FREAK GIRL & PRINCE BROTHERS

FREAK GIRL & PRINCE BROTHERS
Episode 14 - TUGAS GANDA YANG MENYENANGKAN Part 1


__ADS_3

Semuanya sibuk dan bersemangat!


Akhirnya acara ulang tahun sekolah sudah di depan mata. Persiapan rumah hantu juga sudah selesai sesuai rencana Danu. Anak-anak kelas yang berperan sebagai hantu sudah mendapatkan kostum masing-masing. Terutama aku yang mendapatkan pakaian putih sepanjang mata kaki, berlengan panjang dan kedodoran. Aku tidak tahu harus menamakan diriku sebagai hantu apa. Danu malah bilang kalau aku ini perpaduan antara kuntilanak dan juon. Bahkan Danu menepati janjinya sendiri untuk membuat spanduk besar berwarna hitam dengan tulisan merah seperti tetesan darah yang bertuliskan ‘Rumah Hantu Berdarah’ dan tentu saja ‘aku’ sebagai bintangnya. Entah aku harus malu atau patut berbangga.


Hami sendiri merasa bangga karena Danu mempercayainya untuk mengurus tata rias. Hami sangat bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Dia sangat serius mempelajari tips-tips penggunaan make up horor lewat search engine. Saking fokusnya, dia sampai memohon berkali-kali untuk merias wajahku sebelum naik ke panggung. Aku menolak keras permintaan darinya.


“Kenapa? Kamu nggak ingin tampil beda di atas panggung, Fik? Kalau sekedar pakai foundation, bedak tabur, eye shadow, dan lipstik sih aku bisa! Aku sering mengamati cara merias mamaku sebelum pergi ke kondangan.”


Aku langsung ngedumel, “Aku nggak lagi pergi ke kondangan.”


“Tapi bakalan natural kok. Percaya deh!” katanya super duper yakin. Hami ngotot banget! Aku hanya diam, tidak menanggapi. Aku mulai melihat sekeliling dan menemukan seorang cowok yang aku cari. Dia sedang membantu anak-anak memiilih kostum. Aku langsung berjalan menghampirinya, meninggalkan Hami yang masih cuap-cuap tanpa henti. Namun Hami menarik tanganku. “Tunggu! Kalau nggak mau, aku punya sesuatu yang lebih natural untukmu!” dia tidak mendengarkan penolakanku yang kesekian kali.


Hami langsung merogoh sesuatu di dalam tas peralatan make up-nya. Kulihat sekilas alat-alat riasnya buanyaaak sekali. Hami selalu terlihat serius dalam menekuni segala hal. Kulihat dia menemukan sesuatu.


“Lipstik ini cocok banget sama dress blewa color yang kamu pakai.”


Tanganku mencoba memberontak, tetapi Hami menyuruhku untuk tetap diam. Akhirnya aku pasrah membiarkan Hami mengoleskan lipstik di bibirku.


“Tenang ajah, warnanya tidak cepat timbul. Tetapi nanti semakin lama warnanya akan muncul. Warnanya nggak terlalu terang kok. Pokoknya bakal kelihatan soft gitu,” dia mengamatiku dari atas ke bawah. “Pemulas bibir yang keren, dress blewa color dengan kain pita melingkari pinggang, dan selop putih yang manis! Sip! Kamu kelihatan tambah cute sekarang!” kata Hami sembari mengacungkan jempol. Aku tersenyum kecil.


“Makasih, Ham.”


Dia masih mengamatiku dari atas ke bawah berkali-kali.


“Tapi kayaknya ada yang kurang. Hmm, apa yaa?” mendengar hal itu, aku langsung berlari kecil menjauhinya. Aku tidak ingin hasil koreksinya berlanjut. Kayaknya Hami sudah bakat jadi ahli tata busana deh. Langkahku terhenti saat melihat punggung cowok yang hampir kuhampiri tadi. Aku mendekatinya perlahan. Melihat kehadiranku di sebelah Miwon, membuat teman-teman yang sedang memilah kostum menjadi terkejut. Bahkan ada yang sempat gemetaran sesaat. Fhuh, aku lupa untuk mengambil jarak agak jauh agar tidak membuat mereka takut.


“Miwon, sibuk banget ya?” tanyaku pelan. Miwon mengiyakan hal itu tanpa menoleh. Dia masih sibuk menyerahkan kostum pada teman-teman. Aku masih berdiri disampingnya, menunggunya sampai selesai.


“Pakai topeng dan baju zirah ini. Tongkatnya ambil sendiri di sudut tembok dekat pintu kelas tuh,” diserahkannya kostum itu pada Shea. “Terus Heru! Kamu pergi ke Hami buat dirias dulu. Inget! Buat wajahmu seancur-ancurnya. Kostumnya nanti ajah dipasang di dalam rumah hantu. Soalnya kamu jadi pocong. Makanya ribet kalau dipakai sekarang.”

__ADS_1


Setelah menyerahkan kostum terakhir pada Cici, cowok itu menarik nafas lega. Dia menoleh padaku dengan tawa khasnya.


“Sumpah! Capek banget!” dia terduduk di bangku dan bersandar di tembok. “Kamu mau ngomong sesuatu?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk.


“Aku ingin kamu mengajak Ed untuk melihat pertunjukanku nanti di ruangan teater,” ucapku hampir setengah berbisik.


“Kamu masih belum menyerah dengan perasaanmu itu ya?” katanya dengan lirih.


“Bukan begitu! Ini nggak ada hubungannya..,” aku menghela nafas sesaat. “Aku ingin membantu Ed untuk mengingat kembali kenangan indah yang pernah kalian miliki. Aku ingin membantu teman sekecil apapun. Aku akan berusaha,” kataku yakin.


“Lalu apa hubungannya melihatmu di atas panggung dengan membantu kami?”


“Kamu nggak perlu tahu.”


“Kenapa?”


“Nanti kamu akan tahu sendiri,” kataku mulai sedikit kesal. Miwon melipat kedua tangannya di dada dengan mengangkat kepalanya ke atas.


“Ya sudah! Biar aku sendiri yang bilang!” sahutku jengkel. Aku berbalik meninggalkannya. Namun setelah menaiki tangga, aku merasa seseorang mengikutiku dari belakang. Kuputuskan untuk berbalik melihat seseorang dibelakangku. Namun kaki ku terpeleset dan seseorang menahan tubuhku yang tidak seimbang.  Mataku terbelalak lebar.


“Miw..,”


“Ayo, aku temani kesana.”


...***...


Semenjak kejadian itu, Edelweis tampak menjauhiku. Aku tahu kalau Ed tidak pernah menyebarkan kesalahan yang aku perbuat terhadap Afika. Setiap di kelas, dia tidak megobrol denganku seperti dulu. Bahkan saat pergi ke kantin bersama, dia hanya diam dan tidak menanggapiku sama sekali.


Ku tepati janji untuk keluar

__ADS_1


dari mading. Akan tetapi dia masih tidak menghiraukanku. Sekarang Ed sedang duduk dengan Wildam dan Tara seperti biasanya. Kali ini aku mencoba mendekatinya lagi.


“Ed, bagus nggak, maid cafe yang aku pakai? Warnanya pink, girly banget deh!” tanyaku sambil berputar sekali menujukkan kostum dengan rumbai putih yang mengembang. Wildam dan Tara melihatku. Namun Ed tidak


mengangkat kepalanya sama sekali. Dia masih menyibukkan diri melihat beberapa foto di kamera DSLR Tara.


“Hasil fotonya bagus. Kalau begitu kamu ajah yang mengambil beberapa foto dan pemberitaan tentang ultah sekolah. Pokoknya kamu harus cari berita yang menarik. Kalau perlu  sampai acara berakhir,” perkataan Ed membuat bibir tipis dan mata Tara mengerut.


“Tugasku berat banget. Nggak dapat rekan lagi! Aku juga nggak bisa main-main sama gebetanku,” celetuknya. Tara langsung melirikku. Perasaanku menjadi tidak enak. “Aku dibantu sama Mayang ajah ya! Pasti bisa cepat selesai!”


“Alaa.. pasti nanti kamu malah menyerahkan semua tugas ke Mayang. Dasar pemalas!” kata Wildam sambil membuka lembaran buku kimia. Dia membaca lagi. Sedangkan Ed langsug berdiri.


“Kalau kamu nggak becus, mending keluar sana seperti dia,” Tara dan Wildam mengerutkan kening bersamaan. Walaupun suara Ed masih terdengar lembut, namun kata-katanya terasa penuh amarah. Ya, dia masih membenciku. Tapi aku harus gimana lagi. Aku nggak akan sudi kalau harus meminta maaf pada...


“Ed! Dipanggil Sadako dan adikmu neh!” aku menoleh dengan cepat. Winna mempersilahkan keduanya masuk di dalam kelas.


Gadis itu.. ukh! Aku benar-benar membencinya. Seandainya saja dia tidak memacingku. Aku tidak akan berbuat hal konyol seperti kemarin. Sekarang aku tidak bisa ngobrol dengan Ed seperti dulu


lagi. Aku hanya  dapat melihat Ed berjalan menjauhiku. Wajahnya terlihat cerah saat mengobrol dengan gadis setan itu! Aku langsung duduk di bangku yang sebelumnya diduduki oleh Ed. Tara malah bangkit dari kursinya.


“Aku semakin nggak nyaman karena terus-terusan melihat kalian berdua bertengkar seperti ini. Ed nggak pernah bertegur sapa padamu lagi. Tetapi dia tidak mengatakan alasan apapun. Apalagi cewek-cewek yang ngefans sama dia juga bersekongkol menjauhimu setelah Ed jaga jarak denganmu.”


“Terus?” tanyaku agak bingung.


“Aku nggak mau dong gara-gara di dekatmu, orang-orang jadi salah paham. Aku nggak ingin terlihat membela siapapun, netral. Tapi aku juga nggak ingin kena apes dibuat sasaran kemarahan dari Ed dan fans-fansnya lah. Lebih baik kamu intropeksi diri buat minta maaf sama dia.”


“Aku sudah minta maaf kok.”


“Mungkin saja ada yang harus kamu lakukan selain minta maaf padanya,” aku terdiam mendengarnya. Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Tetapi aku nggak ingin merendah dihadapan gadis jelek itu. “Kak, ayo

__ADS_1


kita ganti kostum dulu. Sebentar lagi acaranya akan segera dimulai!” serunya sambil menyeret Wildam yang masih tetap konsen membaca.


To Be Continued~


__ADS_2