
Malam harinya aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku terus membayangkan bagaimana sosok 'Putra Mahkota' yang menjadi tunanganku itu.
Saat aku ada di tubuh lama, dari lahir sampai meninggal aku sama sekali tidak pernah dekat dengan cowok manapun. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan terlalu terlena dengan kekayaan yang aku miliki saat menjadi pembunuh bayaran.
Dulu aku memiliki motto, "Jika memiliki banyak uang, untuk apa mencari pasangan?."
Aku sama sekali tidak pernah jatuh cinta ataupun menanggapi lelaki yang jatuh cinta padaku. Menurutku itu sangat buang-buang waktu.
Lebih baik aku mencari banyak uang dan juga hidup dengan sejahtera walaupun sendiri. Setidaknya jika sendiri, aku tidak akan mengalami konflik atau drama percintaan seperti banyak yang diberitakan di sosmed.
Entah itu perselingkuhan, kdrt, toxic relationship maupun cinta bertepuk sebelah tangan. Sangat membuang-buang waktu bukan?
Namun walaupun begitu, aku masihlah wanita normal. Aku pun tergila-gila pada lelaki tampan. Ya, pembunuh bayaran pun berhak menjadi seorang 'fangirl' kan.
Aku jadi merindukan kehidupan modern ku yang dulu. Dengan segala fasilitas yang aku miliki. Kemewahan yang aku dapatkan atas kerja kerasku dan juga pekerjaanku yang sangat menantang.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk!"
Marvella membuka pintu sembari membawa segelas susu hangat.
"Permisi nona, ini saya bawakan susu hangat kesukaan nona."
"Terimakasih. Taro dulu di meja."
Marvella menaruh gelas susu di atas meja. Ia pun beranjak akan keluar dari kamar. "Saya pamit—"
"Tunggu dulu." Ucapku dengan cepat.
"Ada apa nona? Ada yang kau butuhkan lagi?" Marvella menatapku dengan bingung.
"Mmm.. Duduklah disini." Aku menepuk pinggiran ranjangku.
"Tapi nona—" Marvella terlihat segan dengan perintahku tersebut.
"Cepatlah! Aku ingin menanyakan tentang sesuatu." Aku menarik tangan Marvella agar ia duduk di sebelahku.
"Nona ingin menanyakan tentang apa?"
"Mm.. Bagaimana sosok Putra Mahkota?" Aku bertanya to the point.
"Nona lupa dengan Putra Mahkota?"
"Jawab saja cepat!"
__ADS_1
"B-baik, maafkan saya nona. Putra Mahkota merupakan sosok yang sangat sempurna. Ia tampan, berambut hitam, memiliki bola mata hitam yang tajam, hidungnya macung, badannya sangat tegap dan berisi, kulitnya berwarna putih seputih susu. Namun dia merupakan seorang pria dingin dan kejam."
"Sosok yang dingin dan kejam?"
"Iya nona. Ia sangat dingin kepada siapapun. Ia berbicara seperlunya dan juga tidak suka basa-basi. Pernah ada rumor, ada seseorang yang ingin membunuh putri atau adik Putra Mahkota. Setelah itu, Putra Mahkota mencari orang tersebut dan langsung memenggal kepalanya di tempat ia menemukan orang itu. Ia tidak mengenal kata maaf atau ampun ketika berhadapan dengan musuh."
Marvella menjelaskan panjang lebar. Matanya berbinar. Sepertinya ia mengagumi Putra Mahkota tersebut.
"Lalu bagaimana sikapnya kepadaku selama ini?"
Hening.
Entah kenapa Marvella malah menunduk, seperti takut menyinggung aku.
"Kenapa diam? Katakan apapun.."
"Tapi nona, aku takut Anda tersinggung." Marvella masih menundukkan kepalanya sambil meremas jemarinya.
"Tidak apa, aku tidak akan tersinggung ataupun marah. Cepat jelaskan." Aku mencoba meyakini Marvella.
"Mm.. Nona.. Dari dulu sangat menyukai Putra Mahkota. Namun, Putra Mahkota selalu bersikap dingin kepada nona. Ia tidak suka dengan sikap nona yang selalu berlebihan akan segala sesuatu. Maaf jika menyinggung. Beberapa minggu sebelum nona tenggelam, Putra Mahkota mengirimkan surat untuk membatalkan pertunangan dengan nona..."
"...Nona sangat sedih. Sehingga nona memutuskan untuk terjun ke sungai. Saat itu, Putra Mahkota datang menyelamatkan nona. Ia pun mengurungkan niat untuk membatalkan pertunangan kalian."
Ternyata gadis ini, Zelda yang asli, menenggelamkan diri ke sungai hanya karena Putra Mahkota ingin membatalkan pertunangan mereka? Tck. Kenapa sampai mengorbankan nyawa karena seorang lelaki? Kacau sekali gadis ini.
Aku saja yang tidak sengaja tenggelam karena dikejar oleh musuh, masih ingin hidup. Tapi gadis ini? Menyia-nyiakan hidupnya demi seorang lelaki?!
Argh aku sangat marah sekarang. Entah kenapa!
"Lalu jika Putra Mahkota menyelamatkan ku, kenapa setelah siuman dia tidak menemui ku?" Aku bertanya kembali kepada Marvella.
Aku masih penasaran alasan mengapa Putra Mahkota belum menemui gadis ini, maksudku diriku.
"Kalau tentang itu aku tidak tahu nona. Tapi memang Putra Mahkota jarang mengunjungi nona. Biasanya nona yang tiap Minggu datang ke istana kerajaan."
Haish, gadis ini, Zelda, kau sunggu merepotkan!
Apakah aku tidak usah bertemu saja besok dengan Putra Mahkota? Aku takut dia kegeeran karena menyangka aku ingin mengejarnya lagi.
Tapi aku sangat penasaran dengan sosoknya! Sialan!
••••••••
Keesokan paginya, aku tetap memutuskan untuk pergi ke istana kerajaan untuk menemui Putra Mahkota.
__ADS_1
Jika aku penasaran, aku tidak bisa hanya diam saja dan tidak melakukan apapun. Aku harus mengetahui secara jelas sosok tersebut! Aku ingin tahu, sosok lelaki yang dikejar oleh gadis yang memiliki tubuh ini, seperti apa.
Aku berangkat menggunakan kereta kuda. Perjalanan dari rumah ke istana kerajaan memang membutuhkan waktu sekitar 4 jam.
Merepotkan, tapi aku akan melakukan apapun untuk menebus rasa penasaranku.
Walaupun akan bertemu dengan Putra Mahkota, entah kenapa aku malas untuk berpenampilan heboh ataupun berdandan yang sangat cantik. Untuk apa? Jika aku ingin berdandan akan kulakukan demi diriku sendiri.
Aku memakai riasan sederhana dan juga gaun sederhana yang kemarin aku beli di toko pak tua itu.
Kereta kuda rasanya berjalan sangat lambat. Jika saja aku diperbolehkan menunggangi kuda sendirian, pasti aku bisa menghemat waktu perjalanan.
Mataku rasanya sangat berat. Aku pun memutuskan untuk tidur.
Ketika sedang asik bermimpi, entah kenapa kereta kuda ini berhenti berjalan. Diluar pun terdengar suara berisik. Ada apa?
"SERAHKAN BARANG BERHARGA KALIAN!" Terdengar suara lelaki asing yang berteriak.
Aku hanya duduk sendiri di dalam kereta kuda. ini. Marvella beserta pelayan yang lain duduk di kereta kuda yang berbeda.
"Jangan macam-macam kalian! Kami adalah pengawal Duke!" Ucap salah seorang lelaki yang sepertinya pengawalku.
"HAHAHAHA! Kami tidak peduli kalian pengawal Duke, bahkan jika kalian adalah pengawal kerajaan, kami pun akan tetap memberhentikan kalian!" Terdengar banyak suara lelaki yang tertawa.
Aku mengintip dari celah jendela.
"Kurang ajar kalian—"
JLEB.
Mataku membulat.
Pengawal tadi ditusuk menggunakan pedang. Ia pun terjatuh ke tanah.
"BERKELILING DI KERETA KUDA NONA MUDA! SELAMATKAN NONA!" Salah satu pengawal memberi perintah kepada pengawal yang lain.
Mereka pun membentuk formasi untuk melindungi kereta kuda yang aku naiki.
Bagaimana dengan kereta kuda pelayan? Apakah baik-baik saja?
Ah sial. Aku tak suka melihat orang-orang mengorbankan nyawanya demi aku.
Sepertinya kali ini aku harus turun tangan. Walaupun tubuh ini sedikit lemah, aku masih ingat gerakan-gerakan bela diri dan sedikit gerakan bertarung menggunakan pedang.
...••••••• BERSAMBUNG ••••••...
__ADS_1