
Bagi Sean, menyendiri itu sangatlah tidak menyenangkan. Bayangkan, kamu harus melakukan apa-apa sendirian tanpa bantuan orang lain. Hei, dunia ini tidak bisa kamu miliki sendiri. Manusia itu adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Jadi, tidak ada salahnya jika kita membutuhkan orang lain. Bukan berarti lemah, hanya saja tidak semua hal bisa kamu lakukan sendiri.
Sebagai contoh, Sean adalah orang yang selalu membutuhkan orang lain di sisinya. Tidak peduli jika dirinya disebut kekanakan karena masih bergelayut manja di bawah ketiak Mami Reyna. Dia tidak bisa jauh dari Mami Reyna. Tidak terlalu suka makan makanan di luar. Selagi bisa pulang menikmati masakan Mama Reyna, ia rela menahan lapat untuk sesaat.
Sean sangat suka bergantung. Terutama pada orang yang ia sayangi. Oleh karena itu ia takut akan kehilangan. Apapun yang menjadi miliknya, akan dijaga dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, ia tidak suka ditinggalkan kecuali jika itu sebuah kematian. Sean tidak bisa menyalahkan Tuhan atas kematian seseorang. Tuhan lebih berhak. Dia hanya manusia yang hanya mengikuti takdir-Nya.
Kematian itu ... mengerikan.
Sean menilik sebuah foto di tangannya. Foto lama yang menyimpan banyak kenangan. Di sana ada empat orang siswa yang memancarkan aura kebahagiaan. Dua sosok lelaki dan dua sosok perempuan.
Di mulai dari sisi kiri ada lelaki yang berambut hitam pekat, Ren. Ren terlihat merangkul seorang gadis berambut pendek, itu adalah Yeni. Di sebelah Yeni ada dirinya sendiri. Lalu di posisi terakhir ada sesosok wanita bertubuh pendek. Wanita itu adalah ....
"Wih, gue cantik juga ternyata!"
Sean terpaku saat seorang wanita berbaju putih merebut foto yang dipegangnya. Ia sedikit kaget karena wanita itu datang lagi. Wanita itu memasang wajah bahagia dan memandang foto tersebut dengan penuh minat.
Sean mengalihkan pandangannya pada jam dinding di kamarnya. Sudah jam delapan malam. Wajar jika bulu kuduknya berdiri. Angin malam memang sangat menganggu.
Sean beranjak dari kursinya menuju jendela kamar. Niat ingin menutup jendela, tetapi baru beberapa langkah tiba-tiba jendela itu tertutup sendiri diiringi dengan suara keras. Untung kaca jendelanya tidak pecah.
Kaki Sean bergetar hebat. Padahal jendela sudah tertutup, tetapi hawa dingin semakin menusuk kulitnya. Dingin, seperti di dalam kulkas. Sean bahkan berkeringat. Ia tidak bisa menjaga raut wajahnya agar terlihat tenang saat sentuhan halus di pundaknya terasa.
Sesosok wanita dengan terusan berwarna putih berdiri di depannya secara tiba-tiba. Smirk andalan dengan tatapan tajam nan menusuk. Sean merasa akan mati berdiri sekarang.
"Pura-pura gak ngelihat aku, Dokter Sean?" Suara halus itu membuat jantung Sean semakin berdetak kencang. Bukan berarti ia jatuh cinta, bahkan niat saja tidak ada. Ia hanya ketakutan. Takut pada makhluk di depannya.
Wanita. Ya, hanya seorang wanita. Cantik dan manis. Terlihat seperti bidadari, tetapi bisa menjadi iblis dalam waktu yang bersamaan. Wanita yang selalu menganggunya selama hampir 10 tahun.
Dia adalah wanita yang sama dengan gadis pendek di foto usang itu. Wanita yang mengintimidasinya setiap waktu. Wanita dengan mata tajam yang selalu mengawasi pergerakannya. Seorang penguntit sejati sejak 10 tahun terakhir hingga dia mati.
Ya, bukan hanya selama hidupnya, wanita itu juga mengikuti Sean sekalipun ia sudah meninggal. Wanita itu hantu. Diperjelas lagi, dia hantu!
"Dinaya Andira Vela. Berumur saat ini 24 tahun. Dan untuk selamanya akan berumur 24 tahun. Seorang mahasiswi jurusan Kedokteran. Saat ini sedang menjalani koas. Putri bungsu Om Romi dan Tante Gasyi. Memiliki satu kakak lelaki bernama--"
"Stop!" teriak Sean.
Sean sudah jenuh dengan kalimat-kalimat itu. Berulang kali, Dinaya mengatakan hal itu. Sean tidak lupa dengan apa yang dikatakan wanita itu. Ia tidak pernah lupa. Tanpa diberitahu pun, ia tahu hal itu.
Seringai penuh kemenangan terpancar dari wajah pucat wanita bernama Dinaya itu. Dia memang sengaja melakukan itu agar Sean melihatnya.
"Apa masih ada yang kurang dari perkenalanku?" tanya Dinaya masih dengan senyumnya.
Sean meneguk salivanya dengan sukar. Tenggorokan terasa kering. Ia merasa butuh segelas air. Ia belum terbiasa dengan kehadiran wanita itu. Wanita yang merupakan hantu itu.
"Udah cukup. Aku tahu tentangmu," ucap Sean dengan nada ketakutan yang disamarkan.
Dinaya terkekeh. Ia tidak menyangka Sean akan terlihat ketakutan seperti itu. Sungguh lucu dan imut. Sean yang seperti ini, Dinaya menyukainya.
"Aku cantik, kan?" tanya Dinaya menunjukkan foto usang yang direbutnya tadi. Sean mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Dinaya mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan cepat menghampiri Sean dan menunjukkan foto tersebut dengan jarak yang dekat. Sean memundurkan langkahnya. Bisa bahaya jika dia berdekatan dengan Dinaya. Jangan lupakan jika Dinaya adalah hantu.
Sean mati rasa saat punggungnya menyentuh dinding. Dinaya mengukungnya dengan kedua tangan yang sengaja ia letakkan di dinding antara tubuh Sean.
"Jawab aja, Sean ...," bisik Dinaya membuat Sean menegang. Sean merinding, wanita itu tetap terlihat seperti psikopat bahkan setelah menjadi hantu. Mungkin, lebih parah.
"Ca-cantik," ucap Sean pelan dengan terbata-bata. Dinaya tersenyum lagi.
Jujur, Sean sangat suka melihat orang tersenyum. Apalagi jika kaum hawa yang tersenyum manis, itu adalah sumber vitamin A bagi Sean. Wanita cantik adalah favoritnya. Namun, pengecualian untuk gadis di depannya saat ini.
"Untuk pertama kalinya kamu bilang aku cantik, aku udah masuk kriteria pacar kamu, kan?" tanya Dinaya seraya membenarkan dasi Sean.
Sean tercekat. Dia hampir melupakan sesuatu.
🍃🍃🍃
"Kriteria cewek yang kamu suka gimana?"
"Kepo!"
"Ya harus dong. Itu wajib buat aku. Aku harus tau tipe cewek yang kamu suka biar kamu lihat aku."
Sean menatap gadis di depannya itu dengan tajam.
"Kamu mau tahu tipe cewek yang aku suka?"
Dinaya mengangguk mantap. Dia menunggu dengan jantung berdebar. Penasaran apakah benar kriteria gadis yang disukai Sean sama dengan gosip yang ia dengar-dengar. Sean menyukai gadis sepertinya?
Sean berdecih. "In your dream!"
Dinaya mengerucutkan bibirnya. Sean ini terkadang sulit ditebak.
"Jadi, kriteria cewek yang kamu suka gimana? Biar aku berubah jadi cewek itu," rajuk Dinaya.
"Cantik."
Dinaya tersenyum. Cantik? Itu mudah saja. Mulai sekarang ia akan meminta bantuan temannya untuk membeli make up. Bukankah sekarang hanya butuh make up untuk menjadi cantik?
"Oke! Noted. Aku bakal jadi cantik kayak yang kamu mau!" seru Dinaya penuh semangat.
"Emang kamu bisa?" remeh Sean.
"Ya dong! Kamu bakal tersepona pastinya," ucap Dinaya penuh semangat. Dia benar-benar tidak sabar untuk merombak dirinya sendiri. Jujur, ia seyakin itu karena ucapan Sean beberapa minggu lalu. Ia mengatakan bahwa semua wanita cantik jika merawat dirinya sendiri. Dinaya juga mengakui dirinya cantik. Toh, banyak yang mengatakan hal itu padanya.
"Kalau aku jadi cantik, kamu bakal jadi pacar aku ya?" tanya Dinaya penuh harap.
"Sampai kapan pun kamu jelek. Di saat banyak cewek cantik di dunia ini, kenapa aku harus milih kamu?"
Dinaya berdecak kesal tatkala Sean langsung meninggalkannya sendirian. Gadis itu menandang apa yang ada di depannya. Ia sangat kesal.
__ADS_1
"Yo, Sean! Kalau ada cewek cantik di depan mata kenapa harus milih yang lain?!" teriak Dinaya kesal.
🍃🍃🍃
"Mau pacaran, Sean?" tanya Dinaya dengan nada seduktif.
Sean tidak tahan dengan suasana itu, dia mendorong tubuh Dinaya hingga wanita itu hampir terjerembab ke lantai.
"In your dream, Dinaya!" seru Sean tidak tahan lagi. Ia harus menjauhkan wanita itu sesegera mungkin. Untuk pengawalan, Sean harus bersikap layaknya lelaki pada umumnya. Maskulin dan tegas.
Dinaya berdecih pelan. "Aku hantu kalau kamu lupa. Hantu tidak pernah bermimpi."
Sean tidak lupa. Ia tahu wanita di depannya adalah hantu. Hantu liar dan agresif. Hantu jahat yang juga berbahaya. Mungkin Sean harus memesan jasa pengusir hantu mulai sekarang.
"Karena kamu hantu, kamu seharusnya kembali ke alam kamu! Jangan usik kehidupan aku!" marah Sean walau masih merasa sedikit takut.
"Gak akan, Sean. Aku bakal terus ngikutin kamu sekalipun aku udah meninggal!"
Mata Dinaya memerah. Lalu, detik selanjutnya cairan berwarna merah keluar dari kedua matanya. Ia menangis darah!
"Ka-kamu ...."
Sean syok. Wanita itu diliputi kemarahan dan kesedihan dalam bersamaan. Sean menjatuhkan tubuhnya ke lantai saat Dinaya kembali mendekat padanya.
"Kalau aku gak bisa dapatin kamu, aku bisa bunuh kamu! Ayo, mati bersama!"
Dinaya mengulurkan kedua tangannya hendak mencekik Sean. Sean menutup wajahnya dengan tangan.
"Tidaakkk!!!"
Sreek!
Sean tersentak kaget. Ia melebarkan matanya dan mendapati langit-langit kamar berwarna putih. Ia berada di dalam kamar.
Jelas dalam ingatannya bahwa dia hampir dibunuh oleh Dinaya. Sekarang di mana hantu itu? Suasana kamarnya sepi. Hanya ada dia di sana. Ia menoleh ke arah jendela yang ternyata terbuka.
Hari sudah menjelang pagi. Apa yang terjadi hingga dirinya tidur di lantai? Sean baru menyadari hal itu. Apa dirinya pingsan sebelum sempat dibunuh? Dinaya ....
Tok! Tok! Tok!
"Sean, Mama bawain sarapan. Udah bangun?"
Sean mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Mamanya telah datang seperti biasa. Mengantarkan sarapan untuknya.
Buru-buru Sean beranjak bangun dari lantai menuju pintu. Namun, baru beberapa langkah, ia merasa ada yang aneh di kakinya. Ia hampir menginjak sesuatu.
Selembar foto. Sudah usang. Ada setetes darah di atasnya. Tepat menutupi wajah gadis pendek berambut panjang di foto itu.
🌂🌂🌂
__ADS_1
Tbc