
Suara takbir berseru begitu indah di semua mesjid, terdengar indah dipendengaran. Suasana malam menyambut hari esok dimana hari besar islam yakni Idul Fitri datang dengan membawa senyum kemenangan tampak begitu indah dengan bintang yang bertaburan di langit. Anak-anak dengan senyumnya bermain kembang api untuk menyemarakkan.
Seorang gadis tengah sibuk membantu ibunya menyiapkan makanan untukk hari esok.
"Sayang tolong ambilin mentega," ucap sang ibu.
"Iya ummah, sebentar." Gadis itu pun bangkit kemudian berjalan ke arah meja makan dimana mentega itu berada.
"Diba kamu nggak bantuin ibu mu bikin kue atau ketupan di rumah?" tanya Laila pada Diba yang ikut membantu.
Gadis itu tersenyum nyengir sambil menggelengkan kepala. "Ngga ummah, ibu selalu beli yang udah jadi tinggal makan."
"Ummah ini menteganya."
"Terima kasih sayang."
"Kalian kalo mau liat pawai takbiran pergi aja, ini tinggal sedikit lagi biar ummah yang beresin," lanjut Laila.
"Nanti aja ummah, pawainya juga pasti belum mulai. Mending beresin ini dulu," sahut Diba. Padahal ia ingin segera melihat pawai tidak ingin ketinggalan, akan tetapi lebih baik membantu Laila terlebih dulu.
"Yasudah, terserah kalian saja."
Tidak berselang lama, semuanya sudah beres karena dikerjakan bersama. Berbagai kue kering sudah berada di dalam toples, begitu pun dengan ketupat yang sudah siap disajikan untuk besok.
"Fyuh, akhirnya beres juga." Diba mengusap peluhnya.
"Berkat kalian berdua jadinya cepet beres," ujar Laila.
"Katanya mau liat pawai? Cepet siap-siap nggih," lanjut Laila.
"Ayo Zay kita berangkat!" seru Diba sudah tidak sabar sambil menggoyang-goyangkan lengan Zayena membuat si empu melotot tajam.
Laila terkekeh melihat kedua gadis di depannya.
Kini Zayena dan Diba sudah berada di alun-alun kota yang nampak ramai dengan iring-iringan pawai serta warga yang berkunjung untuk menikmatinya. Kedua gadis tersebut berkeliling seraya berburu cemilan pedagang kaki lima di sana.
"Hai," sapa seorang lelaki jangkung dengan jaket kulit hitam yang sangat cocok di tubuhnya. Wajahnya terlihat tegas dengan sorot mata tajam yang menatap Zayena, tangannya terulur meminta jabatan.
"Assalamu'alaikum," ucap Zayena sambil menangkupkan tangannya.
__ADS_1
"Eum," gumamnya kembali menarik tangannya yang dianggurkan Zayena begitu saja.
Diba menyenggol lengan Zayena. "Dia siapa?" bisiknya. Gadis itu hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Kalian berdua saja?" tanyanya.
"Iya, ada keperluan apa ya?"
"Tidak ada, saya hanya ingin ikut bergabung."
Zayena menghiraukan ucapan laki-laki tersebut, ia menarik tangan Diba agar menjauh dari laki-laki ga jelas itu. Setelah bertemu Clovis, ia dipertemukan lagi dengan cowok ga jelas. Cukup Clovis saja yang telah merecoki hidupnya.
"Hai tunggu!" Laki-laki itu membuntuti Zayena dan Diba yang diseret gadis itu. Meski Zayena berjalan cukup cepat, tapi laki-laki itu tetap bisa mengimbangi langkah Zayena dengan kaki jenjangnya.
"Kalo tidak ada keperluan tolong jangan ganggu saya," ujar Zayena dengan mata menatap lurus ke depan.
"Saya hanya ingin lebih dekat dengan mu, Zayena."
Pupil mata Zayena melebar kaget, namun langkahnya tidak berhenti melangkah begitu saja. Dari mana laki-laki itu tahu nama dirinya? Siapa yang memberitahunya? Dan siapa Dia?
"Kamu kaget? Bukan hanya namamu saja, saya tahu semua tentang kamu dan saya menyukainya." Zayena tidak peduli, benar-benar tidak peduli. Yang ia inginkan laki-laki ini pergi dari hadapannya.
Diba hanya diam saja ia pasrah diseret oleh Zayena. Gadis tersebut mendengus pelan, bagaimana bisa laki-laki yang baru saja ia temui berkata demikian.
"Hei, apa kamu mendengar apa yang saya bilang?" Lelaki itu tiba-tiba berdiri di depannya menghadang jalan, sontak Zayena pun menghentikan langkahnya kemudian melirik tajam lelaki di depannya kemudian membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Kamu bersedia menjadi kekasih saya?" Lelaki tersebut mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam saku jaketnya.
"Lo gila? Goblok? Atau gimana?" Itu bukan suara Zayena melainkan Diba. Gadis itu menatap cowok itu tajam, namun tatapannya kalah saat cowo itu meliriknya. Skakmat, tatapan elangnya sangat mengetarkan namun Diba tidak akan kalah begitu saja.
"Kamu diam jangan ikut campur!"
"Dia sahabat gua," Diba merangkul Zayena. "Siapa pun yang berurusan dengan Zayena harus berhadapan sama gua dulu, termasuk lo cowo gila," ucap Diba sambil menunjuk lelaki tersebut.
"Singkirin telunjuk mungil nan minimalis ini sebelum saya patahin," lelaki itu menggeser telunjuk Diba dengan telunjuknga. Ah benar, telunjuknya sangat mungil dibanding dengan telunjuk cowo itu.
Cowo itu mencondongkan tubuhnya ke arah Diba. "Kamu nggak tahu siapa saya, mending kamu dukung saya saja atau kamu akan mendapat masalah. Saya tidak suka ada kutu kecil yang menghalangi," bisiknya sambil menyeringai. Apa-apaan, kutu kecil? Diba sangat kesal.
Raut wajah cowo itu berubah begitu manis saat menatap Zayena.
__ADS_1
"Bagaimana apakah kamu akan menerima cinta saya?"
"Saya tidak akan memaksa kamu menjawabnya sekarang, saya akan menunggu sampai kapan pun," ucapnya.
"Sampai bertemu lagi Zayena!" Cowok itu melangkah mundur untuk pergi, matanya tidak lepas dari Zayena. Ia melambaikan tangannya lucu, namun sayang Zayena tidak membalasnya. Gadis itu terlihat sangat syok gara-gara ungkapan perasaan cowok itu.
Diba melirik Zayena. "Tunggu, aku beliin minum dulu ya. Kamu duduk di sini," ucap Diba menuntun Zayena menuju bangku.
Baru saja Diba pergi untuk membeli minum, tiba-tiba seseorang menyodorkan es krim padanya. "Ini ambil, bukannya es krim akan membuat hati tenang."
Makan es krim ditengah cuaca malam yang dingin seperti ini? Ah itu memang kebiasaan Zayena yang akan membuat hatinya tenang dan damai. Namun ia tidak habis pikir dengan siapa yang menyodorkan es krim tersebut.
"Terima kasih," ucapnya seraya bangkit dari duduknya hendak menyusul Diba.
"Ini es krimnya, apa kamu tidak akan mengambilnya? Nanti mubajir, saya tidak mungkin memakan dia es krim sekaligus."
"Duduklah dan makan es krimnya," tambah Clovis. Entah dari mana cowo itu berasal, ia selalu tiba-tina muncul dihadapan Zayena.
Zayena hanya meliriknya sekilas.
"Cepat duduk Zayena, apa kamu tidak kasian kepada saya yang rela mengantri di sana demi es krim cocomint kesukaan kamu?" Clovis menunjuk kedai es krim yang terlihat ramai pengunjung di malam hari seperti ini.
"Hmm," gumam Zayena.
"Atau mau saya suapin?" Clovis mulai menyendok es krim yang berada dalam cup tersebut hendak menyuapi Zayena, namun gadis itu segera merebutnya.
"Nggak, saya bisa makan sendiri. Terima kasih," ucapnya.
Zayena menyuapkan satu sendok es krim kesukaannya itu ke dalam mulutnya. Satu sendok yang berhasil mendinginkan hatinya yang terasa panas.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Zayena dengan mata lurus ke depan.
Clovis menatap Zayena sambil tampak berpikir. "Sejak kamu diganggu cowo gila," ucapnya diiringi kekehan.
Hatinya sangat panas saat melihat Zayena di dekati sahabatnya sendiri, ingin sekali ia menonjok Oliver namun ia menahannya demi menjaga imagenya. Cukup berbeda, ada rasa tidak rela jika Zayena jatuh ke tangan orang lain begitu saja. Ia ingin Zayena menjadi miliknya, hanya miliknya seorang. Sebesar itukah pesona Zayena sehingga Clovis sangat terobsesi?
"Kayaknya saingan saya nambah," celetuk Clovis.
"Cukup Tuhan saja saingannya."
__ADS_1