For 1000 Years Longing

For 1000 Years Longing
Si Gadis Desa


__ADS_3

"Manusia, hanyalah makhluk hina yang tidak tahu apa-apa. Bahkan jalan takdirnya sendiri pun, bukan ia yang memilihnya ..."


♡♡♡


Klang ... Klang ... Klang ...


Suara denting pedang yang beradu terdengar dimana-mana, hawa panas menggerahkan menebar teror di penjuru kota. Jerit-tangis rakyat menggema meminta pertolongan, sesaknya dada karena asap dikalahkan dengan sesaknya kehilangan keluarga di tengah medan perang. Sekelebat prajurit dengan baju baja melintas di lorong-lorong perumahan, bertemu dengan musuh-musuh pengganggu ketenangan malam. Ahh ... Apa lagi ini? Dimana aku? Kenapa aku ada di sisni? Semua melintas begitu cepat, tak mampu lagi tercerna oleh pikiran ... .


Haahh ... Haahh ...


Keringat dingin membanjiri tubuh, udara seolah tidak mau lagi mengisi paru-paru. Detak jantung begitu kencang, seakan hendak keluar dari tempatnya. Wajahnya pucat pasi, memperlihatkan rasa takut dan gelisah yang beraduk menjadi satu. Langit masih gelap, tapi ayam-ayam tetangga sudah mulai berkokok, ini masih subuh. Dinginnya pagi hari tidak lagi terasa menyegarkan, lupa bagaimana rasanya menikmati udara pagi.


Baru saja gadis itu membuka mata, tapi kelebatan tragedi dalam mimpi itu masih teringat jelas. Mimpi itu seakan terlalu nyata untuk disebut sebuah mimpi buruk, sangat buruk. Sesekali menelan ludah untuk sedikit membasahi tenggorokan, masih kurang, mungkin yang dibutuhkan adalah segelas air putih. Gadis kecil itu memutuskan bergegas ke dapur untuk mengambil air putih, tak peduli dengan rambut coklat panjangnya yang berantakan, setidaknya ia bisa sedikit menenangkan diri dari kekagetannya.


Rumah kayu itu tidak terlalu besar, hanya ada ruang tamu, dua kamar tidur yang berdampingan, dan dapur yang sekaligus menjadi ruang makan yang terpisah dengan tirai dari ruang tamu. Tidak ada kamar mandi di sana, masih bergantung dengan mata air, danau, dan sungai yang ada di dalam hutan belakang rumah. Air putih itu terlihat menyegarkan, sesegar embun pagi. Penerangan rumah yang masih sederhana cukup untuk memperlihatkan jalan menuju dapur.

__ADS_1


Seteguk, dua, tiga teguk, perlahan tenggorokannya mulai basah lagi. Pipinya kembali merona, tidak pucat lagi. Mimpi itu masih saja berkelebatan dalam ingatannya, bagaimana jeritan yang terdengar, bagaimana kacaunya keadaan dalam mimpi itu masih terasa sangat jelas. Helaan nafas panjang terdengar dari gadis itu, sungguh mimpi yang sangat buruk. Semoga saja dalam kehidupannya tidak akan pernah mendapati keadaan yang sangat buruk seperti itu.


Setidaknya, kini segelas air putih itu mampu menetralkan detak jantungnya. Meskipun masih belum bisa menenangkan keresahannya dengan sempurna. Nenek masih tertidur lelap, bahkan saat ia menyalakan lampu rumah itu, mungkin beliau kelelahan.


Tidak ada siapa-siapa lagi dirumah kayu tua itu selain ia dan neneknya. Jangan tanya dimana ayah-ibu, kata Nenek mereka sibuk di luar kota, tapi gadis itu tahu kalau neneknya bohong, ayah-ibu memang tidak pernah ada dalam keluarga itu. Jangan tanya bagaimana ia tahu, gadis kecil ini cukup cerdas untuk anak seusianya. Tidak adanya jejak dari keberadaan orang tua, menjadi sebuah petunjuk paling jelas di depan matanya.


Sebentar lagi pagi akan menyapa, tidak ada gunanya kembali ke tempat tidur. Mungkin sebaiknya ia lekas membersihkan diri dan bersiap untuk ke pasar. Lima belas menit adalah hitungan yang terlalu lama untuk digunakan bersiap-siap. Cukup cuci muka menggunakan mata air dari hutan yang tersalur ke belakang rumah dengan potongan bambu yang tersusun, hasil karya nenek.


Sekejap saja, semua sudah selesai. Gadis itu mengepang rambut coklatnya yang panjang, cantik. Berikutnya hanyalah menyiapkan sarapan. Tidak sulit, dia sudah terbiasa melakukannya, apalagi kalau nenek sedang sakit. Gadis itu masih berusia tiga belas tahun, tapi ia memang sangat cerdas, dia istimewa.


Gadis yang dipanggil Elvina itu lantas menoleh dan menjawab panggilan nenek. “Iya, Nek. Sarapannya sebentar lagi siap, kita bisa sarapan bersama, lalu cepat-cepat ke pasar, biar tidak kehabisan sayur segar.” Seperti biasa, gadis itu selalu bersemangat. Mungkin dia sudah bisa sedikit melupakan mimpi buruknya semalam, suasana hatinya terlihat lebih baik. Atau mungkin bahkan sekedar mencoba menghilangkan mimpi buruk itu, entahlah? Dia masih kecil, tapi telah mampu mengendalikan diri dari hal-hal kecil seperti mimpi buruk, selalu berusaha mandiri.


“Kau semagat sekali, Vina. Baiklah, nenek akan bergegas.” Tidak perlu waktu lama, sebentar saja nenek sudah terlihat rapi, rambut kelabunya tergelung dengan cantik.


Pagi ini, sesuai rencana mereka akan pergi ke pasar untuk membeli sayur segar yang akan digunakan besok. Karena rumah mereka ada di pinggir desa, jarak dari rumah ke pasar menjadi lebih jauh, sekitar lima kilometer. Mereka tidak memiliki kendaraan pribadi, hanya bisa berjalan kaki, untung-untung kalau nanti ada yang mau memberi mereka tumpangan.

__ADS_1


Matahari mulai naik, pasar masih ramai dengan transaksi jual beli. Beberapa  pedangang menjajakan dagangannya, mengobral strategi dengan diskon, menawarkan dengan suara lantang, sangat ramai. Mereka baru saja sampai di area pasar, tapi keringat sudah mengucur sejak tadi. Perjalanan itu menghabiskan waktu dua jam, dan juga menghabiskan nafas mereka yang sudah ngos-ngosan, terutama nenek yang usianya lebih dari paruh abad.


Tidak perlu berlama-lama mencari sayur, nenek punya seorang teman yang menjadi pedagang sayur di sana, nenek menjadi pelanggan tetap.


“Vina, besok kau mau menu sayur apa?” Tanya nenek menawarkan.


“Apa saja, nek. Elvina, gak mau pilih-pilih, kok. Kalau nenek yang masak pasti enak.” Senyum manisnya menghias wajah mungil itu.


“Masakan Elvina juga enak, nenek suka. Kau memang anak pintar,” puji nenek.


Elvina tidak punya keluarga lagi selain nenek, baginya nenek adalah seseorang yang paling berharga baginya. Nenek yang merawatnya sejak kecil, bahkan sejak ia masih belum bisa mengukir ingatannya dengan jelas. Ia tidak pernah tahu, apa alasan nenek mau merawatnya, mungkin karena kesepian, atau bisa jadi juga karena kasihan. Dari apa yang pernah ia dengar dari kasak-kusuk tetangga, dia hanyalah anak pungut yang ditemukan di depan rumah kayu nenek. Nenek sendiri sudah tua, renta, sakit-sakitan, bahkan kesulitan untuk mencukupi kehidupannya sendiri. Penghasilan yang digunakan untuk menghidupi keluarga kecil itu sampai saat ini, hanya pendapatan dari hasil kayu bakar dari hutan belakang rumah yang dijual dengan harga rendah kepada tetangga yang rumahnya berjarak kurang lebih dua petak sawah. Di pasar mungkin harganya bisa sedikit lebih tinggi, karena lokasinya berada di perkotaan yang jauh dari hutan. Tetapi nenek tidak mampu membawanya sejauh itu, tubuhnya sudah lapuk dimakan usia. Sementara Elvina hanya bisa membantu mencari kayu-kayu itu setiap sore sebelum matahari terbenam.


Kesibukan membantu nenek membuat Elvina jarang bermain dengan anak yang seumuran dengannya, pola pikirnya berkembang lebih cepat dari pada anak sebayanya, lebih dewasa. Mungkin memang dalam hidupnya, ia takdirkan untuk menjadi anugerah Tuhan untuk membantu dan menjaga nenek yang tidak memiliki siapa-siapa itu. Rahasia Tuhan memang siapalah yang tahu, manusia hanya makhluk hina yang tidak pandai menebak takdir, bukan?


______________***______________

__ADS_1


__ADS_2