
Matahari kian menanjak, namun teriknya terhalang dengan rindangnya pepohonan. Elvina dan Nenek terus melangkah ke dalam hutan mencari tamunya yang hilang tanpa jejak. Menyusuri jalanan setapak yang memungkinkan untuk dilewati di antara belukar. Kejanggalan keadaan hutan sebelumnya, kini tergantikan dengan kegelisahan karena menghilangnya tuan Alfaroz.
Belum jauh mereka melangkah, Elvina dikejutkan oleh segerombolan monyet yang berayun di antara pepohonan dengan panik dan rombongan burung yang terbang menjauhi hutan. Hutan yang tadinya sepi, seketika menjadi ramai dan gaduh.
Ada apa ini? Pertanda buruk, batinnya. Firasat Elvina semakin buruk, entah apa yang terjadi di depan sana, berharap tuan Alfaroz masih baik-baik saja.
Suara teriakan Elvina memanggil tuan Alfaroz bergema ke penjuru hutan. Sayangnya sampai sejauh ini masih belum ada jawaban. Bersama Nenek yang kian tertatihkarena kelelahan, Elvina berusaha mengabaikan alarm pertanda bahaya dari binatang-binatang hutan itu, mempertahankan semangat yang kian ditarik mundur oleh keputus asaan.
Kratak… Kratak…
Sesuatu yang tidak terduga kini berada di hadapan Elvina, mengehentikan langkahnya dan Nenek. Kebakaran hutan dengan api yang merambat begitu cepat menghadang jalannya. Ini tidak wajar, karena sekarang masih awal dari musim panas. Hawa pengap dan panas menyelimuti keduanya, bahkan Nenek mulai batuk-batuk karena banyaknya asap yang mengepul di udara.
Api itu dengan cepat melahap setiap halyang dilewatinya. Suara ranting yang terbakar, bau hangus daging binatang yang terbakar, semuanya berputar-putar di udara.
Sementara itu, Elvina hanya mematung, ingatan dalam mimpinya kembali hadir. Mimpi buruk yang mengahantuinya beberapa tahun terakhir dan baru menghilang semalam, sekarang ia seakan melihatnya secara langsung di depan
mata.
“Uhuk uhuk… Elvina, ayo kita kembali, di depan ada kebakaran. Nenek sudah kesulitan bernafas,” panggil Nenek. Tapi Elvina yang sibuk dengan ingatan buruknya itu tidak menghiraukannya.
Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya, wajahnya pias seakan kehabisan darah, tubuhnya gemetar ketautan. Rasa trauma menggelayuti pikiran dan hatinya, bahkan menahan langkah jasadnya untuk pergi dari tempat berbahaya itu. Nenek khawatir dengan keadaan cucunya itu, tapi setiap panggilan darinya seolah hanya angin lalu. Elvina yang tidak kuat menanggung rasa trauma itu akhirnya terjatuh, pandangan matanya menggelap, ia pingsan. Nenek panik dan ketakutan, saying tubuh rentanya tidak berdaya untuk melakukan sesuatu.
***
Kratak… Kratak…
Hawa panas dan pengap mendatangkan terror di seluruh kota. Langit berwarna merah berhias asap hitam yang mengepul di mana-mana.
“Tolong! Tolong!” jeritan pilu menambahkan warna kelam pada senja itu.
__ADS_1
Seorang gadis muda dengan belati yang masih tersarung berdiri dengan kepala yang menunduk ke tanah. Tubuhnya bergetar dengan isak tangis di sela-sela nafasnya yang tersengal sehabis berlari. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan hilang setelah terbangun dari tidur. Sekalipun harapannya begitu, mungkin ia bahkan tidak akan bisa melupakan mimpi terburuknya ini.
Tempatnya berdiri mungkin dulunya adalah sebuah halaman yang sangat luas nan indah. Kini bunga-bunganya telah hilang, ornamen penghias jalan hancur. Tanah yang dulunya hijau, memerah bertabur darah.
Gadis itu membalikkan badannya, matanya nanar menatap pemandangan di depannya. Bangunan yang dulunya kokoh dan megah, kini lenyap dimakan api. Sebagian sudah hancur, mungkin tidak lama lagi yang tersisa juga akan menjadi seonggok batu tak berguna. Seluruh miliknya hancur, seperti hatinya.
Kecewa, amarah, sedih, dan dilema, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana mungkin ia pergi meninggalkan segala sesuatau yang ada di belakangnya tanpa melakukan perlawanan. Ia sadar dirinya lemah, tapi bukan berarti harus menyerah begitu saja dan melarikan diri. Dengan mata berkobar, ia melepaskan belati dari sarungnya. Semangat dan amarah yang tersisa, membunuh rasa takut yang ada.
Sayang, lagi-lagi yang dikatakan orang-orang memang benar. Seharusnya ia lari saja, bukan dengan sembrono menghunus pedang dan berbalik arah. Seseorang berjubah hitam dengan lambang matahari dan tombak berwarna emas di punggungnya, menikam gadis itu dari arag belakang tanpa rasa bersalah.
Gadis itu sangat muda, ini kematian yang tidak adil baginya. Saat ia hendak berusaha, takdir tidak mengizinkannya untuk berhasil. Sungguh tidak adil. Netranya masih mengalirkan air mata, mulut yang penuh dengan darah tak mampu lagi berkata-kata. Senja itu sungguh pilu.
***
Senja menyapa di ufuk barat, langit jingga berhias dengan awan hitam tipis. Hari yang panjang ini telah mengucapkan selamat tinggal untuk penghuni bumi.
Haaahhh… Haaahhh…
Sayangnya kali ini ia tidak bisa membuka mata di depan Nenek dengan tersenyum dan ceria. Perasaannya sangat buruk, entah apa yang menggerogoti keceriaannya itu. Sontak saja ia terbangun dan langsung menangis dalam pelukan Nenek. Dengan lapang dada Nenek berusaha untuk menenagkan cucunya itu.
“Aduhh… Kenapa cucuku yang satu ini ya? Sudah, jangan menangis lagi, ya. Nanti cantiknya hilang loh,” hibur Nenek. “Kalau kamu ada masalah, cerita sama Nenek. Kalau gak sekarang, kamu boleh cerita kapan pun kamu mau, ya, Nak.” Nenek membelai kepala cucunya itu.
Setelah puas menangis, Elvina melepaskan pelukannya pada Nenek. Dengan menguatkan tekad, ia mengangkat suara kembali. “Tuan Alfaroz, mohon maaf. Apakah anda bisa keluar sebentar? Saya ingin berbicara berdua dengan Nenek.
Setelah Alfaroz benar-benar keluar dari kamar Elvina, gadis itu menutup jendela dan pintu kamarnya. Lalu ia bercerita cuplikan-cuplikan mimpi buruk yang menghantuinya selama tiga tahun terakhir. Namun, mimpi buruk kali ini berbeda dengan mimpi buruk yang sebelumnya. Kali ini ia melihat sosok gadis yang tertikam oleh seseorang.
Nenek mendengarkan cerita itu dengan seksama dan perasaan terkejut. Ia tidak pernah tahu bahwa cucunya mengalami mimpi seburuk itu selama ini. Ia merasa sangat prihatin dengan kondisi Elvina.
Di sisi lain, tanpa sepengatuan kedua orang di dalam kamar Elvina, seseorang di balik pintu telah mendengar percakapan tersebut sepenuhnya. Cerita yang seharusnya hanya diketahui oleh Nenek dan Elvina, ternyata terdengar oleh orang lain.
__ADS_1
***
Flashback On
Saat itu adalah musim penghujan, mendung tentu saja menjadi penghias langit pada hari-hari itu. Seorang wanita paruh baya dengan pakain sederhana membawa keranjang belanja, bergegas untuk pergi ke pasar. Seorang diri ia mengabdikan hidupnya untuk alam dan menghabiskan sisa usia di pinggir desa. Bagi warga desa dia adalah wanita misterius, seorang wanita pedatang yang pernah berkelana entah dari mana. Sekalipun begitu, ia sangat disukai oleh warga desa. Tidak seorang pun yang mau menyakiti dan mengusik privasinya. Sikapnya yang ramah membuat
setiap lapisan masyarakat menyimpan rasa hormat sekalipun ia hanya tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir desa.
“Bu Zalijah, sudah lama saya tidak bertemu dengan anda. Kemana saja anda beberapa hari ini?” Seorang wanita yang juga hendak berbelanja ke pasar menyapa wanita itu.
“Seperti biasa, Bu. Beberapa hari ini saya sibuk mencari kayu bakar untuk saya jual. Saya kan sudah tua, penghasilan pokok saya hanya bisa bergantung pada penjualan kayu bakar,” jawab Zalijah.
Mereka terus berbincang selama perjalanan. Hingga tidak terasa, langkah mereka sudah memasuki area pasar. Perbincangan itu pun di akhiri karena mereka memiliki tujuan yang berbeda.
Zalijah membeli sayur ke tempat langganannya. Dengan suasana mendung yang menghiasi musim hujan, ia tidak mau berlama-lama berada di pasar. Setlah seluruh barang primer yang ia butuhkan terkumpul, ia langsung berjalan pulang.
Selama perjalanan yang membutuhkan waktu dua jam, ada saja warga yang menyapanya. Dengan senyum dan penuh hormat, sapaan tersebut dijawab oleh Zalijah.
Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya ia ketika mendapati seorang bayi kecil nan mungil menunggu di depan pintu rumahnya. Usia bayi itu berusia sekitar 6-7 bulan, masih sangat kecil.
Zalijah memperhatikan bayi itu dengan seksama. Keranjang tempat bayi itu ditidurkan dihiasi dengan kain beludru berlapis sutra merah. Pakaian yang dikenakannya juga begitu cantik. Satu-satunya identitas yang dimilikinya adalah sebuah kalung emas dengan liontin batu savir berbentuk bunga anggrek bulan. Tidurnya sangat pulas, warna kulitnya putih bersih dengan bibir berwarna merah muda. Bulu matanya yang lentik dan rambut coklat keemasan semakin menambah pesona bayi kecil ini.
Siapa yang meletakkan jasad cantik nan rapuh ini di depan gubuk tuaku? batin Zalijah. Ia melihat kesana-kemari, tetapi tidak menemukan jejak seorang pun. Akhirnya, di usianya yang renta, ia memilih untuk merawat bayi tersebut. Ia memberi nama bayi itu dengan nama Elvina.
Bertahun-tahun lamanya Zalijah hidup dalam kesendirian. Ia tidak bersuami, apalagi anak. Hari-hari yang awalnya di rasa hampa dan penyesalan di masa lalu, kini ia tebus dengan membesarkan Elvina. Hingga kemudian bayi kecil itu sudah tumbul lebih besar, menjadi seorang anak yang lincah nan cantik. Di bawah asuhan Zalijah, ia menjadi kembang desa yang tak tersentuh. Karena ia dianggap sebagai cucu Zalijah, kaum adam menjadi semakin malu untuk lebih mengenalnya. Warga desa yang beradab ini merasa segan untuk menggodanya selayaknya gadis desa lainnya.
Hingga kemudian, pada saat Elvina berusia delapan tahun, peristiwa mengejutkan itu terjadi. Kalung batu savir Elvina yang Zalijah simpan tiba-tiba bersinar. Ia tidak mengerti pertanda apakah itu. Usia tua telah mengikis kekuatan masa mudanya dulu. Bila itu adalah hal yang buruk untuk Elvina, pada saat ini ia sudah tidak mungkin untuk melindunginya lagi. Hanya doa yang mampu ia lepaskan untuk keselamatan dan kebahagiaan Elvina.
***
__ADS_1
Itulah rahasia tersembunyi yang selama ini Nenek simpan dan tutupi dari Elvina. Keberadaannya yang spesial dan latar belakangnya yang tidak biasa membuat Nenek harus serba berhati-hati dalam menyikapi pertanyaan dan perilaku Elvina. Bagaimana pun, ia merasa bahwa cucunya itu akan selalu bertemu dengan hal-hal besar.