
Cahaya matahari pagi menyapa dari balik jendela kamar Elvina, membuat gadis itu terusik dari tidur lelapnya. Dengan berat hati ia melepaskan diri dari cengkraman rasa ngantuk dan malas. Tidurnya semalam sangat pulas. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan tidur senyaman itu, mungkin sejak mimpi-mimpi buruk itu menghantui setiap ia memejamkan mata saat hendak tidur.
Elvina meregangkan tubuhnya, berusaha menikmati pagi yang cerah ini. Sangat cerah dan tenang, setenang malamnya tadi. Matanya mengerjap beberapa kali saat memandang matahari yang sedikit menanjak dari balik jendelanya. O-ow… Dia terlambat bangun hari ini.
Segera ia bergegas merapikan diri dan menuju dapur. Elvina terkejut saat melihat Tuan Alfaroz sudah menemani nenek memasak, mereka sedang bercanda.
“Oh, ternyata Tuan Putri kita sudah bangun,” sapa Alfaroz dengan senyum manis dan tatapan teduh tertuju pada Elvina.
Tentu saja sapaan itu cukup membuat Elvina yang tidak pernah dipuji oleh kaum adam tersipu dan salah tingkah. Apaan, sih, tuan putri segala. Baru kenal kemarin juga. Elvina berusaha mengembalikan sikapnya menjadi lebih cuek, meskipun dua orang yang masih memandangnya tahu jelas kalau Elvina masih malu-malu.
“Ekhem!” dehaman nenek membuat pusat perhatian teralihkan. “Vina, cepat bersihkan dirimu dulu dan bantu nenek memasak,” perintah nenek kepada Elvina. “Tuan Alfaroz, anda tidak perlu repot-repot membantu saya menasak seperti ini. Biar Elvina saja yang membantu. Tidak seharusnya seorang bangsawan memasak sendiri di
dapur,” lanjut nenek.
“Tidak apa-apa, nek. Saya suka kok membantu nenek,” tutur Alfaroz lembut.
Tuan Alfaroz ini sangat lembut. Seandainya saja Elvina berada dalam keluarga bangsawan, mungkin ia akan memiliki kesempatan untuk berjodoh dengan tuan Alfaroz, batin nenek.
***
Sementara itu, Elvina yang sedang mencuci mukanya dengan mata air di halaman belakang. Huffftt… Tiba-tiba ia mengehla nafas panjang. Panggilan ‘tuan putri’ yang ditujukan kepadanya oleh Alfaroz masih terngiang dalam bayangannya. Elvina memang jarang berbicara dengan laki-laki, ia selalu focus dengan tugasnya membantu nenek. Inilah yang membuatnya canggung, malu, tersipu, berdebar, dan membuat perasaannya bergejolak *A*ish… Kok masih kepikiran aja, sih. Kenal masih kemarin juga! Berkali-kali ia merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
Seketika melintas dalam bayangannya sosok Alfaroz yang jangkung berambut pirang sebahu dengan senyum manis dari bibir tipisnya. Matanya yang biru terkadang berbinar, namun selalu dalam keadaan awas. Hei! Sejak kapan aku sepeduli ini pada seorang lelaki!
Elvina segera merapikan dirinya dan menghilangkan bayangan-bayangan ‘konyol’ itu. Membantu Nenek dan Alfaroz di dapur dengan keadaan yang lebih tertata.
***
Setelah sarapan, Elvina dan Nenek hendak pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual. Tentu saja Alfaroz memaksa untuk ikut, membuat nenek tidak berdaya dengan sikap lembutnya itu. Mereka menyusuri setiap bagian hutan. Mencari ranting-ranting kering dibawah pepohonan yang rindang. Sesekali Alfaroz melempar lelucon untuk mewarnai di sela-sela pekerjaan mereka, bercanda dan tertawa bersama selayaknya keluarga bahagia.
Mereka semakin masuk ke dalam hutan, meninggalkan jejak kaki di atas tanah lembab hutan rindang. Namun, tiba-tiba langkah Elvina terhenti. Ia menatap sekitar dengan was-was, instingnya yang tajam merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Hmm, aku merasa hari ini hutan hening sekali," tutur Elvina.
Alfaroz yang juga menyadari kejanggalan keadaan sekitarnya menjadi kembali lebih awas. Karena misi diprioritaskan adalah melindungi dua perempuan di depannya ini. Alfaroz hanya terdiam mematung tanpa suara, lelucon yang ia lontarkan tadi sudah berganti dengan sikap waspada, ia menjadi lebih pendiam.
"Ah, sudahlah. Kita lanjutkan dulu mencari kayu bakar. Ayo, cepat, cepat! Kalau tidak, besok kita tidak memiliki uang untuk belanja," pungkas Nenek.
Mereka kembali melanjutkan mencari kayu bakar. Tapi ketika Elvina menoleh ke belakang, tiba-tiba ia tidak menemukan sosok Alfaroz dimana-mana. Ia menjadi panik dan khawatir jika tamunya itu menghilang karena terpisah atau tertinggal hingga tersesat.
"Nenek," panggil Elvina kepada Nenek yang ada di depannya. "Tuan alfaroz menghilang." Wajahnya pucat diselimuti rasa khawatir. Sementara Nenek yang terkejut, seketika menjatuhkan kayu bakar yang dibawanya.
"Astaga! Bagaimana mungkin ia menghilang? Bukankah barusan dia masih di beakangmu, Vina? Bagaimana kalau dia tersesat? Dia bahkan tamu yang baru menginap semalam di rumah kita." Kepanikan menggurat wajah keduanya.
__ADS_1
***
Sementara itu di tempat lain di hutan, seorang lelaki bertopeng mengejar sosok berjubah hitam. Melesak di antara pepohonan di tengah hutan, melompat dari ranting ke ranting. Sang lelaki bertopeng akhirnya bisa mengejar sosok berjubah hitam itu. Pertarungan sengit di antara keduanya tidak terelakkan.
Keduanya menunjukkan wajah garang yang samar di balik topeng dan jubahnya. Pertarungan tanpa suara namun keduanya bergerak begitu cepat dan gesit. Keduanya memang masih bertarung denga tangan kosong, kekuatan mereka imbang. Tak lama kemudian, sosok berjubah merapalkan mantra dan muncullah puluhan panah dari api di depannya yang siap menyerang. Puluhan panah itu melesak ke arah pria bertopeng, seketika ia membuat gerakan memutar dengan lenggannya dan muncul perisai transparan dari cahaya dengan corak yang cantik dan unik. Perisai itu sangat kokoh dan mampu menghalangi panah-panah api tersebut, sayangnya tidak mampu melindungi pepohonan di sekitarnya yang turut terkena imbas serangan panah api itu.
Serangan masih dilancarkan oleh sosok berjubah hitam, seolah ia tak ingi memberi kesempatan kepada pria bertopeng untuk melawan. Serangan bertubi-tubi itu berkali-kali dipatahkan oleh pria bertopeng. Ia tahu jelas apa tujuan dari sosok berjubah hitam ini, dan harus segera menghentikannya.
Hingga kemudian satu serangan mengenai lengan kiri pria bertopeng. Tidak berhenti di situ saja, sosok berjubah melancarkan serangan yang mengarah pada kaki pria bertopeng. Pria bertopeng yang masih sedikit shock dengan serangan pertama yang mengenainya itu, belum siap untuk menghindar. Walhasil, serangan tersebut mengenai pahanya, situasi itu cukup memberi celah bagi sosok berjubah hitam untuk melarikan diri. Pria bertopeng kehilangan targetnya.
Tapi semuanya masih tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Panah api yang mengenai pepohonan di hutan menimbulkan kebakaran yang mulai merambat kemana-mana. Binatang-binantang hutan berlarian berusaha melarikan diri. Karena sekarang sedang musim panas, api merambat dengan cepa hingga mendekati lokasi Elvina dan Nenek yang sedang panik dan ketakutan.
Pria bertopeng itu frustasi dan berteriak. Seketika awan hitam berkumpul dan menurunkan hujan dengan petirnya sekaligus. Pria bertopeng itu sangat marah dan geram, dia gagal dengan misi kecinya ini. Tapi tubuhnya yang lemas karena terlalu banyak mengeluarkan kekuatan dan berada dalam dimensi yang berbeda, membuatnya ambruk dengan darah segar yang masih mengucur dari lengan dan pahanya. Entahlah, ia tidak yakin akan ada yang menolongnya kali ini. Ia terlalu jauh dari rumahnya dan seseorang yang diharapkan pertolongannya. Biarlah menunggu keajaiban terjadi.
______***______
Hello readers :)
Gimana ceritanya? Selamat menikmati ya...
And stay tune
__ADS_1