
Keesokan paginya aku bangun dengan merasakan badanku yang sangat remuk seperti habis tertimpa seekor gajah.
Mungkin karena tubuh ini tidak pernah melakukan olahraga berat, jadi tubuh ini langsung remuk jika digunakan berolahraga sebentar.
Padahal ditubuhku yang dulu, mau aku berlatih sampai hampir kehabisan nafas, aku tidak pernah merasakan badan remuk yang seperti ini.
Tandanya, aku harus merutinkan jadwal latihanku. Agar tubuh ini dapat terbiasa dan bisa fit seperti badanku yang dahulu.
Aku bangkit dari kasur dan memutuskan untuk mandi.
Berendam dengan air hangat ternyata bisa merilekskan ototku yang kemarin kupaksa berlatih dengan keras.
Bagaimana tidak? Aku terus berlatih dari sore sampai malam. Jika bukan Marvella yang menghentikan, mungkin aku akan kalap berlatih sampai subuh.
'Hari ini selesai sarapan aku akan berlatih seperti kemarin' Ucapku pada diri sendiri.
Mungkin aku akan mulai latihan hari ini dengan latihan ringan saja dulu. Tubuh ini terlalu kaget ketika mendapat latihan yang berat. Pedang kayu yang kemarin aku gunakan pun sangat berat. Membuat tanganku menjadi biru-biru di beberapa titik.
Selesai mandi aku mengeringkan tubuh. Hari ini aku akan memakai dress sederhana yang aku beli kemarin di toko lelaki tua itu.
Aku memakai dress sederhana itu dan melihat tubuhku di cermin. Dress ini terasa sangat ringan dan nyaman dipakai. Berbeda dengan dress ku yang kemarin. Terlalu berat dan banyak hiasan.
Aku sedikit memoles wajahku dengan make up yang sederhana.
Tok..tok...tok...
"Masuk!"
"Selamat pagi nona—" Sepertinya Marvella terkejut melihat diriku. Kenapa lagi kali ini?
"Ada apa?" Tanyaku menyelidik.
"Ah tidak nona. Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu Anda di meja makan."
"Baiklah, sebentar lagi aku akan menyusul." Ucapku pada Marvella.
"Baik nona, saya undur diri." Marvella keluar dari kamarku.
Aku meregangkan sedikit tubuhku yang masih terasa kaku.
Gaaahhh! Nikmatnya.
Setelah itu, aku pun keluar dari kamar dan mulai berjalan ke arah ruang makan.
__ADS_1
Sebenarnya aku tidak tahu dimana saja letak ruangan dirumah ini. Rumah ini sangat besar, berbeda dengan rumahku di zaman modern.
Namun feelingku mengatakan bahwa ruang makan ada di dekat dapur yang kemarin aku datangi.
Gotcha! Tebakanku ternyata tepat.
Aku melihat pelayan yang sibuk berlalu-lalang untuk menyiapkan makanan di meja makan.
Terlihat lelaki tua dan wanita tua yang sepertinya adalah orang tua dari pemilik tubuh ini sedang bersiap untuk makan.
"Salam. Selamat pagi ayahanda dan ibunda." Aku mengucapkannya dengan benar kan?
"Selamat pagi anakku! Ayo duduk dan sarapan dengan kami." Jawab lelaki tua itu.
Aku pun mengikuti perintahnya dan duduk di kursi depan mereka.
Di meja makan terhidang berbagai macam masakan yang luar biasa. Wanginya pun sangat menggoda untuk segera dilahap.
Aku mengambil berbagai macam makanan dengan kalap. Lupa bahwa aku adalah seorang putri bangsawan.
"Ekhm.." Lelaki tua— maksudku lelaki yang sekarang menjadi ayahku berdehem dengan keras. Mungkin dia memperingatkanku.
Aku yang tadinya makan dengan lahap pun makan dengan perlahan.
Aku hanya diam dan melanjutkan makan.
Beberapa hari berada disini, aku sama sekali belum mengetahui identitasku. Lebih baik nanti aku tanyakan setelah sarapan.
"Nak. Bukannya mau menyinggung, sepertinya kau harus belajar kembali dari awal mengenai tata krama bangsawan." Lelaki tua itu berbicara serius padaku.
Aku mengangguk pasrah. "Baiklah, Ayah."
"Selesai makan kau langsung pergi ke ruang baca. Temui Mrs.Narnia disana."
"Baik ayah.. Tapi sebelum itu, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Boleh. Setelah makan kita selesai."
Aku pun melanjutkan makan dengan tenang. Aku sangat penasaran dengan identitas dari tubuh ini.
Selesai makan, aku mengelap mulutku dan menatap kearah lelaki tua itu yang sepertinya telah selesai makan juga.
"Apa yang ingin kau tanyakan nak?" Sepertinya lelaki itu sangat peka dengan tatapan yang aku tunjukkan.
__ADS_1
"Sepertinya yang Ayahanda bilang, bahwa aku benar-benar lupa ingatan. Bisakah Ayahanda menjelaskan siapa nama lengkapku, apa pekerjaan ayah, apa identitasku dan juga identitas lengkap Ayah dan Ibu."
Lelaki tua itu sangat terkejut mendengar semua yang aku tanyakan. Wajahnya menunjukkan, 'sepertinya anakku benar-benar kehilangan ingatannya'.
"Hm baiklah. Ayah akan menjelaskan satu persatu. Pertama dari identitasku terlebih dahulu. Namaku adalah Charles Carlton. Dan ini Ibumu, Zevanya Carlton. Ayah saat ini menduduki posisi sebagai Duke. Duke di Kerjaaan Alberthos."
"Uhuk-uhuk..." Aku tersedak saat mendengar bahwa ternyata lelaki tua ini, maksudku Ayahku ini merupakan seorang Duke di Sebuah Kerajaan. Otomatis aku adalah seorang putri Duke?!
"Kamu tidak apa-apa?" Ayah menatapku dengan pandangan khawatir.
Aku tersenyum untuk menenangkan. "Aku tidak apa-apa Ayah. Silakan lanjutkan penjelasannya,"
Charles, atau lelaki yang aku panggil Ayah ini pun melanjutkan penjelasannya.
"Kini aku akan menjelaskan tentang identitas mu. Nama panjangmu adalah Zeldane Carlton. Umurmu saat ini 20 tahun. Kau biasa dipanggil Zelda atau Dane. Kau merupakan anak gadis semata wayangku. Dulu kau memiliki sifat ceria, manja, centil dan suka merajuk. Terakhir kau juga merupakan....."
Ayah menggantungkan kalimatnya, terlihat ragu ketika ingin melanjutkan perkataannya.
"Kenapa ayah? Ayo lanjutkan." Aku mendesaknya karena rasa penasaranku.
"Kau juga merupakan.. Tunangan dari Putra Mahkota."
Kali ini rasanya badanku tersambar petir di siang bolong. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Hidup di tubuh gadis ini saja sudah menjadi petaka untukku. Sekarang ternyata aku merupakan tunangan Putra Mahkota? Bagaimana bisa..
Aku melamun karena sangat shock.
"Kau tidak apa-apa Zelda?" Zevanya, Ibuku terlihat sangat khawatir karena melihat perubahan sikapku.
"Sejak kapan aku bertunangan dengan putra mahkota?" Tanyaku dengan tatapan kosong.
"Kau sudah dipasangkan dengan putra mahkota sejak kecil. Pertunangan sah kalian terjadi dua tahun yang lalu. Saat kau berumur 18 tahun." Ibu menjelaskan secara hati-hati.
"Lalu kenapa dia tidak hadir saat aku siuman? Bahkan sampai saat ini aku tidak melihat batang hidungnya."
"Mmm... Itu karena putra mahkota sibuk. Dia memiliki banyak kerjaan." Ayah terlihat ragu saat menjawab.
Apakah itu logis? Sesibuk apapun seseorang seharusnya jika tunangannya siuman setelah tenggelam, ia harus menengok dan memastikan keadaan tunangannya.
Atau jangan-jangan putra mahkota itu sama sekali tidak memiliki rasa pada Zelda? Gadis yang tubuhnya aku tempati?
"Besok aku akan ke istana. Aku ingin bertemu dengan 'Tunanganku' tersebut." Aku penasaran dengan wajah Putra Mahkota itu seperti apa. Aku harus bertemu dengannya secepat mungkin!
...•••••• Bersambung •••••...
__ADS_1