
Tujuh hari sebelumnya.
Dinaya mengoleskan selai blueberry di rotinya. Senyuman manis tidak lepas dari bibir ranum berwarna peach itu. Dinaya tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Hanya karena satu kalimat, dan Dinaya merasa hidupnya kembali bergairah. Dan semua itu karena satu lelaki. Sean Yudha Auriga.
Dinaya jadi membayangkan bagaimana jika mereka berdua menikah. Pasti akan sangat membahagiakan. Memiliki anak yang lucu-lucu, pastinya. Dinaya jadi memikirkan bagaimana ramainya suasana rumah mereka nanti.
Di mulai dengan pagi hari yang cerah, Dinaya akan bangun lebih awal hanya untuk memasak sarapan untuk suaminya. Lalu Sean muncul secara tiba memeluk pinggang rampingnya dan berbisik halus, "kenapa tidak membangunkanku, hem?"
Pipi Dinaya akan memerah dan berusaha menjauhkan tangan Sean yang melingkar di pinggangnya. Namun, Sean tidak mau melepaskannya dan merengek manja. Morning kiss.
Namun, saat akan melakukan ritual itu, suara anak mereka akan menganggu kegiatan itu. Sean akan menggerutu dan hal itu pasti sangatlah lucu. Dinaya tidak bisa membayangkan bagaimana jika Sean beradu argumen dengan sang anak hanya karena menginginkan pelukan darinya.
Setelah sarapan, Dinaya akan menyiapkan baju Sean sementara suaminya itu sedang mandi. Tak lupa ia juga harus mengurus anak mereka yang akan berangkat sekolah. Setelah urusan suami dan anaknya telah beres, barulah Dinaya mengurus dirinya sendiri. Itulah kebahagiaan masa depan. Hal yang diimpikannya. Sejak dulu.
Dinaya tersenyum kecut. Benarkah semua itu akan terjadi? Namun, ia tidak ingin memikirkan hal yang buruk. Lebih baik berfikir positif dan mulai merencanakan cara lain untuk menarik hati Sean untuknya.
Dinaya Andira Vela. Budak cinta alias bucin Sean dari SMA. Gadis yang tidak akan segan-segan mem-bully siapapun yang mendekati pangerannya. Ia akan membasmi mereka hingga tidak ada yang berani mendekati Sean. Sean adalah miliknya. Mutlak. Miliknya.
Tapi lagi-lagi Dinaya harus menghela napas berat. Sean tidak akan pernah menjadi miliknya. Mutlak. Tidak akan pernah. Setelah apa yang ia perjuangkan sampai saat ini, sepertinya sia-sia. Sean ... telah menunjukkan kebenciannya terlalu dalam.
Dinaya menghapus air mata yang ia keluarkan. Lalu kemudian suara tawa sumbang terdengar. Dia sedang apa? Dia tertawa dan menangis secara bersamaan. Dia gila. Ya, gila karena seorang Sean Yudha Auriga. Lelaki itu telah merenggut masa mudanya. Masa muda yang seharusnya dihabiskan untuk jatuh cinta dengan kisah indah. Sean telah menghancurkannya.
"Gue benci lo. Lebih baik lo mati!"
Kalimat itu. Terdengar indah, bukan? Dinaya kembali tertawa lagi. Benarkah kalimat itu membuatnya bahagia dan semakin bergairah untuk menikmati hidup?
Untuk pertama kalinya, seorang Sean meminta sesuatu padanya. Dan permintaan itu harusnya benar-benar ia kabulkan, benar? Ia harus mati, seperti yang Sean inginkan. Dia ingin melihat Sean bahagia. Ah, tapi dia tidak bisa melihatnya karena ia akan mati.
"Seperti yang kamu mau, Sean. I'll kill myself for you."
###
Seperti biasanya, Sean akan mendekati wanita yang menjadi targetnya dengan senyuman andalannya. Senyuman mematikan yang bisa membuat para wanita lupa akan dirinya sendiri. Membuat para wanita tergila-gila padanya.
Sean menyandarkan tubuhnya di kursi. Seorang wanita dengan pakaian minim yang duduk di pojok cafe terus memandang ke arahnya. Sean lagi-lagi menampilkan senyumannya. Seolah mengajak wanita itu untuk mendekat padanya.
Dan benar saja! Wanita itu benar-benar beranjak dari kursinya. Sean sebenarnya tidak peduli, tapi siapa tahu wanita itu berbaik hati untuk membayar makanannya, kan? Berbekal wajah okenya, ia bahkan bisa mendapat sebuah mansion, mungkin. Bolehkah Sean merasa sombong sekarang?
Namun, tiba-tiba pandangannya terhalang oleh sesosok berbaju putih yang membuat Sean mau tak mau mendongak. Ia sedikit kaget melihat sosok itu.
Wanita itu ...
Sean baru saja akan berteriak, tetapi mulutnya lebih dahulu dibekap dengan jari-jari lentik milik wanita berpakaian serba putih itu. Mata tajamnya seolah menusuk mata Sean. Tanpa dibekap pun, mungkin Sean tidak sanggup berbicara.
Melihat ketidakberdayaan Sean, wanita itu melepas bekapannya dan duduk dengan tenang di kursi depan Sean. Wanita yang tadinya menjadi incaran Sean akhirnya tiba di depan Sean. Wanita itu duduk tepat di tempat wanita berbaju putih tadi. Ya, duduk di sana menghilangkan sosok berbaju putih yang kini berpindah ke sebelah Sean.
Sean melirik ke sebelahnya, wanita itu tersenyum mengerikan. Ia meneguk saliva dengan susah payah, seolah saliva itu membentuk kerikil yang menyangkut di tenggerokan. Hawa dingin yang menusuk pori-pori kulit Sean memberikan efek panas dingin.
"Hei!"
Sean tersentak kaget dan mendapati wanita berbaju minim tadi yang kini tersenyum padanya. Wanita itu mengulurkan tangannya. Hendak berkenalan, maksudnya.
"Aku Veronica, kamu bisa pangg--"
__ADS_1
"Maaf, aku ada urusan mendadak," potong Sean lalu buru-buru beranjak dari kursi. Wanita tadi merasa tersinggung dengan sikap Sean.
Bukannya Sean melarikan diri dari wanita tadi, ia hanya menghindari amukan dari wanita berbaju putih yang kini melayang di udara.
"Kamu masih gak berubah," ucap wanita berbaju putih itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sean mencoba mengabaikan kehadiran wanita itu, tetapi sialnya wanita itu malah berbisik di telinganya. "Aku bisa aja bunuh kamu, kalau masih ngelakuin itu."
Sean menghentikan langkahnya. Ia menegang di tempat. Bahkan beberapa meter lagi, ia akan tiba di kasir. Namun, suara halus wanita itu mampu membuat sel saraf sara mati. Sampai kapan wanita itu akan terus menganggunya?
Sean meneguk ludahnya. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia sudah terbiasa dengan kehadiran wanita berbaju putih itu. Jadi tarik napas dan ...
"Atau aku buat cewek tadi aja yang mati?"
Kali ini Sean mengalihkan pandangannya pada wanita yang terus menganggunya dari tadi. Ia memberanikan diri untuk mempelototi wanita itu, tapi di detik berikutnya nyali itu kembali ciut. Ia tidak bisa melakukannya. Karena mata merah yang menyimpan dendam itu menatapnya tajam.
Memilih mengabaikan, Sean melangkah kembali ke kasir. Ia mengeluarkan dompetnya untuk membayar makanan yang ia pesan tadi. Sedikit disayangkan karena ia bahkan belum selesai menikmatinya.
"Hei, cow--"
Tap!
Sean sedikit kaget saat mendapati wanita yang ia abaikan tadi hendak menamparnya. Namun, tidak jadi begitu tangan itu ditahan oleh seorang wanita yang sangat ia kenal. Yeni.
"Ma-aaf, Bu. Saya kira ...." Wanita itu terlihat ketakutan melihat kehadiran Yeni.
"Saya tidak suka dengan karyawan dengan sikap tidak sopan santunnya. Kalau saya mau, saya bisa adukan perbuatan kamu ke sepupu saya," tegas Yeni. Wanita itu terlihat ketakutan. Rencananya ia ingin memberi peringatan untuk lelaki di depannya itu agar tidak sembarang menggoda. Ia merasa direndahkan sebagai seorang wanita. Hm ... memangnya benarkah seperti itu?
"Maaf, tadi itu ...."
"Kamu bisa segera pergi dari sini?" tanya Yeni dengan sinis membuat wanita itu buru-buru pergi meninggalkan mereka.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Yeni memandang penuh khawatir ke arah Sean. Jiwa Sean tersentil sebagai seorang pria. Seharusnya ia yang melindungi wanita, bukan wanita yang melindunginya.
Sean mendengus kesal. "Aku baik-baik aja, kenapa jadinya aku keliatan kayak anak kecil?"
Yeni tertawa pelan. Wajah Sean terlihat lucu di matanya. Ah, Yeni jadi rindu masa-masa itu.
"Oke, aku minta maaf. Aku cuma kaget aja karena ngeliat kamu mau ditampar, terlebih oleh karyawanku sendiri. Sebagai atasannya, aku minta maaf. Dia emang karyawan baru yang kerap nyari masalah," ucap Yeni sedikit terlihat bersalah. Sean menghela napas. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sedikit lucu sebenarnya.
"Oke. Aku maafin karena dia bawahan kamu," putus Sean sedikit tidak rela. Jika ia benar-benar ditampar oleh wanita itu, maka dipastikan wanita itu akan mendekam di sel RSJ.
Sean menyelesaikan pembayarannya. Ia dan Yeni kemudian keluar bersama-sama dari cafe.
Sean tidak menyangka bahwa di luar sedang hujan deras. Terpaksa ia dan Yeni berdiri di depan cafe bersama beberapa orang lainnya. Sean tidak membawa mobil karena ia memang sengaja ingin minta dijemput oleh Ren. Sean tahu sahabatnya itu mungkin sedang berduaan dengan kasur empuknya, jadi ia sedikit menganggu ketenangan sahabatnya dengan menyuruh Ren menjemput.
Sean benar-benar terniat untuk menelpon Ren. Lama tidak diangkat hingga akhirnya terdengar suara seorang lelaki dengan decakannya sebagai pengawalan.
"Jemput gue di cafe Obsession, dong. Awas aja kalau lo gak jemput gue. Gue bakal bocorin ke Mami lo kalau--"
"Oke. Oke. Belum apa-apa lo udah maksa gue! Dasar Sean bang--"
"Apa? Mau ngumpat? Gue aduin juga nih."
"Iya, iya. Tunggu gue!"
__ADS_1
Ren mematikan teleponnya secara sepihak. Sudah diduga bahwa sahabatnya itu pasti akan mengumpat. Di hari Minggu harusnya Ren sedang menikmati waktu indahnya. Tapi Sean ingin menganggu Ren. Lagipula ia punya senjata rahasia untuk mengancam sahabatnya itu.
"Ren nurut amat sama kamu," kekeh Yeni membuka pembicaraan. Sean ikut terkekeh.
"Ya iyalah, kan aku ancam."
"Ngancam pake apa sih? Siapa tahu bisa kupake kalau mau manfaatin Ren," tanya Yeni penasaran.
"Dia yang motong bunga melati punya maminya," sahut Sean membuat Yeni tertawa lagi.
"Pantes aja dia takut. Maminya sampai ngumpulin semua anggota keluarga besar untuk nanyain masalah itu." Masih lekat di ingatan Yeni bagaimana mengerikannya Tante Farah--mamanya Ren kala itu. Tante Farah menyukai bunga melati, tetapi anaknya malah sebaliknya. Ia membenci bunga melati. Mungkin karena itulah Ren nekad memotong bunga melati mamanya.
Untuk sesaat keduanya terdiam. Sungguh, sebenarnya rasa canggung mendominasi dari tadi. Tidak ada yang salah dengan pertemuan mereka hari ini jika saja keduanya bukan sepasang kekasih yang sudah terpisahkan. Itu artinya mereka adalah mantan satu sama lain.
Yeni mengusap kedua lengannya yang terbuka. Ia kedinginan. Jika tahu akan hujan, maka ia tidak akan memakai terusan floral tanpa lengan seperti itu.
Sean sedikit memincingkan matanya. Ia sadar dirinya memakai jas kantor, lalu dilepasnya dan disodorkannya pada Yeni. Yeni terlihat kaget dan menatap Sean.
"Kenapa? Mau dipasangin juga?" tanya Sean menaikkan sebelah alisnya. Yeni tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Ia pun mengambil jas itu dan memakainya.
"Kamu gak kedinginan?" tanya Yeni merasa tidak enak hati.
"Kamu pikir hujan deras gini gak dingin?" sindir Sean dengan nada bercanda.
Yeni mengusap tengkuknya.
"Terus kenapa kasih ke aku?" tanya Yeni seolah berharap akan ada kalimat romantis yang keluar dari bibir Sean.
"Kamu mau aku bilang apa? Jelas, aku ngasih ke kamu karena rasa kemanusiaan," sahut Sean yang membuat Yeni terlihat sedikit kecewa.
Kembali hening. Yeni tidak suka dengan suasana seperti itu. Sesekali ia melirik ke arah Sean yang tampak menikmati rintikan hujan di depannya.
"Dinaya suka banget sama hujan. Udah lama sejak dia meninggal. Gimana kabarnya dia sekarang, ya?"
Sean sedikit kaget dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Yeni.
"Maksud kamu?" tanya Sean butuh kepastian. Yeni terlihat kaget, apa Sean tidak tahu tentang hal itu?
"Kamu gak tahu kalau Dinaya udah --"
"Aku tahu. Lebih tepatnya baru tahu beberapa waktu yang lalu," sahut Sean datar.
"Semenjak hari itu aku gak ketemu lagi sama Dinaya. Kamu pun gitu?" tanya Yeni.
Sean diam. Seolah tidak berminat untuk melanjutkan pembahasan mereka. Ia hampir melupakan wanita berbaju putih tadi. Kemana perginya wanita itu? Sean celingukan kesana-kemari.
"Nyari siapa?" tanya Yeni heran.
Sean menghela napas lega tatkala tidak lagi melihat wanita berbaju putih tadi. Wanita yang baru saja mereka bicarakan. Walau sedikit penasaran, tetapi ia memilih tidak peduli. Toh, bagus jika tidak menganggunya.
Sementara itu, wanita berbaju putih yang menjadi pembahasan terakhir Yeni dan Sean berdiri di seberang jalan.
Wanita itu ... Dinaya Andira Vela.
__ADS_1
~Kapan kamu akan melihatku?~
###