FEMALE WARRIOR

FEMALE WARRIOR
CHAPTER. 6


__ADS_3

Aku keluar dari kereta kuda.


Semua yang ada diluar langsung menatapku.


"Nona! Tetaplah di dalam kereta kuda!" Salah satu pengawal menunjukkan raut khawatir dan memperingatkan ku.


Bandit-bandit yang ada di depan kereta kuda, menatap aku dengan tatapan melecehkan.


"Ternyata ada berlian yang disembunyikan di kereta kuda ini. Eh dia malah keluar sendiri. Malam ini kita akan bersenang-senang dan berpesta ria! HAHAHAHA!" Salah satu bandit menunjukku lalu tertawa bersama bandit lain.


Entah kenapa aku sangat geram, beraninya dia berlaku seperti itu padaku.


Dengan gerakan cepat, aku mengambil pedang yang sedang dipegang oleh salah satu pengawal di dekatku.


Aku mendekati bandit itu tanpa dia sadari, dan menusukkan pedang tepat di jantungnya.


"Brengsek. Beraninya kau menatapku seperti itu dengan matamu yang menjijikkan! Sekarang pergilah ke Neraka!" Aku mencabut pedangku dengan cepat. Darah bandit itu bermuncratan mengenai wajah dan gaunku.


Bandit yang aku tusuk langsung terjatuh diatas tanah.


Semua orang, para bandit maupun pengawalku sangat terkejut melihat apa yang aku lakukan.


"Bagaimana bisa seorang wanita menggunakan pedang!" Ucap salah satu bandit yang menatapku takut-takut.


Aku menguarkan tatapan mematikan kepada mereka. Beraninya mereka mengganggu perjalananku.


"Ayo cepat kita selesaikan. Aku ada urusan penting. Cepat kemari jika kalian ingin menyusul teman kalian ke neraka!" Aku berteriak lantang di depan para bandit itu.


Terlihat ada beberapa bandit yang marah dan mengeluarkan senjatanya.


"Nona, biar kami saja yang—"


"Mundur! Jangan campuri urusanku. Aku tidak suka seseorang mengorbankan nyawanya demi melindungiku. Aku bisa melindungi diriku sendiri." Ucapku dengan tegas kepada salah satu pengawal.


Pengawal tersebut tetap diam di tempat. "Tapi nona, bagaimana jika nona kenapa-kenapa.."


"Mundur atau aku tebas kepala kalian juga?" Ucapku dengan penuh penekanan.


Para pengawal mundur.


Aku maju selangkah sambil meregangkan tubuh. Padahal aku belum sama sekali memperkuat tubuh ini, namun aku sudah harus melawan musuh.


Untungnya, insting membunuhku masih ada.


Satu persatu bandit maju dan menyerangku menggunakan berbagai macam senjata tajam.


"SERANG GADIS ITU!!"


"Seorang wanita bisa apa sih? Mungkin tadi hanya kebetulan!"


"Dasar gadis sialan! Lihat saja kau akan menjadi santapanku!"


"Menyerah saja gadis bodoh! Lebih baik kau bersenang-senang bersama kami"


"Jika dia mati, sepertinya jasadnya bisa tetap kita gunakan untuk bersenang-senang"


Aku makin marah mendengar kalimat-kalimat kotor yang dikeluarkan oleh para bandit.


Akan ku beri pelajaran kalian brengsek. Jangan meremehkan aku, pembunuh bayaran wanita paling mematikan di dunia modern!


Aku menyerang bandit itu satu persatu dengan pedang yang aku pegang.


Walaupun tubuh ini lemah, tubuh ini tetap bisa bergerak dengan gesit sehingga tidak menghalangi langkahku. Hanya gaun sialan ini yang membuatku sedikit terhambat.

__ADS_1


Ada bandit yang ingin menyerangku dengan celurit. Aku berhasil menghindar. Aku tendang perutnya dengan keras, hingga dia jatuh dan aku tancapkan pedang di dadanya.


JLEB.


"Akhh.. Gadis...Sialan!!..."


Aku kembali mencabut pedang itu dan menyerang bandit lain.


"Kau yang sialan brengsek!" Ucapku dengan penuh amarah.


Aku mengangkat gaunku dan menendang bandit yang ingin mendekatiku dengan high heels yang aku pakai.


"Akhhh....." Aku menginjak kaki salah satu bandit yang terjatuh dengan high heels ku, hingga ujung high heels tersebut menancap di kakinya. Aku tarik kembali high heels ku dan menyerang bandit lain.


Bandit yang tersisa sekitar 3 orang dari 15 bandit yang aku lawan.


Aku menatap mereka dengan tatapan nyalang, "Kalian tetap ingin mati atau pergi dari hadapanku sekarang?"


Ketiga bandit tersebut terlihat ragu. Antara ingin menyerangku atau kabur.


"Aku hitung sampai 3. Kalau dalam hitungan 3 kalian masih ada dihadapanku, aku yang akan menyerang kalian!" Aku mendekati ketiga bandit tersebut secara perlahan.


"1...2...."


"A-ampun nona." Belum sampai aku selesai menghitung, ketiga bandit tersebut ternyata lebih menyayangi nyawanya dan kabur.


"Fiuhh.."


Aku terduduk dilantai.


Para pengawal dan pelayan langsung menghampiriku.


"Nona tidak apa-apa?"


"Kenapa Nona senekat itu?"


"Nona apakah sakit?"


"Nona.."


"Nona.."


"BERISIK!" Aku bangkit kembali dan berjalan kearah kereta kudaku.


"Nona, bukankah lebih baik kita kembali ke rumah? Sepertinya nona terlihat sangat lelah, wajah dan gaun nona penuh darah.." Tanya salah satu pengawalku.


"Tidak. Aku tetap akan menemui Putra Mahkota apapun yang terjadi."


"Tapi Nona—"


"Jika kalian membantah, aku akan berangkat sendiri menggunakan kuda ini." Aku menunjuk salah satu kuda yang digunaka oleh pengawal.


"B-baik kalau begitu nona.."


Akhirnya perjalanan menuju istana kerajaan pun dilanjutkan.


••••••


{ Author's POV }


Seorang lelaki tampan sedang serius memeriksa berkas di meja kerjanya. Ia membaca berkas tersebut dengan seksama.


Tok...tok..tok..

__ADS_1


"Masuk."


Seorang pelayan masuk kedalam ruangan Putra Mahkota.


"Salam, Yang Mulia Putra Mahkota." Ucapnya sambil membungkukkan pada.


"Ada apa?" Jawab Putra Mahkota dengan dingin.


"Ada tamu yang mendatangi Anda."


"Siapa?"


"Tunangan Anda. Nona Zelda."


Putra Mahkota menghela nafas. "Bilang padanya bahwa aku sedang sibuk dan tidak bisa diganggu."


"Tapi mohon maaf sebelumnya Yang Mulia. Nona Zelda datang dengan wajah dan pakaian yang penuh darah."


Putra Mahkota membulatkan matanya. "Suruh dia untuk menunggu di ruang tamu istana."


"Baik Yang Mulia. Saya Pamit undur diri."


'Kali ini gadis itu melakukan apalagi?' Bathin Sang Putra Mahkota.


Zelda duduk dengan tenang di kursi ruang tamu. Ia merasa tubuhnya bau anyir akibat darah yang masih menempel di wajah dan gaunnya. Ia belum sempat untuk membersihkan tubuhnya.


'Krieet..'


Pintu pun terbuka.


Seorang lelaki tampan dengan badan tegap memasuki ruang tamu. Kini ia duduk dihadapan Zelda dengan tatapan terkejut namun berusaha menyembunyikan ekspresinya.


"Salam, Yang Mulia Putra Mahkota." Ucap Zelda sambil membungkukkan badannya.


"Kali ini apa lagi yang kau perbuat?" Tanya lelaki itu dengan dingin.


Zelda menatap Putra Mahkota dengan tatapan tidak dapat diartikan.


"Saya tadi bertemu bandit dijalan dan saya bertarung dengan mereka." Jawab Zelda dengan tenang.


Putra Mahkota kini tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.


Bukankah gadis yang ada dihadapannya ini adalah gadis manja? Lalu di zaman ini, bukankah wanita tidak boleh memegang senjata?


"Bicaralah yang masuk akal. Apakah otakmu jadi error' setelah siuman?"


Zelda mengeratkan rahangnya. Selain dingin, ternyata Putra Mahkota ini berbicara dengan tidak sopan.


"Pantaskah Anda berkata seperti itu pada Tunangan Anda?" Zelda tersenyum tipis.


Putra Mahkota mengerutkan keningnya. 'Biasanya gadis ini akan bicara sembarangan juga dan tak pernah setenang ini'


"Aku rasa, rasa penasaranku sudah terbayarkan. Akhirnya aku tau sosok Putra Mahkota seperti apa," Zelda bangkit dari duduknya, "Aku izin pamit, Yang Mulia." Zelda menatap Putra Mahkota datar.


"Apakah kau benar Zelda?" Putra Mahkota masih bingung dengan situasi yang ada.


"Oh ya. Satu lagi. Bukankah waktu itu Anda ingin membatalkan pertunangan kita? Batalkan saja. Aku tidak butuh lelaki seperti Anda." Zelda hendak beranjak pergi.


Putra Mahkota bangkit dan menatap Zelda dengan marah. "Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau menghinaku?"


Zelda menatap Putra Mahkota dengan sinis. "Tidak. Mana berani aku menghina Putra Mahkota. Aku hanya ingin mengabulkan permintaanmu. Membatalkan pertunangan kita."


...•••••• BERSAMBUNG •••••...

__ADS_1


__ADS_2