
"Akan kuceritakan tentang Anemon laut. Ia indah tapi mampu membuat lumpuh ikan disekitarnya, tapi sekaligus menjadi pelindung ikan badut yang hidup di dlamnya."
~Hids
_____***_____
Bulan purnama menggantung di langit yang gelap, cahayanya terkalahkan dengan terangnya ratusan lampion yang memeriahkan kota. Tidak ada yang peduli dengan dinginnya udara yang membelai kulit, kebahagiaan malam itu seolah menjadi hipnotis bagi setiap orang yang menikmatinya. Malam yang begitu ramai, penduduk dari penjuru negeri mendatangi kota. Seperti laron yang mengerubungi lampu, mereka berkumpul di satu titik.
Festival bulan adalah festival yang diselenggarakan setahun sekali di kota itu, tepatnya ketika bulan purnama terlihat penuh dan lebih besar dua kali lipat disbanding biasanya. Konon, pada malam itu Dewi Kesejahteraan sedang turun ke bumi untuk memberi berkah kepada manusia dan makhluk bumi lainnya.
Festival bulan adalah perayaan yang paling terkenal di negeri itu, bahkan turis dari luar negeri turut meramaikannya. Penginapan hampir kehabisan kamar kosong untuk para turis, membuat beberapa di antara mereka harus mengalah mencari penginapan lain. Kedai-kedai di kedua sisi jalanan kota menyajikan menu paling spesial, berbagai jenis seafood dengan bahan mentah yang diimpor menjadi menu favorit malam itu. Aneka makanan ringan dijual di beberapa stan di persimpangan jalan. Bau masakan yang terbawa angin mampu menggoda setiap orang yang turut meramaikan malam itu.
Elvina turut meramaikannya bersama nenek. Sore tadi seorang tetangga mengajaknya untuk ikut merayakan festival di kota, membuat Elvina segera bersiap dengan pakaian terbaiknya, pakaian yang jarang sekali keluar dari lemari tuanya. Elvina mengenakan gaun panjang dengan lengan sepanjang siku dan sedikit menunjukkan lekuk tubuhnya. Gaun itu berwarna biru langit dengan corak putih berbentuk pohon sakura di bagian bawahnya. Rambutnya ia cepol belakang dengan sedikit hiasan kepangan dan aksesoris bunga anggrek bulan hidup yang ia temukan di hutan tadi.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Elvina pergi merayakan Festival Bulan di kota, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Mungkin karena usianya yang mulai menginjak masa remaja, membuatnya semakin peka dengan warna perasaannya. *S*ungguh malam yang indah. Ahh, nikmat Tuhan mana lagi yang akan didustai? Elvina menghirup nafas dalam-dalam, mengajak aroma semua jenis perasaan malam itu untuk masuk ke dalam hatinya.
Namun, entah kenapa perasaannya tidak tenang, seolah selalu saja ada yang mengincar dan mengawasinya dari kejaunan. Selintas saja memang perasaan itu melalui hatinya. Terangnya lampu lampion tak mampu menerangi kegelisahan hatinya. Hmmm, apa lagi ini? Ada-ada saja! Bukan 'kah semua masih baik-baik saja? Haaa... Mungkin hanya perasaannya saja yang terlalu penakut.
Namun saat Elvina terpisah dari nenek untuk membeli jajanan pinggir jalan, tiba-tiba ia dikejutkan dengan teriakan serak seorang nenek yang memanggil berada tak jauh dari tempatnya. "Hei Nona! Hei kau gadis berbaju biru!"
__ADS_1
Mulanya Elvina tidak mengerti siapa yang nenek itu panggil, ia baru menyadari saat nenek yang duduk lesehan itu menarik gaun panjangnya. "Hei, Nona. Tidakkah kau mau berhenti sebentar dan mendengar ramalan peruntungan dariku?" Nenek itu tersenyum smirk dibalik tudung putih lusuh yang dikenakannya. Elvina tidak terlalu percaya dengan ramalan dan takhayul, ia berusaha tidak menggubris nenek peramal itu dan melanjutkan langkah.
"Hei, kau mungkin tidak akan mempercayaiku. Tapi ingatlah, nak. Akan kukatakan padamu satu hal ini. Setiap kehidupan memiliki maknanya masing masing, yang bernyawa memiliki peran. Ingatlah peranmu untuk kehidupanmu, nak! Ingat kata-kataku ini! Kau yang dulu dan sekarang memang sama, tetapi juga berbeda. Ingatlah pesanku ini! Akan ada yang menjemputmu suatu hari nanti, dan pilihanmu akan mengubahtakdirmu! Ingat itu, nak!" Kata-kata penuh teka-teki yang diteriakkan oleh nenek peramal itu cukup membuat Elvina tertegun sejenak. Soantak dadanya berdebar, nafasnya memburu seolah baru saja melarikan diri dari binatang buas.
Beberapa saat ia terdiam dan menetralkan nafas, langkahnya sudah terhenti sejak tadi. Elvina teringat dengan nenek peramal itu. Tapi sayangnya, saat ia berbalik untuk melihatnya, nenek peramal itu sudah raib. Apa itu? Siapa itu? Apakah aku hanya bermimpi dengan mata terbuka?
Acara malam itu berakhir pada pukul sebelas malam yang ditutup dengan menerbangkan lampion raksasa oleh walikota. Elvina dan neneknya hendak langsung pulang. Mereka masih harus mencari kendaraan untuk pulang, karena tidak mungkin berjalan sejauh lima kilometer di tengah malam seperti ini. Malam ini begitu indah, tapi entah menapa hati Elvina terasa resah dan tidak tenang sejak tadi, ada hal yang mengganggu pikirannya, terutama suara nenek peramal yang seakan menggema di telinganya. Hanya saja ia tidak ingin menunjukkan perasaannya itu kepada Nenek, Elvina tidak mau menghilangkan keceriaan Nenek di malam yang indah ini.
"Na! ... Na! ... Nona!" sayup-sayup terdengar seseorang memanggil dari kejauhan, dengan suara lantang putus-putus yang tidak terlalu jelas. Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian gelap sudah ada di depan Elvina, "Nona manis, ... terimalah ... pemberian saya ... yang sangat sederhana ini, Haahh ... Hahh ..." lelaki itu sepertinya baru saja mengejar Elvina, dia berusaha menjelaskan maksudnya di tengah nafasnya yang tersengal. Lelaki itu memberikan sebuah kotak hitam bermotif gambar bunga kepada Elvina.
Elvina tidak lantas menerima kotak itu begitu saja, "Ummm ... Maaf, apakah kita saling mengenal sebelumnya?" tanya Elvina ragu.
Nenek yang berdiri di sisi Elvina hanya memperhatikan keduanya. Kali ini wajah lelaki itu tidak tertutup topi. Ia terlihat masih berusia 24 tahun. Ah, mungkin lelaki yang suka pada gadis remajanya. Begitulah pikir nenek, karena Elvina juga tumbuh dengan sangat cantik, wajar saja jika ada lelaki yang naksir padanya.
Elvina mulai mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Ya, dia memang pernah tertabrak oleh seorang laki-laki, dan kalau memang diingat-ingat lagi sepertinya lelaki itu sama dengan lelaki yang ada di depannya ini. Rambut pirang sepundak dengan bibir tipis, sepertinya memang benar. Hanya saja, baru kali ini ia melihat tatapan matanya yang selalu awas.
"Ahh... Tentu saja, Tuan. Terima kasih atas pemberiannya, kau terlalu berlebihan," Elvina menerima kotak itu. Hei, tapi apakah ia boleh menerima kotak yang diberikan oleh lelaki itu? Niat baik seseorang apakah punya alasan untuk ditolak?
Nenek yang sejak tadi memperhatikan mulai berbicara kepada lelaki itu, "Tuan, maaf sebelumnya, alangkah lebih nyaman jika kita bisa saling mengenal."
__ADS_1
"Ahh, maafkan saya. Perkenalkan nama saya Alfaroz, saya hanyalah pengembara dari negeri yang jauh dan sedang menyelesaikan sebuah misi di kota ini," Lelaki itu memperkenalkan dirinya.
"Senang berjumpa denganmu, Tuan. Sekarang ini sudah tidak penting siapa nama saya, anda cukup panggil saya Nenek, dan ini cucu saya, namanya Elvina," Nenek memperkenalkan diri dengan singkat. "Ah, iya. Malam ini anda akan bermalam dimana, Tuan?"
"Hmmm ... Entahlah, mungkin saya sebaiknya segera mencari penginapan," ujar Alfaroz.
Hei, tunggu. Bukan 'kah lelaki itu sudah beberapa bulan disini? Tapi kenapa dia masih belum mendapatkan penginapan? Ummm, apakah lelaki ini suka berpindah-pindah penginapan? Bagaimana lelaki itu masih mengingat wajah orang yang ditabraknya beberapa bulan lalu, sedangkan dia segera pergi dengan terburu-buru? Bahkan dia juga yakin bahwa dirinya memberi kotak itu kepada gadis yang ditabraknya beberapa bulan lalu? Entahlah. Yah, kecuali jika dia adalah orang yang mampu mengingat wajah seseorang dengan sekali pandang. Baiklah, mungkin dia memang lelaki hebat! Pemikiran Elvina yang kritis mulai berputar memikirkan tentang lelaki itu, baginya itu terlalu aneh. Sejak awal lelaki itu memberi kotak hitam sampai apa yang diutarkannya barusan semuanya aneh.
"Kalau Tuan berkenan, Tuan boleh bermalam di rumah tua kami. Tapi untuk kesana kita masih perlu mencari kendaraan, rumah kami ada di pinggir desa," Nenek menawarkan. Elvina yang sibuk dengan pemikirannya tidak mampu mencegah kehendak nenek untuk mengundang pria itu.
"Oh, tentu saja. Itu akan sangat membantu saya malam ini, karena sekalipun saya mencari penginapan, masih belum tentu akan menemukan penginapan yang kosong. Karena malam festival ini membuat para turis berdatangan dan berbondong-bondong mencari penginapan," terang Alfaroz.
Tidak perlu basa-basi lagi, mereka pun mencari kendaraan untuk pulang. Syukurlah, mereka menemukan rombongan yang dengan tujuan searah. Pulang dengan naik kendaraan tidak memakan waktu lama, hanya dalam setengah jam mereka sudah sampai di rumah.
Sudah larut malam, mungkin sekarang sudah lebih dari jam dua belas malam. Karena kamar dirumah itu hanya ada dua, nenek hanya bisa mempersilahkan tamunya untuk tidur di sofa ruang tamu yang kuno dan sederhana. Nenek hanya memberikan tambahan bantal dan selimut untuk tamunya itu. "Maafkan kami tuan, karena saya naif mengundang anda dan tidak sadar diri. Padahal rumah kami hanya memiliki dua kamar saja," sesal nenek.
"Tidak perlu meminta maaf nek, saya tidur di sofa ruang tamu ini saja sudah cukup. Saya justru berterima kasih karena nenek mau memberi tumpangan kepada pengelana seperti saya ini. Jadi, saya bisa lebih berhemat," tutur Alfaroz.
Beberapa saat kemudian, rumah itu menjadi gelap gulita. Lampu sudah dimatikan, tirai-tirai dari kain lusuh sudah ditutup. Menyisakan insan-insan yang larut dalam alam mimpi. Elvina sudah masuk ke kamarnya, matanya belum terpejam teringat peristiwa yang terjadi pada malam yang panjang ini. Kemudian ia teringat dengan kotak hitam pemberian Alfaroz. Sudah sejak tadi kotak itu dipeganya, rasa penasaran memintanya untuk segera membuka kotak itu. Kotak itu berisi beberapa potong roti cokelat, terlihat sangat enak. Elvina teringat kepada Nenek, ia segera berlari menuju Nenek untuk membagi roti itu dengannya, mungkin nenek suka.
__ADS_1
Ternyata Nenek sudah tertidur, Alfaroz kelihatannya juga sudah terlelap di kamar tamu. Hmmm... Mungkin besok saja menawarkannya pada Nenek. Elvina mencicipi roti itu, rasanya manis dan lembut. Sungguh malam yang indah, dan Elvina tidak melewatkannya. Elvina yang kelelahan tertidur dengan pulas malam itu, sangat pulas hingga ia tidak bermimpi buruk lagi.
_______________***_______________