemudian mematikan sambungan telponnya secara sepihak sebelum Oliver meyerangnya.


Oliver melempar ponsel Sakuta, untung saja Sakuta sigap menangkapnya jika tidak ponsel mahalnya itu bisa lenyap terjatuh. Mereka sudah membuat janji untuk pergi ke Bogor, namun Clovis merusak janji serta suasana hati Oliver yang memiliki kesabaran setipis tisu dibagi dua.


**


"Panas-panas gini kamu mau jalan kaki lagi? Ikut saya saja, kamu pasti lelah ditengah menahan lapar kayak gini." Clovis membujuk Zayena agar ikut dengannya.


"Lebih cape nahan amarah, kamu mending pergi dari hadapan saya!" Sejak pagi ia berangkat ke kampus hingga sekarang Clovis terus menguntit. Zayena sangat-sangat kesal, ingin sekali ia menendang Clovis ke dunia lain.


"Mau ngebuburit nggak?" tawa Clovis menghiraukan Zayena.


"Tidak!"


Zayena menghentikan sebuah angkutan umum kemudian segera memasukinya, lagi-lagi Clovis mengikutinya masuk ke dalam angkutan dan meninggalkan mobilnya begitu saja. Sial sekali Zayena hari ini, Diba juga tidak masuk kampus sudah membuatnya kesal ditambah Clovis yang mengikutinya kemana pun ia melangkah.


'Zayena, sebentar lagi kamu akan masuk perangkap saya. Tidak ada dalam sejarah saya ditolak wanita, lambat laun kamu akan luluh dengan pesona saya.' Batin Clovis sambil menatap wajah Zayena yang tampak kesal.


Clovis Pranata yang terkenal dengan julukan si pemain wanita, entah berapa wanita yang sudah tidur dengannya. Ia selalu berhasil mendapatkan wanita yang ia inginkan kemudian meninggalkannya, akankah Clovis bisa mendapatkan seorang Zayena dengan mudah?

__ADS_1


__ADS_2