Free Stalker

Free Stalker
5. For Four 2


__ADS_3



For Four


“Thanks udah nganter aku,” ucap Yeni dengan wajah yang terlihat tidak senang. Sean tidak mau menebak isi pikiran Yeni, tapi jelas Yeni seperti itu setelah perkataan beberapa menit yang lalu.


“Oke. Sama-sama,” balas Sean.


Yeni tersenyum kecut lalu keluar dari mobil. Sean menghela napas panjang begitu sosok Yeni menghilang di balik pagar rumahnya. Sean menekan pedal gas dan mobilnya melaju pergi dari komplek perumahan itu.


Sepanjang perjalanan, Sean memikirkan perkataannya tadi. Sean baru saja menyadari, bahwa benar bayangannya tadi tidak merujuk pada Yeni. Sifat suka ngambek dan perihal es krim itu tertuju pada Dinaya. Lama mereka bersahabat, lama pula mereka bersama, sudah tentu ia hapal bagaimana sikap Dinaya. Yap, persahabatan yang menyebalkan karena Dinaya mengejarnya terlalu lama.


Dulu, di SMA mereka hanya sekedar mengenal satu sama lain sebagai kakak kelas dan adik kelas. Ia dan Ren adalah kakak kelas dari Dinaya dan Yeni yang terlebih dahulu bersahabat. Karena Yeni adalah sepupu Ren, Sean pun berteman dengan Yeni. Bisa dikatakan, Dinayalah yang masuk ke persahabatan mereka. Awalnya tidak ada masalah, tetapi semuanya berubah saat Dinaya dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai Sean.


Dinaya yang selalu bergantung padanya, mencari perhatian, membuat Sean pasrah. Ia jadi hapal kebiasaan Dinaya karena kedekatan mereka, tapi ia tidak peduli dengan perasaan Dinaya padanya. Jelas, Sean hanya menganggap Dinaya sebagai adiknya. Tidak lebih.


Memikirkan Dinaya, Sean sampai lupa bahwa dia sudah tiba di basemen apartemennya. Dia memejamkan matanya sejenak, rasanya sedikit malas keluar dari mobil. Kepalanya semakin sakit.


“Turun, Sean. Kamu harus makan.”


Suara itu kembali mengusik Sean. Perlahan lelaki itu membuka matanya. Ia menoleh ke sebelahnya, Dinaya ada di sana. Dengan pakaian yang sama seperti biasa.


“Kamu lagi …,” desis Sean tidak suka.


“Suka-suka aku, dong,” balas Dinaya tidak peduli.


Sean memandang Dinaya. Ada sebuah rumor di forum, katanya hantu jahat akan terlihat buruk rupa. Sean menelisik tubuh Dinaya. Wanita itu tidak terlihat buruk rupa. Tidak ada darah ataupun luka di tubuhnya. Jika saja Sean tidak diberitahu oleh Sagitta, mungkin ia berpikir bahwa wanita itu masihlah manusia. Hanya wajah pucat yang terlihat sedikit mengerikan.


Dinaya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Gerakan slow motion bak drama. Ditambah dengan senyuman manis membuat suasana semakin dramatis. Sayangnya, Sean bukan terpesona, ia malah bergidik ngeri.


“Aku cantik, aku tahu itu,” ucap Dinaya memuji dirinya sendiri. Ia membalas tatapan Sean, lelaki itu langsung mengalihkan pandangannya.


“Pede!” ketus Sean. Dinaya mengerucutkan bibirnya. Padahal ia berharap Sean terpesona dengannya.


“Kenapa?” tanya Dinaya tidak terima.


“Karena kamu hantu,” balas Sean sedikit nyelekit.


Dinaya menundukkan kepalanya. Sean merasa sedikit bersalah, pasti wanita itu merasa sakit hati dengan ucapannya. Seharusnya ia tidak mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan diskriminasi seperti itu.


“Eum … maks—“


“Jadi saat aku gak jadi hantu, aku cantik?” tanya Dinaya mendongak dengan mata berbinar.


Di luar dugaan, Dinaya malah terlihat bahagia. Fiks,hantu itu cocok berkonsultasi dengan Sean karena otaknya yang bermasalah. Padahal Sean berpikir, wanita itu mungkin akan marah lalu akan mencekiknya seperti malam sebelumnya. Sungguh, saat itu Dinaya terlihat mengerikan. Menangis darah dengan wajah penuh amarah.


“Gaklah, jelek!” elak Sean. Dinaya lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.


“Gak apa-apa, deh, aku bisa make up ntar,” ucap Dinaya percaya diri.


Sean malah tertawa lepas. Dinaya sedikit terkejut karena Sean malah menertawainya. Padahal ia rasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.


“Kok ketawa, sih?” rajuk Dinaya lalu mencubit lengan Sean. Hal yang paling sering dilakukan Dinaya selama hidupnya, menyatakan cinta pada Sean dan mencubit Sean. Dua hal yang paling dihapal Sean karena kedua perlakuan itu menyiksa Sean.


Sean mengaduh kesakitan. Ia tidak percaya bahwa hantu juga bisa mencubit. Rasa sakitnya sangat terasa. Sebenarnya, dari awal pertemuan mereka sejak Dinaya menjadi hantu, kontak fisik bisa dilakukan. Tidak seperti hantu-hantu pada umumnya, Dinaya bisa disentuh.


“Lepas, Din!” teriak Sean di sela-sela ringisannya. Dinaya mencubit lebih keras sebelum akhirnya dia melepas cubitannya.

__ADS_1


Sean mengusap lengannya yang mungkin membiru. Selain agresif, Dinaya juga galak di waktu-waktu tertentu.


“Kenapa ketawa?” tanya Dinaya masih membutuhkan jawaban.


“Gak ah, ntar dicubit lagi,” tolak Sean tidak mau mendapat cubitan kedua.


“Gak, cepetan kasih tahu kenapa,” desak Dinaya. Sean meneguk salivanya dengan sukar, jika sudah begini ia tidak bisa mengelak lagi.


“Ya lagian hantu kok make up. Gimana ceritanya,” cicit Sean.


Sean memandang Dinaya dengan was-was. Ia sudah siap menerima cubitan lagi. Namun, tampaknya Dinaya tidak marah. Wajahnya tampak tenang.


“Ceritanya? Ya aku jadi hantu juga karena kamu.”


Deg!


Sean tidak bisa menahan keterkejutannya. Ucapan Dinaya menyiratkan sebuah informasi. Pertanda bahwa apa yang ia pikirkan benar. Dinaya bunuh diri karena dirinya.


“Ka-kamu bunuh diri? Karena aku?” tanya Sean dengan gugup. Keringat dingin mulai mendominasi tubuhnya. Rasanya suhu semakin rendah.


Dinaya menjerat Sean dengan tatapannya. Wanita itu tersenyum dengan misterius. Jadi, tebakannya benar.


“Bunuh diri, ya? Itu perbuatan yang bodoh, kan? Aku pinter loh, yakin aku bunuh diri?” tanya Dinaya dengan terkekeh pelan.


“Din ….”


“Jangan dipikirin, itu bukan urusan kamu.”


“Bukan urusanku?” Sean meninggikan suaranya.


“Wow! Jangan marah, dong. Kalaupun aku kasih tahu, ada pengaruh apa? Kamu bakal merasa bersalah karena nolak aku pas aku masih hidup? Terus kamu mau ngapain? Balas cintaku?” tanya Dinaya dengan sangat antusias.


-Aku tidak memintamu untuk bertanggung jawab, hanya saja berikan aku simpatimu sedikit saja-




***


Sean mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa sakit. Terutama bagian pinggang, persis seperti kakek tua. Lelaki itu mengumpulkan seluruh nyawanya. Ia melebarkan mata tatkala melihat suasana sekitarnya. Dia masih di dalam mobil!


Bagaimana bisa? Bukankah ia sudah keluar dari mobil? Ia bahkan sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya, tetapi kenapa sekarang ada di dalam mobil? Apa dia berjalan selagi tidur?


Tok! Tok! Tok!


Sean mendapati Mama Reyna mengetuk kaca mobilnya. Buru-buru Sean menurunkan kaca mobil agar bisa leluasa memandang mama cantiknya.


“Kamu mau pergi secepat ini? Gak mau sarapan?”


Sean mendesah, ia bahkan belum mandi. Hari ini juga adalah hari libur. Memangnya dia hendak ke mana sepagi ini?


“Sean kayaknya jalan pas lagi tidur,” adu Sean lalu keluar dari mobilnya. Mama Reyna mengernyit.


“Selain ngorok, kayaknya kamu gak pernah ada riwayat jalan pas lagi tidur, deh.”


“Ma!” tegur Sean tidak terima. Mama Reyna tertawa pelan. Ia hanya bercanda.


“Aku lapar, kita ke apartemen,” rengek Sean seperti anak kecil. Mama Reyna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Harusnya anak lelakinya yang satu itu sudah bersikap dewasa sesuai umur, tapi tetap saja manja seperti biasa.

__ADS_1


Sean dan Mama Reyna akhirnya tiba di apartemen. Mama Reyna beralih ke dapur, sementara Sean masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, Sean keluar dari kamar dengan rambut basahnya. Ia membiarkan tubuh atasnya terbuka. Toh, hanya ada mamanya di apartemen. Tidak masalah jika hanya mengenakan celana pendek saja. Mama Reyna sudah terbiasa. Sean berjalan santai dengan mengelap rambutnya dengan handuk. Dia tidak menyadari ada sepasang mata yang memandangnya.


“Alah, badan kerempeng gitu aja pamer.”


Suara laknat itu membuat Sean menoleh ke arah sofa. Ia menatap horror pada seseorang yang berani melihat tubuh sucinya. Ia merasa ternodai sehingga buru-buru menutup tubuh bagian atasnya dengan handuk.


“Aaa … sialan! Gue udah gak suci lagi!” teriak Sean heboh membuat mamanya lari dari dapur ke ruang tamu.


“Kenapa?” tanya Mama Reyna ikutan heboh.


“Biasa, Tan. Sean aja yang alay,” kekeh Ren lalu melempari Sean dengan bantal sofa. Sean menangkap bantal tersebut dengan tatapan kesal.


“Nikah, sana! Kayak anak-anak,” dengus Mama Reyna kesal lalu kembali ke dapur menyelesaikan masakannya. Sean tidak terima dengan ucapan mamanya, ia selalu di-bully dengan membahas pernikahan.


Lain dengan Sean, Ren malah tertawa hingga guling-guling di sofa. Kesal, Sean menimpuk Ren dengan bantal berulang kali. Lelaki itu harus diberi pelajaran, pikirnya.


“Makanya nikah, Yan,” ejek Ren begitu ia berhasil melepaskan diri dari serangan Sean. Sean mencibir lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia masih sedikit lemas karena demamnya.


“Oi, sakit lo?” tanya Ren begitu menyadari wajah pucat Sean. Lelaki yang ditanya hanya mengangguk.


“Bentar lagi pasti mulai manja sama Tante Reyna,” tebak Ren sudah hapal dengan kebiasaan Sean. Sean mempelototi Ren.


“Apa? Salah lagi gue? Makanya Yan, cari istrilah. Gak kasian apa emak lo tiap pagi ke sini cuma buatin lo makanan? Sok-sokan mau mandiri sampai pindah ke apartemen. Tau-taunya malah nyusahin emak lo aja. Lo kira lo doang anaknya Tante Reyna? Bahkan adek lo si Listya ga semanja itu gue rasa,” omel Ren.


“Lo aja belum nikah, ngapain gue nyari istri?” tanya Sean.


“Gue mau nikah, kok. Emang elo?” ejek Ren.


“Nikah tanpa cinta? Ogah gue kayak elo,” cibir Sean membuat wajah Ren menjadi sendu. Sean jadi merasa tidak enak. Ia tahu, sahabatnya itu tengah bermasalah dengan hatinya.


“Gue egois gak sih? Gue pengen bahagia sama Sagitta, tapi gue malah nikah sama Lauryn. Gue brengsek, kan?”


“Kita berdua sama-sama brengsek,” sahut Sean lalu menyenderkan kepalanya di sofa.


“Lo lagi ada masalah juga?” tanya Ren penasaran.


“Menurut lo?”


“Kenapa?”


“Menurut lo?”


“Kenapa lo balikin lagi pertanyaan gue, Bambang!” kesal Ren melempar bantal lain pada Sean.


“Kenapa?” tanya Ren lagi.


Sean mengubah raut wajahnya menjadi serius.


“Tentang Dinaya.”


Ren melebarkan matanya. Ia kaget karena seorang Sean tiba-tiba membahas Dinaya. Salah satu sahabat mereka yang kini sudah pergi.


“Ke-kenapa sama dia?” tanya Ren agak gugup.


“Bantu gue nyari tahu tentang kematian Dinaya.”


Ren memandang Sean tidak percaya.

__ADS_1


-Kenapa sekarang mencariku? Sudah lelah menghindarkah? Atau rindu denganku?-


__ADS_2