
Yiruma-Kiss The Rain yang paling spesial
Miwon benar-benar membawa sopirnya untuk menjemput kami bertiga. Miwon duduk di sebelah sopirnya dan aku dengan kedua temanku yang lain duduk di bagian belakang. Kami melaju ke tempat yang sudah aku kunjungi dua kali, Gresik.
Disana memang tidak terlihat sebesar kota Surabaya. Akan tetapi mungkin jika dipadankan dengan segi keramaian, kota Gresik juga cukup ramai. Banyak rumah makan dan penjual minuman dimana-mana. Disini layaknya seperti tempat kuliner.
Wah, aku melihat pemandangan ketika mobil memasuki kawasan Gresik lewat kaca yang tertutup. Tempatnya sangat bersih dan memajang penghargaan adipura di tengah-tengah bundaran jalan. Miwon menyebutkan tempat yang baru aku lihat sering disebut dengan ‘bundaran GKB’ (Gresik Kota Baru).
“Nanti setelah mengantar kita, mamang kembali saja di kantor ayah,” aku mendegar Miwon berbicara pada sopirnya. Aku merasa sedikit tidak enak karena telah merepotkan sopir Miwon yang harus bolak-balik hanya karena mengantar kami ke rumah.
“Anu, maaf ya pak, kami sudah merepotkan,” tubuhku ke depan perlahan sehingga dapat menengok pak sopir.
“Nggak apa-apa kok, neng. Ini sudah tugas saya selalu mengantarkan nak Miwon dan bapaknya,” ucap pak sopir sambil tersenyum ramah.
Miwon juga menengok ke arahku dengan wajah tersenyum. Aku merasakan dada yang bergetar lagi. Dengan segera kumundurkan lagi tubuhku di belakang. Semejak Miwon mengatakan untuk berhenti menyukaiku, aku malah jadi selalu memikirkannya. Apalagi semenjak kejadian itu dia tidak meneleponku lagi. Entah kenapa aku sedikit rindu untuk mengobrol dengannya seperti dulu.
Semenjak kejadian dimana kami masing-masing memiliki hubungan yang baru, aku merasa sedikit kesepian. Bagian terburuknya, setiap
malam aku tidur sambil sesekali melihat handphone. Ada kalanya aku ingin meneleponnya duluan, akan tetapi aku tidak memiliki alasan yang bagus untuk meneleponnya.
“Welcome at my home!” suara Miwon menyadarkan lamunanku. Dia turun duluan. Kami bertiga juga turun. Aku menengadah ke atas. Terlihat terik matahari dan cuaca yang agak panas. Setelah itu, aku melihat lapangan lebar di depanku. Beberapa anak cowok sedang bermain sepak bola.
Hami memanggilku. Aku langsung berbalik. Hami dan Danu berdiri di dekat pagar rumah. Aku mengamati dua rumah yang mengapit rumah dimana kedua temanku berdiri. Lalu melihat rumah-rumah yang lain disekeliling. Disini seperti lingkungan kompleks perumahan!
Apalagi di depan lapangan sana terdapat minimarket yang berada di pinggir jalan. Walaupun udara agak panas, tetapi pohon-pohon yang tumbuh di pinggir lapangan sangatlah rindang. Membuat angin semilir terasa segar. Jadi hawa tidak terlalu panas juga.
“Terima kasih ya, mang. Titip salam dan terima kasih untuk Ayah,” kulihat Miwon sedang berdiri dan mengobrol dengan sopirnya. Setelah itu, mobil avanza hitam pergi berlalu melewati perbelokan.
“Miwon,” seorang cewek yang memiliki bob hair style sedang berjalan ke arah kami. Miwon melambaikan tangannya pada cewek itu. Aku mengamati cewek yang berbicara dengan Miwon dan terlihat sangat akrab.
Ternyata cewek itu mengenakan seragam dan rok SMA seperti pada umumnya. Jadi sepertinya dia memiliki umur yang tidak jauh beda dengan kami. Miwon memanggil kami bertiga untuk mendekat.
“Perkenalkan dia Auni. Salah satu tetangga dekatku. Rumah dia tepat disebelah rumahku,” kata Miwon sambbil menunjuk rumah bertingkat yang tidak jauh dari kami berdiri. “Auni, ini teman-temanku. Ini Hami, Danu, dan Afika.”
“Salam kenal ya!” katanya dengan wajah berseri-seri. Kami bersalaman dengannya. Gadis ini tampak imut sekali. Gadis yang hampir setipe dengan Timmy.
__ADS_1
Fhuh, kenapa tiba-tiba aku merasa kalah ya? Melihat kedekatan cewek itu dengan Miwon dan Timmy yang selalu bisa memamerkan kemesraannya dengan Miwon. Oh my God! Aku sudah berpikir macam-macam yang nggak penting kayak gini!
“Oh ya, kapan-kapan kita makan sushi di Ichi Sushi yuk! Pupus dan Petir pasti senang sekali kalau kita makan bersama kayak minggu kemarin!”
Miwon mengacungkan jempolnya.
“Oke deh! Kapan-kapan ya! Kamu yang menentukan harinya apa. Akan aku tunggu kabar darimu.”
“Sip! Kalau begitu aku pulang dulu ya!” setelah itu Auni pamit kepada Miwon dan kami bertiga. Aku tersenyum melihat cewek yang begitu enerjik seperti dia.
Ah, jika saja aku bisa seceria dia. Tetapi aku tidak akan berani memotong rambut sependek dia. Aku akan sangat malu hingga tidak ingin keluar dari rumah satu hari pun. Menurutku hanya cewek-cewek yang memiliki kepercayaan dirilah yang memiliki hair style seperti itu. Cewek-cewek yang pemberani.
Setelah mengawasi Auni yang baru saja masuk dan menutup pagar rumahnya, mataku mulai beralih ke arah Miwon yang berjalan dengan memasukkan tangannya di saku celana. Dia berjalan menghampiriku.
“Itu rumahku,” dia menunjuk rumah berpagar putih dimana tempat Hami dan Danu berdiri. Rumah itu tampak bagus dan elegan, ditambah dengan berbagai lukisan yang digantung di dinding luar. Miwon membuka pintu pagar.
Aku dan kedua temanku yang lain mengikutinya dari belakang. Kami memasuki ruang utama. Kursi sofa tampak nyaman dengan sekali pandang. Setelah itu kami memasuki ruang tengah. Disana terdapat tv dengan layar datar, karpet, dan sebuah piano yang.. berdebu. Jariku menekan tuts perlahan.
“Piano ini sudah lama tidak digunakan,” aku terkejut ketika Miwon berbisik di telingaku. “Semenjak ibu dan kak Ed pergi dari rumah. Biasanya ibu yang melatih kami bermain piano. Ibu sangat lihai memainkannya, seperti kamu,” lanjutnya sambil ikut menekan tuts. Hami dan Danu keluar dari ruangan dapur dan menghampiri kami berdua.
“Wah, aku senang banget kalau kamu mau memainkan satu lagu untuk kami!” seru Danu sambil menepuk tangannya. Hami dan Danu melihatku dengan wajah berharap. Baiklah, jika ini kemauan kalian. Setidaknya sekarang giliranku untuk meminta ijin pada pemiliknya.
Aku menoleh ke belakang. Ku lihat Miwon sedang bersandar di tembok sambil memainkan handphone. Aku rasa dia sedang kirim chat pada Timmy, maksudku pacarnya.
Ah, kenapa aku harus peduli. Tiba-tiba saja matanya melirik melihatku. Secepat kilat, aku segera memutar pandanganku ke arah lain. Aku tidak ingin bertatapan dengannya lagi. Melakukan itu membuatku menjadi agak aneh. Aku berjalan mendekatinya.
“Aku boleh memainkan piano itu?” tanyaku dengan wajah menunduk. Miwon tidak langsung menjawab. Dia malah berjongkok dan berusaha melihat wajahku.
“Kamu harus membayarnya untuk itu,” ucapnya dengan wajah agak serius. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
‘Apa aku benar-benar harus membayarnya?’
Miwon langsung tertawa terbahak-bahak. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya tertawa. Tanpa sadar, aku menikmati melihat wajah yang penuh tawa itu. Dia menepuk pipiku berkali-kali dengan lembut.
“Reaksimu sangat lucu, Fik. Kamu bisa memainkannya tanpa meminta ijiin denganku. Piano itu akan senang sekali karena ada yang menyentuh tuts-tuts-nya lagi."
__ADS_1
Miwon segera membersihkan piano itu dengan sulak dan mempersilahkanku untuk duduk di depan piano tersebut. Aku menutup mata mencoba mencari lagu yang cocok dengan suasana ini.
“Aku tahu lagu apa yang akan ku mainkan,” Hami dan Danu berdiri dengan tenang dan mendengarkan setiap kataku. Namun tidak dengan salah satu cowok yang berdiri di depanku. Dia masih mengutak-atik handphone. Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Aku menutup mata lagi. “Dengan judul Kiss The Rain.”
Aku mencoba untuk menikmati alunan dalam setiap tuts yang aku mainkan. Di pertengahan, mataku kembali melihat cowok yang sebelumnya sibuk memainkan handphone. Aku kira dia masih begitu. Tetapi ternyata tidak. Dia menggenggam handphone dengan mata menatap lurus melihatku.
Aku tersenyum kecil padanya. Tidak tahu kenapa aku merasa lega dia kembali memperhatikanku. Tatapannya membuat hatiku merasa tenang dan nyaman. Aku tetap memainkannya sambil menutup mata lagi hingga tidak terasa alunan yang ku mainkan berakhir. Aku membuka mata lagi. Hami, Danu, dan Miwon langsung bertepuk tangan dengan keras. Aku berdiri sambil tersenyum lagi.
“Aku tidak pernah mendengar kamu memainkan lagu ini, Fik. Kamu benar-benar lihai memainkannya!” benar, Hami sering bermain ke rumahku. Dia selalu mendengarkan alunan piano yang aku mainkan di rumah. Dan ini baru pertama kalinya aku memainkan nada ini di hadapan mereka bertiga.
“Ini yang paling spesial,” ucapku tersenyum lagi.
“Akh, seandainya aku tahu apa artinya! Kayaknya bagus banget. Jadi pengen nangis,” pekik Danu dengan menggebu-gebu. Hami dan Miwon tertawa melihat reaksinya.
“Siapa nama pianisnya?” tanya Miwon.
“Yiruma.” Miwon tampak berpikir sejenak.
“Umm.. pianis Jepang?” aku segera menggeleng.
“Pianis korea,” Miwon sedikit terkejut mendengarnya.
“Aku kira..,”
Hami segera memotong perkataannya,“Aku kira kamu tahu banyak soal negeri gingseng. Ternyata Yiruma ajah nggak tahu, huh.”
Miwon hanya manyun sambil menggaruk kepala. Lalu dia melihatku lagi.
“Kamu hebat, Fik,” dadaku berdebar lagi ketika mendengar pujiannya. Aku rasa ada yang salah denganku.
Perasaan berdebar yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan selain kepada Edelweis. Aku benar-benar bingung. Aku merasa bahagia mendengar pujiannya. Tetapi aku juga rindu akan pujiannya. Apakah aku maniak dengan sebuah pujian? Tidak juga!
Tetapi kenapa kalau Miwon yang mengatakannya, malah terasa berbeda? Kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah juga karena sudah berdebar-debar kepada orang yang salah, yakni orang yang bukan pacarku?
TO BE CONTINUED~
__ADS_1