
Hawa dingin pagi menyambut hari kemenangan, senyum seorang gadis merekah menatap langit biru dari jendela kamarnya. Ia duduk di atas kursi sambil menyeduh susu coklat hangat kesukaan, semilir angin ia biarkan menerpa wajahnya yang polos. Kenyamanan ini membuat hatinya terasa tenang.
Sepulang melaksanakan shalat idul fitri Zayena belum keluar lagi dari baliknya, ia masih sibuk dengan kegiatannya mengagumi langit yang indah pagi ini.
Pintu berdecit menandakan seseorang memasuki kamarnya, gadis itu pun menoleh dan mendapati sosok ummahnya sedang berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arahnya dengan senyuman. Zayena sontak bangkit dari duduknya menghampiri Laila-ummahnya.
"Sayang turun dulu ke bawah, bantuin ummah menjamu para tamu," ucap Laila pada anak gadis satu-satunya itu. Zayena menganggukkan kepalanya.
"Iya ummah, Zayena ganti baju dulu." Pasalnya Zayena masih menggunakan baju santai.
"Jangan lama-lama."
Zayena tersenyum simpul. Setelah Laila keluar ia pun segera memilah baju di lemarinya, pandangannya teralih pada tote bag pemberian dari Clovis yang berada di atas meja. Tangannya terulur pada tote bag tersebut, ia sangat penasaran dengan isi di dalamnya. Pasalnya Zayena belum melihat maupun mengintip isinya.
"Ini isinya apa ya?"
Zayena mengambil kotak berukuran sedang dari dalam tote bag tersebut. Ia membolak-balik kotak tersebut sebelum membukanya, "buka jangan ya" gumamnya.
Karena rasa penasarannya yang cukup tinggi, Zayena pun membuka tutup kotak tersebut. "Waw, bagus banget," ucapnya sambil mengangkat dress panjang cocok untuk perempuan berhijab seperti Zayena, dress tersebut berwarna biru wardah yang terlihat simpel namun memberikan kesan elegan. Tidak hanya dress, Clovis juga memberikan jilbab pashmina dengan warna senada.
Zayena beralih posisi menghadap cermin besar yang ada di kamarnya, ia mengukur dress ersebut yang tampak begitu pas di tubuhnya. Saat ia sedang sibuk mengukur dress tersebut sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal pun masuk pada gawainya. Zayena menyimpan dress tersebut di atas ranjang kemudian mengambil ponselnya melihat pesan tersebut.
[+628235******]
Bagaimana? Suka? Pilihan saya bagus bukan?
Dipakai, jangan diliatin aja.
Kamu pasti sangat cantik saat memakai dress itu, saya tidak sabar ingin melihatnya.
Sudah bisa dipastikan nomor asing yang mengirim pesan padanya ini adalah Clovis Pranata si cowo penguntit. Zayena segera membalas pesan tersebut dengan singkat.
[Zayena]
Suka, terima kasih banyak.
Setelah membalas pesan dari Clovis ia pun menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Kemudian Zayena turun ke bawah untuk membantu ibunya.
**
__ADS_1
"Woy, ngapain lo pake gamis kayak gitu? Kayak ibu-ibu," ledek Damian saat melihat Clovis menggunakan thobes putih.
"Kalung salib lo ga di lepas, njing?" timpal Sakuta melihat kalung salib yang tidak pernah lepas dari leher Clovis.
"Lo pada diem! Jangan banyak omong," sentak Clovis.
Sakuta dan Damian terus tertawa, mereka tidak habis pikir dengan sahabatnya ini yang semakin hari semakin keluar dari kebiasaannya. Damian merangkul bahu Clovis membuat cowo itu menaikkan alisnya.
"Lo sebenarnya bukan penasarankan? Lo udah cinta mati sama tuh cewe," ucap Damian kemudian memukul pelan baku Clovis.
"Lo nggak pernah kayak gini, bro. Fix, ini cinta." Damian kembali berbicara, sedangkan Sakuta hanya manggut-manggut setuju.
Suara grasak-grusuk pintu terbuka, kemudian menampilkan sosok Arista. "Cinta? Siapa yang jatuh cinta?" ucapnya.
"Kok pada diem?"
"Lo yang jatuh cinta? Sama siapa? Kasih tahu gua dong," lanjutnya menunjuk Sakuta.
"Kalian bertiga aja? Oliver mana?"
Mereka bertiga hanya diam, terlebih lagi Clovis yang tidak suka melihat wanita itu. Ia memutar matanya jengah. Kini mata Arita tertuju pada Clovis, wanita itu pun mendekat.
"Nggak usah peduliin gua," sentaknya. Clovis menyambar kunci mobilnya kemudian keluar dari kamarnya meninggalkan Arita yang baru saja datang dan lancang memasuki kamarnya bersama Sakuta dan Damian.
Clovis melakukan mobilnya dengan cepat menembus jalanan. Laki-laki itu tidak sabar ingin melihat gadis incarannya memakai hadiah pemberiannya, ia tidak bisa membayangkan betapa cantiknya seorang Zayena. Ia berharap Zayena akan memakainya.
**
Zayena memandang pantulan dirinya dari cermin, baju ini sangat cocok di tubuhnya. Harga dress ini pasti saja mahal, apa yang harus ia lakukan untuk membalas hadiah dari Clovis? Ia tidak memiliki cukup uang.
"Dari tadi kamu cuman liatin cermin," ucap Laila sambil menggelengkan kepalanya. "Itu di bawah ada yang mau nemuin kamu," lanjutnya.
"Diba? Tumben nggak nerobos masuk kamar," tanyanya.
"Eum bukan, mungkin itu teman kampus laki-laki kamu?"
"Hah?" Zayena berpikir keras, apa mungkin itu Clovis. Senyum Zayena tiba-tiba mengembang tanpa ia sadari, ia bergegas pergi ke lantai bawah meninggalkan Laila.
Gadis itu berjalan cepat menuruni anak tangga, namun senyumnya memudar. Ternyata bukanlah Clovis yang sedang menunggunya, melainkan lelaki aneh yang ia temui tdi malam. Lelaki itu tampak tersenyum ke arah Zayena disela-sela perbincangannya dengan Ghafur-ayah Zayena.
__ADS_1
Zayena memiliki perasaan yang aneh akhir-akhir ini, ia juga bingung mengapa tadi ia sangat girang kemudian tampak murung dalam hitungan detik. Gadis itu bingung mengapa ia berharap Clovis yang datang? Ada apa dengan dirinya?
Gadis itu pun duduk di kursi yang bersebrangan dengan lelaki itu, Zayena hanya menunduk dalam. Sedangkan lelaki itu sibuk mencuri pandang pada Zayena, bibirnya tersenyum miring melihat pakaian yang dikenakan gadis itu. Pikiran lelaki itu berlayar pada beberapa hari sebelumnya dimana Clovis memamerkan dress yang baru saja ia beli untuk di berikan kepada seseorang, benar dugaannya pasti itu akan diberikan pada Zayena.
"Gimana baguskan?"
"Selera lo ga pernah salah," sahut Oliver melirik dress berwarna biru wardah yang dipamerkan sahabatnya.
Yap. Lelaki tidak jelas itu adalah Oliver sahabat Clovis, ia terkekeh kecil melihat Zayena menggunakan dress tersebut. Apakah Clovis sudah melihat kecantikan gadis ini dengan dress pemberiannya?
"Assalamu'alaikum," salam seseorang membuat Zayena, Oliver serta Ghafur menengok kearah sumber suara.
"Wa'alaikumsalam," sahur Zayena dan Ghafur.
Terlihat Clovis berdiri di ujung pintu, ia tampak kaget melihat Oliver yang tersenyum penuh kemenangan ada di sana. Raut wajah Oliver sekarang mengatakan 'kali ini lo kalah selangkah dari gua'. Namun senyum tipis yang terukir di wajah Zayena membuat hatinya yang semula panas menjadi dingin, ia juga senang melihat Zayena memakai hadiahnya.
"Silahkan masuk," ucap Ghafur mempersilahkan. Clovis pun masuk kemudian duduk di kursi kosong setelah dipersilahkan, ia melirik Oliver dengan tatapan tidak suka.
Suasana di antara Oliver dan Clovis terlihat tampak tegang, Zayena bisa merasakannya. Mereka memang berlagak sebagai orang asing yang tidak pernah mengenal, akan tetapi tatapan keduanya tidak bisa berbohong bahwa mereka memiliki hubungan pertemanan yang kini berubah menjadi persaingan.
"Apa kalian saking kenal?" tanya Zayena.
"Tidak," balas Oliver.
"Ya," balas Clovis. Mereka berdua menjawab bersamaan, sontak Clovis dan Oliver saling lirik kemudian membuang muka.
"Hmm, jadi kalian saling kenal atau tidak?"
"Ya."
"Tidak." Mereka kembali menjawab kompak namun dengan jawaban yang masih berbeda.
"Saya sama Oliver berteman," ucap Clovis.
Zayena menganggukkan kepalanya. Jadi mereka saling berteman, dan cowo itu bernama Oliver. Pantas saja mereka sama-sama tidak jelas.
"Zayena kita keluar sebentar," ujar Clovis pada Zayena kemudian mengode Oliver agar mengikutinya keluar.
Entah mengapa hati Zayena rasanya tidak enak, ia hanya bisa menatap punggung kedua lelaki itu.
__ADS_1