
Gadis yang semula mengeluarkan beberapa butir air mata, mulai mengusap wajahnya lega. Tampak kepuasan di wajahnya. Bibir kirinya terangkat ke atas. Mengembangkan sayatan senyum yang tidak biasa. Gadis itu mulai berdiri sembari menyisir rambutnya yang sebelumnya acak-acakan. Diliriknya sebuah halaman buku yang terbuka.
‘Sepertinya ini keberuntunganku untuk melihat semua kebenarannya,’ pikirnya.
Tanpa rasa ketakutan, dia mulai menggapai buku diari mungil dan dibacanya sambil tiduran. Baru dibacanya selembar, dia langsung bangkit dan melempar buku itu sampai terperosok di sudut pintu luar. Dia langsung terkejut melihat sosok gadis yang membawa gelas berisi air dengan menampakkan wajah sama terkejutnya seperti dirinya.
“May, kamu baca diari aku?” katanya sembari meletakkan gelas di meja.
“Kalo iya, kenapa? Kamu itu udah jadi cewek sok misterius, ternyata bisa licik juga ya?! Ngerebut gebetan sepupunya sendiri! Apa nggak ada cowok lain lagi, hah!”
“May, dengarkan aku dulu. Aku...”
“Apa? Apa? Menyukainya sedari kelas satu dulu? Aku udah curiga! Apalagi Ed sama kamu bisa sedekat itu tadi. Padahal itu kamu. Kamu yang ditakuti oleh semua orang karena sosokmu yang mengerikan. Tapi dia nggak takut. Aneh banget ya? Kamu boleh tersenyum sekarang. Dasar cewek buruk rupa!” tunjuknya dengan kemarahan yang meluap-luap.
“Tolong jangan katakan itu lagi.”
“Kenapa? Hati kamu sakit? Sama. Aku juga. Sebenarnya nggak ada cerita kayak gini. Rupanya kamu benar-benar kuper kayak si culun, Hami. Buktinya, kamu percaya ajah kalo ada senior namanya kak Nona. Cerita tadi cuman bullshit supaya kamu bisa tahu kalo banyak banget yang naksir sama Ed. Kamu jangan terlalu berharap banyak. Apa tadi kamu menyuruh cowok tengil tadi buat mencari perhatian Ed?!! Seharusnya kamu bisa sadar diri betapa sulitnya menyukai cowok populer. Di saat aku melihat Ed lagi dekat sama cewek lain, hati aku terbakar. Karena aku yakin kalo Ed cuma buat aku satu-satunya!”
“Kamu tega, May. Kamu sangat pemarah.”
“Memang apa lagi yang diharapkan dari cewek yang tinggal di Kebumen, cewek yang tinggal bersama ibu tua yang sakit-sakitan dan ketiga adik yang masih kecil di desa terpencil yang terletak di atas pegunungan. Apa lagi yang diharapkan dari cewek yang kesehariannya naik-turun gunung untuk pergi ke sekolah tiap paginya, menggotong dua ember berisi air untuk mandi. Tidak bolehkah dia sedikit keras kepala? Tidak bolehkah dia merasakan sedikit kebahagiaan?!”
Gadis yang baru saja meluapkan kemarahan langsung menangis keras. Gadis satunya mencoba untuk menenangkannya secara perlahan.
“Maaf...,” ucapnya pelan. Gadis berseragam itu menatapnya tajam.“Kamu harus janji!”
“Janji apa?”
“Janji untuk menjauhi Ed. Walaupun dia berusaha berbicara denganmu.”
“Kenapa aku harus begitu? Aku yakin kalau dia nggak suka aku.”
“Tapi aku nggak yakin sama perasaan kamu yang belum bisa terhapus itu,” katanya sengit. Gadis satunya langsung menelan ludah.
“Baiklah.”
“Janji?”
“Jaa... jan... janji.”
Kelingking keduanya saling berkaitan seperti janji yang sudah diikrarkan.
...***...
Janji itu masih melekat dalam ingatan Afika. Dirinya sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimanapun juga Mayang adalah saudara sepupunya. Sebagai perwujudan saudara yang baik, harus tetap menjaga ikatan tali persaudaraan dengan baik. Kini dirinya menjadi bimbang apakah bisa ia melupakan setiap debaran yang disimpan hanya untuk Edelweis. Ditariknya nafas dalam-dalam.
‘Biasanya kalo duduk di bawah pohon seperti ini, aku bisa menjernihkan pikiran. Tapi sekarang..,’
“Fik, kalo donatnya nggak mau, buat aku ajah gih,” seru Timmy senang. Padahal dia sudah melahap dua donat tetapi sepertinya donat-donat itu belum membuatnya kenyang.
“Enak ajah. Kamu kan sudah habis banyak. Buat aku ajah deh!” timpal Miwon. Keduanya mulai beranjak dari duduknya dan saling berebut donat yang masih dipegang oleh Afika. Sementara si pemilik donat masih tetap terpaku memandang ke depan, ke arah sekumpulan siswa yang sedang tertawa di seberang lapangan basket.
Walaupun banyak cowok yang sedang bermain basket di lapangan, kedua matanya tetap fokus dengan sekumpulan siswa penuh tawa itu. Hami yang masih melihat kedua temannya saling berebut dan reaksi si pemilik donat yang tidak peduli, membuatnya harus bertindak sebagai penengah. Diambilnya donat dari tangan Afika dan... memakannya. Miwon dan Timmy langsung mengerucutkan bibir.
“Fik, kalo punya makanan jangan di anggurin dong. Tuh tikus dan kucing jadinya rebutan kan. Nih, aku ganti sama donat aku.”
__ADS_1
“Uhm, nggak usah. Makasih. Aku nggak lapar, Mi,” ucap Afika pelan. Kepalanya tertunduk lemas. Ketiga temannya menjadi bingung dengan reaksinya. Biasanya Afika selalu menunjukkan wajah datarnya. Tidak ada yang pernah menebak emosi apa yang tertancap pada Afika. Namun kali ini, Afika menunjukkan reaksi yang lain. Jelas saja bahasa tubuhnya menunjukkan perasaan yang tidak menyenangkan.
“Kamu kenapa, Fik? Kamu sakit?” tanya Hami merasa khawatir. Afika hanya menggelengkan kepalanya.
“Tuh kan, gara-gara Miwon sih mau ngerebut donat Afika segala. Afika kan jadi sedih,” tuduh Timmy yang berusaha mencairkan suasana.
Sebenarnya dia juga bingung harus bagaimana menanggapi kesedihan yang sedang dirasakan oleh temannya itu. Miwon tidak menanggapi kelakarnya. Cowok bermata sipit itu hanya menatap kosong. Tak lama kemudian Miwon berdiri menghadap lapangan basket.
“Kalian sudah pernah lihat Siwon oppa bermain basket?” Tubuhnya masih memunggungi ketiga temannya. “Oppa jago basket lho! Lets see yay!” Siwon langsung berlari menuju lapangan basket dan mengambil bola bulat oren yang baru saja menggelinding di kakinya. Kemudian dia berjalan santai menuju segerombolan cowok yang menunggu bolanya dilempar kembali.
Afika yang sebelumnya masih tidak bisa mengendalikan rasa kesedihannya, entah kenapa langsung tertarik ikut melihat Miwon dari kejauhan. Dia selalu tidak dapat menebak kelakuan dan reaksi apa saja yang selalu dilampirkan Miwon dihadapannya. Terkadang Afika turut merasakan energi keceriaan Miwon. Walaupun sesekali segala candaan Miwon selalu membuatnya panik. Salah satu temannya, Timmy merangkul Afika dari belakang.
“Duh, oppa selalu ajah bikin kejutan.”
‘Ya, cowok konyol yang susah ditebak,’ gumam Afika dalam hati.
Entah pembicaraan apa yang dipaparkan oleh Miwon, kini dia sudah berada di tengah-tengah lapangan. Padahal Miwon tidak pernah mengenal cowok-cowok yang bermain basket itu sebelumnya. Miwon dengan mudahnya bergabung tanpa canggung walaupun berhadapan dengan beberapa senior sekalipun. Hami dan Timmy bertepuk tangan secara bersamaan ketika Miwon mulai memegang kendali bola basket.
Dia mulai men-shoot bola ke arah salah satu cowok yang berada di pihaknya, kemudian dilempar ke arahnya lagi. Miwon menangkap bola itu dengan mudah dan mulai berlari sembari memantulkan bola itu sampai pada keranjang basket. Dengan cekatan, dia langsung melompat dan melambungkan bola hingga masuk ke dalam jaring basket.
“DUNK!
"Keren bangeeeetttttt!!!!!” Timmy melonjak kegirangan. Hami juga turut bertepuk tangan. Kemudian Timmy mulai berlari menuju lapangan basket. Dia berteriak memanggil Miwon dengan wajah sumringah. Miwon melambaikan tangan padanya. Hal itu menimbulkan keterkejutan oleh para cowok disana.
Pasalnya, semua cowok disana sangat mengagumi primadona itu. Tidak ayal lagi, Timmy mendapatkan sambutan tangan terbuka. Timmy sendiri mulai berbicara sembari tertawa dengan mereka. Afika dan Hami saling bertatapan.
“Kamu nggak kesana?”
“Nggak. Aku takut kalo kesana akan mengacaukan segalanya. Mereka akan lari ketakutan. Keberadaan Timmy sudah cukup menyenangkan hati mereka.”
“Kenapa bilang begitu, Fik. Tidak ada salahnya untuk mencoba,” Afika menggelengkan kepalanya. Hami pun tidak dapat memaksakan kehendaknya. Lagipula dia juga tidak ingin membuat Afika badmood dua kali lipat. Dia kembali memusatkan pandangan ke arah lapangan basket. “Eeh, Miwon melambaikan tangan ke arah sini lho.”
“Fik,” Hami dan Afika langsung menoleh ke arah sumber suara. Edelweis sudah berdiri dihadapan mereka. “Aku harap kamu mau diwawancarai mading tentang siswa berprestasi non akademik,” Afika tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.
Pertama, dia tidak ingin bertemu Edelweis untuk saat ini saja. Dia merasa bingung reaksi apa yang harus diberikan pada Edelweis. Bukankah dia harus menjaga jarak dengan cowok itu? Kedua, Afika juga tidak mau diwawancarai dan membuat semua orang membaca artikel tentangnya. Dia hanya ingin lulus SMA dengan baik tanpa dipandang dengan penilaian apapun oleh orang lain. Baginya, menjadi orang dibalik layar saja sudah cukup.
“Aku... maaf, aku nggak punya prestasi apapun.”
“Hey, bukankah tahun kemarin kamu memenangkan prestasi karya cipta perangko bertema kemerdekaan?! Nah, itu saja. Ayolah, nanti Hami yang akan mewawancaraimu.”
“Tapi..,” Afika mulai mencari alasan lain yang sekiranya logis.
“Iya, Fik. Aku minta tolong banget! Kamu mau yaa aku wawancarain?” Hami mulai menambahkan permintaan padanya. Afika mulai bimbang. Dia tidak pernah mengatakan tidak pada sahabatnya itu.
“Kenapa harus aku? Kenapa nggak yang lainnya?”
“Karena cuma kamu yang cocok dengan artikel ini. Semua orang harus tahu kalo kamu itu berharga, Fik. Bukan hanya sekedar cewek menakutkan yang selama ini mereka pikirkan. Sudah sekiranya mereka harus tahu kalau kamu sama dengan mereka.”
Penjelasan Edelweis cukup menohok dadanya. Memang selama ini semua orang sangat ketakutan dengan keberadaaannya sehingga tidak ada yang pernah berani mendekatinya. Rupanya Edelweis juga menyadari hal itu. Afika merasa malu ketika Edelweis mengatakan itu semua. ‘Cewek menakutkan, aih...,’
“So...,” Edelweis masih menunggu jawaban. Afika menganggukkan kepalanya pelan.
“Gyaa... tengkyu. Tengkyu... banget, Fik!!!” Hami memeluk Afika dengan senang.
“Okay. Hami, aku tunggu yaa artikelnya.”
__ADS_1
“Siap, bos!” Hami meletakkan tangannya di sisi pelipis kanan, membentuk tanda ‘hormat’. “Ooi! Hai, jagoan! Slamdunk kamu keren banget!” serunya pada cowok berseragam yang mulai berjalan ke arahnya dengan peluh keringat. Edelweis mulai menatapnya kaku.
“Oh yeah! Oppa kan selalu tidak terkalahkan!” serunya sembari melirik Edelweis yang sudah menatapnya beberapa detik yang lalu. “Oh, hai. Kita ketemu lagi,” sapanya.
“Uhm.. ya. Kita ketemu lagi,” Edelweis mengalihkan pandangannya ke arah Afika. “Oh ya, kamu dapat salam dari Mayang. Tuh, anaknya lagi kumpul sama teman-teman di seberang lapangan basket. Kalau kamu mau, kita berbaur disana. Pasti menyenangkan, fik.”
“Enggak usah, Ed. Makasih,” balasnya pelan.
“Okay deh. Aku duluan ya.”
Afika menatap punggung Edelweis yang kembali berjalan menuju sekumpulan temannya. Sosoknya semakin mejauh dan itu membuat Afika tidak berhenti menatap kepergiannya. Miwon sendiri tidak lepas melihat pandangan Afika yang tidak terkendali. Sudah dapat ditebak jika Afika memiliki perasaan khusus pada Edelweis. Bagaimana dengan dirinya? Apakah Afika tidak merasakan seluruh perhatian yang diberikan olehnya? Andai saja Afika tahu, Miwon telah tertarik padanya sejak pertama kali bertemu.
...***...
“Bagus deh kalau wawancaranya sudah kelar. Kalau begitu, sore ini kamu langsung buat ajah beritanya. Besok pagi taruh ajah di meja di ruang mading biar sekalian aku koreksi deh,” suara Edelweis terdengar lantang di dalam kamarnya. Dia baru saja ditelpon Hami yang sudah menyelesaikan wawancaranya pada Afika. Hami memang selalu begitu. Berusaha menepati waktu secepat mungkin dan melaporkan tugasnya langsung pada ketua mading. Bahkan Edelweis selalu salut atas kerajinan dan ketelitian dalam pengerjaan tugas yang diberikan padanya. “Apa... sekarang Afika sama kamu? Eeh, enggak... enggak. Aku cuma mau terima kasih ajah sama dia. Tolong sampaikan ajah yaa makasih gitu. Bilang ajah...,”
Suara ketukan pintu kamar dari luar membuatnya terhenti. “Eeh, Mi. Sudah dulu yaa. Bye,” Edelweis langsung memasukkan handphone ke saku celana dan membuka pintu kamarnya. Tampak seorang wanita berjilbab yang membawa gelas berisi susu coklat.
“Ibu... pasti mau ngasih susu buat Ed lagi deh.”
Ibunya hanya tersenyum mendengar gerutuan anaknya. Kemudian melangkah memasuki kamar
Ed, meletakkan susu coklat di atas meja belajar.
“Ed sangat berterima kasih sama ibu yang selalu ngebuatin susu tapi kan ibu tahu kalau sekarang aku udah gede, bu. Ed bisa buat sendiri kok, bu.”
Ibunya masih tetap tersenyum.
“Hanya itu yang bisa ibu lakukan untuk memberimu kasih sayang yang lebih.”
“Tuh kan ibu mulai lagi. Ed nggak pernah kekurangan kasih sayang, bu. Buat Ed, ada ibu disamping Ed itu udah lebih dari cukup,” protesnya lagi.
“Ayahmu kembali lagi,” kalimat yang cukup singkat untuk membuat Ed mengerti. Ed langsung berpaling, terpaku pada meja belajarnya.
“Aku tahu. Adek juga sekolah di tempat yang sama denganku.”
Ibunya tampak terkejut. Namun ekspresi beliau masih menunjukkan ketenangan.
“Sejak kapan kamu tahu, nak? Kenapa baru bilang sekarang?”
Edelweis berbalik.
“Karena itu sudah tidak penting lagi. Bagiku mereka tidak pernah ada!” seruan Edelweis tampak bergetar. Ibunya segera mendekatinya perlahan.
“Nak, mereka itu ayah sama adik kandungmu. Kita ini satu keluarga.”
“Semua itu gara-gara ayah! Seandainya ayah tidak berbuat begitu, aku tidak akan membenci ayah maupun adikku sendiri!” Edelweis segera mengenakan jaket yang tergantung dibelakang pintu.
“Kamu mau kemana?”
“Aku baru ingat ada yang harus aku selesaikan dengan Wildam, bu,” Ed bergegas menyalami ibunya. Dia tidak mampu memandang wajah ibunya. Dia tidak ingin melihat beberapa goresan yang menancap permanen di bagian kanan wajah ibunya.
Kemudian ibunya memegang kedua bahu Edelweis.
“Walaupun kamu seolah membencinya tetapi kamu masih memanggilnya ayah. Itu berarti kamu masih menghormatinya. Ingat, ini sudah sore. Jangan sampai pulang larut malam.”
__ADS_1
Ed hanya terpaku serta menganggukkan kepala dalam diam.
TO BE CONTINUED~