
Dengan napas memburu, Sean keluar dari ruangannya. Ia menutup pintu dengan suara debuman keras. Ia merasa kesal dan marah pada wanita yang masih berada di dalam sana.
Sean melonggarkan dasinya dan menghirup napas dalam-dalam. Baru saja emosinya mulai menurun, seorang wanita keluar dari ruangan yang sama dengannya tadi. Wanita dengan mata sembabnya.
Baru saja akan mengumpat, atensi Sean tidak sengaja teralihkan oada wanita lain yang juga baru keluar dari sebuah ruangan. Wanita yang tak lain adalah kekasih dari sahabatnya, Sagitta.
"Loh, Sagitta? Mau kemana?" tanya Sean heran. Untuk pertama kalinya Sean melihat raut wajah kesedihan dari seorang Sagitta. Wanita yang terkenal misterius dan sikap ketusnya.
"Pulang," sahut Sagitta singkat. Sean memperhatikan gerak-gerik dari mata Sagitta yang mengarah pada wanita yang berada di belakangnya. Ia yakin, Sagitta pasti akan berkomentar mengenai hal ini.
"Dia siapa?" tanya Sagitta tepat seperti dugaan Sean.
Sean menggeserkan langkahnya. Ia lalu mendecih dan memandang wanita yang bermata sembab itu dengan tatapan rendah. Sebenarnya Sean tidak berniat seperti itu, tetapi ia sudah muak dengan kelakuan wanita yang tak lain adalah adik tingkatnya di SMA yang merangkap sebagai stalker abadinya.
"Dia bukan siapa-siapa!" ketus Sean dengan raut wajah kesal.
Sagitta terlihat mengernyitkan keningnya. Wanita itu terlihat menahan tangisan. Sean yakin bahwa Sagitta pasti akan menyalahkannya. Padahal ia tidak menyakiti si wanita secara fisik, tetapi ....
"Kamu mau aku antarin pulang?" tawar Sean dengan nada menggoda. Sean mencoba mengalihkan suasana. Ia tidak mau Sagitta berpikiran aneh tentangnya.
__ADS_1
Sagitta merasa kesal dengan teman Ren yang satu itu. Ia sangat yakin bahwa Sean sudah menyakiti hati si wanita.
"Urus dulu tuh cewek! Kamu pasti habis nyakitin dia, sampe nangis gitu," curiga Sagitta.
"Udahlah, nggak penting!" sarkas Sean lalu menarik tangan Sagitta agar mengikutinya. Ia memang berniat meninggalkan wanita dengan mata sembab itu sendirian.
"Sean ...."
Sagitta menghentikan langkahnya dan berbalik. Sementara itu Sean hanya mendengus kesal karena Sagitta menghentikan langkahnya. Mau tidak mau ia juga ikut berhenti. Sean terlihat enggan melihat wanita yang memanggil namanya itu.
"Devin udah nawarin gue kebahagiaan, tapi gue malah milih lo yang jelas-jelas nyakitin gue. Gue capek ngejar lo. Kali ini, gue akan pergi dari dunia lo. Anggap gue udah mati!"
Dengan kesal, Sagitta menendang kaki Sean hingga pria itu terjatuh ke lantai. Sebenarnya, Sagitta tidak terlalu kuat menendang. Mungkin karena Sean tengah kalut sehingga ia menjadi lemah seperti itu.
"Kenapa aku harus bertemu dengan pria-pria yang suka menyakiti hati wanita? Kamu tahu wanita itu sangat lemah. Kenapa kamu nyakitin hati dia!" teriak Sagitta dengan penuh amarah.
Sagitta mengalihkan pandangannya pada wanita itu, tapi ia tidak menemukannya lagi. Mustahil jika menghilang secara seketika.
"Sean ...." panggil Sagitta dengan suara yang agak rendah.
__ADS_1
"Hm?" Pria itu terlihat tidak bersemangat.
"Siapa namanya?"
"Kamu nggak perlu tahu," desis Sean.
"Dia sakit?"
"Entahlah."
"Sean ...."
"Hm?"
Sagitta langsung meninju wajah pria itu. Sean terlihat marah, tetapi perkataan Sagitta selanjutnya membuat Sean gemetar.
"Dia sudah meninggal, Sean. Wanita tadi ... bukan manusia."
###
__ADS_1
Tbc.