For 1000 Years Longing

For 1000 Years Longing
Siapa?


__ADS_3

Tahun-tahun berganti, Elvina bukan lagi anak kecil yang perlu dituntun Nenek. Dia sudah berumur enam belas tahun, cukup mandiri untuk anak-anak lain yang seumuran dengannya. Dua hari sekali setiap pagi, ia pergi ke pasar sendiri, tanpa nenek. Nenek yang semakin lemah dengan berat hati mencoba melepas Elvina untuk pergi sendiri. Elvina yang mengerti keadaan tersebut, berusaha berbesar hati meninggalkan nenek untuk menunggu di rumah.


Pagi ini juga begitu, berjalan kaki ke pasar yang berjarak lima kilometer sendirian adalah hal yang biasa baginya. Tidak ada yang membuatnya merasa takut. Toh,  jalanan menuju pasar terlihat ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang untuk pergi bekerja.


Gruduk ... Gruduk ...


Elvina memandang ke arah langit yang mulai menggelap. Musim hujan selalu begini, bahkan matahari pagi tidak diizinkan menyapa bumi. Gadis itu lupa membawa payung, kembali ke rumah sudah kepalang tanggung, terlalu jauh. Lebih baik ia bergegas ke tempat tujuan, masih separuh perjalanan lagi.


Elvina sudah memasuki jalanan perkotaan. Sebentar lagi akan sampai ke area pasar. Sederet toko dan warung makan mengelilingi jalanan itu, sangat ramai dan sesak dipenuhi pengunjung. Maklum saja, jalanan ini adalah jalur utama yang harus dilalui jika ingin sampai ke kota berikutnya.


Terlihat rombongan turis yang baru saja keluar dari penginapan. Pakaian para wanita di antara mereka indah berhias bordiran bunga-bunga, rambut mereka tergerai cantik berkilau, beberapa dari mereka ada yang dikepang panjang. Aksesoris menghiasi hampir setiap bagian tubuh, dari hiasan rambut sampai aksesoris bangsawan yang tersemat pada pakaian.


Sebagian dari anak-anak mereka berlarian, bermain, bermanja kepada ibunya. Pandangan bangga seorang ayah yang melihat putranya bisa melakukan hal baru. Senyum penuh kasih sayang seorang ibu saat putrinya menangis karena terjatuh. Lihat tepukan hangat itu, pelukan paling nyaman.


Ahh, iya. Elvina tidak pernah mempunyai seorang ibu ataupun ayah, ia hanya punya Nenek yang senantiasa menyayanginya. Tapi tetap saja, dia masih merindukan bagaimana rasanya pelukan ibu yang tidak pernah dirasakannya, apakah sama dengan pelukan Nenek yang menghiburnya saat ia sedang bersedih? Sepertinya ia tidak punya kesempatan untuk merasakannya. Toh, selama ini bukankah Nenek sudah merawat dan menjaganya dengan baik? Dan ia masih baik-baik saja, bukan?


Dukk ... Brakk ...


“Awww... Shhh...” Seseorang menabrak Elvina dan membuanya terjatuh. Cukup untuk membuyarkan lamunannya tentang ibu dan ayah yang dirindukannya.

__ADS_1


“Ahh, maafkan aku, Nona. Aku terlalu terburu-buru sampai tidak memperhatikan jalanku.” Seorang lelaki berpakaian gelap dengan rambut pirang sebahu menjulurkan tangannya pada Elvina dan membantunya berdiri, “Apakah anda terluka, Nona?”


“Ah, aku tidak apa-apa 'kok,” Elvina tersenyum tulus. “Terima kasih sudah membantuku, Tuan.”


“Jangan terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak penting, nona," kata lelaki itu sambil tersenyum. Ya, Elvina hanya bisa melihat senyuman dari bibir tipis itu, topi gelapnya menutupi wajah bagian atasnya. "Kalau begitu, aku permisi dulu.” Pria itu membungkukkan badan kepada Elvina, lantas pergi begitu saja dengan langkah tergesa-gesa.


Seharusnya Elvina tidak terlalu peduli siapa dia sebenarnya, sudah biasa hal seperti itu terjadi di tempat umum. Dia justru berterima kasih pada lelaki itu karena membuyarkan lamunannya. Karena kalau lebih lama lagi dia melamun, bisa jadi gadis itu sampai di rumah dengan basah kuyup mandi hujan. Langit semakin menggelap dan dia masih belum membeli sayurnya, dia harus bergegas. Tapi kata-kata lelaki itu sebelum berpamitan menjadi sesuatu yang berputar-putar dibenaknya. Apa maksudnya itu?


Sepertinya hari ini bukan keberuntungan Elvina. Entah karena ia terlalu lama melamun ataukah terlambat berangkat ke pasar hari ini, yang pasti sayur segar di pedagang sayur langganan Nenek sudah habis laku terjual semua. Mau tidak mau, ia harus mencari ke pedagang lain.


Elvina mulai menyusuri lorong demi lorong perumahan kota, sendirian. Tidak peduli sekalipun itu lorong kecil, Elvina tetap melaluinya. Hanya satu-dua orang yang melewati lorong itu. Elvina sedikit was-was. Ia memang pernah melewati lorong itu bersama Nenek, tapi ia tak pernah melewati lorong itu sendirian. Bagaimana kalau ada berandal mabuk yang lewat? Bagaimana kalau tiba-tiba saja ada penculik? Pikiran-pikiran buruk mulai masuk di rongga kepalanya.


Klontang ... Klontang ... Klontang ...


Srek-srek ...


Aduuuhhh ... Apa, sih, itu? Batinnya merasa was-was, tapi juga penasaran.


“Meeoowww ... !!”

__ADS_1


Ah, sepertinya suara kucing yang sedang mencari makan di tempat sampah. Namun, tiba-tiba ia merasakan pergerakan lain, bukan kucing. Ia berusaha tidak memperdulikan keadaan yang mengganjal baginya itu. Tapi tetap saja, Elvina menjadi semakin awas terhadap keadaan sekitar. Ia merasa ada yang mengikutinya. Dengan jarak yang aman, seseorang sepertinya sedang mengikuti Elvina. Di toko sayur, di jalanan menuju rumah, bahkan hingga ia sampai ke rumah.


Setidaknya ia bisa bersyukur untuk satu hal, dia bisa sampai rumah dengan selamat dan tidak kehujanan. Suara guntur sudah bersahutan sejak pagi tadi, mendung hitam gelap juga sudah sempurna menutupi lagit. Elvina tidak memikirkan lagi kejadian selama di pasar, biarlah Nenek tidak tahu. Ia tidak ingin membuat Nenek khawatir, bisa saja itu hanya rasa takutnya yang tanpa alasan, toh, dia masih baik-baik saja sampai ke rumah.


“Ahh ... Vina, sepertinya kita tidak bisa mencari ikan ke sungai hari ini. Maafkan  Nenekmu ini, ya, Nak,” sesal Nenek melihat mendung yang semakin tebal.


“Hmm ... Tidak masalah, kok, Nek. Mungkin kita bisa mencari ikan di lain hari, mungkin besok, atau lusa.” Elvina tersenyum, memperlihatkan gigi mentimunnya yang tertata rapi.


“Nenek hanya khawatir kamu bosan makan sayur terus setiap hari. Karena itu, Nenek mau mengajakmu mencari ikan di sungai,” Nenek menghela nafas, “Tapi sepertinya kita tidak terlalu beruntung, sebentar lagi akan hujan. Kalau kulihat sepertinya juga akan ada badai.” Nenek menghela nafas lagi.


Nenek bersyukur Tuhan menitipkan padanya seorang anak gadis yang begitu pandai. Selama hidupnya, Nenek tidak pernah dikaruniai buah hati, bahkan hingga detik terakhirnya bersama sang kakek yang meninggal di usia yang cukup muda, tidak ada tanda-tanda akan adanya buah hati. Hingga pagi itu, saat Nenek akan pergi ke pasar, di depan pintu tiba-tiba tergeletak bayi mungil, entah siapa ibunya yang tega membiarkan anaknya begitu saja. Saat itu Nenek merasa senang sekaligus kasihan, akhirnya Nenek memutuskan untuk merawat bayi itu hingga saat ini, dan memberinya nama Elvina.


Siang berganti malam, nyanyian burung berganti suara jangkrik dan belalang. Rumah kayu itu sudah sepi, Elvina dan Nenek sudah tertidur. Hawa malam itu terasa sejuk sekali setelah seharian terguyur air hujan, cukup nyaman untuk bergelung dibawah selimut semalaman.


Tapi tidak begitu yang Elvina rasakan, tidurnya terlihat tidak nyenyak. Keringat dingin mengucur di dahinya, membasahi anak rambutnya. Tangannya menggenggam erat selimut katun yang menutupi tubuhnya, nafasnya tersengal, jantungnya melompat-lompat seakan mau keluar.


Haaahhh ...


Elvina tersentak dari tidurnya, lagi-lagi mimpi buruk. Sudah tiga tahun Elvina sulit untuk tidur drngan nyenyak, mimpi buruk yang sama atau hampir sama menghantui tidurnya, mimpi berlari di tengah kecamuknya perang. Sebulan sekali, dua bulan sekali, dua minggu, tidak tentu waktunya. Tapi sudah cukup tiga tahun dihantui mimpi buruk, itu sudah terlalu lama. Sekalipun begitu, ia tidak pernah menceritakan mimpinya itu kepada siapapun.

__ADS_1


Sementara itu di kejauhan, bersembunyi dalam gelapnya malam, terlihat seseorang yang tidak memejamkan matanya sekalipun untuk tidur. Fikirannya melayang pada tempat yang dituju. Melompati atap-atap perumahan kota, mengumpulkan petunjuk dari tugas yang sedang diembannya. Entah sudah berapa banyak petunjuk yang telah ia kumpulkan, apa yang sedang ia cari, atau sampai kapankah ia akan terus mecari? Belum ada yang tahu.


____________***____________


__ADS_2