For 1000 Years Longing

For 1000 Years Longing
Satu Per Satu


__ADS_3

Setelah Elvina puas bercerita tentang mimpi yang dialaminya, Nenek kembali memluk Elvina dengan hangat. Lalu ia bercerita tentang kisah dan masa lalu cucunya yang ia pendam selama 16 tahun itu.


"Elvina, maafkan Nenek," ucap Nenek dengan setetes air mata yang mrnggantung diujung netranya.


"Ada apa, Nek? Kenapa Nenek menangis? Nenek tidak perlu meminta maaf kepada Vina. Justru Vina lah yang seharusnya meminta maaf kepada Nenek, karena tidak bisa menjadi cucu yang baik, sudah membuat Nenek khawatir ssperti ini," Elvina tidak kuasa melihat Neneknya menitikkan air mata, hatinya begitu tersayat melihat seseorang yang begitu disayangi sampai bersedih.


"Tidak, Vina. Nenek yang seharusnya minta maaf. Maaf karena Nenek merahasiakan masa lalumu yang sebenarnya selama ini." Nenek mulai menceritakan bagaimana kisah masa lalu Elvina, sejak pertama kali ia ditemukan di depan gubuk sampai peristiwa yang menyangkut kalung identitasnya.


Elvina yang menyimak dengan seksama pun terkejut mengetahui kebenaran itu, sekalipun sebelumnya ia menyadari bahwa ia memang tidak memiliki ayah dan ibu. Perasaannya campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena ia akhirnya mengetahui identitasnya yang sebenarnya, mungkin dengan begitu ia bisa mengetahui siapa orang tuanya. Sekaligus sedih karena hal yang ia duga sebelumnya ternyata sebuah kebenaran, yang berarti ada kemungkinan ia harus meninggalkan Nenek. Sungguh dilema.


Pada akhir kata, Nenek menutup ceritanya itu dengan memperlihatkan kalung yang menjadi kunci identitas Elvina. Kalu itu ternyata selama ini disimpan di bawah kasur tempat Elvina tidur. Meskipun sudah lama, kalung itu tetap cantik sebagaimana saat baru ditemukan bersama Elvina 16 tahun lalu.


Elvina yang tentu saja baru melihatnya, juga terpesona akan kecantikan kalung itu. Kalung bermata savir dengan bentuk bunga anggrek bulan itu masih tertutup kain beludru berlapis sutra merah alas bayi Elvina. Mungkinkan ia benar-benar terlahir dari keluarga bangsawan? Benda-benda ini terlihat sangat mahal bagi Elvina yang selama ini menjalani hidup miskin.


Elvina tidak ingin tampil mencolok, jadi ia menyimpan barang berharga itu kembali ke tempatnya. Dengan hati-hati, ia membungkus kalung savir itu dengan beludru berlapis sutra dan meletakkannya di bawah tempat tidurnya lagi.


***


Mentari telah tenggelam di peraduannya, berganti bulan bermahkota kabut-kabut tipis. Sudah cukup lama pintu kamar itu tertutup. Sementara Alfaroz setia menunggu di ruang tamu, akhirnya pintu itu terbuka. Terlihat sosok Nenek yang membukakan pintu yang langsung dihampiri tuan Alfaroz, ia dipersilahkan masuk.


Alfaroz melihat pandangan mata Elvina yang tertuju padanya dengan penuh tanya.


"Saya tidak tahu. apakah saya boleh menanyakan hal ini kepada tuan?"

__ADS_1


"Tanyakanlah, Nona," jawab Alfaroz.


"Tadi anda kemana? Bagaimana anda bisa ada di sini lagi? Tahukah anda? Kami sangat khawatir padamu, Tuan. Kau adalah tamu kami." tanya Elvina


"Ekhem," Alfaroz membuka perkataannya dengan berdeham untuk mencairkan suasana, ia merasa canggung karena telah pergi tanpa berpamitan. "Maafkan aku, Nona, karena sudah pergi tanpa berpamitan. Tadi ada misi mendesak yang harus aku lakukan. Aku mendapatkan panggilannya secara tiba-tiba. Maaf, untuk misiku, aku belum bisa menceritakannya kepadamu," terang Alfaroz.


"Sudahlah, Vina. Beruntung tadi tuan Alfaroz datang tepat waktu. Setelah kau pingsan, tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat dan menghentikan kebakaran. Lalu tuan Alfaroz datang menyelamatkan kita berdua dan membawa kita kembali ke gubuk," lanjut Nenek.


Elvina berusaha mempercayaiperkataan tuan Alfaroz. Dia berusaha memaafkan Alfaroz, sekalipin ia tahu bahwa sikap tamunya itu tidak sopan. Untuk berpamitan saja tidak sempat? Dia cukup memanggil kami saja, bukan? Keberadaan kami tidak jauh darinya, kok. Ya, kesibukan orang siapa yang tahu. Elvina berusaha menenangkan egonya yang bergejolak menuntut Alfaroz.


"Ummm... Nenek, Elvina, saya ingin memohon izin. Demi melaksanakan tugas yang saya emban, saya harus keluar setiap malam dan kembali sebelum fajar," Alfaroz kembali membuka suara.


"Silahkan, Tuan. Itu tanggungjawab anda, kami tidak berhak untuk menghalanginya. Dan anda juga boleh kembali ke sini kapanpun anda mua. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk anda, Tuan," ujar Nenek, lembut.


***


Di malam hari, Alfaroz pergi menjalankan misi. Siang harinya, ia kembali membantu Elvina dan Nenek ke pasar maupun mencari kayu. Hal ini berjalan hingga beberapa bulan lamanya. Beberapa orang desa mulai penasaran dengan Alfaroz. Sosoknya yang menawan dan pakaian lusuh yang tidak cocok dengannya, menghadirkan macam-macam topik pembicaraan di desa.


Kedekatannya dengan Nenek dan Elvina, mendatangkan rumor bahwa tuan muda yang selalu berada di sekitar Elvina itu adalah tunangannya yang berasal di kota.


"Nyonya Vee, coba lihat tuan muda itu. Wajahnya begitu tampan dan mempesona, sungguh tidak pantas dengan pakaian lusuh yang dikenakannya," ujar seorang ibu rumah tangga yang melihat Elvina dan Alfaroz hendak pergi ke pasar.


"Aduh... Yang dikatakan Nyonya Ghala benar. Wajar saja, dia tinggal bersama dengan Nyonya Zalijah dan cucunya itu," jawab Vee

__ADS_1


"Dengar-dengar dari ibu-ibu yang lain, katanya tuan muda itu adalah tunangan Elvina yang datang dari kota?" sahut Ghala.


"Wah... Wajar saja sih. Elvina memang cantik, dia juga sering pergi ke pasar yang memang dekat dengan kota, mungkin mereka bertemu saat itu. Mungkin itu juga yang membuat gadis itu tidak begitu dekat dengan pemuda-pemuda desa ini," Vee mulai menerka-nerka.


Pembahasan tentang Elvina dan Alfaroz beberapa kali sempat terdengar oleh yang bersangkutan. Elvina yang masih muda terkadang tersipu saat mendengarkan perbincangan ibu-ibu desa itu. Namun lain halnya dengan Alfaroz, ia hanya menunjukkan wajah datarnya saja. Selain itu, selama beberapa bulan terakhir ini, Elvina dan Alfaroz semakin dekat. Sikap-sikap Alvaroz semakin banyak terlihat, terutama sikap lemah lembutnya di hadapan Nenek dan Elvina. Hingga adakalanya sikapnya yang lembut itu membuat Elvina salah tingkah.


Tapi di sisi lain, banyak juga ekspresi Alfaroz yang semakin sulit untuk Elvina artikan. Ada masa ketika ekspresinya jauh berbeda dengan sikapnya, seperti saat ini. Mereka sudah dekat dengan hitungan waktu cukup lama, tapi setiap kali Alfaroz mendengar pembicaraan yang berkaitan dengan hubungannya dengan Elvina, ia selalu memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Apakah hanya aku yang merasakan perasaan aneh ini? Semakin dekat dengan tuan Alfaroz, semakin banyak rasa takutku yang terkumpul. Aku takut ia tiba-tiba menghilang, mungkin karena kami sudah terbiasa dibantu olehnya. Tapi memang wajar jika kami takut kehilangannya. Karena dengan keberadaan tuan Alfaroz, kayu bakar yang kami peoleh bisa lebih banyak dan Nenek tidak perlu memikul kayu bakar itu sendiri lagi. Di sisi lain, seharusnya aku sadar diri. Dia bukanlah orang yang berhak kami miliki, kami juga baru mengenalnya beberapa bulan. Dia seorang bangsawan yang kastanya terpaut jauh dari kami, sungguh egois bila kami memintanya untuk terus bertahan di sisi kami. Gejolak seperti itu sering kali mendatangi Elvina tanpa permisi, ego yang selalu tumpang tindih dengan kesadaran.


***


Malam ini Elvina merenung kembali tentang keberadaan Alfaroz. Tentang keberadaan dan statusnya di rumah ini, bagaimana kemudian keduanya bisa bertemu untuk pertama kali, hingga kemudian sedekat ini. Bagaimana dua kasta yang berbeda saling bertemu, bahkan Alfaroz dulu yang mendatangi Elvina. Tentang apa sebenarnya misi Alfaroz, bagaimana ia bisa menolong dan membantu Elvina dan juga Nenek. Bagaimana ia bisa beradaptasi dan makan seadanya bersama mereka selama tinggal di gubuk tua itu. Terlalu banyak yang Elvina pikirkan, menimbulkan pertanyaan lain setiap kali teringat.Terlalu panjang kenangan yang berputar di memorinya, hingga matanya tertutup dan pandangannya menggelap. Elvina mulai terbuai dengan mimpi indahnya.


Di tempat lain malam itu juga, sebuah komando baru saja di turunkan. Misi yang sangat penting telah dititahkan. Seorang raja yang duduk di atas takhta singgasananya, memerintah dengan tegas dan jelas. Seseorang di sudut ruangan berusaha meronta dan berteriak saat mendengar titah itu. Sayangnya kedua tangannya diikat dan mulutnya dibungkam. Tubuhnya babak belur habis disiksa, luka akibat cambukan menghiasi punggung kokohnya. Air matanya menetes lagi, bukan karena sakit pada tubuhnya. Tapi karena rasa bersalah telah lalai dalam menjalankan tugasnya. Bagaimana bisa ia selemah itu? Bagaimana caranya untuk membalik takdir? Ia tidak boleh menyerah begitu saja.


_____****_____


Hellow Readers ;D


How are you?


Okee... Untuk selanjutnya author gak bakal main-main lagi nih... Sesi bersantai-santai sudah selsai yap... Xixixixi

__ADS_1


Mohon dukungannya yap untuk karya selanjutnya >3


__ADS_2