
"Assalamu'alaikum, Zayena!" salam Clovis terlihat ragu saat mengucapkan salam. Laki-laki itu berlari kecil dari arah belakang Zayena sambil menenteng tote bag berukuran sedang.
"Waalaikumsalam," jawab Zayena tanpa menoleh.
Clovis menyeimbangkan langkahnya di samping gadis itu yang sontak menghindar menjaga jarak. Meski sudah beberapa kali diperlakukan seperti itu, Clovis tetap meresa tersinggung. Senyum cowo itu sedikit memudar.
"Kamu kenapa ada di mana-mana?"
Laki-laki nampak berpikir. "Eum, mungkin karena kita jodoh."
"Ngaco." Zayena mendengus pela.
"Ini ada hadiah buat kamu," ucap Clovis sambil menyerahkan tote bag yang ia bawa.
Zayena masih melangkahkan kakinya. "Nggak usah repot-repot, lagian saya nggak nerima barang dari orang yang baru kenal," balasnya. Gadis itu tidak menoleh sedikit pun padahal Clovis sangat antusian memberikan hadiah padanya.
"Kita udah lama kenalan loh, bukan cuman sehari dua hari."
"Tolong terima hadiah dari saya," lanjut Clovis menyerahkan paksa tote bag itu pada tangan Zayena. Gadis tersebut kaget saat kulit tangannya bersentuhan dengan Clovis, tote bag itu pun jatuh ke atas tanah.
"Kenapa kamu maksa?" sungut Zayena.
"Terima atau saya cium kamu di sini?" Pupil mata Zayena melebar mendengar ucapa Clovis yang mengerikan. Mata tajam laki-laki itu menatap Zayena intens membuat bulu kuduk gadis itu merinding ngeri.
Tidak bisa menahannya lagi, bahu Clovis bahkan sudah bergetar. Laki-laki itu menyemburkan tawanya begitu saja sampai memegangi perutnya yang terasa keram, wajah takut serta kaget Zayena sangat lucu sekali di matanya. Clovis tidak bisa mengerem tawanya, ah gadis ini sangat lucu sekali membuatnya yang hampir tidak pernah tertawa menjadi tertawa tanpa beban seperti ini.
Alis Zayena terangkat. "Apa yang lucu?! pekik gadis itu tak terima.
"Gemes banget sihhh, saya jadi pengen makan kamu." Tangan laki-laki itu terulur seakan ingin mengunyel-nguyel pipi Zayena membuat gadis itu memundurkan langkahnya.
Zayena kesal, ia pun melangkahkan kakinya lebar. Clovis pun menghentikan tawanya, meraih tote bag yang tergeletak kemudian kaki jenjangnya menyusul Zayena.
"Kalo ngambek makin ngegemesin tau, saya gak kuat liatnya."
"Kamu pergi dari hadapan saya!"
"Galak makin cantik."
"Diam nggak!"
__ADS_1
"Iya iya saya diam."
Mata Zayena fokus menatap kepada pijakan, sedangkan mata Clovis malah sibuk menatap Zayena yang terlihat begitu pendek dan mungil berjalan tidak jauh di sampingnya.
"Jangan liatin saya!" seru Zayena.
"Ini hadiahnya diterima dulu," sahut Clovis sambil tersenyum manis, sangat manis. Namun tidak di mata Zayena, senyumnya terlihat sangat menjengkelkan.
"Saya janji deh ga bakal gangguin kamu lagi."
Tangan Clovis kembali menyodorkan tote bagnya, sontak Zayena menghentikan langkahnya. Bola mata gadis itu berputar, ia sangat lelah dengan lelaki penguntit yang sekarang berada di hadapannya ini.
"Ini terima," mohon Clovis.
Zayena menatap tangan Clovis, mau tidak mau ia pun menerima hadiah dari laki-laki itu. Demi kesejahteraan hidupnya. Tapi hati Zayena berkata lelaki itu akan menganggunya lagi di hari berikutnya, setidaknya hidup Zayena tenang sehari saja tanpa melihat sosok Clovis.
"Iya, terima kasih."
"Nah gitu dong, kenapa nggak dari tadi aja sih."
"Hadiahnya jangan lupa dipakai, saya ingin melihat kamu memakai itu di hari idul fitri nanti," lanjut Clovis kemudian ngacir pergi. Laki-laki itu melambai-lambaikan tangannya pada Zayena sebelum benar-benar pergi menjauh.
Setelah menjauh dari Zayena, Clovis merutuki dirinya yang aneh. Sebelumnya ia tidak pernah segitunya dalam mengejar perempuan yang ia inginkan, mereka selalu datang dengan sendirinya tanpa harus mengeluarkan efforts yang besar seperti ini. Ayolah Clovis harga dirimu sebagai Clovis Pranata mau dibagaimanakan?
"Anjing! Kenapa gua jadi gini?!" oceh laki-laki itu sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Sialan tuh cewe udah bikin gua penasaran sampe segininya, gua kayaknya kena pelet."
Clovis menggeram. "Gua pastikan secepatnya lo bakal jadi milik gua, hanya gua yang boleh nyentuh lo!"
**
"Lo ngapain bangsat! Baru datang udah nonjok nembok aja," seru Sakuta kaget. Kini mereka sedang berada di apartemen Oliver yang menjadi bescame mereka.
"Hooh, gila kali si Clovis." Damian menimpali.
"Gila karena si Zayena," celetuk Oliver si dingin.
Damian tertawa ngakak entah apa penyebabnya. "Buyungnya udah gatahan pengen masuk sangkarnya," ledek laki-laki itu ditengah tawanya.
__ADS_1
"Kacian banget buyungnya pengen dimanja cewe balu," Sakuta ikut-ikutan meledek Clovis sambil tertawa. Sedangkan Oliver hanya terdiam tidak terlalu tertarik dengan pembahasan kali ini.
Clovis menatap Damian dan Sakuta tajam secara bergantian "Diem lo pada atau gua patahin leher kalian satu-satu, mau?"
Kedua lelaki itu langsung menghentikan tawanya, acaman Oliver sangat mengerikan. Leher jenjangnya ini sangat mulus dan menggoda iman, sayang jika dipatahkan begitu saja oleh Clovis.
"Anjing!!" seru Clovis frustasi. Di otaknya sekarang hanya ada Zayena, Zayena dan Zayena. Wajah gadis itu selalu terbayang-bayang membuatnya hampir gila, ia juga hampir kewalahan untuk merayu gadis itu.
Oliver bangkit dari duduknya. "Mending lo jauhin Zayena," benernya tiba-tiba kemudian melangkah pergi melewati Clovis. Namun kerah bajunya di tarik oleh Clovis membuatnya menghentikan langkah.
Laki-laki menatap Clovis bingung. "Why?"
"Harusnya gua yang bilang kenapa," gerta Clovis.
Kedua temannya Sakuta dan Damian hanya diam menyimak.
"Kenapa gua harus jauhin Zayena?!!"
"Cewe di luar sana masih banyak," jawab Oliver seadanya.
"Bukan itu alasan sebenarnya, gua tau suka sama Zayena?" selidik Clovis, laki-laki di depannya ini memalingkan wajahnya saat ia menatapnya. Oliver melepas cekalan tangan Clovis pada kerahnya.
Mengapa Clovis berkata demikian? Ia sudah beberapa kali menciduk teman kutub yang satu ini tengah memperhatikan Zayena dari jauh dengan binar mata yang berbeda.
"Lo mau taruhan sama gua?"
"Nggak!"
"Gua gak bakal pernah mempertaruhkan cewe sebaik itu," lanjut Oliver.
Clovis tertawa. "Jadi bener lo suka sama Zayena?"
Oliver hanya diam kemudian pergi. Sedangkan Damian dan Sakuta saling pandang satu sama lain, ini akan menjadi persaingan yang sangat ketat. Tidak pernah dibayangkan Oliver dan Clovis akan mengincar satu orang yang sama, gadis berhijab yang tentunya tidak seiman dengan mereka.
"Kayaknya gua harus mengubah taruhannya, lo mau jadi tim sukses mana? Olzay apa Clona?" ucap Damian berbisik-bisik pada Sakuta.
"Olzay Clona apaan, nyet?"
Damian menjitak jidat Sakuta, temannya yang satu ini terlalu lemot. "Oliver Zayena, Clovis Zayena bego!" Mendengar itu Sakuta hanya membulatkan mulutnya ber-oh ria.
__ADS_1
Oliver meninju tembok lagi, ia melampiaskan amarahnya pada tembok yang tidak tahu apa-apa. Tangan laki-laki itu juga sudah memerah karena memar, namun ia tidak memperdulikannya.