FREAK GIRL & PRINCE BROTHERS

FREAK GIRL & PRINCE BROTHERS
Episode 32 - HAPPY OR SAD ENDING & EPILOG


__ADS_3

Kuhentikan motor di depan rumah Ed. Dengan segera aku menekan bel rumahnya. Seorang wanita berjilbab keluar dari rumah. Aku sedikit terkejut ketika melihat goresan di wajahnya. Setelah itu aku menyadari jika aku sedang berhadapan dengan ibu Edelweis.


“Maaf, tante. Apa Ed ada?”


“Ada. Kamu pasti temannya. Silahkan masuk,” ibu Ed baik sekali. Dia menyuruhku untuk menunggu Ed di ruang tamu. Tak lama aku melihat Ed menuruni tangga. Dia tidak tersenyum lagi seperti dulu. Dia hanya terlihat mematung ketika melihatku. Perasaan bersalah kembali menggerayangiku. Aku lagsung berdiri. Ed berjalan menghampiriku.


“Ada apa?” tanyanya.


“Maafkan aku Ed karena sudah memutuskanmu. Aku sudah menyakitimu secara tidak langsung.”


“Aku juga. Maaf karena sudah menghalangimu untuk menyukai adikku,” aku terperangah mendengarnya. “Cowok yang kamu sukai itu Miwon kan? Setiap berbicara dengannya, matamu selalu memancarkan kebahagiaan. Tidak redup seperti dulu aku mengenalmu. Setelah mengenalnya, kamu merasa lebih terbuka dengan semua orang. Kamu berani untuk tersenyum. Perubahan semua itu karena kehadiran adikku kan?”


Aku hanya terdiam, tidak mampu menyangkalnya. Semua itu benar dan aku merasa berhasil kemali menyakitinya. Dan itu juga membuatku semakin bersalah.


“Kenapa kamu tidak jujur saja?”


“Maafkan aku, Ed,” kataku bersungguh-sungguh sambil menundukkan kepala dengan kikuk.


“Lain kali kamu harus menceritakan semuanya padaku. Lebih terbuka padaku,” aku mulai menatapnya. “Sekarang kita masih teman kan?” ku anggukkan kepalaku berkali-kali. Kuhapus air mata yang hampir mengalir.


“Iya kita teman,” kataku sambil tersenyum kecil.


“Teman seumur hidup,” katanya lagi. Aku tidak berhenti-hentinya mengangguk dan


tersenyum. Setelah itu, Ed menyuruhku untuk duduk.


“Ed, aku ingin meminta petunjuk arah menuju telaga Ngipik.”


“Kamu ingin memancing disana?”


“Nggak. Aku yakin kalau sekarang Miwon berada disana. Aku.. ingin menyusulnya. Aku ingin memberitahukan sesuatu padanya.” Edelweis melihatku dengan bingung. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa punya firasat jika Miwon dan Timmy benar-benar berada disana. Karena hanya tempat itu satu-satunya yang pernah disebut Miwon sebagai tempat yang istimewa.


“Masuk ke perbatasan Surabaya-Gresik, lurus saja, lalu belok kiri, dan..,” Ed berhenti berbicara. Dia menggaruk-garuk kepala dengan ekspresi bingung. “Duh, Ribet banget arah kesana,” lalu dia mulai berdiri dan melihatku. “Bagaimana kalau aku akan mengantarmu kesana?” mataku membelalak lebar tidak percaya.


“Ayo! Aku ambil kunci motor dulu ya,” Ed segera menaiki tangga.Tak lama dia turun kembali sambiil mengenakan jaket berwarna hitam. Kulihat ibunya mengikutinya dari belakang. “Bu, aku mengantar temanku dulu ya,” katanya sambil menyalami ibunya.


“Hati-hati di jalan. Cepat pulang ya. Langitnya mulai mendung. Sepertinya sebentar lagi mau hujan.”


Aku juga menyalami ibunya. “Tante, saya pamit dulu,” ibunya mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu kami melaju kesana, dimana tempat Miwon berada. Sepanjang perjalanan aku memikirkan apa yang harus aku katakan kepada Miwon. Aku sudah bertekad untuk mengatakannya. Aku tidak perduli apabila Miwon sudah tidak memiliki perasaan kepadaku lagi. Yang terpenting sekarang adalah keberanianku untuk mengatakan hal yang seharusnya sudah lama aku katakan.


“Sudah sampai,” ucap Ed. aku langsung melihat telaga yang tidak jauh dariku. Setelah turun dari motor, aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Edelweis menganggukkan kepala sembari tersenyum. Dia selalu begitu. Edelweis selalu baik kepada setiap orang. Hal itu membuatku terharu. Padahal aku sudah menyakitinya. Tetapi dia masih berbuat baik padaku. Bahkan ingin menjadi temanku.


“Kamu harus segera katakan apa yang ingin kamu katakan padanya. Jangan kamu tutup-tutupi lagi perasaanmu itu. Aku mendukungmu, Fik. Terus berjuang, okay?!” aku menganggukkan kepala dan tersenyum padanya.


“Terima kasih buat semuanya, Ed.” Edelweis mengacungkan jempolnya. Setelah itu, dia pergi meninggalkanku. Aku segera berlari-lari kecil mencari keberadaan Miwon di dekat telaga. Namun aku tidak menemukan sosoknya. Sosok Miwon dan Timmy. Kepalaku menengadah ke atas. Warna langit berubah menjadi sedikit kelabu.


“Sepertinya hari ini benar-benar akan turun hujan.”


...***...


Miwon menekan bel rumah ibunya. Dia datang bersama Timmy yang masih asik mencomot ice cream strawberry kesukaannya. Miwon tidak sengaja melihat motor bebek di halaman rumah. Dia merasa tidak asing dengan motor tersebut. Lalu dia meliat ibunya keluar rumah dan membuka pagar. Dia menyalami ibunya. Begitu juga dengan Timmy.


“Wah, Won. Kamu bawa calon menantu mama ya?” canda ibunya. Timmy yang mendengarnya langsung tersedak. Miwon dan ibunya langsung tertawa.


“Bu, itu motor siapa? tanyanya kemudian.

__ADS_1


“Oh, tadi teman kakakmu datang kesini. Lalu mereka pergi nggak tau kemana.”


“Loh, itu kan motor Afika,” mendengar perkataan Timmy, membuat Miwon sedikit lemas. ‘Mungkin mereka sedang bersenang-senang,’ pikirnya sedih. Tiba-tiba terdengar bel motor dibelakang mereka. Miwon melihat kakaknya sedang mengendarai motor. Miwon dan Timmy memberinya jalan untuk masuk.


“Ibu masuk dulu ya. Ibu baru ingat kalau tadi kompornya masih menyala,” Miwon menganggukkankepala. Edelweis melepas helmnya samil mengernyitkan kening.


“Kamu kok disini? Bukannya kamu di telaga Ngipik ya?”


“Nggak, kak. Aku ingin ketemu dengan ibu dan kakak sebentar. Afika mana, kak?” tanya Miwon sambil menengok motor bebek itu lagi.


“Lha, makanya itu. Tadi Afika bilang harus menemuimu di telaga Ngipik. Tapi kenapa kamu malah kesini?”


 


“Aku nggak ngerti. Aku nggak janjian juga sama dia.”


“Apa mungkin karena tadi aku bilang kalau kita akan pergi ke tempat yang istimewa?” kata Timmy ikut bicara. Lalu dia mencomot lagi ice cream-nya.


“Maksudnya?” tanya Miwon tidak mengerti.


“Tadi aku bilang kalau kita akan mendatangi tempat yang istimewa. Aku pikir dia akan cemburu kalau aku berkata seperti itu. Sepertinya dia benar-benar memiliki perasaan padamu. Buktinya sekarang dia bermaksud menemuimu,” Timmy segera menutup mulutnya. Dia merasa bersalah karena mengatakan hal seperti itu di depan pacarnya Afika.“Ups, maaf Ed. Aku nggak bermaksud. Aku hanya menduganya kok. Itu nggak benar. Tolong jangan..,”


Edelweis tertawa. “Tidak apa-apa. Aku sudah putus dengannya kok.”


Keduanya sama-sama terkejut.


“Kenapa kakak putus dengannya? Kapan dan siapa yang..,”


“Itu semua sudah berlalu,” potong kakaknya. “Yang terpenting sekarang kamu harus segera kesana. Sebentar lagi hujan. Aku tidak ingin temanku jatuh sakit gara-gara adikku masih banyak bertanya disini,” Edelweis segera mendorong tubuh Miwon. Miwon tampak bingung. Ia segera menaiki motor dan mengenakan helmnya.


“Dia benar-benar menyukaimu,” mendengar perkataan kakaknya, membuatnya berhenti menyalakan motor. “Sudah cepetan pergi sana. Kasihan Afika menunggu lama. Tak lama Miwon menyunggingkan senyumnya. Motornya melaju cepat. Miwon terlihat ngebut dalam mengendarai motornya. Edelweis dan Timmy melihatnya hingga wujudnya tidak terlihat lagi.


Timmy memegang kedua tangannya dibelakang punggungnya.


“Miwon sudah lama menyukainya kok,” Edelweis sedikit kaget mendengarnya. “Ed ternyata benar-benar baik ya. Berusaha untuk mempersatukan mereka.”


“Jangan bilang begitu,” katanya dengan nada sedih.


“Kenapa?”


“Cewek yang pernah aku sukai juga bilang seperti itu. Padahal aku sendiri tidak merasa sesempurna seperti yang dia pikirkan.”


“Maaf, Ed. Aku nggak bermaksud,” Edelweis langsung menoleh padanya.


“Kamu mau masuk ke dalam sebentar? Siapa tahu kita bisa makan siang bersama ibuku?” tawarnya. Timmy mengembangkan senyumnya.


“Hemm. Aku mau!” setelah menganggukkan kepala, dia segera mengikuti Edelweis berjalan memasuki rumah.


...***...


Sudah dua jam aku berdiri disini. Berdiri di tengah hujan untuk menunggunya. Tetapi orang yang aku tunggu tidak kuunjung datang. Apakah aku salah tempat? Bukannya tempat Miwon yang paing spesial dan istimewa itu adalah disini? Di tengah hujan seperti ini, aku tidak mampu berpikir lagi. Sekarang aku sendirian di tengah hujan, tanpa siapapun disekitarku. Tubuhku merasa lemah dan kepalaku terasa pening. Aku sudah berusaha seperti sang putri. Aku sudah berusaha. Bolehkah aku menyerah sekarang?


Tubuhku sudah menggigil saking dinginnya air hujan yang terus saja menampar-nampar tubuhku. Ya, setidaknya aku telah berusaha. Aku akan berbalik pulang tanpa penyesalan. Masih ada hari esok untuk jujur padanya. Aku berbalik dan berjalan sambil memeluk tubuhku yang kedinginan. Wajahku menunduk lesu.


Akan tetapi langkahku terhenti seketika. Saat melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dariku. Bukan orang yang hendak memancing. Bukan juga si penjaga telaga ini. Dia cowok yang kukenal. Cowok yang sudah lama aku tunggu-tungguitu. Dengan sisa-sisa tenaga, aku meneriakkan namanya.

__ADS_1


“MIWON! AKU SUKA PADAMU!” aku tidak tau apakah dia mendengarkannya atau tidak. Aku hanya berharap agar dia dapat mendengar suaraku di tengah derasnya hujan. “Aku benar-benar suka padammu. SANGAT SUKA! Maafkan karena aku pernah mengabaikan perasaanmu begittu saja! MAAF DAN TERIMA KASIH KARENA PERNAH MENYUKAIKU! Kamu merupakan bagian terbaik dari hidupku. Karena kamu, aku dapat lebih terbuka dengan orang lain dan lebih berani untuk belajar menjalani hidupku!”


Miwon berlari menghampiriku. Aku terkejut saat dia memelukku.


“Aku..,”


“Diamlah.”


“Maaf.. maaf, karena aku sudah menyukaimu. Maaf..,”


“Ckckck.. sial! Diamlah sebentar! Nanti saja penjelasannya!” dia memelukku lebih erat lagi.


Aku pun menangis keras. Menangis karena bahagia. Aku tidak tahu apakah perasaanku terbalas atau tidak. Tetapi melihat Miwon memelukku seperti ini, membuatku yakin jika ia selangkah lebih dekat denganku. Dia tidak pernah berhenti untuk menyukaiku. Dia menungguku. Ya, selama ini dia menungguku!


Hanya aku kunci dari semua ini. Miwon yang memiliki gembok dan memberikannya padaku. Dia menungguku untuk membuka gemboknya. Dan saat itu terjadi, aku mengeluarkan kunci yang tepat untuk membuka gemboknya. Sekarang di tengah hujan seperti ini, aku merasa benar-benar mengenalnya.


TO BE CONTINUED~


...EPILOG~...


Lima orang gadis saling berkumpul setelah menaiki wahana hysteria. Begitu pula dengan ketiga cowok yang juga baru saja turun dari sana. Salah satu cewek berwajah agak pucat. Matanya melotot dan wajahnya berkeringat.


“Ayo, kita naik itu!” seru Miwon sambil menunjuk roller coaster. Lima orang itu langsung berlari ke arah sana sambil menjerit senang. Hanya dua cewek dan cowok yang tersisa.


“Fik, kamu nggak apa-apa?” tanya Edelweis agak khawatir.


“Badan kayak berasa diayak nih,” desis Afika sembari mengatur nafasnya.


“Fik, ayo kita naik kesana!” Miwon menarik tangan Afika untuk segera berbaris di atrian rollercoaster. Afika menggelengkan kepala dengan cepat.


“Aku juga nggak mau! Disana serem ah! Timmy takut!” seru Timmy yang berjalan mendekati mereka. Lalu Edelweis menyeretnya dengan menarik kerah bajuya dari belakang.


“Kalau begitu ayo ke tempat yang tidak menyeramkan!” seru Edelweis. “Dek, jangan paksa Afika. Kasian dia. Kayaknya ketakutan gitu,” imbuhnya sebelum pergi. Miwon mendekati Afika. Dia melihat mata Afika yang meleng kemana-mana. Tarikan nafasnya pun tidak beraturan. Miwon menarik tangan Afika lagi.


“Ayo kita istirahat dulu. Aku tidak akan memaksamu untuk menaiki wahana yang seram-seram lagi kok,” mereka duduk di undakan tangga. Mereka saling terdiam.


“Hey, lihat! Apa kita harus menaiki permainan kekanak-kanakan itu?!” seru Miwon sambil menunjuk ke arah wahana berbentuk pesawat helikopter beroda dengan area rel yang tidak terlalu tinggi. Lalu mereka berdua melihat Timmy dan Ed berada disana.


“Ini menyenangkan! Yaaahuu..,” teriak Timmy girang. Miwon dan Afika saling memandang. Mereka tertawa secara bersamaan. Kemudian Afika memutuskan untuk berdiri.


“Oke! Ayo, kita pergi ke wahana yang menyeramkan,” Miwon ikut berdiri.


“Nggak usah memaksakan diri lah, Fik,” katanya. Afika menggelengkan kepala.


“Aku ingin menyukai apa yang kamu sukai. Dengan begini aku akan lebih mengenalmu.”


Auch! Jantung Miwon terasa dipanah tombak cinta. Dia memukul-mukul dadanya sambil meringis sendirian.


“Miwon, kamu kenapa?” tanya Afika bingung. Miwon langsung tersadar. Dia memegang kedua tangan Afika.


“Kamu begitu manis. Aku janji besok kita akan pergi ke museum manapun. Terserah kamu! Tanpa kak Ed, Timmy, Hami, Tara, dan Wildam! Hanya kita berdua! Aku juga ingin menyukai apa yag kamu sukai. Dengan begitu kita bisa sama-sama mengenal lebih jauh.”


“Emm!” kata Afika menganggukkan kepala lagi sambil tersenyum. Dia mengambil dua penjepit rambut dari dalam tas kecilnya. Dia memasangkan jepit di rambutnya dan memasangkan satu lagi di rambut Miwon. Keduanya saling tersenyum.


“Kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah hantu!!!!”

__ADS_1


Miwon menarik tangan Afika sambil berlari menuju rumah hantu. Mereka berdua terlihat bahagia satu sama lain. Tekad mereka selalu sama. ‘Dengan begitu, kita bisa mengenal satu sama lain lebih jauh'


...                                                                       **TAMAT**...


__ADS_2