FREAK GIRL & PRINCE BROTHERS

FREAK GIRL & PRINCE BROTHERS
Episode 10 - TRAGEDI SESAAT Part 2


__ADS_3

Menangis bukan kebiasaanku. Tetapi hari ini aku anggap sebagai pengecualian. Karena aku tdak mampu membendungnya lagi. Aku harap tangisanku tidak terdengar dari luar. Akan kuhabiskan air mataku di dalam toilet sampai tak tersisa. Aku tahu kalau Hami nggak mungkin melakukan hal itu padaku. Kami sudah berteman sejak lama dan aku sangat mengenalnya.


Saat anak-anak menjauhiku karena rasa takut, Hami selalu berdiri disampingku. Jadi tidak mungkin dia menulis hal yang tidak-tidak tentangku. Aku sangat mempercayainya. Tapi.. tadi Hami bilang kalau yang terakhir mengecek artikel para anggota adalah Edelweis. Aku.. tidak yakin jika dia yang melakukannya. Tetapi ada sedikit keraguan pada diriku. Apa mungkin dia melakukannya untuk sesuatu keisengan?


Aku tidak begitu mengenal dirinya. Yang aku tahu kalau Ed itu baik hati, ramah kepada siapa saja, dan sangat dekat dengan Mayang. Apa.. mereka berdua sedang mempermainkanku?


        Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Aku berusaha menghapus bayanganku yang semakin liar. Ed tidak seperti yang aku bayangkan. Ed itu orang yang baik dan aku tidak patut mencurigainya. Begitu pula dengan Mayang. Dia itu sepupuku sendiri.


Aku jadi merasa sangat bersalah sudah mencurigai beberapa orang. Kubasuh wajahku perlahan. Setelah itu aku melenggang keluar. Tidak ada orang sama sekali. Baru beberapa langkah, aku melihat Mayang berjalan ke arahku sembari sesekali menoleh ke belakang. Saat wajahnya berbalik, langkahnya terhenti karena hampir bertabrakan denganku. Dia tampak sangat terkejut.


“Hai, May,” sapaku. Mayang hanya diam. “May, maaf ya,” kataku setengah menunduk. ‘Maaf karena aku sudah mencurigaimu,’ tambahku dalam hati. Dia tersenyum.


“Merasa bersalah ya karena punya keinginan ngerebut gebetan orang?” tanyanya sinis. “Yaa.. paling nggak, artikel itu udah buat kamu sadar siapa dirimu itu. Di matanya, kamu tuh cuma cewek menakutkan,” Mayang berbalik pergi dan terus saja tertawa. Aku menelan ludah. Aku segera menarik pundaknya dengan kasar.


“Kamu tau kan siapa yang membuat artikel itu?!” bentakku dengan nada bergetar. Mayang menghindar. Dia berusaha setengah berlari. Aku mengejarnya lagi. Hingga luar ruangan toilet perempuan. Kuraih pundaknya lagi. “Hami nggak mungkin melakukannya! Dia sahabatku!” kataku lagi. Mayang menyingkirkan tanganku dari pundaknya.


“Apaan sih! Pergi sana!” dia hendak berlari lagi. Dengan gesit, aku menangkap tangannya. Tangannya kupegang kuat-kuat. Mayang tidak dapat menghindar lagi.


“Tolong katakan yang sebenarnya. Tolong beritahu apa yang sudah kamu tau, May,” ucapku bersamaan dengan suara batinku. Aku benar-benar ingin mempercayai  semua orang. Mayang  mulai merasa terdesak dan berusaha menarik tangannya yang masih kupegang.


“ED YANG MELAKUKANNYA!!! UUH!!” teriaknya sambil menghentakkan kaki ke tanah. Kedua mataku membelalak lebar. Aku sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya. Tangannya mulai kulepas. Mayang berjalan lagi. Dengan langkah agak linglung, aku menahannya lagi.


“Tunggu, May! Apa maksudmu tadi kalau Ed benar-benar melakukannya?” aku berusaha meminta penjelasannya lagi. Mayang tertawa sinis sambil berkacak pinggang.


“Iya, Ed sudah menukar artikel Hami untuk sengaja mempermalukanmu. Puas?!” tanganku mulai mengepal. Aku berusaha menahan gejolak kesedihan yang kurasakan.

__ADS_1


“Tidak ada alasan Ed untuk melakukan itu,” kataku setengah bergetar. Mayang tertawa lagi. Aku tidak bisa menghentikan jari-jariku yang bergerak karena gelisah.


“Alasan? Kamu tanya alasan? Ed itu udah tau kali kalo kamu tuh suka sama dia. Ingat ya, dia melakukan itu supaya kamu tuh sadar kalau kamu nggak pantas bersanding sama dia. Kamu disuruh ngaca dulu sama dia. Kalau masih belum sadar kamu tuh siapa, templokin tuh artikel di muka kamu!” katanya sambil mendekatkan kelima jarinya di wajahku.


“Kamu.. nggak membantu dia kan, May? Aku percaya karena kamu sepupu aku. Bagian dari keluarga aku,” ucapku lirih. Mayang tertawa lagi.


“Ya iyalah, aku bantuin. Aku kan calon pacarnya! Ed itu terlalu baik, makanya dia nggak sanggup buat nolak kamu. Makanya aku bantuin dengan cara itu!” aku sudah hampir tidak sanggup lagi mendengar pernyataannya. Kata-kata yang aku dengar sedari tadi sangat menyakitkan buatku. Tengkuk kaki ku juga agak gemetaran. Aku mulai meremas rok saking tidak kuatnya menopang kesedihan yang tak berujung. “Apa istimewanya hubungan kita? Kita cuma sepupu bukan sodara kandung!”


Mayang berjalan meninggalkanku begitu saja. Wajahku semakin menunduk. Air mataku hampir tumpah. Tetapi aku tetap ingin menahannya.


“ED!” aku tersentak saat mendengar suara Mayang lagi. Ed dan Miwon sedang berdiri di depannya. Bibirku sedikit bergetar. Sejak kapan mereka disana?


“Kak, jadi cewek itu tipemu?” Miwon mulai berbicara sambil menujuk Mayang. Wajah Miwon terlihat senyum sesaat. Edelweis menggeleng. Wajahnya tampak menahan sesuatu. “Wah, jadi dia cuma ngarep dong!” kata Miwon sambil tertawa kecil. Ed berjalan mendekati Mayang yang masih terpaku dihadapannya.


“Apa kamu yang sudah melakukannya?” tanya Edelweis sambil melihat ke bawah. Mayang tidak menjawab sama sekali. Edelweis mengangguk berkali-kali. “Padahal dia sepupumu kan?  Sebelumnya aku tidak ingin mencurigaimu, tetapi sekarang terbukti dengan alasan yang kuat. Aku tidak akan melaporkan hal ini pada pak Sagu. Tapi aku harap kamu bisa memutuskan sendiri untuk keluar dari ekskul mading.”


“Apapun alasannya, kamu sudah mencoreng nama baik ekskul mading. Aku juga menyesal karena sudah membiarkanmu mengurus artikel mading. Bagaimanapun ini juga kesalahanku. Kamu, May, berhutang maaf pada anak-anak mading dan juga Afika,” kata-kata Edelweis agak tajam.


Aku menjadi sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Bel pun berbunyi. Rupanya jam istirahat sudah selesai. Aku segera berjalan melewati mereka bertiga.


“Fik, siapapun yang melakukannya, aku tetap minta maaf padamu. Aku minta maaf tentang semuanya. Aku akan segera melepas artikel itu dari mading,” kata Edelweis tegas.


Aku mengangguk tanpa melihatnya. Miwon menarik tanganku. Kami berjalan menaiki tangga menuju ruangan kelas. Sekarang aku benar-benar ingin menangis. Tetapi aku masih bisa menahannya.


...***...

__ADS_1


Diam memang merupakan kebiasaannya. Tetapi diamnya yang satu ini sungguh membuat hatiku sedikit teriris. Seakan-akan diriku turut merasakan kesedihannya. Afika, kalau kamu ingin marah, marah sajalah. Kalau kamu ingin menangis, menangis sajalah. Keluarkan semua emosi yang menahanmu!


Kalau sampai kamu begini, aku jadi tidak tahan untuk memelukmu dan menenangkanmu. Usai pulang sekolah, aku berjalan mengikutimu dan kedua temanmu dari belakang. Aku terus saja berpikir bagaimana caranya agar aku bisa menghiburmu. Tiba-tiba saja terbesit sesuatu yang ingin kulakukan untukmu.


“Fik, ikut aku sebentar!” aku langsung menggandeng tanganmu. Kamu hanya menoleh menatapku


dalam diam.


“Mau kemana sih? Aku ikut!” seru Timmy. Aku menggeleng dengan cepat.


“Nggak bisa! Fik, pokoknya kamu harus ikut aku! Motormu tetep diparkiran, kita naik pakai motorku ajah!” aku menariknya lagi. Dia masih tertunduk lesu. Walaupun begitu, dia tetap berjalan mengikutiku. Hami dan Timmy terus saja berteriak.


“Hee.. aku beneran nggak diajak!”


“Miwon, jaga dia baik-baik ya!”


Setelah sampai di parkiran, aku segera memakai helm dan mengendarai motor ninja. Afika sudah menunggu di depan parkiran sambil memakai helmnya. Keningnya langsung berkerut ketika melihatku datang mengendarai motor.


“Hee.. tempat duduknya kok nungging gitu??! Aku nggak mau, ah! Pakai motorku ajah!” desisnya. Aku langsung menghalanginya untuk kembali memasuki parkiran.


“Udah! Jangan bawel! Pakai ini ajah lebih cepet! Perjalanan kita masih jauh!”


“Emangnya kita mau kemana sih?” kata Afika agak kesal. Terdengar klakson-klakson motor dibelakangku. Rupanya mereka terhambat karena motorku masih di depan pintu parkiran. Mataku memberi isyarat agar Afika secepatnya naik di motor. Akhirnya pun dia naik dengan mendengus kesal.


“Pegang bajuku erat-erat ya, Fik! Supaya nggak jatuh!” setelah menunjukkan STNK pada satpam, motorku mulai keluar pagar, berbelok kanan dan melesat secepat mungkin.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2