FEMALE WARRIOR

FEMALE WARRIOR
CHAPTER. 3


__ADS_3

Aku merasa tidak ada gaun yang cocok untukku di butik tersebut. Moodku pun menjadi hancur ketika aku dinasehati oleh Mrs.Gwell dan Marvella perkara tadi.


"Nona, apakah nona marah pada saya?" Tanya Marvella hati-hati.


Aku meneruskan berjalan tanpa melihat ke arah Marvella. "Aku sedang ingin sendiri, kau bisa pulang sekarang."


"T-tapi nona..."


"Ini perintah!" Ucapku dengan tegas sembari menatapnya tajam.


"B-baiklah nona. Saya akan kembali ke rumah. Tapi nona hati-hati.." Marvella membungkuk padaku


"Ya tenang saja, aku tak akan macam-macam." Jawabku untuk menenangkan Marvella.


"Baik nona, saya pamit undur diri." Marvella pun beranjak pergi menjauh.


Fiuhh. Akhirnya aku sendirian.


Sebenarnya Marvella itu baik. Tapi aku tidak suka dengan sikapnya yang terlalu mengatur dan mencampuri urusanku.


Lebih baik aku mengesampingkan dulu amarahku perihal tadi. Kini aku bisa bebas ingin membeli apapun atau berkata apapun tanpa harus takut ada yang mengingatkanku dengan alasan yang tidak masuk akal tadi.


Aku melangkahkan kakiku untuk melihat toko baju yang lain. Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat sebuah toko pakaian biasa. Memang seperti tak menarik namun aku melihat sekilas disana terdapat beberapa dress sederhana yang tidak mencolok perhatian.


"Selamat datang nona.." Seorang lelaki tua menyapaku dengan ramah.


Aku tersenyum padanya, "Terimakasih"


"Ada yang Anda perlukan nona?"


"Ya aku perlu sebuah gaun simple yang itu dan yang ini." Aku menunjuk beberapa gaun yang simple dan sesuai seleraku.


"Baiklah nona, akan saya bungkusan."


Aku melihat keseliling toko, ternyata ada celana disini. Celana tersebut tidak seperti celana laki-laki. Mungkin cukup jika ku pakai.


"Ah dan satu lagi, beberapa potong celana yang ada disana." Aku menunjuk ke arah celana-celana tersebut.


Aku kira aku akan dinasehati lagi ketika ingin membeli celana. Tapi ternyata lelaki tua ini malah mengambil celana tersebut sambil tersenyum ramah.


'Akhirnya ada orang normal yang tidak suka mencampuri urusan orang lain' Batinku pada diri sendiri.


Lelaki itu selesai membungkus semua pesananku.


"Apakah ada yang ingin Anda beli lagi nona?" Lelaki itu bertanya sambil tersenyum lembut kepadaku.


Muncul sebersit ide di otakku.


"Anda bisa membuat pakaian khusus?" Aku menatap serius kepada lelaki tua itu.


"Sebenarnya bisa nona.. Tapi desain bajuku jarang dibeli dan juga dipesan oleh bangsawan. Katanya terlalu biasa seperti pakaian rakyat biasa." Terlihat kesedihan dimata lelaki tua itu.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menjadi pelanggan pertamamu, dan kau harus siap jika aku meminta kau membuat baju dengan desain apapun untukku."

__ADS_1


Mata lelaki itu tiba-tiba berbinar. Ia menatap dengan tidak percaya padaku. "Benarkah ini nona?"


"Apakah ada kebohongan dimataku?" Aku bertanya balik.


"T-terimakasih banyak nona!" Lelaki tua itu ingin bersujud di depanku. Namun aku cegah.


"Tidak usah bersujud, anggap saja rezeki dari Tuhan"


"B-baik. T-terimakasih banyak nona!"


Aku pun segera membayar pakaian yang aku beli dan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke rumah.


•••••••••


"Hufft... Lelah sekali hari ini."


Aku membaringkan tubuhku di atas kasur. Kini aku seperti kehilangan arah kembali.


Apa yang harus aku lakukan selama tinggal disini?


Apakah tidak ada sesuatu yang menyenangkan?


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Nona. Syukurlah kau sudah kembali." Marvella mengelus dadanya ketika melihatku sedang berbaring di kasur.


"Ada apa?"


"Aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir. Aku masih ingin sendiri, lebih baik kau pergi." Ucapku dengan nada dingin.


"Baiklah nona. Jika Anda memerlukan saya, saya ada di dapur." Marvella pun pamit undur diri dan meninggalkan kamarku.


Aku duduk dipinggiran kasur sambil melihat ke arah jendela.


Aku mengingat-ingat apa yang biasanya aku lakukan di kehidupanku sebelumnya.


Jika bingung ingin melakukan apa, aku selalu berlatih dan berolahraga. Ya dulu aku setiap hari datang ke hutan ataupun tempat latihan menembak.


Namun di zaman yang sepertinya abad pertengahan ini, aku tidak yakin jika sudah tercipta senapan yang canggih seperti di zaman modern.


Aku mendekati jendela dan melihat ke arah bawah. Aku memperhatikan pengawal yang memegang pedang.


AHA!


Aku bisa menambah skill baru disini. Aku bisa berlatih pedang, oh iya baru ingat! Mungkin aku juga bisa berlatih memanah.


Dengan tak sabar aku keluar dari kamar dan menghampiri Marvella.


"Ada apa nona?" Ucapnya sembari melihatku yang tergesa-gesa.


"Apakah disini ada lahan kosong? Ah maksudku, tempat berlatih pengawal yang ada disini." Ucapku dengan cepat.

__ADS_1


"Ya nona, tempat latihan pengawal ada di dekat taman belakang.." Jawab Marvella dengan bingung.


"Antarkan aku kesana sekarang!" Aku sangat tidak sabar untuk berlatih menggunakan pedang.


Marvella pun mengantarkan aku ke tempat pelatihan pengawal.


Disana terdapat lapangan rumput yang luas. Banyak pepohonan yang tumbuh juga disana. Terlihat beberapa pengawal sedang berlatih menggunakan pedang.


Aku tersenyum girang. Aku menghampiri gudang untuk mengambil peralatan. Disana aku mengambil pedang kayu.


Pengawal yang sedang berlatih, melihatku dengan keheranan.


"Apa yang dilakukan nona muda disini?" Salah satu pengawal menghentikan latihannya dan berbisik pada rekannya.


"Tidak tahu. Baru kali ini aku melihat nona muda datang kesini." Rekannya membalas dengan bisikan juga.


"Lihat, dia pun membawa pedang kayu.."


Aku berjalan dengan menenteng pedang kayu tersebut ke tengah lapang.


"Nona, apa yang nona lakukan—"


Aku mengibas-ngibaskan pedang kayu ke udara. Marvella kaget bukan main.


"Nona—"


"Marvella mundurlah jika kau tidak ingin terkena pedang kayu ini." Aku masih mengibas-ngibaskan pedang kayu tersebut.


Sepertinya aku membutuhkan pemanasan terlebih dahulu. Tubuh ini sangat kaku dan lemah. Apakah pemilik tubuh ini tidak pernah berolahraga atau melakukan pekerjaan yang berat!?


Aku menghempaskan pedang kayu tersebut ke tanah dan mulai melakukan pemanasan.


Pengawal disana termasuk Marvella masih kaget dan bingung melihat apa yang aku lakukan.


Tatapan mereka seperti melihat sesuatu yang mustahil terjadi.


"Apakah itu benar nona muda?" Terdengar pengawal lain yang bertanya.


"Entahlah, semenjak sadar setelah tenggelam, nona muda benar-benar berubah." Pengawal lain menanggapi.


"Aku pun merasa begitu.." Para pengawal tersebut terus memperhatikan aku yang sedang melakukan pemanasan.


Selesai melakukan pemanasan, aku pun berteriak lantang kepada mereka.


"Hei apa yang kalian lihat? Tak melanjutkan latihan hah!"


Setelah mendengar teriakan ku, mereka pun langsung melanjutkan aktivitas masing-masing. Dasar para pengawal yang aneh.


Marvella masih menatapku dengan khawatir.


"Nona apakah sebaiknya—"


"Marvella, jika kau masih ingin mengkhawatirkanku, sebaiknya kau kembali ke dapur." Aku mengambil pedang kayu tersebut dan mulai mengibaskan kembali ke udara.

__ADS_1


"B-baiklah Nona.." Marvella akhirnya diam dan hanya memperhatikan aku yang sedang berlatih pedang.


...••••• Bersambung ••••••...


__ADS_2