
Kini aku sudah berdiri di balik panggung. Dari belakang panggung, aku bisa melihat banyaknya orang yang menonton pertunjukkan kami, para siswa SMA Hijau. Namun masih ada beberapa kursi yang masih kosong. Padahal pertunjukkan teater sudah dimulai, akan tetapi aku masih tidak menemukan sosok Ed di dalam barisan kursi penonton.
“Timmy memainkan perannya dengan baik ya? Padahal aku sering dengar dari teman-teman sih kalau aktingnya agak payah. Sepertinya dia sudah berusaha sebaik mungkin sehingga mendapatkan pemeran utama,” kata Miwon yang melihat Timmy dan teman-teman satu klub teater sedang memainkan peran di atas panggung.
Aku tidak tahu kenapa dia tidak duduk saja di kursi penonton daripada harus berdiri di belakang panggung denganku. Padahal tempat ini merupakan tempat para peserta sebelum tampil. Tetapi aku hanya membiarkannya saja. Percuma untuk mengusirnya, toh dia pasti tetap berdiri pada pendiriannya. Diam-diam aku merasa sedikit nyaman karena ada orang yang berdiri disampingku. Setidaknya ada orang yang menemaniku. Merasa ditemani membuatku tidak terlalu grogi sebelum berdiri di atas panggung.
“Romano dan Juliate. Romano merupakan saudagar kaya raya. Dia sangat pintar dalam mengumpulkan uang. Akan tetapi Romano tidak pernah bisa menulis dan membaca. Malam itu dimana dia mendapatkan kehormatan untuk membacakan pidato yang ditulis sang raja di pesta. Namun dia tidak bisa membaca dan merasa malu. Semenjak kejadian itu, dia merasa malu dan mengurung diri di rumah. Hingga suatu hari Romano mencari seorang pelayan untuk mengurusnya di rumah. Pelayan itu bernama Juliate, wanita yang cerdas dan suka membaca,” jelasku.
“Aku tahu, Romano pasti meminta Juliate untuk mengajarinya menulis dan membaca!”
“Bingo!” seruku sedikit senang karena Miwon mampu mengetahui kelanjutannya. Lantas aku melihat kembali orang-orang yang berlakon di atas panggung. “Romano sudah bisa membaca dan menulis. Bakan Romano sudah mampu membuat hasil karya seperti beberapa puisi romance.” Kataku mulai bercerita.
“Timmy berperan sebagai Juliatte. Seperti yang kita lihat sekarang, Romano dan Juliate menjadi dekat dan tanpa sadar keduanya saling jatuh cinta. Melihat kedekatan mereka, kedua orang tua Juliate menghasut Juliate untuk segera mengambil aset-aset berharga milik Romano. Karena didesak terus-menerus, akhirnya Juliate diam-diam membawa semua harta kekayaan Romano dan melarikan diri bersama keluarganya. Romano hampir tidak percaya jika Juliate, orang yang dipercayainya, berbuat hal seperti itu pada dirinya. Karena putus asa, Romano langsung gantung diri,” lanjutku dengan menunjukkan wajah miris.
“Ternyata Juliate juga merasa telah berbuat curang dan mengkhianati Romano. Dia ingin mengambil semua harta Romano tetapi kedua orang tuanya mengusirnya. Juliate pun segera pergi ke rumah Romano dengan tangan kosong. Dia sangat terkejut melihat Romano yang mati gantung diri. Dia merasa sangat menyesal. Karena dipenuhi rasa bersalah dan demi membalas cinta Romano, akhirnya Juliate juga gantung diri di sebelah kekasihnya,” mataku kembali melihat Timmy yang menggantung dirinya dengan tali di sebelah seorang cowok yang sebelumnya tergantung. Setelah narrator usai bercerita, orang-orang di klub drama segera berlari di depan panggung dan mengucapkan terima kasih. Banyak para penonton yang bertepuk tangan.
“Tragis sekali ceritanya. Naskah itu dibuat sendiri kan sama anak-anak drama. Kok kamu bisa tahu isi ceritanya?”
“Kemarin aku baca naskahnya Timmy,” Miwon bertepuk tangan dengan alis ke atas.
__ADS_1
“Wah, hebat banget. Sekali baca langsung hafal isi ceritanya. Seharusnya kamu pantas disebut sebagai miss memori berjalan nih. Kamu punya ingatan yang bagus!”
Aku meliriknya sesaat, “julukan itu sudah dimiliki oleh Mayang.”
“Oh, iya ya?” tanyanya sambil garuk-garuk kepala. “Btw tuh Mayang kayaknya kena batunya deh. Semenjak kejadian itu, kak Ed seperti tidak mengobrol satu kata pun dengan dia. Apalagi sedikit jaga jarak gitu. Kak Ed kalau sudah nggak suka sama orang pasti langsung terkesan dingin. Aku yakin kalau sampai fans-fansnya kak Ed tahu, mereka pasti akan segera..,”
“Cukup! Mayang sudah minta maaf kok. Aku juga sudah memafkannya. Jadi tolong lupakan hal kemarin. Sebenarnya aku yang salah karena berusaha mencari sesuatu darinya demi kepentinganku sendiri. Untuk mencari tahu tentang diriku,” tegasku. Seseorang merangkulku dari belakang. Dengan aroma pink blossom yang menyengat, aku langsung tahu siapa yang baru saja merangkulku. “TIMMY..!”
“Bagaimana aktingku tadi? Bagus nggak? Wait.. banget, bagus banget ngaaakk??!” serunya girang.
“Bagus banget kok. Kamu memang berbakat.”
“Bunganya bagus sekali. Terima kasih yaa,” suara Timmy agak kecil, diimut-imutkan.
“Kamu suka bunga apa, Fik?” tanya Miwon tiba-tiba. Aku mencoba berpikir.
“Umm.. apa ya? Edelweiss kali ya?” kata ku sambil menoleh ke arah Miwon. Melihat ekspresinya yang suram membuatku tersadar. “Eeh.. eh... maksudku bunga loh yaa bukan kakakmu.. aku..!!!”
“Sekarang kita persilahkan peserta pertama dari ekstrakurikuler musik, kelas sebelas ips satu, Afika Kalea Miraldi!” mendengar suara mc di atas panggung, membuat jantungku semakin berdegup kencang. Apakah aku harus melangkah sekarang? Apa aku harus mundur dan bersembunyi di toilet seharian?
__ADS_1
“Obsesi banget sama kakakku,” gerutunya pelan. Aku hampir membalas suara ketus dari Miwon, tetapi mc sudah menyuruhku untuk maju. Baru saja berjalan beberapa langkah, Miwon menarik tanganku. Miwon seperti mengambil sesuatu di kantong celananya. Aku melihat dengan jelas. Sepasang jepit rambut yang berbentuk seperti lidi panjang dan bermanik-manik hiijau terang. “Pakai ini,” aku langsung menolak. ‘Kenapa orang-orang selalu berusaha memberiku sesuatu yang aku tidak suka. Maksudku hari ini Hami sudah mengatur penampilanku dan sekarang, serius??? Seorang cowok memaksaku untuk memakai penjepit rambut.’
Miwon berhasil memasang jepit di (rambutku?), wait.. bukan! Poni rambutku yang diletakkan di atas rambut dan dicepit dengan cekatan. Lalu dia memasang penjepit satunya di sisi kiri rambutnya. Aku memandangnya dengan heran. Miwon membalikkan badanku sehingga dapat melihat banyak penonton yang menunggu.
“Kamu sudah menjadi cewek yang menawan. Tidak ada yang perlu ditakutkan karena orang-orang sudah melihatmu. Dengan penampilanmu yang sekarang, kepercayaan dirimu akan timbul. Sekarang kamu harus melengkapinya dengan bakatmu itu. Dari jari-jarimu. Percayalah!” aku berbalik lagi hendak berjalan menuju panggung. “Tuh, cowok obsesimu sudah datang. Kamu harus melakukan yang terbaik untuknya. Good luck!” mataku langsung terpana melihat kedatangan Edelweis.
Dia duduk di barisan paling belakang. Jantungku semakin berdegup kencang. Aku ingin membantunya. Sekecil apapun. Semoga kamu dapat mengingat kenangan indah yang pernah kalian miliki bersama.
Aku berbalik ke belakang mencari cowok yang ngeselin tadi. ‘Hee.. orangnya langsung hilang! Hebat! Mau pergi tapi nggak bilang-bilang.’
Setelah itu aku maju ke depan panggung. Berjalan dengan sedikit keraguan. Aku kembali melihat Ed. Fhuh, ternyata Miwon sudah duduk di sebelahnya. Kini aku berada di atas panggung. Saya memberanikan diri untuk mengucapkan beberapa kalimat dengan mic tongkat yang sudah tersedia. Aku menutup mata sejenak. ‘Kamu sudah menjadi cewek yang menawan. Tidak ada yang perlu ditakutkan karena orang-orang sudah melihatmu. Dengan penampilanmu yang sekarang, kepercayaan dirimu akan timbul. Sekarang kamu harus melengkapinya dengan bakatmu itu. Dari jari-jarimu. Percayalah!’
Aku membuka mata kembali. Melihat Miwon yang kini mengacungkan jempolnya dengan wajah sumringah. Aku mengangguk. Tengkuk kaki ku yang sedari tadi gemetaran, kini aku paksa untuk menegakkannya. Menegakkan kaki, membusungkan badan, dan menarik nafas panjang. Jantungku masih berdegup kecang, tetapi tidak sekencang tadi. Sekarang aku merasa sedikit nyaaman.
“Selamat datang. Nama saya Afika Kalea Miraldi, perwakilan dari kelas sebelas ips satu. Saya mempersembahkan lagu ini untuk semua orang yang ada disini. Lagu yang akan saya persembahkan adalah..,” aku sengaja berhenti bericara. Mataku terpusat pada Ed yang terlihat sedang memperhatikanku. Aku menelan ludah. Aku harus membantunya...
“Edelweiss. Saya pernah menonton film The Sound of Music. Lagu yang dinyanyikan oleh seorang ayah pada
anak-anaknya. Seperti kata teman saya, Edelweiss itu bunga yang sangat indah. Tumbuhan yang dipetik dan tidak akan layu dalam beberapa waktu. Tumbuhan yang kadang ditulis eidelweis atau dalam tulisan Jawa disebut Javanese edelweiss. Bunga yang dikenal sebagai bunga abadi. Nama yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica. Tumbuhan endemik zona alpina atau montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia.” Aku berjalan menuju tempat piano. Aku menarik nafas panjang lagi sambil memejamkan mata. ‘Tuhan, tolong bantu aku untuk membuka hati Ed agar dapat segera berbaikan dengan ayahnya. Afika, semangat!'
__ADS_1
TO BE CONTINUED~