Fatwa Cinta Sang Bidadari

Fatwa Cinta Sang Bidadari
Siapa itu?


__ADS_3

Diba merasa bosan, ia hanya guling sana guling sini di atas kasur. Ia pun berpikir untuk pergi ke rumah Zayena sahabatnya yang cantik dan baik hati. Diba menyambar tas selempangnya  kemudian membuka pintu kamarnya.


Rumah mereka tidak terlalu jauh, tidak memakan waktu lama ia sudah sampai di depan rumah Zayena. "Assalamu'alaikum Zay!"


"Wa'alaikumussalam warahmatullah," sahur orang di dalam seraya pintu terbuka yang menampilkan sosok Zayena.


Diba tersenyum manis sambil memilin tali tasnya. Perasaan Zayena sudah tidak enak melihan ekspresi wajah Diba, gadis itu pasti akan mengajaknya keluar.


"Kenapa kamu cengar-cengir, mau ngajak keluar?" selidik Zayena.


Gadis yang lebih pendek beberapa centi dari Zayena itu semakin menampakkan gigi yang rapi menyengir lebar. "Ayok Zay, kita ke mall."


"Buat apa? Bentar lagi magrib, aku harus bantu ummah nyiapin makanan buat buka."


"Zay, plis. Ramadhan sebentar lagi berlalu loh," Diba menghitung jarinya, "tinggal tiga hari lagi loh, Zay."


"Terus."


"Kita harus berburu baju, plis Zay plis. Ummah juga pasti ngizinin ko," bujuk Diba agak merengek seperti anak kecil minta dibelikan permen.


Diba melihat siluet Laila-ummahnya Zayena melintas di belakang gadis itu. "Ummah, aku mau ajak Zayena ke mall boleh?" tanya gadis itu, sontak Laila menoleh ke arah dua gadis yang sedang bercengkrama di depan pintu.


"Boleh, Dib."


"Tuhkan, Ummah juga ngebolehin." Diba menarik tangan Zayena.


"Iya-iya bentar, aku bawa tas sama dompet dulu."


Zayena menghampiri ummahnya. "Ummah, Zayena izin pergi sebentar sama Diba."


"Iya sayang, nanti kamu mau berbuka di luar atau mau pulang sebelum magrib?"


Zayena berpikir sejenak. Diba akan mengajaknya ke mall, gadis itu pasti akan berkeliling mall sepuasnya apalagi sekarang ia akan berburu baju raya. Bisa di pastikan mereka akan sangat lama.


"Zayena berbuka di luar bareng Diba, Ummah."


"Eum, jangan malem-malem pulangnya."

__ADS_1


"Iya Ummah, assalamu'alaikum." Zayena meraih tangan ringkih Laila kemudian menciumnnya.


Laila mengusap puncak kepala Zayena. "Waalaikumsalam, hati-hati ya sayang."


Zayena dan Diba pun segera meluncur pergi ke mall. Sebelumnya mereka sempat berdebat lagi, pasalnya Diba tidak ingin mengemudikan motor begitu pula dengan Zayena. Namun akhirnya Zayena lah yang mengalah dan mengemudikan motor matic milik Diba.


Roda motor menembus jalanan kota yang terlihat ramai, Zayena mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ia membiarkan angin sore menerpa wajahnya meski bercampur dengan polisi dari kendaraan.


"Eh, itu si cewe yang bagi-bagi takjil waktu itu?" Sakuta menyenggol lengan Clovis yang tengah asik menyesap rokoknya sambil duduk di atas motor sport miliknya.


Sontak laki-laki itu mematikan puntung rokoknya saat matanya menangkap sosok Zayena. Bisa hancur misinya yang sedang membangun image baik agar bisa mengambil hati gadis itu. Di sampingnya Damian memutar bola matanya, ia terkikik geli melihat kelakukan sahabatnya itu.


"Dia liat gua ngerokok kagak?"


"Kagak sat, lagi pula ini lagi ramai. Lo nggak bakal ke notice," balas Sakuta.


"Lo gobloknya ga ketulungan, udah tau lagu bulan Ramadhan malah ngerokok di tempat umum. Seenggaknya hargailah mereka yang muslim," ujar Damian bijak.


"Ngeri ngab," seloroh Sakuta sambil bergidik setelah mendengar ucapan sahabatnya.


"Lo pada mau taruhan?" ujar Damian tiba-tiba, Oliver dan Sakuta sontak meliriknya.


"Gua yakin tuh anak nggak bakal dapetin Zayena dan berakhir dia yang jatuh cinta sejatuh jatuhnya ke cewek itu," lanjutnya.


***


Diba menyenggol lengan Zayena. "Eh itu mas-mas yang mirip cha eun woo bukan? Ahhh baik banget sihhh," ucapnya dramatis sambil menunjuk Clovis yang sedang membantu mendorong gerobak jualan kakek-kakek.


"Katamu dia keturunan keluarga Pranata kan? Pengusaha terkenal itu? Sempurna banget, Zay. Ganteng, kaya, baik hati, nggak sombong," lanjutnya memuji Clovis.


Zayena mengerjapkan matanya sambil menunduk, tanpa sadar ia sudah memandang Clovis. Gadis itu terus beristighfar did alam hatinya, ia pun menyeret Diba pergi dari sana.


"Ihh Zay, kamu kenapa sih?"


"Kamu salting yaa tadi abis liat, eum siapa tuh namanya, aahh Clovis iya Clovis." Diba menoel-noel lengan Zayena, "kamu suka ya sama dia?"


"Apaan sih, nggak."

__ADS_1


"Ini kita mending beli minum dulu buat ngebatalin, abis itu ke mesjid buat magriban. Baru ke resto lanjut ke mall, sebelum isya harus udah pulang. Jangan lama-lama di mall nya," cerocos Zayena .


**


Clovis berkeliling di mall yang sama dengan Zayena, itung-itung tebar pesona pada gadis itu. Ia sangat penasaran pada Zayena, mungkin bukan sedekar penasaran tapi obsesi.


"Clovis!" seru seseorang pada laki-laki jangkung itu. Ia sontak menengok ke arah suara, tampak seorang wanita dengan tinggi semampai menggunakan baju yang terbilang seksi.


Wanita itu berlari ke arah Clovis dan menubrukkan tubuhnya jatuh kedalam pelukan Clovis. "Gua kangen banget," ujarnya.


Clovis mengedarkan pandangannya takut jika Zayena melihat mereka berdua. Ia mendorong pelan wanita itu agar melepaskan pelukannya.


"Lo ngapain kayak gitu? Ini tempat umum," tegur Clovis dingin.


Wanita itu bernama Arista Widya Kusuma, dia merupakan salah satu wanita yang menjadi mainan Clovis. Arista sudah diabaikan laki-laki itu, namun ia tetap mengejar Clovis seakan-akan mereka masih memiliki hubungan seperti dulu.


"Sayang, kok kamu dingin banget sih? Mau aku angetin kayak dulu?" ucapnya manja, tangan nakalnya mebelai lembut leher jenjang Clovis.


Clovis sontak menepis tangan Arista kesal. Wanita di hadapannya ini hanya akan membuat malu dirinya saja, lihat lah beberapa pasang mata sudah menyoroti mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sangat membenci tatapan orang-orang.


Dari kejauhan pula Zayena melihat pemandangan itu, entah mengapa matanya sedikit memanas. Mungkin karena efek kelelahan saja, selama bulan suci ini ia masih disibukan dengan kegiatan kampus dan organisasi serta bakti sosial.


"Loh dia siapa?" Diba tiba-tiba muncul di belakangnya dengan sebuah baju gamis di tangannya. Gadis itu melirik Zayena yang hanya diam.


"Zayena ihh, aku nanya loh kok malah diem."


"eh, aku nggak tau. Mungkin pacarnya," ucap Zayena.


"Udah belum beli bajunya? Ayok kita pulang,“ ajak Zayena.


Clovis menangkap siluet Zayena yang baru saja pergi mengikuti Diba. Sial, semua gara-gara Arista. Misi meluluhkan Zayena sepertinya akan karam, akan tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Rasa penasarannya sudah diambang batas wajar.


"Sayang, kamu nggak kangen aku?"


"Apasih lo ****** ga jelas, mending lo pergi dari kehidupan gua!"


Arista mengerucutkan bibirnya kesal.

__ADS_1


__ADS_2