
Tidak lama setelah Avee menikah, kedua saudaranya juga menikah. Sekalipun Avee de Viez terhitung sebagai adik, sebenarnya usianya tidak lebih tua dari kedua saudaranya. Ketiganya terlahir pada tahun yang sama, hanya dalam hitungan bulan yang berbeda. Sehingga tidak lama setelah ia menikah, kedua saudaranya juga melakukan pernikahan. Tepat tiga bulan setelah Avee de Viez menikah, Asthore de Viez juga menikah. Ia menikahi seorang putri bangsawan dari klan Manusia Elemental. Sementara Shahar de Viez menikah satu tahun kemudian dengan seorang wanita bangsawan dari klan Manusia Elemental.
Satu tahun setelah pernikahannya, Avee de Viez dikaruniai seorang anak lelaki, ia memberinya nama Rhone de Viez. Ia tumbuh menjadi anak yang memiliki bakat elemen api yang diturunkan oleh ibunya dan ketangkasan peri yang diturunkan dari ayahnya. Selain itu, sebagai putra yang terlahir dari putri Phoenix, ia juga mampu mengendalikan binatang-binatang liar di hutan.
Setengah tahun setelah kelahiran Rhone de Viez, lahirlah putra Asthore de Viez yang diberi nama Zennedich de Viez. Ia pemilim bakat elemen cahaya yang diturunkan dari ayahnya dan bakat elemen air sebagaimana ibunya. Dua bakat elemen yang secara alami dalam dirinya sejak lahir ini sempat membuat kehebohan di seluruh penjuru negeri. Seorang bayi yang terlahir dengan dua bakat elemen sekaligus adalah hal yang langka.
Berbeda dengan kedua saudaranya, Shahar de Viez cukup lama menantikan hadirnya buah hati. Barulah setelah tiga tahun pernikahan berlangsung, pasangan itu dikaruniai seorang putri. Wajah elok yang menurun dari darah Elf terpancar dari wajahnya, ia diberi nama Evelyna de Viez. Selain itu, sebagaimana halnya putra-putri raja yang terlahir dari bibit unggul lainnya, ia juga memiliki bakat elemen sejak lahir. Ia mampu menguasai elemen alam dan juga mampu mengendalikan binatang-binatang buas.
***
Tahun-tahun berjalan begitu cepat. Jangkauan ketiga kerajaan sudah sangat jauh hingga ke benua sekitar. Perjanjian perdamaian dan kerjasama perdagangan semakin luas tersebar. Permainan politik kian membaur di daratan hingga lautan.
Namun, di balik pengapnya dunia politik, sebagaimana ketiga negara itu yang bersaudara, Rhone, Zennedich, dan Evelyna masuk dalam akademi yang sama untuk mengembangkan diri dan bakat. Sehingga keakraban di antara ketiganya pun menjadi sebuah rahasia umum. Beberapa orang yang melihat mereka, beberapa kali membandingkan Zennedich dengan Rhone, dan sebaliknya. Beberapa di antaranya juga menggunakan ilmu cocoklogi dengan menjodoh-jodohkan dua pangeran tersebut dengan Evelyna, tentang siapa yang paling cocok untuk bersanding dengan sang putri nantinya.
__ADS_1
Sementara itu, Evelyna merasa risih dengan tanggapan orang-orang itu, bahkan ada masa ketika sahabatnya juga ikut menjodoh-jodohkan dirinya dengan salah satu pangeran. Berbeda dengan kedua pangeran tersebut, mereka justru bersaing untuk mendapatkan hati Evelyna dalam diam. Memang tidak ada ucapan keduanya yang mengindikasikan perang dingin secara langsung. Tetapi saat mereka berada di dekat Evelyna, ada tingkah laku ataupun tatapan yang mampu menjelaskan isi hati keduanya terhadap Evelyna.
***
Kini Evelyna tumbuh menjadi gadis yang pemberani, kuat, cantik, dan menawan. Pesonanya terdengar sampai benua lainnya. Hingga banyak pangeran dari negeri seberang datang melamarnya, bahkan sepupu-sepupunya pun tidak mau kalah. Dengan alibi ingin menguatkan persaudaraan, Zennedich de Veiz dan Rhone de Viez turut meramaikan lamaran yang tertuju pada sang Putri.
Dilema merayap ke dalam hati sang putri. Secara sadar, ia masih memikirkan ikatan persaudaraan di antara ketiganya. Di sisi lain, ia ingin memilih salah satu dari dua pengeran itu. Dalam menentukan pilihannya, ia tidak ingin percaya pada siapapun. Ia membiarkan hatinya yang bergerak untuk memilih.
Hingga kemudian, Evelyna memilih Zennedich sebagai calon suaminya. Dengan perhitungan bahwa dengan pernikahan ini, kedua negara yang dipisahkan oleh pegunungan bisa semakin erat. Itulah yang dipikirkan Evelyna saat itu.
Tapi sayang, tidak semua yang diharapkan bisa menjadi akhir yang membahagiakan. Perasaan Rhone de Viez yang tentunya sama kuat dengan Zennedich merasa sangat terpukul karena telah ditolak. Mengapa ia harus ditolak dengan pemikiran konyol dari sang putri?
Rhone adalah pangeran yang dimanja oleh orang tuanya, terutama oleh sang ibunda. Seperti api yang membara, Rhone mengadukan luka hatinya pada Agnia. Agnia yang sangat memanja Rhone melaporkan hal tersebut kepada sang raja. Avee yang bijaksana tidak ingin memperkeruh hubungan di antara saudara sepupunya hanya karena putra kesayangannya yang sakit hati. Namun berbeda dengan Agnia, sisi ibunya yang memanjakan anak memintanya untuk terus merayu Avee untuk berbicara kepada raja Shahar.
__ADS_1
"Persoalan hati, itu bukan urusan kita orang dewasa. Pasangan yang hendak menikah karena cinta, tidak bisa dipisahkan hanya karena ego pihak lain. Mereka yang akan menjalaninya, bukan kita yang sudah dewasa. Mengatur perasaan mereka, bukan lagi teritori kita," ujar Avee de Viez bijak.
Melihat suaminya tidak mendukung sang anak, Agnia menjadi marah. Seketika tubuhnya diselimuti oleh api, ia masih terus meminta suaminya untuk mendukung ego sang anak.
"Bila kau tidak mau mendukung Rhone, biar aku saja yang akan selalu berdiri di belakangnya! Aku tidak peduli bagaimana keputusannya, aku akan selalu berada di sisinya! Percuma saja bagiku menikah dengan seorang raja, tetapi tidak bisa apa-apa untuk mengabulkan permintaan seorang istri untuk anaknya sendiri! Apa gunanya memiliki suami sepertimu?! Lebih baik aku pergi ke kampung halamanku. Biar saja kumusahkan seluruh daratan ini dengan tentara ayahku!" Agnia benar-benar marah dan mulai mengucapkan ancaman.
Emosi yang meledak-ledak dari sang istri, cukup membuat Avee kewalahan. Akhirnya, dengan berat hati ia menyetujui permintaan Agnia untuk mendinginkan perasaan istrinya itu.
Sayang, setelah lamaran itu diterima oleh sang putri, mereka langsung menentukan hari untuk pengumuman resmi pertunangan Evelyna dan Zennedich. Hal ini sungguh di luar batas kemampuan Avee. Benar saja, saat ia mengabarkan apa yang didapatkannya itu, perasaan Rhone semakin memburuk. Hingga tanpa sepengetahuan orang tuanya, Rhone bertindak gegabah dengan berniat menculik putri Evelyna.
Pada dasarnya, Rhone adalah seorang anak yang baik. Namun karena cintanya yang gila, ia justru terjerumus dalam ego yang berkobar bersama api dalam jiwanya.
Rhone menjalankan aksinya di malam hari. Dengan kelincahannya, ia menyusup masuk ke dalam kamar Evelyna. Rhone sangat pandai dan lincah, sehingga gerak-geriknya tidak terlihat oleh para prajurit penjaga. Namun tekad dengan tindakan yang tidak terstruktur, membuat Rhone gagal menjalankan misinya. Ia sungguh tidak menduga bahwa tepat di depan pintu kamar Evelyna juga terdapat sihir perlindungan. Sihir tersebut langsung membunyikan alarm tanda bahwa ada penyusup yang hendak masuk ke kamar sang putri. Alarm itu membangunkan seluruh penghuni istana. Rhone yang panik mulai kehilangan arah hingga akhirnya tertangkap oleh seorang pengawal.
__ADS_1