
Miwon baru saja datang membawakan sekantong plastik yang berisi banyak nasi bungkus. Dia memasuki kamarnya dimana teman-temannya sedang bersantai. Ada yang menonton televisi, membaca komik, dan membaca buku Bahasa Indoneia sambil browsing.
“Wah, makanan datang! Makanan datang!” Danu tidak lagi membaca komiknya. Sekarang dia fokus dengan bungkus nasi yang dikeluarkan oleh Miwon. Afika dan Hami juga mulai memperhatikan.
“Aku belikan nasi krawu nih. Khas makanan dari Gresik!” kata Miwon sambil membagikan nasi bungkus ke teman-temannya. Mereka memakannya dengan lahap.
“Kita dapat tema apa sih?” tanya Miwon sambil mengunyah makanan.
“Puisi. Kita harus mencari sepuluh soal tentang puisi dalam bentuk pilihan ganda,” Afika mengatakannya dengan membuka buku Bahasa Indonesia. “Disini aku menemukan banyak soal-soal tentang puisi. Kita tinggal memilih jawabannya saja.
Hami menghentikan makannya, “Kita jangan mencari soal-soal di buku saja, Fik. Bagaimana kalau mencari soal dari internet juga? Aku sudah menemukan beberapa nih.”
Danu menepuk tangannya. “Nah, gimana kalau kita ambil lima soal dari buku dan lima soal lagi dari internet?”
Mereka berempat berfikir sesaat. Tak lama Miwon menunjuk-nunjuk sambil menganggukkan kepala.
“Bagus tuh! Ya, ide bagus tuh!”
“Boring nih kalau kita hanya mengerjakan tugas,” keluh Danu. “Won, kamu kan sudah janji akan mengajak kita jalan-jalan.”
“Oh, itu sudah pasti. Nanti malam kita akan menikmati pemandangan sambil makan di pinggir jalan,” seru Miwon sambil memakan suapan terakhirnya.
...***...
Miwon baru saja memarkir mobil. Ketiga temannya turun dari mobil. Mereka melihat dengan takjub. Banyak warung yang berjejer disana. Juga banyak orang yang nongkrong di sekitar bundaran untuk makan.
Miwon membawa mereka untuk memesan makanan. Miwon, Afika, dan Hami memesan sate ayam dan es teh. Sedangkan Danu memesan nasi goreng dan teh hangat. Mereka duduk di tikar untuk menunggu pesanan.
“Hawanya agak dingin ya,” kata Danu sambil merangkul tubuhnya sendiri. “Tahu begini aku bakalan bawa jaket dari rumah nih.”
“Mungkin sebentar lagi waktunya musim hujan,” ucap Hami. “Jadi ini yang namanya bundaran GKB?” Miwon mengangguk. Lantas dia menunjuk pohon beringin di tengah-tengah taman.
“Jika kalian duduk disana pada siang hari, uuh.. sejuknya luar biasa. Pohon disana sangat rindang.”
“Bagaimanapun juga kalau malam pohon itu terlihat menakutkan,” celetuk Danu, memikirkan banyaknya makhluk halus yang bersarang disana.
“Lihat ajah! Banyak orang yang berkumpul di taman. Pohon itu tidak terlalu horor seperti yang kamu pikirkan.”
Kemudian datanglah makanan dan minuman yang mereka pesan. Mereka memakan dengan lahap. Mereka makan dengan nikmat dan sesekali mengobrol tentang indahnya Gresik di malam hari. Banyaknya cahaya mobil dan motor yang lalu-lalang, penjual buah yang masih banyak pelanggannya, juga para pedagang kaki lima yang masih berjualan dan banyaknya para pembeli hingga larut malam.
__ADS_1
...***...
“Aah, kenyang sekali!” teriak Danu sambil mengangkat kedua tangannya. Miwon memberi tanda untuk diam. Kami sudah memasuki rumah. Akan tetapi rumah tampak sepi. Miwon bilang kalau ayahnya dan sopirnya sudah tidur duluan. Setidaknya kami berbicara dengan sedikit mengecilkan suara agar tidak membangunkan mereka berdua.
“Kalian tidur saja di kamarku,” Miwon menunjukku dan Hami. “Lalu aku dan Danu akan tidur di kamar sebelah,” setelah itu aku dan Hami berjalan memasuki kamar. Hami langsung ambruk begitu saja di atas kasur.
Sementara itu, seperti biasa aku masih belum bisa tidur. Aku tahu sejak lama kalau aku mengidap insomnia. Jadi
walaupun sudah jam dua belas tepat, mataku masih terbuka lebar. Ku duduki kursi di depan meja belajar. Mataku mengarah ke pigura yang tegak di atas meja belajar.
Aku langsung mengamatinya dengan meletakkan kepala di atas meja. Pigura itu memiliki foto di dalamnya. Seorang pria yang mengenakan kemeja ini pasti ayahnya Miwon dan Edelweis. Lalu wanita cantik disebelahnya adalah ibunya.
Dua anak kecil yang berdiri di depan mereka pasti Edelweis dan Miwon. Wajah mereka semua tampak bahagia. Selain itu ada pigura kecil lagi disebelah pigura sebelumnya. Aku melihatnya dengan seksama.
‘Ini kan fotoku dengan Miwon ketika ulang tahun sekolah?’ ku pandangi foto itu agak lama. Aku ingat dia meminta salah satu fotoku yang menoleh ke arahnya. Setelah mengamati foto itu, mataku kembali melihat sekeliling kamar.
“Aku berada di dalam kamar Miwon,” aku sedikit menggumam. Kuamati poster-poster boyband ‘Suju’ yang menempel di dinding. Rupanya dia benar-benar menyukai boyand korea. Aku melangkah ke arah rak buku.
Ternyata Miwon sangat menyukai komik doraemon. Banyak sekali aku menemukan komik berseri di dalam rak bukunya. Dan aku menemukan buku yang pernah aku berikan. Aku membuka salah satu komiknya dan membacanya sambil duduk di atas kasur. Aku terpaku sesaat.
“Aku berada di atas kasur yang sering ditiduri..,” aku kembali tersadar. Aku baru menyadari jika tanganku mengusap-usap tempat tidur. “Apa yang sedang aku lakukan??!” jeritku histeris. Seseorang menimpuk diriku dengan bantal.
Aku segera melangkah menuju dapur. Akan tetapi aku melihat sesuatu yang ganjil. Lampu di ruangan dapur menyala! Apakah ada seseorang dari rumah yang masih terbangun selain aku? Apakah orang itu adalah ayah Miwon? Aku segera melangkahkan kaki sambil berjinjit perlahan.
Tampak seseorang sedang memasak sesuatu di atas panci. Orang itu menoleh dan terkesiap melihatku. Begitu pula denganku. Kami sama-sama terkejut.
“Kamu!” serunya. Aku tertawa kecil sambil garuk-garuk kepala. “Aku kira hantu!” serunya lagi. Aku langsung menunjukkan ekspresi muka datar. Miwon malah tertawa. “Huahaha.. aku bercanda! Aku tau kalau itu kamu!” aku hanya menanggapinya dengan manyun. Kulihat dia sedang merebus mie instan. “Kamu mau?” tawarnya.
Aku menggeleng.
“Masih lapar ya?” tanyaku. Dia menganggukkan kepala sambil menuang mie ke dalam mangkok. Aku mengikutinya berjalan menuju ruang tengah. Dia memakan mie sambil menyimak film barat di tv.
“Kamu nggak bisa tidur kan?” tanyanya kemudian.
“Insomnia,” jawabku pendek. Dia masih makan sambil menonton tv.
“Aku tahu. Itulah kenapa kamu memiliki mata panda dan selalu tidur di tengah pelajaran berlangsung,” katanya sambil tetap mengarah di depan tv. Dadaku berdebar-debar sesaat. Miwon selalu seperti ini. Cowok yang selalu memperhatikan dan memahami apa yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya. Tanpa aku sadari kalau aku sangat senang berteman dengannya. Kalau diingat-ingat lagi, dia cukup berjasa dalam membantu kehidupanku.
Sebelum mengenalnya, kehidupanku agak suram. Aku hanya merasa dianggap jika berada di rumah. Ya, hanya papa dan mama yang tidak melihatku begitu aneh. Mayang juga, sebelum dia tinggal di rumah kami sih. Tetapi aku bersyukur jika sekarang Mayang mau akrab denganku lagi.
__ADS_1
Selain dengan Hami dan Timmy, aku tidak bisa membuat hubungan kedekatan dengan teman-teman lainnya. Padahal aku tahu seberapa banyak usaha yang aku lakukan. Akan tetapi semenjak Miwon datang, dia mulai melangkah memasuki kehidupanku. Berusaha untuk memahamiku. Dia membantuku dengan segala cara untuk berhubungan baik dengan teman-teman. Apalagi dia juga yang membuatku bisa dekat dengan Edelweis.
Miwon juga yang membawaku mewujudkan mimpi terdalamku yakni mempertemukanku dengan pangeran berkuda putih yang sudah lama aku impikan. Dia juga mempunyai cara untuk mengubah penampilanku menjadi lebih baik. Tanpa sadar, dia selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang untuk membantuku melangkah dalam hidup. Dia selalu.. mengerti aku.
Lantas kenapa aku tidak pernah memberinya kesempatan.. untuk membuka diriku lebih dalam? Aku malah menyakiti perasannya dengan menjadi pacar kakaknya.
Bagaimana perasaanku sebenarnya? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, debar-debar itu selalu muncul di saat sekarang. Tetapi sebelumnya aku sangat nyaman berada didekatnya tanpa harus memikirkan apa yang mesti dibicarakan.
Aku begitu senang mendengarnya bercerita. Aku juga suka melihat gerak-geriknya yang aneh. Aku.. merasa senang dia selalu mengekor padaku. Aku sangat suka jika dia.. berada didekatku. Jadi apa artinya ini semua?
“Fik,” dia mulai memanggilku. Miwon menatapku sembari mengerutkan kening. Tangannya mengusap pipiku. Dadaku terasa berguncang sesaat. “Kenapa kamu menangis?”
Aku terkejut mendengarnya. Dengan segera ku usap air mata yang mengalir di pipiku. Lalu aku teringat rasa haus yang tadi melandaku. Aku segera melangkah untuk mengambil botol air di dalam kulkas.
Miwon juga berjalan menuju dapur. Dia sedang mencuci mangkok. Aku berusaha tidak menghiraukannya. Aku duduk di kursi makan dan meneguk air putih secara perlahan. Tak lama Miwon juga duduk di sebelahku.
“Tadi kamu kenapa, Fik?” tanyanya kemudian. Aku hanya menggeleng. Setelah meminum sampai habis, aku mengisi gelas dengan air putih lagi. Miwon terkekeh melihatku meminum air putih. Aku mengisi air di gelas lagi. “Kalau minum sebayak itu, bisa-bisa perutmu kembung loh,” aku tidak peduli.
Aku menyadari jika gejala panik menyerangku. Aku baru saja ketahuan sedang menangis dan tidak ada yang bisa aku lakukan, selain minum! Aku juga tahu kalau meminum air putih sebanyak ini membuat perutku kembung. Aku meminum air putih sambil melirik ke arah Miwon.
Dia sedang melipat tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya diatasnya. Dan dia sedang memandangku. Aku langsunng tersedak.
“Tuh kan kesedak. Minumnya pelan-pelan, Fik,” katanya sembari mengambil handphone di dalam saku celananya. “Oh ya terima kasih atas bukunya. Aku sangat menyukainya,” aku hanya menganggukkan kepala. Sudah kuduga kalau dia menyukai buku yang berbau boyband. “Coba dengar lagu ini. Salah satu lagu suju favoritku.
“Judulnya apa?” tanyaku merasa sedikit penasaran. Dia mulai menyalakan musiknya dengan volume kecil dan meletakkannya di atas meja.
“Memories.”
Walaupun aku tidak terlalu menyukai lagu yang aku tidak mengerti bahasanya, namun aku juga ingin mendengarkannya. Aku mendengarkannya sambil menggenggam gelas yang masih berisi air. Aku juga melihat Miwon yang baru saja menutup matanya.
“Aku selalu ingat setiap kejadian bersamamu. Aku bersyukur masih ingat dimana kita selalu bersama,” di tengah mendengarkan lagu, Miwon mengatakan sesuatu yang membuatku sedikit berdebar-debar. Tak lama terdengar dengkurannya. Aku tertawa kecil melihatnya cepat sekali tertidur.
Aku langsung meletakkan gelas sedikit jauh di atas meja. Kedua tangan kulipat di atas meja dan meletakkan kepalaku di atasnya. Aku tersenyum melihat Miwon yang tertidur pulas. Aku memperhatikan bulu matanya yang lentik dan terlihat panjang.
Miwon tampak manis saat tidur. Selama empat menit aku mengamatinya. Tepat saat lagu itu berakhir, secepat itu pula aku mulai merasa ngantuk dan tertidur juga.
“Aku juga bersyukur telah bertemu denganmu, Miwon.”
TO BE CONTINUED~
__ADS_1