Free Stalker

Free Stalker
6. When Love Talk About You


__ADS_3

Bukannya mendapat jawaban atas kematian Dinaya, Ren malah membuatnya dikurung seharian dalam kamar oleh Mama Reyna. Ren melebih-lebihkan ucapannya sehingga Mama Reyna khawatir. Terpaksa Sean harus mendekam di dalam kamar dengan dalih istirahat.


Menyebalkannya lagi, setelah sarapan Ren langsung buru-buru pulang. Kurang laknat apa lagi sahabat seperti itu? Namun tidak hanya sampai di situ, Mama Reyna tiba-tiba mendapat telepon dari Papa bahwa mereka akan kedatangan tamu. Mau tidak mau, Mama Reyna harus pulang. Sebagai gantinya, Listya datang untuk menjaganya.


Musibah datang. Ia yakin, jika Listya datang menjaganya maka ia bisa-bisa mati di tempat. Adik perempuannya yang bar-bar itu bahkan pernah hampir membakar rumah karena lupa mematikan kompor saat memasak air.


Si tomboi Listya adalah simbol kehancuran keluarga Sean. Listya terlalu agresif dan apapun yang bersentuhan dengan tangannya pasti akan rusak. Biar Sean jabarkan, Listya pernah memecahkan guci limited edition milik Tante Farah-Mama Ren. Listya juga pernah hampir membunuh seekor kucing saat ia memandikan kucing itu dengan cara ... horor. Jika Listya mengamuk, sasarannya adalah kamar Sean. Menurutnya Sean adalah sosok yang mudah dianiaya.


Saking mudahnya dianiaya, Sean bahkan tidak bisa mengadukan kelakuan adiknya karena telah diancam. Listya mengancam akan membeberkan rahasia masa kecil Sean yang memalukan pada Dinaya. Tentu saja itu musibah paling besar. Terkadang adiknya itu licik. Listya sering bersekutu dengan Dinaya.


"Abang!!! Where are you? Listya here!!!"


Suara itu terdengar mengerikan bagi Sean. Buru-buru lelaki itu menutup matanya berpura-pura tertidur. Lebih baik mati kebosanan dalam tidur daripada terjaga bersama adiknya itu. Terkadang Sean heran, bagaimana bisa mamanya melahirkan gadis seperti itu.


Ceklek!


Rasanya seperti didatangi tukang jagal dengan golok di tangannya. Seringai penuh napsu untuk memotong tubuh terkapar Sean. Bayangannya tentang si adik terlalu jauh.


"Kak Sean!"


Sean kaget begitu melihat sosok adiknya di depan mata. Sungguh, ia tidak membuka matanya. Namun, jari nakal Listya dengan sengaja membuka lebar kedua mata Sean.


"Udah kuduga cuma pura-pura," kekeh Listya.


Sean ketahuan berbohong. Ia pasrah. Lelaki itu pun memposisikan dirinya untuk duduk dan bersandar di headboard tempat tidurnya.


"Ngapain lo ke sini?" sewot Sean.


Listya mengangkat tangannya yang membawa makanan. Mata Sean langsung berbinar. Camilan kesukaannya. Untuk yang satu ini, Sean menjadikannya alasan bahwa dia tetap menganggap Listya sebagai adiknya. Listya satu-satunya orang yang paham dengan Sean sekalipun menyebalkan.


Dengan sigap Sean membuka bungkusan camilan kesukaannya juga. Dia meraupnya dengan penuh napsu. Entah kenapa, ia hanya berselera terhadap camilan itu saat ini.


Listya naik ke atas kasur Sean dan ikut mengambil cemilan untuk dimakannya. Sengaja, ia ingin mengotori kasur Sean dengan remahan-remahan snack.


"Napsu amat kayak gak makan sebulan," cibir Listya.


"Emang. Gak sempat beli," cetus Sean.


"Hmm ... wajar sih, lo mana pernah beli camilan gini, kan? Biasanya dibeliin sama Kak Dinaya."


Sean menghentikan kegiatannya. Nama Dinaya yang disebut menjadi perhatiannya saat ini.


"Apaan? Kan biasa elo yang beliin," elak Sean.


"Gue kan sering beliin lo cemilan gini sejak dua tahun terakhir, kalau aja bukan mandat dari Kak Dinaya sebelum pergi mana mau gue beliin makanan anak-anak kayak gini. Heran gue, udah gede masih aja beli biskuit bentuk ikanlah, gajahlah, untung gak bentuknya kayak muka elu," ujar Listya yang lagi-lagi membuat Sean tertegun.


"Dinaya yang nyuruh lo beliin gue snackĀ  ini?" tanya Sean heran.


Wajah Listya langsung berubah kaku. Ia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


"Lo tahu sesuatu tentang kematian Dinaya?" tanya Sean lagi.


"Eum ... apaan sih lo. Udah makan sana, gue mau nonton doraemon dulu. Udah mulai kayaknya," elak Listya beringsut turun dari kasur kakaknya.


Ada yang tidak beres, pikir Sean. Listya pasti tahu sesuatu. Begitu juga Ren. Apa yang diketahui keduanya hingga tidak mau memberitahu Sean?


Sean meraih tangan adiknya. Untuk kali ini, Listya tidak bisa melepaskan cengkraman Sean. Tidak seperti biasanya.


Sean menatap adiknya dengan penuh intimidasi. Dia harus membuat Listya buka mulut mengenai kematian Dinaya.


"Kasih tahu gue apapun tentang Dinaya," tegas Sean.


"Gue gak tahu apapun, beneran," elak Listya seraya mencoba melepas cengkraman Sean.


"Gue psikiater kalau lo lupa. Gue bisa baca dari wajah lo kalau lo emang nyembunyiin sesuatu dari gue."


Listya berhenti memberontak, Sean pikir adiknya akan menurut. Namun, Listya malah mengigit tangannya. Refleks Sean melepas cengkramannya. Listya pun langsung berlari ke pintu.


"Kalau lo emang mau tahu, kenapa gak tanya keluarganya langsung?"


Blam!


Pintu kamar tertutup dan Sean tertegun dengan ucapan adiknya. Listya benar, bukankah lebih baik bertanya pada keluarga Dinaya?


"Kenapa harus penasaran, Sean? Aku mati gak masalah, kan? Lagipula gak ada yang nuntut kamu karena kematianku, kan?"


Hantu bisa makan juga ternyata. Sean takjub dengan fakta yang satu itu. Ia akan membahasnya di forum Catch The Ghost nanti.


"Kamu bisa es krim?" tanya Sean.


Dinaya memandangnya. "Kenapa enggak? Aku suka es krim. Kurasa kamu tahu," sahut Dinaya seraya menjilati es krimnya.


"Ya tapi kamu kan hantu ...," cicit Sean.


"Aku bisa makan apa yang aku mau. Aku bisa sentuh apa yang mau kusentuh, dan aku bisa bunuh siapa yang aku mau bunuh," ujar Dinaya dengan seringai mengerikannya. Sean bergidik ngeri. Kalimat terakhir Dinaya membuatnya merasa gugup.


"Jadi, kamu mau nemuin Papa dan Mamaku?" tanya Dinaya kembali ke topik awal.


"Sok tahu!" ketus Sean. Dinaya tersenyum miring.


"Aku hantu. Aku tahu apa yang gak kamu tahu. Aku ada di mana saja yang kumau. Aku bisa dengar apa yang ingin kudengar," celoteh Dinaya membuat Sean memutar bola mata dengan malas.


"Kalau kamu udah tahu kenapa masih nanya?" sewot Sean keki.


Dinaya melepas tawanya.


"Sebegitu penasarannya dengan kematianku, Dokter? Aku udah bilang cukup lupain aja," kekeh Dinaya.


Sean menyatukan kedua alisnya.

__ADS_1


"Lupain aja? Kamu pernah bilang kalau kematian kamu karena aku. Kamu kira aku akan tenang sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi?" sengit Sean.


Dinaya melompat turun dari kusen jendela. Ia berjalan menuju balkon. Sean yang merasa diabaikan langsunh beringsut turun dari kasurnya. Ia menyusul Dinaya ke balkon.


Ternyata hari sudah malam. Tidak terasa waktu berjalan begith cepat. Sean berdiri di sebelah Dinaya. Wanita itu masih saja pendek. Ia kira setelah menjadi hantu, setidaknya tubuh Dinaya bisa sedikit fleksibel.


"Pendek amat," ejek Sean lalu menepuk kepala Dinaya. Wanita itu menepis tangan Sean.


Sean tidak menyangka ia bisa menyentuh Dinaya senyata itu. Penasaran, Sean berdiri di belakang Dinaya lalu memeluk dari belakang. Sean bahkan lupa dengan pembahasannya beberapa menit yang lalu.


Hantu Dinaya tersentak kaget dengan perlakuan Sean. Dengan cepat, ia menyikut perut Sean hingga lelaki itu melepas pelukannya dan meringis kesakitan.


"Dilarang macam-macam sama hantu!" peringat Dinaya dengan mata tajam.


Sean terkekeh. Hantu Dinaya masih sama lucunya dengan manusia Dinaya.


"Bahkan kalau aku cium kamu pun, gak akan ada yang tahu. Emangnya kamu mau ngadu sama polisi? Yang ada mereka lari," kekeh Sean.


"No way! Jangan macam-macam, ya! Walaupun aku suka sama kamu, bukan berarti aku mau digrepe-*****. Aku bisa jatuhin kamu dari lantai ini kalau kamu macam-macam," ancam Dinaya.


"Lucu," celetuk Sean seraya mencubit pipi bakpao Dinaya. Sontak Dinaya menepis tangan Sean dengan kasar. Lelaki itu kaget. Apalagi wajah Dinaya terlihat marah. Apa dia keterlaluan?


"Jangan salahin aku kalau makin cinta sama kamu. Kamu sendiri yang memperlakukan aku kayak gini. Ngasih harapan tapi kamu narik diri saat aku nyatain perasaan."


Ucapan Dinaya membuat Sean tertegun. Ia tidak menyangka Dinaya akan mengatakan hal itu. Bukankah seharusnya dia yang marah karena Dinaya melarangnya untuk mencari tahu tentang kematian itu? Kenapa sekarang malah berbalik?


"Satu lagi, gak usah cari tahu tentang kematian aku. Itu cuma buang-buang waktu kamu aja."


Untuk pertama kalinya, Sean melihat tubuh Dinaya perlahan menghilang dari pandangan. Sean merasa bersalah. Benarkah selama ini dia memberikan perhatian yang membuat Dinaya salah paham?


Mendadak pandangan Sean menjadi buram. Gelap. Dan ....


"Kak, bangun. Makan siang dulu."


Suara itu menarik Sean dari kegelapan menuju jalan bercahaya. Sean mengerjabkan mataya. Ia menemukan sosok Listya di depan matanya.


"Ya elah, tidur aja kerjaan lo," omel Listya.


Sean memegang kepalanya yang terasa sakit. Ia tertidur? Tunggu, makan siang?


Sean langsung bangkit dari posisi rebahannya. Ia memandang ke arah jendela. Jelas, si luar sana suasananya sedang terik. Malam belum datang?


"Oi, makan siang dulu."


Sean ... bermimpi?


~Bagaimana rasanya jika kuusik hidupmu? Sedikit balasan untuk hatiku yang kamu obrak-abrik~


***

__ADS_1


__ADS_2