
{ Masih Author's POV }
Zelda melangkah kembali, namun Putra Mahkota memegang lengannya dengan erat dan menahannya.
"Ada apa sebenarnya? Kemarin kau menceburkan diri ke sungai hanya karena tidak mau pertunangan kita batal. Namun sekarang? Kau ingin membatalkannya?" Terdengar nada marah dari Putra Mahkota.
"Bukankah harusnya kau senang jika aku dengan sukarela ingin membatalkan pertunangan ini? Sejak kapan kau peduli dengan masalah ini?" Ucap Zelda dengan nada dingin.
Entah kenapa Putra Mahkota tidak terima dengan perubahan drastis Zelda.
"Tidak. Pertunangan kita tidak boleh batal." Putra Mahkota menekankan kalimatnya.
"Bukankah selama ini kau selalu menolakku dan risih dengan kehadiranku di sekitarmu? Lebih baik dibatalkan saja bukan. Banyak putri bangsawan yang lebih cantik dan baik yang tentunya mau bersamamu." Zelda pun membalas dengan nada tegas.
Putra Mahkota masih tidak terima. "Kenapa kau tiba-tiba berubah? Apa rumor kau hilang ingatan itu benar?"
Zelda menatap mata Putra Mahkota dalam. "Ya aku memang hilang ingatan. Namun aku bersyukur, setidaknya aku tidak ingat bahwa aku pernah mengemis-ngemis cinta padamu seperti budak cinta. Sekarang tolong lepaskan aku."
Putra Mahkota membalas tatapan Zelda dengan tajam. "Tidak. Kau tidak boleh membatalkan pertunangan kita sepihak. Hanya aku yang boleh. Percakapan hari ini selesai."
Putra Mahkota melangkahkan kakinya keluar ruang tamu, namun tertahan saat mendengar kalimat dari Zelda.
"Jadi hanya Anda yang bisa membatalkan pertunangan ini? Pernyataan konyol apa itu. Lebih baik saya hidup tanpa lelaki arogan sepertimu. Saya menyesal datang kesini dan bertemu Anda, Yang Mulia Putra Mahkota. Saya pamit undur diri." Zelda melewati Putra Mahkota tanpa melihatnya sedikit pun.
Putra Mahkota menatap kepergian Zelda dengan emosi yang berkecamuk.
••••
{ Back to Zelda POV }
Setelah pulang dari istana kerajaan, aku pun langsung kembali ke rumahku. Hari ini, moodku sangat hancur.
Jika mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu, rasanya aku sangat ingin menendang putra mahkota dan juga ingin sekali meneriakan kata-kata kasar di depan wajah Putra Mahkota.
Bagaimana bisa dia berbicara se egois itu?
Aku tidak suka lelaki labil.
Di kehidupanku sebelumnya, aku hanya memikirkan bagaimana caranya untuk memperkaya diriku sendiri. Aku tidak butuh lelaki. Memangnya cinta bisa mengenyangkan perutku?
__ADS_1
Selama aku bisa berdiri dengan kaki ku sendiri dan juga menghidupi diri sendiri. Untuk apa aku capek-capek mengejar cinta dari seseorang yang baru aku kenal?
Aku masuk ke rumah dengan langkah tak sabaran.
"Dimana ayah?" Tanyaku pada salah satu pengawal yang ada di dalam rumah.
"Tuan besar sedang berada di ruang kerjanya." Jawab pengawal itu.
Baguslah, aku ingin segera menyelesaikan permasalahan pertunangan dengan Putra Mahkota. Jika tidak diselesaikan sekarang, pasti akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Tok..tok..tok..
"Masuk!" Terdengar suara tegas dari dalam ruangan.
Aku membuka pintu dengan perlahan.
Ayah terkejut melihat aku yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Zelda? Tumben sekali kau datang ke ruang kerja ayah."
Aku duduk di depan meja kerja ayah, "Ayah ada yang ingin aku katakan dan penting." Aku memasang wajah serius.
"Aku ingin membatalkan pertunangan ku dengan Putra Mahkota." Ucapku dengan tegas.
Tubuh ayah terlihat membeku beberapa detik. Ia menatapku dengan tidak percaya.
"Kau sedang bercanda bukan?" Ayah memastikan kembali perkataan ku.
"Apakah saat ini wajahku menunjukkan bahwa aku sedang bercanda?"
Ayah terdiam, "Bukankah kau sangat mencintai Putra Mahkota? Bahkan—" Ayah tak melanjutkan perkataannya. Mungkin yang ia ingin bicarakan mengenai aku yang menenggelamkan diri ke sungai karena Putra Mahkota.
"Ya aku tau aku sampai menenggelamkan diri karena Putra Mahkota. Tapi itu adalah diriku yang lama. Diriku yang sekarang sama sekali tidak mencintai Putra Mahkota."
Terlihat wajah ayah yang nampak berpikir keras. "Ayah tidak bisa mengabulkan permintaan mu yang ini, Zelda."
"Kenapa?"
"Di negara kita, wanita tidak boleh membatalkan pertunangan. Hanya lelaki yang boleh membatalkan pertunangan."
__ADS_1
Aku membulatkan mataku karena tidak percaya dengan hal yang aku dengar barusan.
Hukum macam apa ini? Sangat mencerminkan Patriarki!
"Apakah ini lelucon?" Aku tertawa sarkas.
"Tidak. Jika kau ingin membatalkan pertunangan, kau akan mendapatkan sanksi sosial. Apalagi jika kau adalah Tunangan Putra Mahkota." Ayah menatapku dengan serius.
"Sanksi macam apa yang ayah maksud?"
"Kau akan diasingkan dan sampai sisa umurmu, tidak boleh ada lelaki lain yang melamarmu. Kau tidak boleh menikah dengan pria lain jika kau membatalkan pertunangan dengan Putra Mahkota."
Aku terdiam mendengar penjelasan ayah.
Sebenarnya aku tak masalah jika hidup tanpa lelaki. Tapi bagaimana jika suatu saat hari nanti aku menginginkan anak? Apakah aku akan hidup kesepian dengan sanksi sosial yang ada? Rakyat yang ada disekitar ku pasti akan merendahkan aku. Sialan.
Aku menghela nafas panjang. Ini sungguh rumit. Andai aku bisa kembali ke dunia modern ku yang bebas..
"Jika Putra Mahkota yang membatalkan pertunangan, apakah aku masih bisa menikah?"
"Bisa. Tapi jarang ada pria yang berani mendekati mantan tunangan Putra Mahkota."
"Kenapa?"
"Tidak ada yang berani mengambil 'bekas' orang-orang kerajaan."
Aku menggigit kuku ku pelan. Sangat frustasi tinggal di negara ini. Apa aku harus kabur dan berkelana?
"Kalau begitu ayah, bagaimana jika aku meminta Putra Mahkota membatalkan pertunangannya dan pergi berkelana ke tempat lain?"
Ayah menatapku tajam. "Jangan bercanda Zelda. Aku tidak akan mengizinkannya. Kau Putri semata wayangku!"
"Tapi ayah—"
"Sudah cukup percakapan hari ini. Ayah sedang sibuk. Kembalilah ke kamarmu." Ayah langsung membuka kembali dan sibuk berkutat dengan dokumennya.
Hufft.. Ini akan sulit. Bagaimana caranya aku bisa bertahan disini?
Apa yang harus aku lakukan untuk mewarnai hidupku yang membosankan disini?
__ADS_1
...••••••• BERSAMBUNG ••••••••...